Satu keberanian

Makan siang yang penuh ketegangan tersembunyi itu akhirnya selesai. Adrian adalah orang pertama yang meninggalkan meja makan. Pria itu pergi begitu saja setelah menyelesaikan kopinya, tanpa pamit, hanya menyisakan aroma parfum maskulinnya yang kuat dan udara dingin yang lambat laun mulai mencair seiring kepergiannya.

"Mama, ayo kita main robot lagi!" Lulu menarik-narik ujung blus Alya, membuyarkan lamunan wanita itu.

Alya menunduk, menatap wajah polos Lulu dan Leon yang kini menengadah penuh harap ke arahnya. Rasa hangat kembali menjalar di dadanya, mengusir sisa-sisa intimidasi yang ditinggalkan oleh sang CEO kejam.

"Tentu saja. Tapi, sebelum main, bagaimana kalau kita membersihkan tangan dan mulut dulu?" ujar Alya lembut. Ia mengambil tisu basah di atas meja, lalu dengan telaten menyeka jemari kecil si kembar satu per satu.

Bik Sum yang sedang membereskan piring-piring kotor tidak bisa menahan senyumnya. "Nona Alya, jika Nona butuh sesuatu, panggil saja saya di dapur belakang, ya. Kamar Nona juga sudah disiapkan di sebelah kamar Tuan Muda."

"Terima kasih banyak, Bik Sum," jawab Alya tulus. "Panggil Alya saja, Bik. Tidak perlu terlalu formal kalau sedang tidak ada Tuan Adrian."

Bik Sum terkekeh pelan, merasa menyukai kepribadian Alya yang rendah hati. "Baiklah, Nona—maksudku, Mbak Alya. Semoga Mbak betah di sini."

Setelah memastikan kedua bocah itu bersih, Alya menggandeng tangan mereka kembali menuju kamar bermain. Selama dua jam berikutnya, ruangan luas itu dipenuhi oleh suara tawa renyah. Alya membiarkan dirinya larut dalam dunia imajinasi anak-anak. Ia menjadi monster jahat yang dikejar oleh robot-robot pahlawan milik Leon, dan sedetik kemudian berubah menjadi pasien di rumah sakit mainan milik Lulu.

Bagi Alya, ini adalah momen pelarian yang menenangkan. Selama berbulan-bulan ini, kepalanya hampir pecah memikirkan biaya rumah sakit ibunya yang kian menumpuk. Namun di sini, di antara tumpukan mainan mahal dan pelukan tulus dua anak kembar, ia seolah menemukan oase.

Sekitar pukul tiga sore, mata kedua bocah itu mulai tampak sayu. Gerakan mereka melambat, dan Lulu beberapa kali menguap lebar sambil menyandarkan kepalanya di paha Alya.

"Mengantuk, ya?" bisik Alya, mengusap rambut halus Lulu.

Leon yang berusaha tetap terjaga dengan memegang robotnya erat-erat akhirnya menggeleng keras. "Tidak... Leon tidak mengantuk. Leon mau main sama Mama. Kalau Leon tidur, nanti Mama pergi lagi seperti dulu."

Jantung Alya berdenyut nyeri mendengar ketakutan yang tersirat dari suara bocah sekecil Leon. Trauma ditinggalkan oleh ibu kandung mereka ternyata berakar begitu dalam di hati anak-anak ini.

Alya menggeser duduknya, lalu merangkul Leon dan Lulu sekaligus ke dalam pelukannya. "Mama tidak akan pergi ke mana-mana, Sayang. Mama akan ada di sini saat kalian membuka mata nanti. Bagaimana kalau Mama temani tidur di kamar?"

Lulu mendongak, matanya yang berair menatap Alya dengan sayu. "Mama tidur bersama kami?"

"Iya, Mama elus punggungnya sampai kalian bobo nyenyak. Mau?"

