Cahaya yang Mengundang Pemburu

Bab 5: Cahaya yang Mengundang Pemburu

Napas Ethan terdengar sedikit lebih berat ketika ia terus menyusuri hutan di lereng Bukit Arjaya. Dahan-dahan pinus yang basah oleh embun menghalangi pandangannya, sementara batu giok berbentuk bulan sabit di genggamannya masih memancarkan hawa dingin yang meresap hingga ke tulang.

Cahaya merah yang tadi menembus langit telah menghilang.

Namun akibatnya baru saja dimulai.

Ethan berhenti di balik sebuah batu besar. Ia mengatur napas, lalu mengangkat batu giok itu setinggi mata.

Retakan halus memenuhi permukaannya.

Setiap beberapa detik, cahaya merah redup berdenyut dari dalamnya, seperti jantung yang masih hidup.

"Alat penanda..."

gumam Ethan.

Di dunia kultivasi, artefak semacam ini digunakan untuk mengirim sinyal kepada sesama anggota sekte ketika menemukan warisan penting atau menghadapi bahaya.

Masalahnya...

Teknik pembuatannya berasal dari Dunia Kultivasi.

Bukan dari Bumi.

Tatapan Ethan menjadi semakin dalam.

"Apakah benar ada orang dari dunia itu yang berhasil datang ke sini?"

Atau...

"Memang sejak awal kedua dunia saling terhubung?"

Ia belum memiliki jawaban.

Namun satu hal pasti.

Semakin lama batu giok itu berada di tangannya, semakin besar kemungkinan posisinya terlacak.

Tanpa ragu, Ethan membungkus artefak tersebut menggunakan potongan kain yang disobek dari bagian dalam jaketnya. Kemudian ia menyelipkannya ke dalam kotak kayu hitam yang ditemukan di dekat Batu Mata Air Ketujuh.

Begitu tutup kotak tertutup rapat, denyutan cahaya langsung melemah.

Ethan mengangguk tipis.

"Benar..."

Kotak itu bukan kotak biasa.

Ia mampu menahan pancaran aura artefak.

Di sisi lain Bukit Arjaya...

Pemimpin kelompok berjubah abu-abu berdiri dengan wajah muram.

Tangannya mengepal erat.

"Dia mengambil Kunci Bulan."

Dua bawahannya menundukkan kepala.

"Kami gagal mengejarnya."

Pria itu tidak langsung marah.

Sebaliknya, ia menutup mata sejenak.

"Apakah kalian melihat wajahnya dengan jelas?"

"Sangat jelas."

"Pemuda sekitar dua puluh tahun."

"Tingkat kultivasinya rendah."

"Tapi gerakannya..."

"...tidak seperti orang biasa."

Pemimpin berjubah membuka matanya perlahan.

"Sebarkan wajahnya."

"Jangan bunuh."

"Bawa hidup-hidup."

Salah seorang bawahannya tampak heran.

"Kalau dia membuka Gerbang lebih dulu?"

Pria itu menggeleng.

"Dia tidak akan bisa."

"Kunci Bulan hanyalah satu dari tiga bagian."

"Kunci Matahari dan Kunci Bintang masih belum ditemukan."

"Tanpa ketiganya..."

"...Gerbang tidak akan pernah benar-benar terbuka."

Langit mulai memperlihatkan semburat jingga ketika Ethan keluar dari kawasan hutan.

Ia tidak kembali menuju rumah kontrakannya.

Tempat itu sudah tidak aman.

Orang-orang berseragam naga perak pernah menemukannya.

Kelompok berjubah abu-abu kini juga mengetahui keberadaannya.

Kemungkinan besar, rumah itu sudah diawasi.

Sebaliknya, Ethan memilih menuju kawasan kota lama.

Daerah itu dipenuhi bangunan tua yang sebagian besar kosong.

Banyak pendatang singgah di sana tanpa menarik perhatian.

Tepat seperti yang ia butuhkan.

Sebuah penginapan kecil berdiri di ujung gang sempit.

Bangunannya kusam.

Cat dinding mengelupas.

Plang bertuliskan "Penginapan Melati Indah" nyaris roboh.

Pemiliknya, seorang wanita paruh baya, mengangkat kepala saat Ethan masuk.

"Kamar?"

Ethan mengangguk.

"Satu malam."

Wanita itu memandang pakaian Ethan yang penuh lumpur.

"Bayarnya di depan."

Ethan terdiam.

Uang.

