Jejak yang Belum Padam

Bab 2: Jejak yang Belum Padam

Hujan turun semakin deras.

Air mengalir melewati gang sempit, membawa bercak-bercak darah menuju saluran pembuangan. Lampu jalan yang redup memantulkan bayangan seorang pemuda yang berjalan perlahan dengan langkah sedikit goyah.

Ethan Mahendra tidak menoleh ke belakang.

Tubuhnya memang berhasil memasuki Alam Pemurnian Tubuh Bintang 1, tetapi pertarungan barusan telah menghabiskan hampir seluruh Qi yang berhasil ia kumpulkan selama berjam-jam. Jika sekarang muncul sepuluh orang bersenjata api, peluangnya untuk bertahan hidup sangat kecil.

"Tubuh ini terlalu rapuh..." pikirnya.

Di dunia kultivasi, ia mampu menghancurkan gunung hanya dengan satu ayunan pedang.

Kini, sekadar mempertahankan kesadaran pun terasa berat.

Namun pengalaman lima abad membuatnya tidak panik.

Hal pertama yang harus dilakukan bukanlah balas dendam.

Melainkan bertahan hidup.

Beberapa blok dari gang itu, Ethan berhenti di depan sebuah minimarket yang masih buka dua puluh empat jam.

Ia masuk tanpa menarik perhatian.

Kasir hanya melirik sekilas pemuda berwajah pucat dengan pakaian lusuh itu sebelum kembali memainkan ponselnya.

Ethan mengambil air mineral, roti, alkohol medis, perban, jarum jahit, benang nilon, dan sebuah topi hitam murah.

Saat hendak membayar, ia merogoh saku.

Kosong.

Ingatan tubuh ini perlahan muncul.

Dompetnya telah dirampas ketika dipukuli.

Ethan menghela napas pelan.

Di kehidupan sebelumnya, emas spiritual bernilai miliaran batu roh memenuhi cincin penyimpanannya.

Sekarang, ia bahkan tidak memiliki uang untuk membeli sebotol air.

Ia mengembalikan semua barang ke rak.

Saat hendak keluar, pandangannya berhenti pada televisi yang tergantung di sudut toko.

"...polisi masih menyelidiki dugaan pembunuhan di kawasan Jalan Merdeka..."

Belum ada lokasi pasti yang disebutkan.

Berarti mayat-mayat itu belum ditemukan.

Masih ada waktu.

Setengah jam kemudian.

Ethan tiba di sebuah rumah kontrakan tua di pinggiran kota.

Cat dindingnya mengelupas.

Halamannya dipenuhi rumput liar.

Ia mengeluarkan kunci kecil dari balik batu dekat pot bunga yang pecah.

Untungnya...

Belum ada yang mengetahui tempat ini.

Begitu pintu terbuka, aroma debu langsung memenuhi ruangan.

Segalanya masih sama seperti lima ratus tahun yang lalu.

Meja kayu murah.

Rak buku.

Komputer tua.

Foto dirinya bersama kedua orang tuanya.

Langkah Ethan berhenti.

Tatapannya jatuh pada bingkai foto itu cukup lama.

Ayahnya tersenyum lebar.

Ibunya merangkul bahunya.

Ingatan yang selama ratusan tahun terkubur kembali muncul.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Bumi...

Tatapan Ethan sedikit melembut.

"Ayah... Ibu..."

Suaranya hampir tak terdengar.

"Aku terlambat..."

Namun hanya sesaat.

Ekspresinya kembali datar.

Kesedihan tidak akan mengubah apa pun.

Yang mati tetap mati.

Yang bisa dilakukan hanyalah memastikan orang-orang yang menyebabkan semua itu membayar harga yang pantas.

Ia segera menutup seluruh tirai rumah.

Kemudian memeriksa setiap sudut ruangan.

Pengalaman hidupnya membuatnya selalu menganggap tempat baru sebagai wilayah musuh.

Tidak ada kamera.