Kedua anak itu mengangguk serempak. Alya kemudian menuntun mereka ke tempat tidur berukuran king size bernuansa biru langit yang terletak di sisi lain kamar tersebut. Begitu tubuh mungil mereka naik ke atas ranjang dan diselimuti, Alya mengambil posisi di tengah-tengah mereka.

Ia mulai menyanyikan lagu pengantar tidur sederhana dengan suara yang lembut dan mengalun rendah, sementara tangannya bergerak ritmis menepuk-nepuk pelan punggung Leon dan Lulu bergantian. Tidak butuh waktu lama, napas kedua anak kembar itu mulai terdengar teratur dan berat. Mereka telah terlelap, masing-masing memeluk satu lengan Alya dengan posesif.

Alya menatap wajah tidur mereka yang begitu damai. Dalam hati, ia bertanya-tanya, wanita macam apa yang tega meninggalkan anak-anak se-menggemaskan dan se-cerdas ini? Dan apa yang sebenarnya terjadi antara wanita itu dan Adrian Vasillo di masa lalu?

Memastikan si kembar benar-benar tertidur pulas, Alya perlahan-lahan melepaskan lengannya dari rengkuhan mereka dengan sangat hati-hati. Ia turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara, membetulkan letak selimut mereka, lalu melangkah keluar kamar demi memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk membersihkan diri.

Seorang pelayan muda menunjukkan kamar baru Alya yang terletak tepat di sebelah kamar si kembar. Kamar itu sangat luas untuk ukuran seorang pengasuh—atau bahkan seorang istri kontrak. Tempat tidurnya empuk, ada kamar mandi dalam yang mewah, dan sebuah lemari besar yang setelah dibuka ternyata sudah penuh dengan pakaian wanita berbagai ukuran yang tampak mewah namun tetap kasual.

"Tuan Adrian yang memerintahkan untuk menyiapkan semua ini, Nona," ujar pelayan tersebut sebelum pamit.

Alya mengembus napas. Pria itu benar-benar perfeksionis. Adrian mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang agar akting mereka di depan publik tidak bercelah.

Setelah mandi dan berganti pakaian dengan terusan katun sederhana berwarna hijau mint, Alya memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Ia ingin mengambil segelas air hangat untuk menenangkan saraf-sarafnya yang masih tegang.

Griya tawang itu tampak sepi di sore hari. Sebagian besar pelayan tampaknya sedang sibuk di area belakang atau dapur kotor. Namun, saat Alya melewati lorong menuju dapur bersih, langkahnya terhenti ketika mendengar suara bariton yang sangat ia kenal dari arah ruang tengah.

Adrian berada di sana, sedang berdiri membelakangi lorong sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Nada suaranya terdengar sangat tajam dan tidak sabaran.

"Aku tidak peduli bagaimana caramu, Malik. Blokir semua akses berita tentang wanita itu. Jangan biarkan dia mendekati wilayah Jakarta lagi," ujar Adrian, suaranya berdesis rendah namun penuh dengan kemarahan yang tertahan.

Alya menahan napas, memundurkan langkahnya agar tubuhnya tersembunyi di balik pilar besar. Ia tahu menguping adalah perbuatan tidak sopan, namun rasa ingin tahunya terlalu besar.

"Dia sudah kehilangan haknya atas Leon dan Lulu sejak empat tahun lalu ketika dia memilih pergi bersama pria itu," lanjut Adrian, kali ini suaranya terdengar begitu dingin hingga sanggup membekukan udara di sekitarnya. "Jika dia berani menginjakkan kaki di rumah ini atau mencoba menemui anak-anak, aku sendiri yang akan memastikan hidupnya hancur. Mengerti?"

Setelah jeda beberapa detik mendengarkan jawaban dari seberang telepon, Adrian langsung mematikan sambungan dengan kasar. Pria itu mengumpat pelan, lalu melemparkan ponselnya ke atas sofa kulit. Ia memijat pelipisnya dengan frustrasi, napasnya memburu.

