Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kembalinya Sang Kaisar Bayang

Kematian yang Terlambat

Bab 1: Kematian yang Terlambat

Hujan turun tanpa ampun di sebuah gang sempit di sudut Kota Ardhana.

Air bercampur darah mengalir mengikuti retakan aspal yang rusak. Lampu jalan yang berkedip-kedip memantulkan bayangan seorang pemuda yang tergeletak tak bergerak di antara tumpukan kardus basah dan tong sampah berkarat.

Tubuhnya penuh luka.

Wajahnya bengkak.

Tulang rusuknya patah.

Napasnya nyaris tak terdengar.

Pemuda itu bernama Ethan Mahendra.

Beberapa menit lalu, tiga pria suruhan seseorang telah meninggalkannya di sana setelah memastikan ia tidak mungkin bertahan hidup.

"Bos bilang cukup. Dia pasti mati."

"Itu yang terjadi kalau berani melawan Keluarga Wijaya."

Tawa mereka masih terngiang di udara sebelum akhirnya menghilang bersama suara mesin mobil.

Kini hanya tersisa hujan.

Dan kematian.

Setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.

Namun jauh di tempat lain...

Di dunia yang berbeda...

Di puncak Gunung Langit Abadi.

Ledakan dahsyat mengguncang langit.

Ribuan kilometer awan spiritual tercabik.

Petir merah menyambar tanpa henti.

Seorang pria berjubah hitam berdiri di tengah badai.

Tubuhnya dipenuhi luka mengerikan.

Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Namun tatapannya tetap dingin.

Di sekelilingnya berdiri sembilan tokoh terkuat dunia kultivasi.

Mereka adalah pemimpin sembilan sekte besar.

Mereka yang dahulu memanggilnya sahabat.

Mereka yang dahulu berlutut memohon bantuannya.

Dan mereka pula yang baru saja menusukkan pedang ke punggungnya.

"Kaisar Bayangan," kata salah satu dari mereka. "Serahkan warisanmu. Kami akan memberimu kematian yang cepat."

Pria berjubah hitam tertawa pelan.

Tawa itu membuat langit bergetar.

"Lima ratus tahun."

Suaranya bergema.

"Aku menghabiskan lima ratus tahun membangun jalan menuju puncak."

Tatapannya menyapu seluruh musuh.

"Dan kalian mengira aku akan menyerahkan semuanya begitu saja?"

Wajah para pemimpin sekte berubah.

Mereka merasakan sesuatu.

Sesuatu yang sangat buruk.

Terlambat.

Pria itu mengangkat kedua tangannya.

Energi spiritual di seluruh gunung mulai berputar liar.

Retakan muncul di tubuhnya.

Lalu semakin banyak.

Semakin besar.

"Kalian ingin hartaku?"

Senyumnya berubah menyeramkan.

"Datang dan ambillah di neraka."

BOOOOOOM!

Langit runtuh.

Gunung hancur.

Ledakan inti spiritual seorang kultivator Alam Kenaikan Abadi Bintang 9 melahap segalanya.

Jeritan memenuhi dunia.

Kemudian...

Gelap.

Total.

Sunyi.

Tak ada suara.

Tak ada rasa.

Tak ada waktu.

Hingga tiba-tiba...

Sakit.

Sakit yang luar biasa.

Mata Ethan terbuka.

Ia langsung batuk keras.

"Uhuk!"

Darah segar keluar dari mulutnya.

Paru-parunya terasa terbakar.

Setiap bagian tubuhnya menjerit kesakitan.

Namun bukan rasa sakit itu yang membuatnya terkejut.

Melainkan lingkungan di sekelilingnya.

Gang sempit.

Bangunan beton.

Lampu jalan.

Mobil yang melintas di kejauhan.

Ethan membeku.

Lalu perlahan duduk.

Hujan terus membasahi tubuhnya.

Matanya menyipit.

Ingatan yang telah lama terkubur mulai muncul.

Kota Ardhana.

Bumi.

Tahun 2026.

Tubuh ini...

Tubuh aslinya.

"Sungguh..." gumamnya pelan.

Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.

Lima ratus tahun.

Ia menghabiskan lima ratus tahun di dunia kultivasi.

Bertarung.

Membunuh.

Bertahan hidup.

Menjadi legenda.

Menjadi Kaisar Bayangan yang ditakuti seluruh dunia.

Namun sekarang ia kembali.

Kembali ke awal segalanya.

Kembali ke tubuh yang seharusnya sudah mati.

Ethan menunduk.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut.

Melainkan karena marah.

Sangat marah.

