Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu

Sisa-sisa tanah basah akibat badai malam sebelumnya menyisakan hawa dingin yang menusuk pada rumah tangga itu. Awan menutupi matahari yang seharusnya menemani hari, halaman samping rumah keluarga Yang sudah dipenuhi deru napas terengah-engah.

Tangan Yang Chan gemetar hebat. Remaja itu berada dalam posisi kuda-kuda rendah yang menyiksa, dengan kedua telapak kaki mencengkeram tanah liat yang dingin.

Di depannya, Bing Chan berdiri tegak memegang sebilah ranting pohon tipis. Wajah ibunya terlihat sangat datar, tanpa belas kasihan sedikit pun.

"Turunkan lagi pinggulmu, Chan. Kau sedang berlatih bela diri, bukan mengantre pembagian sembako gratis," tegur Bing Chan dengan nada tenang namun dingin.

Yang Chan menggigit bibirnya erat-erat, menahan rasa panas menjalar di otot pahanya. Umurnya sudah empat belas tahun, usia di mana remaja kota mulai membangkitkan bakat spiritual.

Namun ia berbeda. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda bakat spiritual sama sekali. Ia hanya seorang remaja biasa yang tidak berbakat, harus berjuang keras melatih fisiknya setiap pagi.

'Satu detik di posisi ini terasa seperti setahun penuh siksaan,' gerutu Yang Chan dalam hati, sementara keringat bercampur embun pagi menetes dari ujung dagunya.

Lututnya akhirnya menyerah. Yang Chan jatuh terduduk di atas tanah basah, dadanya naik turun meraup oksigen sebanyak mungkin.

Bing Chan tidak memarahinya. Ia hanya menghela napas pendek, lalu melangkah mendekati anak laki-lakinya itu.

Langkah kaki wanita itu hampir tidak mengeluarkan suara di atas tanah berlumpur. Ia menggunakan ujung ranting kayunya untuk mengetuk ringan punggung Yang Chan yang membungkuk.

"Punggungmu harus tetap lurus, seperti tiang rumah yang menyangga beban atap," tutur Bing Chan sambil mengoreksi posisi tulang belakang anaknya.

Sentuhan ranting itu terasa sangat presisi. Hanya dengan sedikit dorongan beberapa sentimeter, beban berat di paha Yang Chan mendadak terasa jauh lebih seimbang.

Yang Chan mendongak, menatap ibunya dengan saksama. Gerakan berputar dan ayunan tangan Bing Chan terlihat sangat elegan dan efisien, seolah udara membelah diri memberi jalan baginya.

Itu bukanlah gerakan istri petani miskin biasa. Ada sisa-sisa kebiasaan dari seorang praktisi bela diri hebat yang tersamar di balik kesederhanaan gerakannya.

"Kekuatan tidak selalu lahir dari bakat spiritual yang dianugerahkan langit," kata Bing Chan, pandangannya menatap kegelapan hutan liar di seberang batas desa.

"Kadang, keteguhan hati yang keras kepala bisa memaksa dunia untuk tunduk padamu," lanjut ibunya dengan nada yang terdengar begitu dalam.

Yang Chan terdiam. Ada kehangatan yang mengalir masuk ke dadanya, mengikis rasa lelahnya. Dedikasi ibunya membuat tekad remaja itu perlahan mulai terbentuk kembali.

Setelah latihan fisik selesai, Bing Chan menyuruh anaknya membersihkan diri sebelum melangkah masuk ke dapur yang masih gelap.

Di ruangan mungil itu, Bing Chan berdiri di depan cermin kaca buram dekat tempat cuci piring. Keadaan di sekitarnya sangat sunyi.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan matanya. Sesaat kemudian, gelombang energi spiritual yang tipis namun luar biasa padat mulai berputar menyelimuti tubuhnya.

Garis wajahnya yang cantik jelita, kulitnya yang seputih pualam, serta aura anggun praktisi tingkat atas perlahan mulai memudar, tergulung oleh energi tak terlihat.

Dalam hitungan detik, penampilannya berubah total. Kulit wajahnya tampak kusam, dipenuhi bintik-bintik gelap tipis dan kerutan halus. Pakaian tidurnya yang rapi tertutup celemek lusuh penuh noda minyak.

Ia membuka mata kembali, menatap bayangan seorang ibu rumah tangga biasa yang kusam di cermin buram tersebut.