Alya terpaku di tempatnya. Wanita itu? Pergi bersama pria lain? Jadi, ibu kandung si kembar pergi meninggalkan mereka demi laki-laki lain? Pantas saja Adrian begitu membenci wanita dan memperlakukan Alya dengan penuh kecurigaan. Pengkhianatan di masa lalu tampaknya telah mengubah pria itu menjadi sosok monster tanpa hati.

Karena terlalu larut dalam pikirannya, Alya tidak sengaja menyenggol sebuah vas bunga kecil yang terletak di atas meja konsol di dekat pilar.

Tuk.

Bunyi geseran vas itu memang pelan, namun di dalam ruangan yang sunyi, suara itu terdengar begitu kentara.

"Siapa di sana?!" gertak Adrian tajam. Pria itu berbalik dengan cepat, mata elangnya langsung mengarah tepat ke pilar tempat Alya bersembunyi.

Alya tahu ia tidak bisa lari. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia melangkah keluar dari balik pilar sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maaf, Tuan Vasillo... saya tidak bermaksud menguping. Saya hanya ingin mengambil air ke dapur."

Adrian berjalan mendekati Alya dengan langkah besar yang mengancam. Jarak di antara mereka terkikis dalam sekejap. Adrian mencengkeram rahang Alya dengan satu tangan, memaksa wanita itu mendongak untuk menatap matanya yang kini menyala penuh amarah.

"Sudah berapa lama kamu berdiri di sana?" tanya Adrian, suaranya bergetar rendah karena menahan emosi yang meluap.

"S-saya baru saja sampai... saya bersumpah," cicit Alya, meringis pelan karena cengkeraman Adrian di rahangnya terasa cukup kuat dan menyakitkan.

Adrian memicingkan matanya, menatap lekat-lekat mata Alya yang tampak ketakutan namun tetap memancarkan kejujuran. Perlahan, Adrian melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan, seolah muak menyentuh wanita asing.

"Ingat posisimu di rumah ini, Alya," ancam Adrian, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Alya. "Satu helai informasi saja bocor dari mulutmu tentang apa yang kamu dengar hari ini, aku tidak akan segan-segan menghentikan seluruh bantuan medis untuk ibumu."

Air mata Alya merebak di pelupuk matanya, bukan karena sakit fisik di rahangnya, melainkan karena fakta bahwa pria ini selalu menggunakan nyawa ibunya sebagai senjata untuk mengancamnya.

Alya menegakkan kepalanya, menatap Adrian dengan kilat kemarahan yang mulai menggantikan rasa takutnya. "Anda tidak perlu terus-menerus mengancam saya dengan nyawa ibu saya, Tuan Vasillo! Saya menghormati kontrak ini, dan saya bukan orang bermuka dua yang suka menjual rahasia majikannya. Jika Anda tidak bisa memercayai saya, untuk apa Anda memilih saya sejak awal?!"

Adrian tertegun sesaat. Ia tidak menyangka wanita yang tampak rapuh dan miskin di hadapannya ini memiliki keberanian untuk membentaknya balik dengan begitu sengit. Selama ini, semua orang di bawah kepemimpinannya selalu menunduk ketakutan jika ia menaikkan nada suaranya sedikit saja.

"Keberanianmu ini... benar-benar merepotkan," gumam Adrian, matanya menatap tajam ke arah bibir Alya yang gemetar karena emosi.

"Saya hanya membela diri. Sekarang, jika Anda sudah selesai menuduh saya, permisi. Saya ingin ke dapur," ujar Alya ketus. Tanpa menunggu izin dari sang CEO, ia membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan tegas menuju dapur.

Adrian berdiri terpaku di tengah ruangan, menatap punggung Alya yang menjauh hingga bayangan wanita itu menghilang di balik dinding dapur. Pria itu menurunkan tangannya yang tadi sempat mencengkeram rahang Alya, merasakan sisa kehangatan kulit wanita itu yang tertinggal di jemarinya.

