Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan

Langkah kakinya membawa Yang Chan melewati ruang tengah yang mungil. Ibunya, wanita paruh baya dengan senyum hangat, menyodorkan sepiring nasi goreng sederhana sebelum menyuruhnya segera menyusul sang ayah ke luar. Mengunyah cepat-cepat, ia langsung melangkah menuju pintu belakang.

Udara dingin langsung menusuk pori-porinya begitu pintu dapur terbuka. Langit pagi itu tampak sangat suram, tertutup awan abu-abu tebal yang menggantung rendah seolah siap menumpahkan badai kapan saja. Angin kencang sesekali bertiup, membawa debu kering yang membuat mata perih.

Di depannya terbentang ladang pertanian keluarga Yang yang tidak seberapa luas. Wilayah perbatasan ini memang terkenal tidak ramah. Tanah di sini berwarna keabu-abuan, keras, dan pecah-pecah akibat sisa kontaminasi energi monster liar dari hutan seberang beberapa tahun lalu.

Sangat sulit untuk ditanami apa pun. Kebanyakan penduduk desa bahkan sudah menyerah dan memilih mencari peruntungan di pusat kota yang lebih aman. Cuaca buruk yang melanda akhir-akhir ini pun seolah sengaja ingin menghabisi sisa-sisa harapan para petani lokal yang bertahan.

Namun, pemandangan berbeda terlihat di tengah petak tanah yang gersang itu.

Seorang pria paruh baya mengenakan caping anyaman lusuh tengah mengayunkan cangkulnya dengan ritme yang sangat teratur. Ia adalah Yang Wei, ayah Yang Chan. Tubuhnya yang kurus bergoyang mengikuti setiap hantaman mata besi cangkul ke tanah liat yang membatu.

Tidak ada kilatan energi spiritual di tubuh pria itu. Tidak ada aura magis yang membungkus cangkulnya seperti para kultivator hebat yang sering muncul di berita televisi. Ia murni hanya seorang manusia biasa yang menggunakan ototnya untuk bertahan hidup.

Anehnya, wajah Yang Wei sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran. Di tengah ancaman badai dan kondisi tanah yang rusak parah, wajahnya justru terlihat sangat damai. Ia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, lalu tersenyum saat melihat kedatangan anak laki-lakinya.

"Chan, kau sudah bangun?" sapa Yang Wei, suaranya terdengar renyah di sela deru angin pagi.

"Sudah, Ayah," jawab Yang Chan, berjalan mendekat sambil berusaha tidak tersandung gundukan tanah keras. "Tanahnya keras sekali hari ini. Apa tidak sebaiknya kita berteduh dulu? Langitnya terlihat sangat mengerikan."

Yang Wei tertawa pelan. Ia menancapkan cangkulnya ke tanah, lalu menyandarkan kedua tangannya di ujung gagang kayu yang halus karena sering digunakan.

"Badai memang akan datang, Chan. Tapi tanah ini tidak akan melunak kalau kita hanya mendiamkannya di dalam rumah," tutur ayahnya dengan nada santai.

Pria paruh baya itu kemudian menunjuk ke arah kandang bebek kayu di pojok ladang. Beberapa ekor bebek tampak berkumpul tenang, tidak terganggu oleh angin yang bertiup kencang.

"Lihat hewan-hewan itu. Mereka tahu badai akan datang, tapi mereka tidak panik. Mereka hanya bersiap," lanjut Yang Wei. Ia berjongkok, mengambil segenggam tanah kering yang keras, lalu meremasnya perlahan hingga hancur menjadi butiran debu di sela jarinya.

Yang Chan memperhatikan gerakan ayahnya dengan saksama. 'Tenang sekali,' pikirnya heran. Sikap ayahnya seolah-olah menganggap cuaca ekstrem ini hanyalah sapaan ramah dari alam.

"Bertani itu bukan tentang memaksa tanah menghasilkan buah dengan cepat, Chan," kata Yang Wei lagi, matanya menatap lurus ke arah ladang yang kosong. "Ini tentang kesabaran. Kita merawat, kita menunggu, dan kita menyelaraskan diri dengan apa yang alam berikan. Bahkan tanah yang tercemar ini pun punya hak untuk bernapas."

Ia menepuk pundak Yang Chan dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan. Sentuhan itu terasa hangat, mengalirkan rasa tenang yang aneh ke dalam dada remaja itu.