'Ini jauh lebih aman untuk kami,' gumam Bing Chan dalam hati, merapikan rambutnya yang diikat acak-acakan. Menyembunyikan identitas asli adalah harga mutlak demi kedamaian keluarga kecil mereka.

Aroma harum nasi goreng bawang segera memenuhi dapur begitu ia menyalakan tungku api. Tidak lama berselang, Yang Wei masuk dari pintu belakang, menaruh cangkulnya dengan helaan napas lelah.

Pria paruh baya itu tampak basah oleh embun pagi, dengan sisa-sisa tanah keabu-abuan menempel di celananya.

Mereka bertiga berkumpul di meja makan kayu yang bergoyang setiap kali disenggol. Sepiring besar nasi goreng sederhana diletakkan di tengah meja untuk sarapan mereka hari ini.

"Tanah di petak barat sudah mulai membatu lagi," ujar Yang Wei membuka obrolan, tangannya yang kapalan menyuap nasi perlahan. Pandangannya mengarah ke jendela.

Di luar sana, langit pagi masih diselimuti awan abu-abu tebal yang menggantung rendah, seolah menolak memberikan ruang bagi sinar matahari untuk masuk.

"Badai dingin ini sepertinya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Tanaman yang baru kita sebar kemarin bisa membusuk di dalam tanah sebelum sempat tumbuh," lanjut ayahnya dengan cemas.

Kehangatan di meja makan mendadak menguap, digantikan keheningan yang menekan. Yang Chan menatap ayahnya, lalu beralih ke ibunya yang sedang mengunyah makanan dengan tenang tanpa ekspresi.

"Kita masih memiliki sedikit sisa tabungan untuk bertahan selama beberapa minggu," sahut Bing Chan, suaranya kembali terdengar seperti istri petani yang sedang menghitung anggaran dapur.

"Namun, jika cuaca buruk ini terus berlanjut hingga bulan depan, kita benar-benar harus mencari jalan lain," tambahnya, meletakkan sendoknya di atas meja.

'Sial. Cuaca ekstrem ini benar-benar tidak memberi kami napas,' batin Yang Chan, rasa cemas mulai merayapi pikirannya. Pemahaman tentang kedamaian alam yang ia pelajari kemarin mendadak terasa jauh ketika dihadapkan pada kenyataan perut yang harus diisi.

Yang Wei hanya terdiam, pandangannya tertuju pada hamparan ladang gersang di luar jendela yang kini mulai perlahan diselimuti oleh kabut dingin yang pekat, menyembunyikan sisa-sisa harapan mereka di bawah bayang-bayang badai yang mengancam.