Sebuah senyuman misterius, yang kali ini tidak tampak dingin, perlahan terukir di wajah tampan Adrian Vasillo.

"Wanita yang menarik," bisik Adrian pada ruangan yang kosong. "Mari kita lihat, seberapa jauh kamu bisa bertahan menghadapi kegelapan di rumah ini, Mas-mu ini akan mengawasimu, Alya."

Episodes
1 Dua Pelukan Kecil
2 Mama
3 Menjadi Keluarga
4 Satu keberanian
5 Foto
6 Rumah sakit
7 Lulu sakit
8 Bayang-Bayang Fotografer dan Lembaran Kontrak Baru
9 Masa lalu
10 Wawancara
11 Retakan di Balik Dinding Kaca
12 Rahasia Gelap
13 Hak Asuh
14 Tamu yang Tidak Diundang
15 Langkah di Luar Rencana
16 Aliansi yang tak terlihat
17 Perangkap di Balik Tirai
18 Mulai runtuhnya dinding kaca
19 Kehangatan yang Merayap
20 Lembaran Baru yang Sesungguhnya
21 Sekolah baru
22 Elena
23 Riak di Balik Persiapan
24 Pertemuan Dua Ibu
25 Pengejaran di Jalur Cepat
26 Bayang-Bayang Baru
27 Ancaman
28 Lembaran yang Belum Selesai
29 Permainan Catur Dimulai
30 Langkah Terakhir di Ujung Papan
31 Pertemuan di Kota Gudeg
32 Umpan yang Berbalik
33 Umpan yang Berbalik
34 Badai di Lereng Merapi
35 Sisa Abu yang Belum Dingin
36 Topeng yang Retak
37 Menuju Zurich
38 Pertemuan dengan Elena yang Asli
39 Menulis Cerita Baru
40 Geliat dari Balik Dinding Sel
41 Retakan di Dalam Benteng
42 Kebenaran di Balik Protokol Hitam
43 Ketenangan yang Menipu
44 Malam Dansa Musim Gugur
45 Langkah Catur di Atas Lantai Dansa
46 Ruang Komando yang Kembali Menyala
47 Negosiasi di Menara Kaca
48 Riak di Bawah Permukaan Eropa
49 Menapakkan Kaki di Kota Mode
50 Ujian Terakhir sang Waktu
51 Konfrontasi di Balik Kaca Hujan
52 Pembersihan Sisa-Sisa Badai
53 Pagi yang Lambat dan Aroma Kopi
54 Kehangatan yang Tertinggal di Sela Waktu
55 Piknik Rahasia di Taman Tersembunyi
56 Aroma yang Mengusik Pagi
57 Detik-Detik yang Menegangkan
58 Reaksi Dua Buah Hati
59 Desau Angin Sore dan Detak Jantung Kedua
60 Rahasia Kamar Bayi dan Sentuhan Estetika
61 Detak yang Menjadi Nyata
62 Kamar yang Berubah Dua Kali Lipat
63 Kejutan di Tengah Malam dan Tendangan Ganda
64 Sore yang Riuh dan Harapan di Balik Awan
65 Persiapan dan Ruang Bersalin Kerajaan
66 Perjuangan di Ruang Persalinan
67 Kepulangan Sang Ratu dan Sambutan Menara
68 Riak Kecil di Pagi Hari
69 Langkah Pertama Alice dan Melodi Siang Hari
70 Kilas Balik dan Secangkir Teh di Sisi Balkon
71 Jejak Kecil di Lorong Kekuasaan
72 Kerikil Pertama di Istana Emas
73 Siasat Malik dan Perjanjian Damai Balita
74 Babak Baru Sang Kakak
75 Flu Pertama dan Panik Sang Kaisar
76 Kenakalan Kecil di Taman Atap
77 Drama Potong Rambut Pertama
78 Eksperimen Kuliner di Dapur Utama