Tidak ada alat penyadap.

Tidak ada jejak penyusup.

Barulah ia mulai mencari sesuatu yang lebih penting.

Dokumen penelitian ayahnya.

Ia membuka laci.

Kosong.

Lemari.

Kosong.

Rak buku.

Kosong.

Namun di balik salah satu papan lantai, tangannya menemukan sebuah kotak logam kecil yang dipenuhi debu.

Kotak itu masih terkunci.

Ethan mengambil napas perlahan.

Ia mengenali pola ukiran di permukaannya.

Bukan teknologi modern.

Melainkan sandi mekanis yang pernah diajarkan ayahnya semasa kecil.

Setelah beberapa kali memutar pengunci...

Klik.

Kotak itu terbuka.

Di dalamnya hanya terdapat sebuah flashdisk tua.

Dan sebuah surat.

Tulisan tangan ayahnya.

Ethan,

Jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti sesuatu telah terjadi pada kami.

Jangan percaya kepada siapa pun yang mengaku ingin membantu.

Formula yang kita buat hanyalah permulaan.

Yang mereka incar sebenarnya bukan penelitian itu.

Mereka mencari sesuatu yang kusembunyikan selama lebih dari dua puluh tahun.

Jika kau masih hidup...

Pergilah ke Gunung Arjaya.

Carilah Batu Mata Air Ketujuh.

Di sanalah semua jawaban berada.

Surat itu berakhir begitu saja.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada tanda tangan.

Hanya sebuah simbol aneh di sudut kanan bawah.

Lingkaran hitam dengan sembilan garis perak.

Ethan mengernyit.

Simbol itu...

Sangat mirip lambang salah satu organisasi kuno di Dunia Kultivasi.

Mustahil.

Bagaimana simbol itu bisa muncul di Bumi?

Ia segera menyalakan komputer tua.

Butuh waktu hampir lima menit hingga perangkat itu hidup.

Flashdisk dimasukkan.

Layar menampilkan puluhan folder penelitian.

Mayoritas berisi data medis.

Namun ada satu folder yang terkunci.

Nama folder itu membuat Ethan membeku.

"Proyek Gerbang."

Bukan "Formula Medis."

Bukan "Penelitian Sel."

Melainkan...

Gerbang.

Saat hendak membuka folder itu...

Listrik tiba-tiba padam.

Seluruh rumah menjadi gelap.

Ethan tidak bergerak.

Instingnya berbunyi.

Seseorang...

Sedang berada di luar.

Perlahan ia mendekati jendela.

Melalui celah tirai, ia melihat dua mobil hitam berhenti tanpa suara.

Lampunya dimatikan.

Empat pria turun.

Mereka mengenakan jas hitam.

Tidak seperti preman jalanan.

Gerakan mereka rapi.

Terlatih.

Salah seorang mengangkat sebuah alat elektronik yang memancarkan cahaya biru.

"Target dipastikan berada di dalam."

Suara pria itu terdengar melalui alat komunikasi kecil di telinganya.

"Ekskusi sesuai prosedur."

Ethan memperhatikan dengan tenang.

"Mereka bukan polisi."

"Mereka juga bukan anak buah Ardi."

Lalu siapa?

Sementara itu...

Di dalam sedan hitam lain yang terparkir sekitar lima puluh meter dari rumah kontrakan itu...

Seorang wanita berambut panjang menatap layar tablet.

Namanya Alya Pramesti.

Usianya dua puluh tiga tahun.

CEO muda perusahaan investasi Pramesti Group.

Namun identitas itu hanyalah kedok.

Ia sebenarnya anggota muda Divisi Pengamatan milik sebuah organisasi kuno yang selama ratusan tahun mengawasi fenomena supranatural di Indonesia.

Di layar tablet muncul grafik energi.

"Tingkat spiritual..."

Alya mengerutkan kening.

"Tak mungkin."

"Sinyalnya hanya muncul beberapa detik..."

