Ibu Pengganti Untuk Anak Kembar Sang CEO

Ibu Pengganti Untuk Anak Kembar Sang CEO

Dua Pelukan Kecil

Malam semakin larut, namun lorong rumah sakit swasta itu masih terasa mencekam bagi Alya. Ia menggenggam jemarinya yang gemetar, menatap pintu ruang ICU tempat ibunya terbaring lemah. Biaya operasi dan perawatan totalnya mencapai dua ratus juta rupiah—angka yang mustahil bisa ia dapatkan dalam waktu semalam.

"Nona Alya?"

Sebuah suara berat memecah keheningan. Alya mendongak dan mendapati seorang pria paruh baya berjas rapi berdiri di hadapannya.

"Ya, saya sendiri. Anda... siapa?" tanya Alya lirih.

Pria itu membungkuk sopan. "Saya Malik, asisten pribadi Tuan Adrian Vasillo. Saya datang membawa penawaran yang bisa menyelamatkan ibu Anda."

Alya mengernyit, air matanya tertahan di sudut mata. "Penawaran? Apa maksud Anda?"

Malik tidak langsung menjawab. Ia menyodorkan sebuah map dokumen tebal berwarna hitam. "Tuan saya membutuhkan seorang ibu pengganti untuk kedua putra kembarnya. Jika Anda setuju, seluruh biaya rumah sakit ibu Anda akan dilunasi malam ini juga. Plus, Anda akan menerima imbalan bulanan yang sangat besar."

Alya tertegun. Jantungnya berdegup kencang membaca tulisan di lembar pertama: Kontrak Pernikahan dan Ibu Pengganti.

"Ibu... pengganti?" bisik Alya, suaranya tercekat. "Kenapa harus saya?"

"Karena Anda memenuhi semua kriteria yang dicari," jawab Malik tenang. "Bagaimana, Nona Alya? Waktu ibu Anda tidak banyak."

Alya menatap pintu ICU, lalu beralih ke pen bulpen yang disodorkan Malik. Mengabaikan seluruh keraguannya, ia meraih pen itu.

"Saya terima."

Keesokan paginya, sebuah mobil mewah hitam sudah menjemput Alya dan membawanya ke sebuah griya tawang (penthouse) super mewah di pusat kota. Begitu pintu lift terbuka langsung ke dalam ruangan, Alya terpaku. Tempat itu sangat luas, didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih. Dingin dan tanpa sentuhan kehangatan sama sekali.

"Masuklah," perintah Malik yang berjalan di depannya.

Alya melangkah ragu, meremas ujung blus krem sederhananya. Di tengah ruang keluarga yang megah, seorang pria tegap berjas hitam sedang berdiri membelakangi mereka, menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca besar.

"Tuan, Nona Alya sudah tiba," lapor Malik.

Pria itu berbalik. Sepasang mata elang yang tajam langsung menusuk netra Alya. Wajahnya luar biasa tampan, namun rahangnya yang kokoh mengeras, memancarkan aura intimidasi yang kuat. Dialah Adrian Vasillo.

"Jadi, ini wanita yang kamu pilih, Malik?" suara Adrian terdengar berat dan dingin, sanggup membuat bulu kuduk Alya meremang.

"Benar, Tuan. Nona Alya memiliki latar belakang yang bersih," sahut Malik.

Adrian berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar tegas di atas lantai marmer. Ia berhenti tepat di depan Alya, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang merendahkan.

"Dengar, Alya," ucap Adrian dingin. "Aku tidak butuh istri. Aku hanya butuh seseorang yang bisa mengurus anak kembar-ku dan berpura-pura menjadi ibu mereka di hadapan publik. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan lebih dari kontrak yang sudah kamu tanda tangani."

Alya menelan ludah, mencoba menegakkan bahunya. "Saya tahu diri, Tuan Vasillo. Saya di sini hanya bekerja demi pengobatan ibu saya."

Adrian mendengus remeh. "Bagus kalau kamu paham. Tugas pertamamu adalah menghadapi mereka. Jika dalam tiga hari mereka menolakmu seperti puluhan pengasuh sebelumnya, kontrak ini batal dan ibumu akan dikeluarkan dari rumah sakit."