Ingatan kehidupan pertamanya mulai menyatu dengan kesadaran saat ini.

Ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan misterius.

Formula medis revolusioner yang mereka ciptakan dicuri.

Dirinya difitnah.

Kekayaannya dirampas.

Kemudian dipukuli hingga tewas.

Dalangnya hanya satu.

Keluarga Wijaya.

Keluarga konglomerat terbesar di kota.

Ethan mengangkat kepala.

Tatapan matanya perlahan berubah.

Tidak ada lagi kelemahan.

Tidak ada lagi kepolosan.

Yang tersisa hanyalah ketenangan seorang monster yang telah melewati ratusan perang.

"Aku kembali."

Suaranya tenggelam dalam suara hujan.

"Tunggu aku."

Ia tidak menyebut nama siapa pun.

Tidak perlu.

Orang-orang itu akan tahu.

Cepat atau lambat.

Ethan berusaha berdiri.

Tubuhnya hampir jatuh.

Terlalu lemah.

Jauh terlalu lemah.

Dantian yang dahulu mampu menampung lautan energi kini kosong.

Meridiannya rapuh.

Bahkan kekuatan fisiknya tidak lebih baik dari manusia biasa.

Namun wajah Ethan tetap tenang.

Karena kekuatan bisa dicari kembali.

Pengetahuan tidak.

Dan ia memiliki pengetahuan lima ratus tahun.

Ia berjalan perlahan keluar dari gang.

Beberapa menit kemudian ia menemukan sebuah bangunan tua yang terbengkalai.

Tidak ada penghuni.

Tidak ada kamera.

Tempat yang sempurna.

Ethan masuk dan duduk bersila di lantai berdebu.

Matanya terpejam.

Kesadarannya menyebar.

Mencari.

Mengamati.

Merasakan.

Beberapa saat kemudian alisnya berkerut.

"Tipis sekali..."

Energi spiritual di Bumi jauh lebih sedikit dibanding dunia kultivasi.

Bahkan tidak sampai sepersepuluh ribu.

Namun masih ada.

Sangat tipis.

Hampir tak terlihat.

Tetapi cukup.

Ethan mulai menjalankan teknik kultivasi yang dahulu mengguncang dunia.

Teknik Surgawi Kaisar Bayangan.

Napasnya menjadi stabil.

Perlahan.

Sangat perlahan.

Energi spiritual mulai berkumpul.

Seperti kabut tipis yang ditarik menuju tubuhnya.

Satu menit.

Sepuluh menit.

Satu jam.

Rasa sakit di tubuhnya mulai berkurang.

Luka-luka dalam perlahan membaik.

Namun tiba-tiba...

Ethan membuka mata.

Tatapannya berubah tajam.

Seseorang datang.

Tidak.

Tiga orang.

Langkah kaki mereka terdengar dari luar bangunan.

"Dia pasti sembunyi di sekitar sini."

"Bos bilang pastikan dia benar-benar mati."

"Kalau masih hidup, habisi."

Suara itu semakin dekat.

Ethan mengenali salah satunya.

Riko.

Orang yang tadi memukulnya.

Pria itu rupanya kembali untuk memastikan pekerjaannya selesai.

Pintu bangunan terbuka kasar.

Tiga pria masuk sambil membawa tongkat besi.

Ketika melihat Ethan duduk di tengah ruangan, mereka langsung membeku.

"Mustahil..."

Riko menatapnya dengan mata melebar.

"Kau masih hidup?"

Ethan berdiri perlahan.

Tubuhnya masih lemah.

Sangat lemah.

Namun cukup untuk menghadapi manusia biasa.

"Aku juga berpikir begitu."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Sayangnya aku sulit mati."

Salah satu pria langsung maju.

Tongkat besi menghantam ke arah kepala Ethan.

Gerakannya cepat.

Bagi manusia biasa.

Namun di mata Ethan, serangan itu penuh celah.

Ia hanya memiringkan kepala sedikit.

Tongkat itu meleset.

Kemudian Ethan melangkah masuk ke area lawan.

Satu pukulan.

Buk!

Pria itu terpental ke belakang dan menghantam dinding.

Tidak mati.

Tetapi pingsan.

Riko langsung pucat.

"Apa..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Ethan sudah berada di depannya.

Kecepatan itu membuatnya tidak sempat bereaksi.

Tangan Ethan mencengkeram pergelangannya.

Krek!

Tulang patah.

Riko menjerit.

"Aaaaaa!"

Namun jeritannya berhenti ketika tatapan mereka bertemu.

Mata Ethan membuat darahnya membeku.