"Tapi kualitas energinya..."

Ia menatap titik merah yang berasal dari rumah Ethan.

"...lebih murni daripada seluruh artefak yang pernah kita temukan."

Seseorang di kursi depan bertanya,

"Nona Alya, apakah kita perlu ikut campur?"

Alya menggeleng.

"Tunggu."

"Ada pihak lain yang bergerak lebih dulu."

Di depan rumah...

Empat pria berbaju hitam telah mengepung bangunan itu.

Pemimpin mereka mengangkat tangan.

"Dua orang masuk."

"Dua orang berjaga."

Mereka bergerak nyaris tanpa suara.

Jauh lebih profesional dibanding para preman sebelumnya.

Namun...

Begitu salah satu pria menyentuh gagang pintu...

Ia berhenti.

"Ketua..."

"Apa?"

"Pintu ini..."

Belum selesai kalimatnya.

Klik.

Sebuah suara kecil terdengar dari bawah kakinya.

Mata pria itu membelalak.

"Perangkap!"

BOOM!

Ledakan kecil menghancurkan beranda depan.

Bukan ledakan mematikan.

Tetapi cukup untuk membuat seluruh tim mundur.

"Asap!"

"Dia kabur!"

Pemimpin mereka langsung berlari menuju belakang rumah.

Namun halaman belakang...

Kosong.

Pagar masih utuh.

Tidak ada jejak.

Tidak ada suara.

Seolah target menghilang begitu saja.

Padahal...

Sekitar tiga puluh meter dari sana.

Ethan berjalan tenang melewati lorong gelap.

Perangkap sederhana tadi bukan menggunakan Qi.

Melainkan tabung gas bekas, baterai, dan kabel yang ia rakit hanya dalam beberapa menit menggunakan barang-barang di rumah.

Pengalaman bertahan hidup selama lima abad mengajarinya bahwa kemenangan tidak selalu diperoleh dengan kekuatan.

Terkadang...

Sedikit kecerdikan lebih mematikan daripada ribuan jurus.

Namun wajah Ethan tidak menunjukkan sedikit pun rasa lega.

Karena ia sadar akan satu hal.

Rumah itu sudah tidak aman.

Dan yang lebih penting...

Kini ada pihak lain selain Keluarga Wijaya yang mengincarnya.

Seseorang mengetahui keberadaan "Proyek Gerbang."

Seseorang juga mampu melacak jejak Qi miliknya.

Ini jauh lebih berbahaya daripada yang ia perkirakan.

Di atap gedung seberang jalan...

Alya menurunkan teropong malamnya.

Ia melihat langsung bagaimana Ethan menghilang sebelum pengepungan selesai.

"Bukan kebetulan."

Pria tua di sampingnya bertanya pelan.

"Nona mengenalnya?"

Alya menggeleng.

"Tidak."

"Tapi dia tidak bergerak seperti manusia biasa."

Ia kembali melihat data energi di tablet.

Grafiknya sudah menghilang.

Seolah pemiliknya sengaja menyembunyikan keberadaannya.

Sudut bibir Alya perlahan terangkat.

"Menarik..."

"Sangat menarik."

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana.

Di lantai paling atas Gedung Wijaya Group.

Ardi Wijaya baru saja menerima telepon.

"Apa maksudmu Riko mati?"

Wajahnya langsung berubah.

"Mustahil."

"Dia membawa tiga orang."

Suara dari seberang terdengar gemetar.

"Pak... mereka semua tewas."

"Dan..."

"Ada sesuatu yang aneh."

"Apa lagi?"

"Tidak ada luka tembak."

"Tidak ada senjata."

"Salah satu korban meninggal karena tenggorokannya remuk hanya dengan satu tangan."

Ardi perlahan berdiri.

Tangannya mengepal.

Lalu ia berjalan menuju jendela kaca yang menghadap seluruh kota.

"Ethan..."

"Kau ternyata belum mati."

Ia tersenyum tipis.