79 Insiden Lipstik Merah di Dinding Monokrom
80 Misteri Sepatu yang Hilang dan Rapat Darurat Malik
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Dua Pelukan Kecil
2
Mama
3
Menjadi Keluarga
4
Satu keberanian
5
Foto
6
Rumah sakit
7
Lulu sakit
8
Bayang-Bayang Fotografer dan Lembaran Kontrak Baru
9
Masa lalu
10
Wawancara
11
Retakan di Balik Dinding Kaca
12
Rahasia Gelap
13
Hak Asuh
14
Tamu yang Tidak Diundang
15
Langkah di Luar Rencana
16
Aliansi yang tak terlihat
17
Perangkap di Balik Tirai
18
Mulai runtuhnya dinding kaca
19
Kehangatan yang Merayap
20
Lembaran Baru yang Sesungguhnya
21
Sekolah baru
22
Elena
23
Riak di Balik Persiapan
24
Pertemuan Dua Ibu
25
Pengejaran di Jalur Cepat
26
Bayang-Bayang Baru
27
Ancaman
28
Lembaran yang Belum Selesai
29
Permainan Catur Dimulai
30
Langkah Terakhir di Ujung Papan
31
Pertemuan di Kota Gudeg
32
Umpan yang Berbalik
33
Umpan yang Berbalik
34
Badai di Lereng Merapi
35
Sisa Abu yang Belum Dingin
36
Topeng yang Retak
37
Menuju Zurich
38
Pertemuan dengan Elena yang Asli
39
Menulis Cerita Baru
40
Geliat dari Balik Dinding Sel
41
Retakan di Dalam Benteng
42
Kebenaran di Balik Protokol Hitam
43
Ketenangan yang Menipu
44
Malam Dansa Musim Gugur
45
Langkah Catur di Atas Lantai Dansa
46
Ruang Komando yang Kembali Menyala
47
Negosiasi di Menara Kaca
48
Riak di Bawah Permukaan Eropa
49
Menapakkan Kaki di Kota Mode
50
Ujian Terakhir sang Waktu
51
Konfrontasi di Balik Kaca Hujan
52
Pembersihan Sisa-Sisa Badai
53
Pagi yang Lambat dan Aroma Kopi
54
Kehangatan yang Tertinggal di Sela Waktu
55
Piknik Rahasia di Taman Tersembunyi
56
Aroma yang Mengusik Pagi
57
Detik-Detik yang Menegangkan
58
Reaksi Dua Buah Hati
59
Desau Angin Sore dan Detak Jantung Kedua
60
Rahasia Kamar Bayi dan Sentuhan Estetika
61
Detak yang Menjadi Nyata
62
Kamar yang Berubah Dua Kali Lipat
63
Kejutan di Tengah Malam dan Tendangan Ganda
64
Sore yang Riuh dan Harapan di Balik Awan
65
Persiapan dan Ruang Bersalin Kerajaan
66
Perjuangan di Ruang Persalinan
67
Kepulangan Sang Ratu dan Sambutan Menara
68
Riak Kecil di Pagi Hari
69
Langkah Pertama Alice dan Melodi Siang Hari
70
Kilas Balik dan Secangkir Teh di Sisi Balkon
71
Jejak Kecil di Lorong Kekuasaan
72
Kerikil Pertama di Istana Emas
73
Siasat Malik dan Perjanjian Damai Balita
74
Babak Baru Sang Kakak
75
Flu Pertama dan Panik Sang Kaisar
76
Kenakalan Kecil di Taman Atap
77
Drama Potong Rambut Pertama
78
Eksperimen Kuliner di Dapur Utama
79
Insiden Lipstik Merah di Dinding Monokrom
80
Misteri Sepatu yang Hilang dan Rapat Darurat Malik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!