Ia kembali dihadapkan pada masalah yang sama.

Melihat ekspresi Ethan, wanita itu menghela napas.

"Kalau tidak punya uang, jangan bercanda pagi-pagi."

Ethan mengeluarkan jam tangan dari pergelangan kirinya.

Jam itu peninggalan ayahnya.

Ia menatap benda tersebut beberapa detik sebelum meletakkannya di meja.

"Sebagai jaminan."

Wanita itu mengambilnya.

Memeriksa sebentar.

"Lumayan bagus."

"Aku terima."

Ethan mengangguk pelan.

Ia tidak menyukai harus melepaskan satu-satunya kenangannya.

Namun hidup lebih penting.

Kalau masih hidup, jam itu bisa diambil kembali.

Kamar yang didapat sangat sederhana.

Kasur tipis.

Meja kayu kecil.

Jendela menghadap gang belakang.

Begitu pintu terkunci, Ethan langsung duduk bersila.

Kotak kayu hitam diletakkan di depannya.

Ia membuka perlahan.

Batu giok bulan sabit masih memancarkan hawa dingin.

Namun kini jauh lebih stabil.

Ethan menutup mata.

Kesadarannya perlahan memasuki kondisi meditasi.

Bukan untuk berkultivasi.

Melainkan memeriksa struktur artefak.

Benang-benang Qi tipis menyentuh permukaan batu giok.

Perlahan.

Sangat hati-hati.

Beberapa menit berlalu tanpa hasil.

Kemudian...

Kesadarannya tiba-tiba ditarik masuk.

Ethan membuka mata.

Namun dunia di sekelilingnya telah berubah.

Ia berdiri di sebuah ruang gelap tanpa ujung.

Di hadapannya melayang bulan sabit raksasa yang terbuat dari cahaya merah.

"Ruang kesadaran..."

gumam Ethan.

Suara tua tiba-tiba bergema.

"Identitas tidak dikenali."

"Memulai proses eliminasi."

Seketika bulan sabit merah itu berubah menjadi ribuan bilah cahaya.

Melesat ke arahnya.

Tatapan Ethan tetap tenang.

"Jadi begitu."

Alih-alih melawan, ia justru menutup seluruh aliran Qi miliknya.

Dalam sekejap...

Aura kultivatornya menghilang.

Bilah-bilah cahaya yang semula menyerang mendadak berhenti di udara.

Suara tua kembali terdengar.

"Deteksi ulang..."

"Kesalahan identifikasi..."

"Pemindaian gagal."

Ruang kesadaran mulai retak.

Kesadaran Ethan pun terlempar keluar.

Ia membuka mata dengan napas sedikit tersengal.

Setetes darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Formasi pelindung tingkat tinggi..."

Kalau tadi ia memilih menyerang secara paksa, kemungkinan kesadarannya akan terluka.

Untungnya, pengalaman lima abad membuatnya memahami cara menghadapi artefak semacam itu.

Namun ia juga memperoleh satu informasi penting.

Artefak itu masih memiliki pemilik.

Atau setidaknya...

Masih terhubung dengan seseorang.

Di saat yang sama.

Sebuah vila mewah di pinggir kota.

Alya Pramesti berdiri di balkon sambil memandang matahari yang mulai terbit.

Bram datang membawa sebuah map.

"Hasil penyelidikan."

Alya membukanya.

Di halaman pertama terdapat foto Ethan ketika masih menjadi mahasiswa.

Juara olimpiade nasional.

Peneliti muda.

Mahasiswa terbaik.

Kemudian...

Semua prestasi itu berhenti dua tahun lalu.

Disusul laporan kehilangan kedua orang tua.

Kasus perebutan hak paten.

Lalu laporan kematian yang tak pernah selesai.

Alya membaca seluruh berkas tanpa berbicara.

Semakin banyak ia membaca...

Semakin besar rasa penasarannya.

"Semua saksi meninggal?"

"Ya."

"Rekaman CCTV hilang?"

"Benar."

"Kasus ditutup?"

"Kurang dari seminggu."

Alya menutup map perlahan.

"Ini bukan kebetulan."

Bram mengangguk.

"Kami juga menemukan satu hal."

"Apa?"

"Perusahaan yang mengambil penelitian ayah Ethan..."

"...adalah anak perusahaan Wijaya Group."

Tatapan Alya berubah dingin.

"Keluarga Wijaya lagi."

Sementara itu.

Di ruang rapat tertutup Gedung Wijaya Group.