"Tuan, itu tidak adil—"

"Di duniaku, tidak ada yang gratis," potong Adrian tajam. "Malik, bawa dia ke kamar anak-anak."

Malik mengantar Alya ke sebuah pintu besar di ujung lorong lantai dua. Sebelum membuka pintu, Malik berbisik, "Berhati-hatilah, Nona. Tuan Muda Leon dan Tuan Muda Lulu sangat cerdas, tapi mereka membenci wanita asing."

Alya mengangguk pelan. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ketika pintu terbuka, ia melihat sebuah kamar bermain yang sangat luas dan penuh dengan mainan mahal. Di sudut ruangan, dekat jendela besar, dua anak laki-laki kecil berusia sekitar empat tahun sedang duduk di atas karpet bulu. Wajah mereka sangat mirip, bagai pinang dibelah dua, dengan mata bulat yang cerdas.

"Leon, Lulu, ini Bibi Alya. Dia yang akan menemani kalian mulai hari ini," ujar Malik lembut.

Kedua anak itu menoleh serempak. Begitu mata mereka bertemu dengan Alya, suasana mendadak hening. Alya melempar senyum paling tulus yang ia miliki, lalu berlutut di lantai agar tingginya sejajar dengan mereka.

"Halo, Leon. Halo, Lulu. Nama saya Alya," sapa Alya lembut.

Leon, yang tampaknya sedikit lebih tua, menatap Alya dengan pandangan menyelidik yang sangat mirip dengan Adrian. Sementara Lulu, adiknya, memiringkan kepalanya, menatap Alya tanpa kedip.

Malik bersiap menarik Alya mundur, mengira kedua tuan muda itu akan mulai berteriak atau melempar mainan seperti biasanya. Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat Malik terperangah.

Lulu tiba-tiba bangkit berdiri. Kaki kecilnya melangkah cepat mendekati Alya.

"Lulu, jangan—" Malik hendak mencegah, namun terlambat.

Lulu tidak melempar mainan. Anak kecil itu justru langsung menghambur ke pelukan Alya, memeluk leher wanita itu dengan sangat erat.

"Mama..." bisik Lulu lirih, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alya.

Alya tersentak. Tubuhnya kaku seketika. Sentuhan mungil itu terasa begitu hangat, mengalirkan getaran aneh yang langsung menyentuh lubuk hatinya. Tanpa sadar, tangan Alya bergerak membalas pelukan erat anak itu, mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.

"Lulu?" panggil Leon dengan suara cemprengnya. Ia ikut bangkit, berjalan mendekat dengan dahi berkerut. "Kamu panggil dia apa?"

Lulu melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Leon, ini Mama! Wanginya sama seperti di mimpi Lulu! Ini Mama kita!"

Leon menatap Alya dengan ragu. Ia mendekat, mengendus pelan pakaian Alya, lalu matanya yang besar tiba-tiba melebar. Keraguan di wajah kecilnya sirna, digantikan oleh binar kerinduan yang mendalam. Tanpa aba-aba, Leon ikut menerjang masuk ke dalam pelukan Alya, menangis sesenggukan.

"Mama! Mama kenapa lama sekali menjemput kami?" tangis Leon pecah, memeluk pinggang Alya dengan erat.

"Hei... anak-anak pintar, kenapa menangis?" Alya merasa matanya sendiri mulai memanas. Ia mendekap kedua anak kembar itu ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala mereka satu per satu dengan naluri kebuanan yang tiba-tiba bangkit begitu kuat. "Maafkan Bibi... maaf ya..."

"Bukan Bibi! Mama!" protes Lulu sambil merengut, air mata masih menggenang di pipi gembilnya.

"Iya, Mama jangan pergi lagi, ya? Berjanji pada Leon?" pinta Leon sambil mengacungkan jari kelingking kecilnya yang gemetar.

Alya menatap kelingking itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ini hanya kontrak, ia tahu dia bukan ibu kandung mereka. Namun melihat binar harapan di mata kedua anak suci ini, Alya tidak tega menghancurkannya. Ia menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Leon.

"Iya, Mama berjanji tidak akan pergi," bisik Alya lembut, menyeka air mata di pipi kedua bocah itu.

