Menjadi Keluarga

Alya berjalan menyusuri lorong menuju ruang makan dengan langkah yang masih terasa sedikit goyah. Ucapan Adrian di ruang kerja tadi terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak. “Kamu hanya pemeran pengganti, Alya. Jangan lupakan itu.”

Ia mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. "Fokus, Alya. Kamu di sini untuk ibumu, dan untuk dua anak kecil yang membutuhkanmu. Jangan pikirkan hal lain," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan hati.

Begitu melangkah masuk ke ruang makan yang megah, pemandangan hangat langsung menyambutnya. Leon dan Lulu sudah duduk manis di kursi balita yang tinggi. Mereka sudah rapi, mengenakan pakaian kembar berupa kaus bergaris biru-putih, dan rambut mereka yang agak basah tampak disisir rapi.

"Mama!" seru Lulu begitu melihat siluet Alya di ambang pintu. Bocah itu hampir saja melompat dari kursinya jika seorang pelayan wanita paruh baya tidak menahannya dengan panik.

"Lulu, hati-hati, Sayang," ujar Alya refleks. Ia bergegas mendekat dan mengambil posisi duduk di kursi kosong yang berada tepat di antara kedua anak kembar itu.

"Mama lama sekali. Leon kira Papa memarahi Mama," celetuk Leon sambil mengerucutkan bibirnya. Tangan kecilnya langsung meraih jemari Alya dan menggenggamnya erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Alya akan lenyap.

Alya tersenyum lembut, membalas genggaman hangat tangan kecil Leon. "Tidak, Papa tidak memarahi Mama. Papa hanya... membicarakan pekerjaan dengan Mama. Maaf ya membuat kalian menunggu."

Pelayan paruh baya yang tadi menjaga mereka, yang belakangan Alya ketahui bernama Bik Sum, tampak menatap Alya dengan mata berkaca-kaca. Ia mendekat sambil membawa mangkuk berisi bubur ayam dengan potongan sayur yang tertata rapi.

"Nona Alya... demi Tuhan, saya belum pernah melihat Tuan Muda Leon dan Tuan Muda Lulu sejinak ini dengan orang baru," bisik Bik Sum dengan suara bergetar penuh haru. "Biasanya, jam-jam makan seperti ini adalah waktu yang paling membuat frustrasi seluruh pelayan di rumah ini. Mereka pasti melempar sendok atau menangis."

Alya merasa tersanjuh sekaligus iba. "Benarkah, Bik?"

"Benar, Nona. Mereka merindukan ibunya... setiap hari mereka selalu bertanya kapan Mama mereka pulang," sahut Bik Sum lirih, buru-buru menyeka sudut matanya yang basah sebelum anak-anak menyadarinya. "Ini, Nona, mohon bantuannya untuk menyuapi mereka."

Alya menerima mangkuk bubur tersebut. Ia menoleh ke arah Lulu yang sudah membuka mulutnya lebar-lebar seperti anak burung yang kelaparan.

"Aaa..." Lulu bersuara, meminta suapan.

Alya tertawa kecil, rasa tegangnya perlahan mencair. Ia meniup sesendok bubur perlahan sebelum mengarahkannya ke mulut Lulu. "Nyam! Enak?"

"Enak banget! Masakan Mama paling enak!" seru Lulu riang, padahal ia tahu betul itu adalah masakan koki rumah.

"Leon juga mau, Mama!" Leon tidak mau kalah, ia menarik-narik ujung lengan baju Alya dengan wajah cemburu yang menggemaskan.

"Iya, Leon juga dapat. Bergantian, ya?" Alya menyuapi Leon dengan penuh kesabaran.

Suasana di ruang makan itu mendadak penuh dengan tawa renyah anak-anak. Alya dengan telaten menyuapi mereka bergantian, menyeka sisa bubur di sudut bibir mereka dengan tisu, dan mendengarkan cerita-cerita acak tentang mainan robot mereka dengan antusias. Untuk sesaat, Alya benar-benar merasa seperti seorang ibu. Rasa lelah dan beban berat di pundaknya akibat memikirkan penyakit ibunya seolah terangkat begitu saja berkat tawa kedua bocah ini.

Namun, kehangatan itu mendadak surut ketika sebuah bayangan tinggi besar muncul di pintu ruang makan.

Adrian Vasillo berdiri di sana. Jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Tatapannya masih sedingin es, namun ada sedikit kilat keterkejutan di matanya saat melihat mangkuk bubur di tangan Alya sudah hampir kosong.