Ardi Wijaya duduk sendirian.

Di depannya tergeletak laporan kematian Riko.

Pintu perlahan terbuka.

Seorang pria tua memasuki ruangan.

Usianya sekitar enam puluh tahun.

Mengenakan setelan jas sederhana.

Namun langkahnya ringan.

Tatapannya tajam.

Ardi langsung berdiri.

"Paman Han."

Pria tua itu hanya mengangguk.

"Aku mendengar kau membuat masalah."

Ardi tersenyum kaku.

"Hanya seorang bocah."

"Benarkah?"

Pria tua itu melempar sebuah foto ke atas meja.

Foto Ethan.

"Kau tahu siapa yang sedang diburu organisasi Mata Hitam?"

Ardi menggeleng.

"Tidak."

"Kalau begitu mulai hari ini..."

"...jangan sentuh Ethan Mahendra."

Ardi terkejut.

"Kenapa?"

Paman Han menatapnya tajam.

"Karena orang yang terlalu cepat mati..."

"...kadang membawa lebih banyak masalah daripada orang yang masih hidup."

Sore harinya.

Ethan akhirnya menyelesaikan meditasi singkat.

Pemulihan Qi memang belum banyak.

Namun tubuhnya terasa lebih stabil.

Ia baru saja hendak menutup kotak kayu ketika mendengar suara gaduh dari lantai bawah.

"Tolong!"

"Ada yang terluka!"

Disusul suara pecahan kaca.

Jeritan.

Langkah kaki yang panik.

Ethan berdiri.

Naluri bertarungnya langsung aktif.

Ia berjalan menuju jendela.

Di halaman depan penginapan, seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun roboh bersimbah darah di bahunya.

Di belakang gadis itu...

Seekor makhluk berwujud seperti anjing, tetapi bertubuh hampir sebesar harimau, sedang merangkak keluar dari bayangan gang sempit.

Matanya merah menyala.

Mulutnya dipenuhi taring hitam.

Namun yang membuat Ethan membeku bukanlah wujud monster itu.

Melainkan Qi gelap yang menyelimuti tubuhnya.

Qi semacam itu...

Seharusnya hanya muncul pada makhluk yang telah lama tersegel.

Dan kini...

Makhluk itu perlahan mengangkat kepalanya.

Tatapan merahnya tepat mengunci Ethan yang berdiri di balik jendela.