Di ambang pintu, Adrian Vasillo berdiri mematung. Pria itu menyaksikan seluruh kejadian tersebut dengan rahang yang mengeras dan kepalan tangan yang mengencang di sisi tubuhnya.

Mata elangnya menatap tajam ke arah Alya yang sedang tertawa kecil sambil mengusap air mata kedua putranya—dua putra yang selama empat tahun ini tidak pernah mau disentuh oleh wanita mana pun, bahkan oleh nenek mereka sendiri.

"Bagaimana bisa..." gumam Adrian, suaranya sangat rendah, nyaris seperti bisikan angin yang berbahaya.

Alya yang menyadari kehadiran Adrian langsung mendongak. Pandangan mereka bertemu. Di antara pelukan hangat dua anak kembar yang menggemaskan, tatapan dingin dan penuh selubung misteri dari sang CEO seolah memberi peringatan bahwa kehidupan baru Alya di rumah ini tidak akan pernah berjalan dengan mudah.

Terpopuler

Comments

Umi Fitriani

Umi Fitriani

mampir Thor

2026-07-23

0

Rian Moontero

Rian Moontero

mampiiirr

2026-07-14

0

lihat semua
Episodes
1 Dua Pelukan Kecil
2 Mama
3 Menjadi Keluarga
4 Satu keberanian
5 Foto
6 Rumah sakit
7 Lulu sakit
8 Bayang-Bayang Fotografer dan Lembaran Kontrak Baru
9 Masa lalu
10 Wawancara
11 Retakan di Balik Dinding Kaca
12 Rahasia Gelap
13 Hak Asuh
14 Tamu yang Tidak Diundang
15 Langkah di Luar Rencana
16 Aliansi yang tak terlihat
17 Perangkap di Balik Tirai
18 Mulai runtuhnya dinding kaca
19 Kehangatan yang Merayap
20 Lembaran Baru yang Sesungguhnya
21 Sekolah baru
22 Elena
23 Riak di Balik Persiapan
24 Pertemuan Dua Ibu
25 Pengejaran di Jalur Cepat
26 Bayang-Bayang Baru
27 Ancaman
28 Lembaran yang Belum Selesai
29 Permainan Catur Dimulai
30 Langkah Terakhir di Ujung Papan
31 Pertemuan di Kota Gudeg
32 Umpan yang Berbalik
33 Umpan yang Berbalik
34 Badai di Lereng Merapi
35 Sisa Abu yang Belum Dingin
36 Topeng yang Retak
37 Menuju Zurich
38 Pertemuan dengan Elena yang Asli
39 Menulis Cerita Baru
40 Geliat dari Balik Dinding Sel
41 Retakan di Dalam Benteng
42 Kebenaran di Balik Protokol Hitam
43 Ketenangan yang Menipu
44 Malam Dansa Musim Gugur
45 Langkah Catur di Atas Lantai Dansa
46 Ruang Komando yang Kembali Menyala
47 Negosiasi di Menara Kaca
48 Riak di Bawah Permukaan Eropa
49 Menapakkan Kaki di Kota Mode
50 Ujian Terakhir sang Waktu
51 Konfrontasi di Balik Kaca Hujan
52 Pembersihan Sisa-Sisa Badai
53 Pagi yang Lambat dan Aroma Kopi
54 Kehangatan yang Tertinggal di Sela Waktu
55 Piknik Rahasia di Taman Tersembunyi
56 Aroma yang Mengusik Pagi
57 Detik-Detik yang Menegangkan
58 Reaksi Dua Buah Hati
59 Desau Angin Sore dan Detak Jantung Kedua
60 Rahasia Kamar Bayi dan Sentuhan Estetika
61 Detak yang Menjadi Nyata
62 Kamar yang Berubah Dua Kali Lipat
63 Kejutan di Tengah Malam dan Tendangan Ganda
64 Sore yang Riuh dan Harapan di Balik Awan
65 Persiapan dan Ruang Bersalin Kerajaan
66 Perjuangan di Ruang Persalinan
67 Kepulangan Sang Ratu dan Sambutan Menara
68 Riak Kecil di Pagi Hari
69 Langkah Pertama Alice dan Melodi Siang Hari