"Jika kau bertarung melawan alam, kau akan kalah. Tapi jika kau berjalan bersamanya, bahkan tanah gersang ini pun suatu hari akan tunduk dan memberi kita makan. Ingat itu."

Kata-kata sederhana itu mengalir masuk ke dalam benak Yang Chan. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya, bukan energi spiritual, melainkan sebuah pemahaman baru yang mendalam tentang kehidupan di sekitarnya.

Ia memandangi tanah abu-abu di bawah kakinya. Kali ini, ia tidak lagi melihatnya sebagai tanah jelek yang rusak. Ia melihatnya sebagai makhluk hidup yang sedang terluka dan membutuhkan waktu untuk pulih.

'Menyelaraskan diri dengan alam,' gumam Yang Chan dalam hati. Ia tersenyum tipis. Konsep ini terasa sangat cocok dengan keinginannya untuk hidup tenang tanpa konflik.

Ia mengambil cangkul cadangan yang bersandar di dekat pagar kayu. Merasakan beratnya gagang kayu di tangannya, ia mulai mengayunkannya ke tanah gersang itu, mencoba meniru ritme santai yang ditunjukkan oleh ayahnya.

Satu hantaman. Dua hantaman.

Setiap kali mata cangkul membentur tanah, Yang Chan mencoba melepaskan semua beban pikirannya. Ia membiarkan napasnya mengalir selaras dengan embusan angin dingin yang menerpa wajahnya. Perasaan damai yang luar biasa mulai menyelimuti dirinya, seolah ia bisa mendengar denyut nadi bumi yang tersembunyi jauh di bawah sana.

Tanpa disadarinya, sebuah benih pemahaman spiritual yang sangat murni mulai tertanam di dalam jiwanya. Sebuah fondasi dari apa yang kelak akan dikenal sebagai niat pertanian sejati dalam dunia kultivasi modern.

Tiba-tiba, petir menyambar di kejauhan, membelah langit abu-abu dengan kilatan cahaya biru yang terang. Suara guruh yang menggelegar langsung menyusul, membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan.

Yang Wei mendongak ke langit, lalu beralih menatap anaknya dengan cengiran lebar.

"Nah, sepertinya alam sudah mulai tidak sabar. Mari kita selesaikan petak ini dengan cepat sebelum kita benar-benar basah kuyup!"

Yang Chan ikut tertawa, mengangguk penuh semangat sembari mengayunkan cangkulnya kembali ke atas tanah yang keras.

