Bab 5: Langkah Pertama Menuju Kultivasi yang Berat

Menusuk benar hawa dingin pagi itu di kulit Yang Chan. Sebelum ayam jantan di kandang belakang sempat membuka paruh, remaja itu sudah berdiri tegak di halaman samping rumah mereka.

Lututnya gemetar hebat. Ia sedang mencoba menahan posisi setengah berjongkok dengan kedua tangan lurus ke depan.

'Satu menit lagi,' batinnya, mencoba menyemangati diri sendiri. 'Hanya satu menit.'

Kejadian kemarin malam masih membekas jelas di kepalanya. Ancaman dari Klan Li bukan main-main, dan ia tahu betul bahwa kedamaian keluarganya sedang berada di ujung tanduk. Ia tidak butuh menjadi pahlawan yang gemar bertarung, ia hanya ingin melindungi rumah kecil ini.

Namun, kenyataan memang sering kali tidak sejalan dengan keinginan. Jangankan mengalirkan tenaga spiritual, merasakan kehangatan energi di sekitarnya saja ia tidak bisa. Tubuhnya terasa bebal, seolah ada dinding tebal yang menghalangi segala jenis energi luar masuk ke dalam nadinya.

Brak!

Sebuah bilah bambu mendarat telak di punggung bawahnya. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat pertahanan posisi berjongkoknya runtuh seketika.

Tersungkur ia ke atas tanah yang dingin, memeluk lututnya yang kaku.

"Pinggulmu terlalu tinggi, Chan er. Kau sedang berlatih kuda-kuda atau sedang bersiap melompat ke parit?"

Suara itu terdengar datar namun tegas. Bing Chan berdiri di sampingnya, masih mengenakan celemek masak yang biasa ia pakai di dapur. Namun, sorot matanya tidak menunjukkan kelembutan seorang ibu rumah tangga biasa saat ini.

"Ibu, ini sudah hitungan ke lima puluh," keluh Yang Chan sambil mengusap pantatnya yang terasa panas. "Kakiku rasanya seperti mau lepas dari sendinya."

"Kalau baru lima puluh hitungan saja kau sudah mengeluh, sebaiknya kembali saja ke kamar dan tidur," balas Bing Chan dingin. Ia mengetuk-ngetuk bilah bambu ke telapak tangannya sendiri.

"Cepat berdiri. Luruskan punggungmu, kunci kekuatanmu di perut bawah."

Meskipun tubuhnya berteriak minta ampun, Yang Chan memaksakan diri untuk kembali tegak. Ia menarik napas panjang, menuruti setiap instruksi tanpa bantahan lagi. Bing Chan memperhatikan dengan saksama, sesekali mengoreksi sudut lengan putranya dengan ketukan bambu yang presisi.

Berkali-kali Yang Chan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, setiap kali melihat wajah ibunya yang tanpa kompromi, rasa ingin menyerah itu langsung menguap begitu saja. Ada ketegasan yang anehnya justru memberinya kekuatan untuk terus bertahan.

"Sudah, sudah. Kasihan anak kita, biarkan ia bernapas dulu," sebuah suara lembut menyela dari arah teras kayu.

Yang Wei berjalan santai sambil memanggul sebuah cangkul tua di pundaknya. Pria paruh baya itu tersenyum hangat, menatap putranya yang kini langsung terduduk lemas di atas tanah gembur.

"Ayah," panggil Yang Chan dengan napas memburu. "Kenapa sulit sekali merasakan energi itu? Aku bahkan tidak bisa merasakan apa pun selain angin dingin."

Yang Wei meletakkan cangkulnya di dekat tiang penyangga rumah, lalu berjalan mendekat. Ia berjongkok di hadapan putranya, membersihkan sisa tanah yang menempel di dahi Yang Chan dengan ujung jarinya yang kasar.

"Chan er, lihat ladang kita di sana," kata Yang Wei, menunjuk ke arah petak tanah yang gersang di kejauhan. "Tanah yang keras tidak akan bisa menerima air dengan baik. Ia harus digemburkan dulu, dibalik perlahan, baru kemudian bisa menyerap air hujan."

Yang Chan terdiam, mendengarkan dengan saksama.

"Begitu juga dengan tubuhmu," lanjut Yang Wei lembut. "Napasmu terlalu terburu-buru karena kepalamu dipenuhi rasa takut dan amarah. Tenangkan pikiranmu. Selaraskan napasmu dengan detak jantungmu sendiri, bukan dengan ambisimu."