Itu bukan mata seorang mahasiswa.

Itu mata seseorang yang telah membunuh ribuan orang.

"K-Kau siapa sebenarnya?"

Ethan terdiam sesaat.

Lalu menjawab dengan tenang.

"Orang yang seharusnya sudah mati."

Tubuh Riko gemetar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya.

Ethan melepaskannya.

"Aku hanya ingin satu jawaban."

Riko buru-buru mengangguk.

"Siapa yang menyuruh kalian?"

Pria itu menelan ludah.

"Ardi..."

Ethan menyipitkan mata.

"Ardi siapa?"

"Ardi Wijaya!"

Ruangan mendadak sunyi.

Nama itu akhirnya muncul.

Nama yang telah ia tunggu.

Ardi Wijaya.

Pewaris utama Keluarga Wijaya.

Orang yang menghancurkan kehidupan Ethan.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Namun senyum itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan.

"Bagus."

Riko merasa lega.

Ia mengira akan dibiarkan hidup.

Namun detik berikutnya ekspresinya berubah.

Karena ia melihat sesuatu yang aneh.

Untuk sesaat.

Sangat singkat.

Bayangan hitam raksasa muncul di belakang Ethan.

Seolah seekor monster kuno sedang menatapnya.

Riko bahkan tidak sempat berteriak.

Pandangannya menjadi gelap.

Tubuhnya roboh ke lantai.

Ethan berdiri diam.

Napasnya sedikit berat.

Tubuh ini memang masih terlalu lemah.

Ia harus menjadi lebih kuat.

Jauh lebih kuat.

Namun saat hendak kembali berkultivasi, alisnya tiba-tiba berkerut.

Ia menoleh ke arah jendela yang pecah.

Jauh di luar sana.

Di atas gedung tinggi yang tertutup hujan.

Seseorang sedang mengamatinya.

Sosok itu mengenakan mantel hitam panjang.

Wajahnya tertutup bayangan.

Namun satu hal terlihat jelas.

Mata emasnya menyala samar di tengah kegelapan.

Dan sosok misterius itu baru saja menyaksikan seluruh kejadian sejak awal.

"Menarik..."

Suara perempuan terdengar pelan.

Kemudian sosok itu menghilang bersama hembusan angin malam.

Sementara Ethan masih berdiri di tempatnya.

Tatapannya menatap ke arah gedung tersebut.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Bumi, ia merasakan sesuatu yang tak seharusnya ada.

Aura spiritual.

Dan itu berarti satu hal.