Namun senyum itu perlahan memudar ketika sekretarisnya masuk dengan wajah pucat.

"Tuan Ardi..."

"Ada tamu."

"Siapa?"

"Orang-orang dari..."

Sekretaris itu menelan ludah.

"...Divisi Khusus Pemerintah."

Belum sempat Ardi bertanya lebih lanjut, pintu ruangannya terbuka perlahan.

Tiga orang berpakaian hitam masuk tanpa menunggu izin.

Lencana berbentuk naga perak terpasang di dada mereka.

Pemimpin rombongan meletakkan sebuah foto di atas meja.

Foto itu memperlihatkan wajah Ethan Mahendra.

"Kami sedang mencari orang ini."

"Dan kami mendapat informasi..."

"...bahwa keluarga Anda mungkin telah membuat kesalahan besar."

Di saat yang sama, jauh di tengah keramaian kota, Ethan menghentikan langkahnya.

Di balik kerumunan manusia yang berlalu-lalang, ia merasakan sesuatu yang sudah lima ratus tahun tidak pernah ia rasakan.

Seutas benang tipis Qi yang sangat murni.

Berasal dari arah sebuah bukit di pinggir kota.

Mata Ethan sedikit menyipit.

"Itu..."

"Bukan Qi biasa."

Episodes
1 Kematian yang Terlambat
2 Jejak yang Belum Padam
3 Benang Qi di Bukit Sunyi
4 Gerbang yang Tertidur
5 Cahaya yang Mengundang Pemburu
6 Bayangan yang Keluar dari Segel
7 Peta dari Masa Lalu
8 Penjaga Simpul Kedua
9 Mata Emas di Balik Kabut
10 Resonansi Dua Artefak
11 Raungan dari Segel Pertama
12 Nama yang Tersimpan dalam Arsip Naga
13 Lelang Tengah Malam
14 Panah Pemburu Naga
15 Gerbang di Bawah Pelabuhan
16 Kota yang Tidak Ada di Peta
17 Kompas Laut Roh
18 Ujian Penjaga Laut Kabut
19 Kota yang Bangkit dari Laut Kabut
20 Kebangkitan Penjaga Batu Naga
21 Warisan Raja Laut Kabut
22 Tamu Tak Diundang dari Gerbang Hitam
23 Pengakuan Sang Jenderal
24 Bayangan di Balik Singgasana Putih
25 Pewaris Divisi Bayangan
26 Makam Sang Kaisar Bayangan
27 Warisan yang Menolak Pewaris
28 Perjanjian di Atas Reruntuhan
29 Naga yang Tidak Seharusnya Terbangun
30 Darah Kaisar dan Segel Pertama
31 Mata yang Mengawasi Langit
32 Sidang Para Penguasa Senja
33 Gerbang Makam Para Kaisar Abadi
34 Penjaga Gerbang Tanpa Nama
35 Aula Para Kaisar yang Terlupakan
36 Makhluk di Balik Segel Kedua
37 Kristal Kegelapan dan Pengkhianatan Ribuan Tahun
38 JEJAK KAISAR KETUJUH
39 PENJAGA BERZIRAH HITAM
40 UJIAN SANG KAISAR BAYANGAN
41 Kementerian Pertahanan
42 Undangan dari Dunia yang Disembunyikan
43 Dunia Kecil di Balik Gerbang
44 Armada Sekte Pemakan Langit
45 Ujian Menara Langit Kuno
46 Sang Penjaga yang Melampaui Waktu
47 Pewaris Takdir Para Kaisar
48 Kunci Langit Pertama
49 Tatapan dari Kekosongan
50 Tingkat Kedua, Aula Para Pewaris
51 Ujian Sang Penjaga Tombak
52 Tahanan Kelas Kaisar
53 Bisikan Jantung Menara
54 Hakim Singgasana Kedua
55 Pengunjung di Tingkat Ketujuh
56 Nama yang Dihapus