Episodes
1 Bab 1: Kehidupan Kedua di Era Baru
2 Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan
3 Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu
4 Bab 4: Bahaya Bencana
5 Bab 5: Langkah Pertama Menuju Kultivasi yang Berat
6 Bab 6: Bangkitnya Sistem Taman Kehidupan
7 Bab 7: Air Penyejuk Jiwa dan Raga
8 Bab 8: Eksperimen Tetesan Pertama
9 Bab 9: Tekanan dari Konglomerat
10 Bab 10: Tunas Keajaiban
11 Bab 11: Panen yang Bermutasi
12 Bab 12: Akar Kedamaian Sementara
13 Bab 13: Tirai Makmur Desa Perbatasan
14 Bab 14: Anugerah Langsung dari Sistem
15 Bab 15: Bayangan Latihan di Balik Dimensi
16 Bab 16: Reputasi yang Menyebar
17 Bab 17: Umpan dari Mata Air Pribadi
18 Bab 18: Kepiawaian Yang Wei
19 Bab 19: Hadangan Sang Tetua
20 Bab 20: Jeruji Kata dan Kebijaksanaan
21 Bab 21: Paras Nirwana di Balik Badai
22 Bab 22: Loncatan Ranah yang Ganjil
23 Bab 23: Jiwa Cermin Nirwana
24 Bab 24: Kejutan Tengah Ladang
25 Bab 25: Panggilan Akademi
26 Bab 26: Pelajaran Dasar
27 Bab 27: Keberangkatan ke Kota Angin
28 Bab 28: Standar "Rata-Rata" yang Keliru
29 Bab 29: Surat Rekomendasi
30 Bab 30: Asrama Elit
31 Bab 31: Teman Baru
32 Bab 32: Pelajaran dan Praktek
33 Bab 33: Jiwa Kaisar Bintang
34 Bab 34: Dekrit Eksplorasi Hutan
35 Bab 35: Sinergi Botani dan Alkimia
36 Bab 36: Kejadian Di Luar Perkiraan
37 Bab 37: Tuduhan Tak Berdasar
38 Bab 38: Pembuktian Sang Petani
39 Bab 39: Menarik Perhatian
40 Bab 40: Panen Pertama di Akademi
41 Bab 41: Hari-Hari Tenang
42 Bab 42: Bintang dan Harmoni
43 Bab 43: Sang Pemakan Dao dari Klan Li
44 Bab 44: Tekanan Klan Li
45 Bab 45: Cangkul vs Tombak Bunga Mistis
46 Bab 46: Meniru Sambil Menasihati
47 Bab 47: Trauma Masa Lalu Li Hao
48 Bab 48: Dari Antagonis Menjadi Rival
49 Bab 49: Utang Budi pada Sang Petani
50 Bab 50: Ujian Akhir Semester Dimulai
51 Bab 51: Formasi Fertilisasi Kehidupan
52 Bab 52: Mata Para Profesor
53 Bab 53: Keputusan Kepala Sekolah Shen
54 Bab 54: Pertarungan Sengit
55 Bab 55: Puncak Pengumpulan Qi (Tamat)
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Bab 1: Kehidupan Kedua di Era Baru
2
Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan
3
Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu
4
Bab 4: Bahaya Bencana
5
Bab 5: Langkah Pertama Menuju Kultivasi yang Berat
6
Bab 6: Bangkitnya Sistem Taman Kehidupan
7
Bab 7: Air Penyejuk Jiwa dan Raga
8
Bab 8: Eksperimen Tetesan Pertama
9
Bab 9: Tekanan dari Konglomerat
10
Bab 10: Tunas Keajaiban
11
Bab 11: Panen yang Bermutasi
12
Bab 12: Akar Kedamaian Sementara
13
Bab 13: Tirai Makmur Desa Perbatasan
14
Bab 14: Anugerah Langsung dari Sistem
15
Bab 15: Bayangan Latihan di Balik Dimensi
16
Bab 16: Reputasi yang Menyebar
17
Bab 17: Umpan dari Mata Air Pribadi
18
Bab 18: Kepiawaian Yang Wei
19
Bab 19: Hadangan Sang Tetua
20
Bab 20: Jeruji Kata dan Kebijaksanaan
21
Bab 21: Paras Nirwana di Balik Badai
22
Bab 22: Loncatan Ranah yang Ganjil
23
Bab 23: Jiwa Cermin Nirwana
24
Bab 24: Kejutan Tengah Ladang
25
Bab 25: Panggilan Akademi
26
Bab 26: Pelajaran Dasar
27
Bab 27: Keberangkatan ke Kota Angin
28
Bab 28: Standar "Rata-Rata" yang Keliru
29
Bab 29: Surat Rekomendasi
30
Bab 30: Asrama Elit
31
Bab 31: Teman Baru
32
Bab 32: Pelajaran dan Praktek
33
Bab 33: Jiwa Kaisar Bintang
34
Bab 34: Dekrit Eksplorasi Hutan
35
Bab 35: Sinergi Botani dan Alkimia
36
Bab 36: Kejadian Di Luar Perkiraan
37
Bab 37: Tuduhan Tak Berdasar
38
Bab 38: Pembuktian Sang Petani
39
Bab 39: Menarik Perhatian
40
Bab 40: Panen Pertama di Akademi
41
Bab 41: Hari-Hari Tenang
42
Bab 42: Bintang dan Harmoni
43
Bab 43: Sang Pemakan Dao dari Klan Li
44
Bab 44: Tekanan Klan Li
45
Bab 45: Cangkul vs Tombak Bunga Mistis
46
Bab 46: Meniru Sambil Menasihati
47
Bab 47: Trauma Masa Lalu Li Hao
48
Bab 48: Dari Antagonis Menjadi Rival
49
Bab 49: Utang Budi pada Sang Petani
50
Bab 50: Ujian Akhir Semester Dimulai
51
Bab 51: Formasi Fertilisasi Kehidupan
52
Bab 52: Mata Para Profesor
53
Bab 53: Keputusan Kepala Sekolah Shen
54
Bab 54: Pertarungan Sengit
55
Bab 55: Puncak Pengumpulan Qi (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!