Episodes
1 Kematian yang Terlambat
2 Jejak yang Belum Padam
3 Benang Qi di Bukit Sunyi
4 Gerbang yang Tertidur
5 Cahaya yang Mengundang Pemburu
6 Bayangan yang Keluar dari Segel
7 Peta dari Masa Lalu
8 Penjaga Simpul Kedua
9 Mata Emas di Balik Kabut
10 Resonansi Dua Artefak
11 Raungan dari Segel Pertama
12 Nama yang Tersimpan dalam Arsip Naga
13 Lelang Tengah Malam
14 Panah Pemburu Naga
15 Gerbang di Bawah Pelabuhan
16 Kota yang Tidak Ada di Peta
17 Kompas Laut Roh
18 Ujian Penjaga Laut Kabut
19 Kota yang Bangkit dari Laut Kabut
20 Kebangkitan Penjaga Batu Naga
21 Warisan Raja Laut Kabut
22 Tamu Tak Diundang dari Gerbang Hitam
23 Pengakuan Sang Jenderal
24 Bayangan di Balik Singgasana Putih
25 Pewaris Divisi Bayangan
26 Makam Sang Kaisar Bayangan
27 Warisan yang Menolak Pewaris
28 Perjanjian di Atas Reruntuhan
29 Naga yang Tidak Seharusnya Terbangun
30 Darah Kaisar dan Segel Pertama
31 Mata yang Mengawasi Langit
32 Sidang Para Penguasa Senja
33 Gerbang Makam Para Kaisar Abadi
34 Penjaga Gerbang Tanpa Nama
35 Aula Para Kaisar yang Terlupakan
36 Makhluk di Balik Segel Kedua
37 Kristal Kegelapan dan Pengkhianatan Ribuan Tahun
38 JEJAK KAISAR KETUJUH
39 PENJAGA BERZIRAH HITAM
40 UJIAN SANG KAISAR BAYANGAN
41 Kementerian Pertahanan
42 Undangan dari Dunia yang Disembunyikan
43 Dunia Kecil di Balik Gerbang
44 Armada Sekte Pemakan Langit
45 Ujian Menara Langit Kuno
46 Sang Penjaga yang Melampaui Waktu
47 Pewaris Takdir Para Kaisar
48 Kunci Langit Pertama
49 Tatapan dari Kekosongan
50 Tingkat Kedua, Aula Para Pewaris
51 Ujian Sang Penjaga Tombak
52 Tahanan Kelas Kaisar
53 Bisikan Jantung Menara
54 Hakim Singgasana Kedua
55 Pengunjung di Tingkat Ketujuh
56 Nama yang Dihapus
57 Gugurnya Hakim Pertama
58 Gerbang yang Tak Seharusnya Terbuka
59 Bayangan Kaisar Tanpa Nama
60 Pemilik Gerbang Kedelapan
61 Bayangan di Balik Gerbang Kesembilan
62 Pedang dari Dunia yang Hilang
63 Mata yang Mengawasi Langit
64 Suara dari Singgasana Ketujuh
65 Sang Jenderal yang Mengenali Kaisarnya
66 Penjaga Makam Kaisar
67 Lima Mata dari Celah Kehampaan
68 Jejak Mahkota yang Terbangun
69 Ujian Sang Pewaris
70 Bayangan di Balik Segel
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Kematian yang Terlambat
2
Jejak yang Belum Padam
3
Benang Qi di Bukit Sunyi
4
Gerbang yang Tertidur
5
Cahaya yang Mengundang Pemburu
6
Bayangan yang Keluar dari Segel
7
Peta dari Masa Lalu
8
Penjaga Simpul Kedua
9
Mata Emas di Balik Kabut
10
Resonansi Dua Artefak
11
Raungan dari Segel Pertama
12
Nama yang Tersimpan dalam Arsip Naga
13
Lelang Tengah Malam
14
Panah Pemburu Naga
15
Gerbang di Bawah Pelabuhan
16
Kota yang Tidak Ada di Peta
17
Kompas Laut Roh
18
Ujian Penjaga Laut Kabut
19
Kota yang Bangkit dari Laut Kabut
20
Kebangkitan Penjaga Batu Naga
21
Warisan Raja Laut Kabut
22
Tamu Tak Diundang dari Gerbang Hitam
23
Pengakuan Sang Jenderal
24
Bayangan di Balik Singgasana Putih
25
Pewaris Divisi Bayangan
26
Makam Sang Kaisar Bayangan
27
Warisan yang Menolak Pewaris
28
Perjanjian di Atas Reruntuhan
29
Naga yang Tidak Seharusnya Terbangun
30
Darah Kaisar dan Segel Pertama
31
Mata yang Mengawasi Langit
32
Sidang Para Penguasa Senja
33
Gerbang Makam Para Kaisar Abadi
34
Penjaga Gerbang Tanpa Nama
35
Aula Para Kaisar yang Terlupakan
36
Makhluk di Balik Segel Kedua
37
Kristal Kegelapan dan Pengkhianatan Ribuan Tahun
38
JEJAK KAISAR KETUJUH
39
PENJAGA BERZIRAH HITAM
40
UJIAN SANG KAISAR BAYANGAN
41
Kementerian Pertahanan
42
Undangan dari Dunia yang Disembunyikan
43
Dunia Kecil di Balik Gerbang
44
Armada Sekte Pemakan Langit
45
Ujian Menara Langit Kuno
46
Sang Penjaga yang Melampaui Waktu
47
Pewaris Takdir Para Kaisar
48
Kunci Langit Pertama
49
Tatapan dari Kekosongan
50
Tingkat Kedua, Aula Para Pewaris
51
Ujian Sang Penjaga Tombak
52
Tahanan Kelas Kaisar
53
Bisikan Jantung Menara
54
Hakim Singgasana Kedua
55
Pengunjung di Tingkat Ketujuh
56
Nama yang Dihapus
57
Gugurnya Hakim Pertama
58
Gerbang yang Tak Seharusnya Terbuka
59
Bayangan Kaisar Tanpa Nama
60
Pemilik Gerbang Kedelapan
61
Bayangan di Balik Gerbang Kesembilan
62
Pedang dari Dunia yang Hilang
63
Mata yang Mengawasi Langit
64
Suara dari Singgasana Ketujuh
65
Sang Jenderal yang Mengenali Kaisarnya
66
Penjaga Makam Kaisar
67
Lima Mata dari Celah Kehampaan
68
Jejak Mahkota yang Terbangun
69
Ujian Sang Pewaris
70
Bayangan di Balik Segel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!