57 Gugurnya Hakim Pertama
58 Gerbang yang Tak Seharusnya Terbuka
59 Bayangan Kaisar Tanpa Nama
60 Pemilik Gerbang Kedelapan
61 Bayangan di Balik Gerbang Kesembilan
62 Pedang dari Dunia yang Hilang
63 Mata yang Mengawasi Langit
64 Suara dari Singgasana Ketujuh
65 Sang Jenderal yang Mengenali Kaisarnya
66 Penjaga Makam Kaisar
67 Lima Mata dari Celah Kehampaan
68 Jejak Mahkota yang Terbangun
69 Ujian Sang Pewaris
70 Bayangan di Balik Segel
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Kematian yang Terlambat
2
Jejak yang Belum Padam
3
Benang Qi di Bukit Sunyi
4
Gerbang yang Tertidur
5
Cahaya yang Mengundang Pemburu
6
Bayangan yang Keluar dari Segel
7
Peta dari Masa Lalu
8
Penjaga Simpul Kedua
9
Mata Emas di Balik Kabut
10
Resonansi Dua Artefak
11
Raungan dari Segel Pertama
12
Nama yang Tersimpan dalam Arsip Naga
13
Lelang Tengah Malam
14
Panah Pemburu Naga
15
Gerbang di Bawah Pelabuhan
16
Kota yang Tidak Ada di Peta
17
Kompas Laut Roh
18
Ujian Penjaga Laut Kabut
19
Kota yang Bangkit dari Laut Kabut
20
Kebangkitan Penjaga Batu Naga
21
Warisan Raja Laut Kabut
22
Tamu Tak Diundang dari Gerbang Hitam
23
Pengakuan Sang Jenderal
24
Bayangan di Balik Singgasana Putih
25
Pewaris Divisi Bayangan
26
Makam Sang Kaisar Bayangan
27
Warisan yang Menolak Pewaris
28
Perjanjian di Atas Reruntuhan
29
Naga yang Tidak Seharusnya Terbangun
30
Darah Kaisar dan Segel Pertama
31
Mata yang Mengawasi Langit
32
Sidang Para Penguasa Senja
33
Gerbang Makam Para Kaisar Abadi
34
Penjaga Gerbang Tanpa Nama
35
Aula Para Kaisar yang Terlupakan
36
Makhluk di Balik Segel Kedua
37
Kristal Kegelapan dan Pengkhianatan Ribuan Tahun
38
JEJAK KAISAR KETUJUH
39
PENJAGA BERZIRAH HITAM
40
UJIAN SANG KAISAR BAYANGAN
41
Kementerian Pertahanan
42
Undangan dari Dunia yang Disembunyikan
43
Dunia Kecil di Balik Gerbang
44
Armada Sekte Pemakan Langit
45
Ujian Menara Langit Kuno
46
Sang Penjaga yang Melampaui Waktu
47
Pewaris Takdir Para Kaisar
48
Kunci Langit Pertama
49
Tatapan dari Kekosongan
50
Tingkat Kedua, Aula Para Pewaris
51
Ujian Sang Penjaga Tombak
52
Tahanan Kelas Kaisar
53
Bisikan Jantung Menara
54
Hakim Singgasana Kedua
55
Pengunjung di Tingkat Ketujuh
56
Nama yang Dihapus
57
Gugurnya Hakim Pertama
58
Gerbang yang Tak Seharusnya Terbuka
59
Bayangan Kaisar Tanpa Nama
60
Pemilik Gerbang Kedelapan
61
Bayangan di Balik Gerbang Kesembilan
62
Pedang dari Dunia yang Hilang
63
Mata yang Mengawasi Langit
64
Suara dari Singgasana Ketujuh
65
Sang Jenderal yang Mengenali Kaisarnya
66
Penjaga Makam Kaisar
67
Lima Mata dari Celah Kehampaan
68
Jejak Mahkota yang Terbangun
69
Ujian Sang Pewaris
70
Bayangan di Balik Segel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!