Nasihat itu terasa seperti air dingin yang menyiram kepala Yang Chan yang panas. Rasa frustrasi yang sejak tadi menyumbat dadanya perlahan-lahan mulai mencair. Ia menutup matanya, membuang semua bayangan tentang keserakahan Klan Li dan fokus pada detak dadanya yang mulai melambat.

Bing Chan yang berdiri di samping suaminya hanya menghela napas pelan, menyimpan bilah bambunya di balik punggung. Ia tidak berkata apa-apa lagi, namun tatapannya melunak.

Setelah merasa pikirannya cukup jernih, Yang Chan kembali mengambil posisi bersila di tengah halaman. Kali ini, ia tidak lagi memikirkan tentang bagaimana cara menjadi kuat dalam sekejap. Ia hanya ingin merapikan aliran napasnya, memadukan ketegasan latihan fisik dari ibunya dengan ketenangan batin yang diajarkan ayahnya.

Ia mulai mencoba menembus batas pertama, memasuki Ranah Penempaan Tubuh. Sasarannya sederhana: memaksimalkan potensi otot dan tulang, serta membuang segala kotoran fana yang menyumbat fisiknya selama belasan tahun ini.

Satu tarikan napas. Dua tarikan napas.

Awalnya semua terasa begitu tenang dan damai. Namun, saat ia mencoba mendorong energi murni dari dalam perutnya menuju ke ujung-ujung jari, segalanya berubah menjadi kekacauan.

Sebuah sensasi panas tiba-tiba meledak dari pusat tubuhnya. Rasa panas itu menyebar cepat melalui aliran darah, seolah-olah ada minyak mendidih yang dituangkan paksa ke dalam pembuluh nadinya.

"Akh...!" jerit Yang Chan tertahan.

Kedua tangannya mencengkeram tanah dengan kuat hingga kuku-kukunya memutih. Wajahnya memerah padam dalam sekejap, dan butiran keringat dingin mulai bercucuran deras dari pelipisnya.

Ia merasa tubuhnya sedang direbus hidup-hidup dari dalam. Otot-ototnya menegang ekstrem, dan tulang-tulangnya terasa seperti sedang dipatahkan lalu disambung kembali secara paksa. Rasa sakit yang menyiksa ini begitu nyata hingga pandangannya mulai kabur karena air mata yang mendesak keluar.

'Sakit sekali... Sial, ini benar-benar menyiksa!' batinnya berteriak di tengah rasa sakit yang mendera.

Namun, di tengah siksaan yang luar biasa itu, Yang Chan menolak untuk tumbang. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga mengeluarkan darah segar, mencoba bertahan di ambang batas kesadarannya yang mulai menipis.

Episodes
1 Bab 1: Kehidupan Kedua di Era Baru
2 Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan
3 Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu
4 Bab 4: Bahaya Bencana
5 Bab 5: Langkah Pertama Menuju Kultivasi yang Berat
6 Bab 6: Bangkitnya Sistem Taman Kehidupan
7 Bab 7: Air Penyejuk Jiwa dan Raga
8 Bab 8: Eksperimen Tetesan Pertama
9 Bab 9: Tekanan dari Konglomerat
10 Bab 10: Tunas Keajaiban
11 Bab 11: Panen yang Bermutasi
12 Bab 12: Akar Kedamaian Sementara
13 Bab 13: Tirai Makmur Desa Perbatasan
14 Bab 14: Anugerah Langsung dari Sistem
15 Bab 15: Bayangan Latihan di Balik Dimensi
16 Bab 16: Reputasi yang Menyebar
17 Bab 17: Umpan dari Mata Air Pribadi
18 Bab 18: Kepiawaian Yang Wei
19 Bab 19: Hadangan Sang Tetua
20 Bab 20: Jeruji Kata dan Kebijaksanaan
21 Bab 21: Paras Nirwana di Balik Badai
22 Bab 22: Loncatan Ranah yang Ganjil
23 Bab 23: Jiwa Cermin Nirwana
24 Bab 24: Kejutan Tengah Ladang
25 Bab 25: Panggilan Akademi
26 Bab 26: Pelajaran Dasar
27 Bab 27: Keberangkatan ke Kota Angin
28 Bab 28: Standar "Rata-Rata" yang Keliru
29 Bab 29: Surat Rekomendasi
30 Bab 30: Asrama Elit
31 Bab 31: Teman Baru
32 Bab 32: Pelajaran dan Praktek
33 Bab 33: Jiwa Kaisar Bintang
34 Bab 34: Dekrit Eksplorasi Hutan
35 Bab 35: Sinergi Botani dan Alkimia
36 Bab 36: Kejadian Di Luar Perkiraan
37 Bab 37: Tuduhan Tak Berdasar
38 Bab 38: Pembuktian Sang Petani
39 Bab 39: Menarik Perhatian
40 Bab 40: Panen Pertama di Akademi
41 Bab 41: Hari-Hari Tenang
42 Bab 42: Bintang dan Harmoni
43 Bab 43: Sang Pemakan Dao dari Klan Li
44 Bab 44: Tekanan Klan Li
45 Bab 45: Cangkul vs Tombak Bunga Mistis
46 Bab 46: Meniru Sambil Menasihati
47 Bab 47: Trauma Masa Lalu Li Hao
48 Bab 48: Dari Antagonis Menjadi Rival
49 Bab 49: Utang Budi pada Sang Petani
50 Bab 50: Ujian Akhir Semester Dimulai
51 Bab 51: Formasi Fertilisasi Kehidupan
52 Bab 52: Mata Para Profesor
53 Bab 53: Keputusan Kepala Sekolah Shen
54 Bab 54: Pertarungan Sengit
55 Bab 55: Puncak Pengumpulan Qi (Tamat)
Episodes