70 Kilas Balik dan Secangkir Teh di Sisi Balkon
71 Jejak Kecil di Lorong Kekuasaan
72 Kerikil Pertama di Istana Emas
73 Siasat Malik dan Perjanjian Damai Balita
74 Babak Baru Sang Kakak
75 Flu Pertama dan Panik Sang Kaisar
76 Kenakalan Kecil di Taman Atap
77 Drama Potong Rambut Pertama
78 Eksperimen Kuliner di Dapur Utama
79 Insiden Lipstik Merah di Dinding Monokrom
80 Misteri Sepatu yang Hilang dan Rapat Darurat Malik
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Dua Pelukan Kecil
2
Mama
3
Menjadi Keluarga
4
Satu keberanian
5
Foto
6
Rumah sakit
7
Lulu sakit
8
Bayang-Bayang Fotografer dan Lembaran Kontrak Baru
9
Masa lalu
10
Wawancara
11
Retakan di Balik Dinding Kaca
12
Rahasia Gelap
13
Hak Asuh
14
Tamu yang Tidak Diundang
15
Langkah di Luar Rencana
16
Aliansi yang tak terlihat
17
Perangkap di Balik Tirai
18
Mulai runtuhnya dinding kaca
19
Kehangatan yang Merayap
20
Lembaran Baru yang Sesungguhnya
21
Sekolah baru
22
Elena
23
Riak di Balik Persiapan
24
Pertemuan Dua Ibu
25
Pengejaran di Jalur Cepat
26
Bayang-Bayang Baru
27
Ancaman
28
Lembaran yang Belum Selesai
29
Permainan Catur Dimulai
30
Langkah Terakhir di Ujung Papan
31
Pertemuan di Kota Gudeg
32
Umpan yang Berbalik
33
Umpan yang Berbalik
34
Badai di Lereng Merapi
35
Sisa Abu yang Belum Dingin
36
Topeng yang Retak
37
Menuju Zurich
38
Pertemuan dengan Elena yang Asli
39
Menulis Cerita Baru
40
Geliat dari Balik Dinding Sel
41
Retakan di Dalam Benteng
42
Kebenaran di Balik Protokol Hitam
43
Ketenangan yang Menipu
44
Malam Dansa Musim Gugur
45
Langkah Catur di Atas Lantai Dansa
46
Ruang Komando yang Kembali Menyala
47
Negosiasi di Menara Kaca
48
Riak di Bawah Permukaan Eropa
49
Menapakkan Kaki di Kota Mode
50
Ujian Terakhir sang Waktu
51
Konfrontasi di Balik Kaca Hujan
52
Pembersihan Sisa-Sisa Badai
53
Pagi yang Lambat dan Aroma Kopi
54
Kehangatan yang Tertinggal di Sela Waktu
55
Piknik Rahasia di Taman Tersembunyi
56
Aroma yang Mengusik Pagi
57
Detik-Detik yang Menegangkan
58
Reaksi Dua Buah Hati
59
Desau Angin Sore dan Detak Jantung Kedua
60
Rahasia Kamar Bayi dan Sentuhan Estetika
61
Detak yang Menjadi Nyata
62
Kamar yang Berubah Dua Kali Lipat
63
Kejutan di Tengah Malam dan Tendangan Ganda
64
Sore yang Riuh dan Harapan di Balik Awan
65
Persiapan dan Ruang Bersalin Kerajaan
66
Perjuangan di Ruang Persalinan
67
Kepulangan Sang Ratu dan Sambutan Menara
68
Riak Kecil di Pagi Hari
69
Langkah Pertama Alice dan Melodi Siang Hari
70
Kilas Balik dan Secangkir Teh di Sisi Balkon
71
Jejak Kecil di Lorong Kekuasaan
72
Kerikil Pertama di Istana Emas
73
Siasat Malik dan Perjanjian Damai Balita
74
Babak Baru Sang Kakak
75
Flu Pertama dan Panik Sang Kaisar
76
Kenakalan Kecil di Taman Atap
77
Drama Potong Rambut Pertama
78
Eksperimen Kuliner di Dapur Utama
79
Insiden Lipstik Merah di Dinding Monokrom
80
Misteri Sepatu yang Hilang dan Rapat Darurat Malik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!