Episodes
1 Bab 1: Kehidupan Kedua di Era Baru
2 Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan
3 Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu
4 Bab 4: Bahaya Bencana
5 Bab 5: Langkah Pertama Menuju Kultivasi yang Berat
6 Bab 6: Bangkitnya Sistem Taman Kehidupan
7 Bab 7: Air Penyejuk Jiwa dan Raga
8 Bab 8: Eksperimen Tetesan Pertama
9 Bab 9: Tekanan dari Konglomerat
10 Bab 10: Tunas Keajaiban
11 Bab 11: Panen yang Bermutasi
12 Bab 12: Akar Kedamaian Sementara
13 Bab 13: Tirai Makmur Desa Perbatasan
14 Bab 14: Anugerah Langsung dari Sistem
15 Bab 15: Bayangan Latihan di Balik Dimensi
16 Bab 16: Reputasi yang Menyebar
17 Bab 17: Umpan dari Mata Air Pribadi
18 Bab 18: Kepiawaian Yang Wei
19 Bab 19: Hadangan Sang Tetua
20 Bab 20: Jeruji Kata dan Kebijaksanaan
21 Bab 21: Paras Nirwana di Balik Badai
22 Bab 22: Loncatan Ranah yang Ganjil
23 Bab 23: Jiwa Cermin Nirwana
24 Bab 24: Kejutan Tengah Ladang
25 Bab 25: Panggilan Akademi
26 Bab 26: Pelajaran Dasar
27 Bab 27: Keberangkatan ke Kota Angin
28 Bab 28: Standar "Rata-Rata" yang Keliru
29 Bab 29: Surat Rekomendasi
30 Bab 30: Asrama Elit
31 Bab 31: Teman Baru
32 Bab 32: Pelajaran dan Praktek
33 Bab 33: Jiwa Kaisar Bintang
34 Bab 34: Dekrit Eksplorasi Hutan
35 Bab 35: Sinergi Botani dan Alkimia
36 Bab 36: Kejadian Di Luar Perkiraan
37 Bab 37: Tuduhan Tak Berdasar
38 Bab 38: Pembuktian Sang Petani
39 Bab 39: Menarik Perhatian
40 Bab 40: Panen Pertama di Akademi
41 Bab 41: Hari-Hari Tenang
42 Bab 42: Bintang dan Harmoni
43 Bab 43: Sang Pemakan Dao dari Klan Li
44 Bab 44: Tekanan Klan Li
45 Bab 45: Cangkul vs Tombak Bunga Mistis
46 Bab 46: Meniru Sambil Menasihati
47 Bab 47: Trauma Masa Lalu Li Hao
48 Bab 48: Dari Antagonis Menjadi Rival
49 Bab 49: Utang Budi pada Sang Petani
50 Bab 50: Ujian Akhir Semester Dimulai
51 Bab 51: Formasi Fertilisasi Kehidupan
52 Bab 52: Mata Para Profesor
53 Bab 53: Keputusan Kepala Sekolah Shen
54 Bab 54: Pertarungan Sengit
55 Bab 55: Puncak Pengumpulan Qi (Tamat)
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Bab 1: Kehidupan Kedua di Era Baru
2
Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan
3
Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu
4
Bab 4: Bahaya Bencana
5
Bab 5: Langkah Pertama Menuju Kultivasi yang Berat
6
Bab 6: Bangkitnya Sistem Taman Kehidupan
7
Bab 7: Air Penyejuk Jiwa dan Raga
8
Bab 8: Eksperimen Tetesan Pertama
9
Bab 9: Tekanan dari Konglomerat
10
Bab 10: Tunas Keajaiban
11
Bab 11: Panen yang Bermutasi
12
Bab 12: Akar Kedamaian Sementara
13
Bab 13: Tirai Makmur Desa Perbatasan
14
Bab 14: Anugerah Langsung dari Sistem
15
Bab 15: Bayangan Latihan di Balik Dimensi
16
Bab 16: Reputasi yang Menyebar
17
Bab 17: Umpan dari Mata Air Pribadi
18
Bab 18: Kepiawaian Yang Wei
19
Bab 19: Hadangan Sang Tetua
20
Bab 20: Jeruji Kata dan Kebijaksanaan
21
Bab 21: Paras Nirwana di Balik Badai
22
Bab 22: Loncatan Ranah yang Ganjil
23
Bab 23: Jiwa Cermin Nirwana
24
Bab 24: Kejutan Tengah Ladang
25
Bab 25: Panggilan Akademi
26
Bab 26: Pelajaran Dasar
27
Bab 27: Keberangkatan ke Kota Angin
28
Bab 28: Standar "Rata-Rata" yang Keliru
29
Bab 29: Surat Rekomendasi
30
Bab 30: Asrama Elit
31
Bab 31: Teman Baru
32
Bab 32: Pelajaran dan Praktek
33
Bab 33: Jiwa Kaisar Bintang
34
Bab 34: Dekrit Eksplorasi Hutan
35
Bab 35: Sinergi Botani dan Alkimia
36
Bab 36: Kejadian Di Luar Perkiraan
37
Bab 37: Tuduhan Tak Berdasar
38
Bab 38: Pembuktian Sang Petani
39
Bab 39: Menarik Perhatian
40
Bab 40: Panen Pertama di Akademi
41
Bab 41: Hari-Hari Tenang
42
Bab 42: Bintang dan Harmoni
43
Bab 43: Sang Pemakan Dao dari Klan Li
44
Bab 44: Tekanan Klan Li
45
Bab 45: Cangkul vs Tombak Bunga Mistis
46
Bab 46: Meniru Sambil Menasihati
47
Bab 47: Trauma Masa Lalu Li Hao
48
Bab 48: Dari Antagonis Menjadi Rival
49
Bab 49: Utang Budi pada Sang Petani
50
Bab 50: Ujian Akhir Semester Dimulai
51
Bab 51: Formasi Fertilisasi Kehidupan
52
Bab 52: Mata Para Profesor
53
Bab 53: Keputusan Kepala Sekolah Shen
54
Bab 54: Pertarungan Sengit
55
Bab 55: Puncak Pengumpulan Qi (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!