Suasana ruang makan mendadak hening. Bik Sum segera menunduk hormat dan mundur ke belakang.

"Papa!" panggil Leon, nadanya jauh lebih datar dibandingkan saat ia memanggil Alya. Anak itu tampak langsung menegakkan punggungnya, meniru sikap formal ayahnya.

Adrian berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di kepala meja yang berada tak jauh dari posisi Alya. Ia menatap kedua putranya, lalu beralih ke Alya.

"Mereka menghabiskan makanannya?" tanya Adrian dingin, tertuju pada Alya.

"Iya, Tuan Vasillo. Leon dan Lulu makan dengan sangat lahap," jawab Alya formal, mencoba menjaga jarak profesional seperti yang diminta Adrian sebelumnya.

Lulu yang menyadari perubahan nada bicara di antara kedua orang dewasa itu mendongak, menatap Adrian dengan polos. "Papa, kenapa panggil Mama dengan nama 'Nona Alya'? Nama Mama kan Mama!"

Pertanyaan polos Lulu sukses membuat Alya membeku. Ia melirik Adrian dengan panik, tidak tahu harus menjawab apa.

Adrian sendiri tampak tidak terganggu. Ia meraih cangkir kopi hitam yang baru saja diletakkan oleh pelayan lain di hadapannya, menyesapnya perlahan sebelum menjawab, "Itu hanya panggilan sayang Papa untuk Mamamu, Lulu."

Uhuk!

Alya hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar jawaban lancar yang keluar dari bibir pria dingin itu. 'Panggilan sayang'? Yang benar saja! Pria itu bahkan menatapnya seolah ingin melemparnya keluar dari jendela griya tawang ini beberapa menit yang lalu.

Adrian melirik Alya sekilas dari balik cangkir kopinya, seulas senyum tipis yang tampak lebih seperti seringai mengejek terukir di sudut bibirnya yang seksi. "Benar kan, Sayang?"

Alya mengepalkan tangannya di bawah meja, wajahnya memanas bukan karena baper, melainkan karena menahan kekesalan akibat akting luar biasa sang CEO. Namun, demi anak-anak, ia terpaksa memasang senyum termanisnya.

"I-iya, Lulu... Papa hanya sedang bercanda," jawab Alya terbata-bata, menatap Adrian dengan pandangan yang seolah berkata, 'Tolong hentikan akting gila ini.'

Leon yang tampak lebih kritis memperhatikan interaksi keduanya, lalu mengangguk-angguk kecil. "Kalau begitu, Mama juga harus punya panggilan sayang untuk Papa! Seperti di film-film yang ditonton Bik Sum, panggilnya 'Hubby' atau 'Mas'!"

Mendengar ucapan Leon, giliran Adrian yang hampir tersedak kopinya. Pria itu meletakkan cangkirnya dengan sedikit sentakan ke atas meja, membuat bunyi berdenting yang cukup keras. Mata elangnya menatap Leon dengan tajam, namun sang putra sulung justru membalasnya dengan tatapan polos tanpa dosa.

Alya menahan senyum kemenangannya melihat sang CEO akhirnya terkena batunya sendiri akibat ulah putranya yang kelewat cerdas.

"Leon, Papa dan Mama..." Alya mencoba mencari alasan, namun Lulu buru-buru memotong.

"Ayo Mama panggil Papa! Lulu mau dengar!" desak Lulu sambil bertepuk tangan gembira.

Alya melirik Adrian yang kini sedang menatapnya dengan pandangan memperingatkan—sebuah ancaman tersirat agar Alya tidak berani macam-macam. Namun, adrenalin di dalam diri Alya mendadak melonjak. Pria ini sudah mengintimidasi dan merendahkannya sejak awal pertemuan mereka. Sedikit pembalasan lewat permainan anak-anak rasanya tidak akan membuat kontrak mereka batal, bukan?

Alya mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Adrian, tersenyum manis dengan binar jenaka di matanya yang sengaja ia tunjukkan hanya pada pria itu.

"Tentu saja, Lulu. Kalau di rumah, Mama biasanya panggil Papa dengan sebutan... Mas Adrian," ucap Alya dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan, bahkan terdengar sedikit manja.

Rahang Adrian mengeras seketika. Gelas kopi di tangannya seolah siap pecah akibat cengkeramannya yang mengencang. Sorot mata pria itu menggelap, memancarkan aura berbahaya yang siap menerkam Alya kapan saja.