Bumi menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Episodes
1 Kematian yang Terlambat
2 Jejak yang Belum Padam
3 Benang Qi di Bukit Sunyi
4 Gerbang yang Tertidur
5 Cahaya yang Mengundang Pemburu
6 Bayangan yang Keluar dari Segel
7 Peta dari Masa Lalu
8 Penjaga Simpul Kedua
9 Mata Emas di Balik Kabut
10 Resonansi Dua Artefak
11 Raungan dari Segel Pertama
12 Nama yang Tersimpan dalam Arsip Naga
13 Lelang Tengah Malam
14 Panah Pemburu Naga
15 Gerbang di Bawah Pelabuhan
16 Kota yang Tidak Ada di Peta
17 Kompas Laut Roh
18 Ujian Penjaga Laut Kabut
19 Kota yang Bangkit dari Laut Kabut
20 Kebangkitan Penjaga Batu Naga
21 Warisan Raja Laut Kabut
22 Tamu Tak Diundang dari Gerbang Hitam
23 Pengakuan Sang Jenderal
24 Bayangan di Balik Singgasana Putih
25 Pewaris Divisi Bayangan
26 Makam Sang Kaisar Bayangan
27 Warisan yang Menolak Pewaris
28 Perjanjian di Atas Reruntuhan
29 Naga yang Tidak Seharusnya Terbangun
30 Darah Kaisar dan Segel Pertama
31 Mata yang Mengawasi Langit
32 Sidang Para Penguasa Senja
33 Gerbang Makam Para Kaisar Abadi
34 Penjaga Gerbang Tanpa Nama
35 Aula Para Kaisar yang Terlupakan
36 Makhluk di Balik Segel Kedua
37 Kristal Kegelapan dan Pengkhianatan Ribuan Tahun
38 JEJAK KAISAR KETUJUH
39 PENJAGA BERZIRAH HITAM
40 UJIAN SANG KAISAR BAYANGAN
41 Kementerian Pertahanan
42 Undangan dari Dunia yang Disembunyikan
43 Dunia Kecil di Balik Gerbang
44 Armada Sekte Pemakan Langit
45 Ujian Menara Langit Kuno
46 Sang Penjaga yang Melampaui Waktu
47 Pewaris Takdir Para Kaisar
48 Kunci Langit Pertama
49 Tatapan dari Kekosongan
50 Tingkat Kedua, Aula Para Pewaris
51 Ujian Sang Penjaga Tombak
52 Tahanan Kelas Kaisar
53 Bisikan Jantung Menara
54 Hakim Singgasana Kedua
55 Pengunjung di Tingkat Ketujuh
56 Nama yang Dihapus
57 Gugurnya Hakim Pertama
58 Gerbang yang Tak Seharusnya Terbuka
59 Bayangan Kaisar Tanpa Nama
60 Pemilik Gerbang Kedelapan
61 Bayangan di Balik Gerbang Kesembilan
62 Pedang dari Dunia yang Hilang
63 Mata yang Mengawasi Langit
64 Suara dari Singgasana Ketujuh
65 Sang Jenderal yang Mengenali Kaisarnya
66 Penjaga Makam Kaisar
67 Lima Mata dari Celah Kehampaan
68 Jejak Mahkota yang Terbangun
69 Ujian Sang Pewaris
70 Bayangan di Balik Segel
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Kematian yang Terlambat
2
Jejak yang Belum Padam
3
Benang Qi di Bukit Sunyi
4
Gerbang yang Tertidur
5
Cahaya yang Mengundang Pemburu
6
Bayangan yang Keluar dari Segel
7
Peta dari Masa Lalu
8
Penjaga Simpul Kedua
9
Mata Emas di Balik Kabut
10
Resonansi Dua Artefak
11
Raungan dari Segel Pertama
12
Nama yang Tersimpan dalam Arsip Naga
13
Lelang Tengah Malam
14
Panah Pemburu Naga
15
Gerbang di Bawah Pelabuhan
16
Kota yang Tidak Ada di Peta
17
Kompas Laut Roh
18
Ujian Penjaga Laut Kabut
19
Kota yang Bangkit dari Laut Kabut
20
Kebangkitan Penjaga Batu Naga
21
Warisan Raja Laut Kabut
22
Tamu Tak Diundang dari Gerbang Hitam
23
Pengakuan Sang Jenderal
24
Bayangan di Balik Singgasana Putih
25
Pewaris Divisi Bayangan
26
Makam Sang Kaisar Bayangan
27
Warisan yang Menolak Pewaris
28
Perjanjian di Atas Reruntuhan
29
Naga yang Tidak Seharusnya Terbangun
30
Darah Kaisar dan Segel Pertama
31
Mata yang Mengawasi Langit
32
Sidang Para Penguasa Senja
33
Gerbang Makam Para Kaisar Abadi
34
Penjaga Gerbang Tanpa Nama
35
Aula Para Kaisar yang Terlupakan
36
Makhluk di Balik Segel Kedua
37
Kristal Kegelapan dan Pengkhianatan Ribuan Tahun
38
JEJAK KAISAR KETUJUH
39
PENJAGA BERZIRAH HITAM
40
UJIAN SANG KAISAR BAYANGAN
41
Kementerian Pertahanan
42
Undangan dari Dunia yang Disembunyikan
43
Dunia Kecil di Balik Gerbang
44
Armada Sekte Pemakan Langit
45
Ujian Menara Langit Kuno
46
Sang Penjaga yang Melampaui Waktu
47
Pewaris Takdir Para Kaisar
48
Kunci Langit Pertama
49
Tatapan dari Kekosongan
50
Tingkat Kedua, Aula Para Pewaris
51
Ujian Sang Penjaga Tombak
52
Tahanan Kelas Kaisar
53
Bisikan Jantung Menara
54
Hakim Singgasana Kedua
55
Pengunjung di Tingkat Ketujuh
56
Nama yang Dihapus
57
Gugurnya Hakim Pertama
58
Gerbang yang Tak Seharusnya Terbuka
59
Bayangan Kaisar Tanpa Nama
60
Pemilik Gerbang Kedelapan
61
Bayangan di Balik Gerbang Kesembilan
62
Pedang dari Dunia yang Hilang
63
Mata yang Mengawasi Langit
64
Suara dari Singgasana Ketujuh
65
Sang Jenderal yang Mengenali Kaisarnya
66
Penjaga Makam Kaisar
67
Lima Mata dari Celah Kehampaan
68
Jejak Mahkota yang Terbangun
69
Ujian Sang Pewaris
70
Bayangan di Balik Segel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!