Updated 55 Episodes

1
Bab 1: Kehidupan Kedua di Era Baru
2
Bab 2: Lahan Keras Desa Perbatasan
3
Bab 3: Rahasia Pagi Hari Sang Ibu
4
Bab 4: Bahaya Bencana
5
Bab 5: Langkah Pertama Menuju Kultivasi yang Berat
6
Bab 6: Bangkitnya Sistem Taman Kehidupan
7
Bab 7: Air Penyejuk Jiwa dan Raga
8
Bab 8: Eksperimen Tetesan Pertama
9
Bab 9: Tekanan dari Konglomerat
10
Bab 10: Tunas Keajaiban
11
Bab 11: Panen yang Bermutasi
12
Bab 12: Akar Kedamaian Sementara
13
Bab 13: Tirai Makmur Desa Perbatasan
14
Bab 14: Anugerah Langsung dari Sistem
15
Bab 15: Bayangan Latihan di Balik Dimensi
16
Bab 16: Reputasi yang Menyebar
17
Bab 17: Umpan dari Mata Air Pribadi
18
Bab 18: Kepiawaian Yang Wei
19
Bab 19: Hadangan Sang Tetua
20
Bab 20: Jeruji Kata dan Kebijaksanaan
21
Bab 21: Paras Nirwana di Balik Badai
22
Bab 22: Loncatan Ranah yang Ganjil
23
Bab 23: Jiwa Cermin Nirwana
24
Bab 24: Kejutan Tengah Ladang
25
Bab 25: Panggilan Akademi
26
Bab 26: Pelajaran Dasar
27
Bab 27: Keberangkatan ke Kota Angin
28
Bab 28: Standar "Rata-Rata" yang Keliru
29
Bab 29: Surat Rekomendasi
30
Bab 30: Asrama Elit
31
Bab 31: Teman Baru
32
Bab 32: Pelajaran dan Praktek
33
Bab 33: Jiwa Kaisar Bintang
34
Bab 34: Dekrit Eksplorasi Hutan
35
Bab 35: Sinergi Botani dan Alkimia
36
Bab 36: Kejadian Di Luar Perkiraan
37
Bab 37: Tuduhan Tak Berdasar
38
Bab 38: Pembuktian Sang Petani
39
Bab 39: Menarik Perhatian
40
Bab 40: Panen Pertama di Akademi
41
Bab 41: Hari-Hari Tenang
42
Bab 42: Bintang dan Harmoni
43
Bab 43: Sang Pemakan Dao dari Klan Li
44
Bab 44: Tekanan Klan Li
45
Bab 45: Cangkul vs Tombak Bunga Mistis
46
Bab 46: Meniru Sambil Menasihati
47
Bab 47: Trauma Masa Lalu Li Hao
48
Bab 48: Dari Antagonis Menjadi Rival
49
Bab 49: Utang Budi pada Sang Petani
50
Bab 50: Ujian Akhir Semester Dimulai
51
Bab 51: Formasi Fertilisasi Kehidupan
52
Bab 52: Mata Para Profesor
53
Bab 53: Keputusan Kepala Sekolah Shen
54
Bab 54: Pertarungan Sengit
55
Bab 55: Puncak Pengumpulan Qi (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!