"Mas Adrian?" ulang Leon, mencoba mengeja panggilan tersebut. "Kedengarannya bagus!"

"Iya! Mas Papa!" sahut Lulu asal-asalan yang langsung memicu tawa kecil dari Alya.

Di tengah tawa riang si kembar, Adrian condong ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah Alya hingga wanita itu bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di pipinya.

"Kau berani bermain-main denganku, Nona Alya?" bisik Adrian, suaranya begitu rendah dan tajam, hanya bisa didengar oleh Alya seorang.

Alya tidak mundur. Ia membalas tatapan itu dengan keberanian yang entah datang dari mana. "Saya hanya mengikuti alur permainan yang Tuan mulai," bisiknya balik dengan senyuman yang tetap terkembang di bibirnya.

Adrian menatap bibir ranum Alya yang tersenyum menantang, lalu beralih kembali ke mata wanita itu. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ada seorang wanita yang berani menatapnya tanpa rasa takut, bahkan berani membalas intriknya.

"Kita lihat seberapa lama kamu bisa mempertahankan keberanianmu ini di rumahku, Istriku," bisik Adrian penuh penekanan yang sarat akan ancaman, sebelum akhirnya ia kembali menegakkan tubuhnya dan mengalihkan perhatian pada anak-anaknya.

Alya merasakan debaran aneh di dadanya. Itu bukan debaran cinta, melainkan debaran waspada. Ia tahu, dengan membalas Adrian, ia baru saja membangunkan seekor singa yang sedang tidur. Dan mulai detik ini, hidupnya di dalam griya tawang Keluarga Vasillo tidak akan pernah sama lagi.

Episodes
1 Dua Pelukan Kecil
2 Mama
3 Menjadi Keluarga
4 Satu keberanian
5 Foto
6 Rumah sakit
7 Lulu sakit
8 Bayang-Bayang Fotografer dan Lembaran Kontrak Baru
9 Masa lalu
10 Wawancara
11 Retakan di Balik Dinding Kaca
12 Rahasia Gelap
13 Hak Asuh
14 Tamu yang Tidak Diundang
15 Langkah di Luar Rencana
16 Aliansi yang tak terlihat
17 Perangkap di Balik Tirai
18 Mulai runtuhnya dinding kaca
19 Kehangatan yang Merayap
20 Lembaran Baru yang Sesungguhnya
21 Sekolah baru
22 Elena
23 Riak di Balik Persiapan
24 Pertemuan Dua Ibu
25 Pengejaran di Jalur Cepat
26 Bayang-Bayang Baru
27 Ancaman
28 Lembaran yang Belum Selesai
29 Permainan Catur Dimulai
30 Langkah Terakhir di Ujung Papan
31 Pertemuan di Kota Gudeg
32 Umpan yang Berbalik
33 Umpan yang Berbalik
34 Badai di Lereng Merapi
35 Sisa Abu yang Belum Dingin
36 Topeng yang Retak
37 Menuju Zurich
38 Pertemuan dengan Elena yang Asli
39 Menulis Cerita Baru
40 Geliat dari Balik Dinding Sel
41 Retakan di Dalam Benteng
42 Kebenaran di Balik Protokol Hitam
43 Ketenangan yang Menipu
44 Malam Dansa Musim Gugur
45 Langkah Catur di Atas Lantai Dansa
46 Ruang Komando yang Kembali Menyala
47 Negosiasi di Menara Kaca
48 Riak di Bawah Permukaan Eropa
49 Menapakkan Kaki di Kota Mode
50 Ujian Terakhir sang Waktu
51 Konfrontasi di Balik Kaca Hujan
52 Pembersihan Sisa-Sisa Badai
53 Pagi yang Lambat dan Aroma Kopi
54 Kehangatan yang Tertinggal di Sela Waktu
55 Piknik Rahasia di Taman Tersembunyi
56 Aroma yang Mengusik Pagi
57 Detik-Detik yang Menegangkan
58 Reaksi Dua Buah Hati
59 Desau Angin Sore dan Detak Jantung Kedua
60 Rahasia Kamar Bayi dan Sentuhan Estetika
61 Detak yang Menjadi Nyata
62 Kamar yang Berubah Dua Kali Lipat
63 Kejutan di Tengah Malam dan Tendangan Ganda
64 Sore yang Riuh dan Harapan di Balik Awan
65 Persiapan dan Ruang Bersalin Kerajaan
66 Perjuangan di Ruang Persalinan
67 Kepulangan Sang Ratu dan Sambutan Menara
68 Riak Kecil di Pagi Hari
69 Langkah Pertama Alice dan Melodi Siang Hari
70 Kilas Balik dan Secangkir Teh di Sisi Balkon
71 Jejak Kecil di Lorong Kekuasaan
72 Kerikil Pertama di Istana Emas
73 Siasat Malik dan Perjanjian Damai Balita
74 Babak Baru Sang Kakak
75 Flu Pertama dan Panik Sang Kaisar
76 Kenakalan Kecil di Taman Atap
77 Drama Potong Rambut Pertama
78 Eksperimen Kuliner di Dapur Utama
79 Insiden Lipstik Merah di Dinding Monokrom
80 Misteri Sepatu yang Hilang dan Rapat Darurat Malik
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Dua Pelukan Kecil
2
Mama
3
Menjadi Keluarga
4
Satu keberanian
5
Foto
6
Rumah sakit
7
Lulu sakit
8
Bayang-Bayang Fotografer dan Lembaran Kontrak Baru
9
Masa lalu
10
Wawancara
11
Retakan di Balik Dinding Kaca
12
Rahasia Gelap
13
Hak Asuh
14
Tamu yang Tidak Diundang
15
Langkah di Luar Rencana
16
Aliansi yang tak terlihat
17
Perangkap di Balik Tirai
18
Mulai runtuhnya dinding kaca
19
Kehangatan yang Merayap
20
Lembaran Baru yang Sesungguhnya
21
Sekolah baru
22
Elena
23
Riak di Balik Persiapan
24
Pertemuan Dua Ibu
25
Pengejaran di Jalur Cepat
26
Bayang-Bayang Baru
27
Ancaman
28
Lembaran yang Belum Selesai
29
Permainan Catur Dimulai
30
Langkah Terakhir di Ujung Papan
31
Pertemuan di Kota Gudeg
32
Umpan yang Berbalik
33
Umpan yang Berbalik
34
Badai di Lereng Merapi
35
Sisa Abu yang Belum Dingin
36
Topeng yang Retak
37
Menuju Zurich
38
Pertemuan dengan Elena yang Asli
39
Menulis Cerita Baru
40
Geliat dari Balik Dinding Sel
41
Retakan di Dalam Benteng
42
Kebenaran di Balik Protokol Hitam
43
Ketenangan yang Menipu
44
Malam Dansa Musim Gugur
45
Langkah Catur di Atas Lantai Dansa
46
Ruang Komando yang Kembali Menyala
47
Negosiasi di Menara Kaca
48
Riak di Bawah Permukaan Eropa
49
Menapakkan Kaki di Kota Mode
50
Ujian Terakhir sang Waktu
51
Konfrontasi di Balik Kaca Hujan
52
Pembersihan Sisa-Sisa Badai
53
Pagi yang Lambat dan Aroma Kopi
54
Kehangatan yang Tertinggal di Sela Waktu
55
Piknik Rahasia di Taman Tersembunyi
56
Aroma yang Mengusik Pagi
57
Detik-Detik yang Menegangkan
58
Reaksi Dua Buah Hati
59
Desau Angin Sore dan Detak Jantung Kedua
60
Rahasia Kamar Bayi dan Sentuhan Estetika
61
Detak yang Menjadi Nyata
62
Kamar yang Berubah Dua Kali Lipat
63
Kejutan di Tengah Malam dan Tendangan Ganda
64
Sore yang Riuh dan Harapan di Balik Awan
65
Persiapan dan Ruang Bersalin Kerajaan
66
Perjuangan di Ruang Persalinan
67
Kepulangan Sang Ratu dan Sambutan Menara
68
Riak Kecil di Pagi Hari
69
Langkah Pertama Alice dan Melodi Siang Hari
70
Kilas Balik dan Secangkir Teh di Sisi Balkon
71
Jejak Kecil di Lorong Kekuasaan
72
Kerikil Pertama di Istana Emas
73
Siasat Malik dan Perjanjian Damai Balita
74
Babak Baru Sang Kakak
75
Flu Pertama dan Panik Sang Kaisar
76
Kenakalan Kecil di Taman Atap
77
Drama Potong Rambut Pertama
78
Eksperimen Kuliner di Dapur Utama
79
Insiden Lipstik Merah di Dinding Monokrom
80
Misteri Sepatu yang Hilang dan Rapat Darurat Malik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!