Bab 2. Batas Waktu Tiga Puluh Hari

Keesokan paginya, Gedung Wijaya Group sudah dipenuhi aktivitas para karyawan yang berlalu-lalang. Lift eksekutif berhenti di lantai delapan, disusul langkah mantap Arga Wijaya yang keluar dengan setelan jas abu-abu gelap. Seperti biasa, setiap orang yang berpapasan menyapanya dengan hormat.

"Selamat pagi, Pak Arga."

"Pagi, Pak."

Arga membalas dengan anggukan singkat. Wajahnya tetap tenang, nyaris tak memperlihatkan apa pun. Laki-laki itu pandai menutupi wajahnya yang kelelahan karena semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.

Begitu memasuki ruang kerjanya, Arga langsung melepaskan jas dan meletakkannya di sandaran kursi. Di atas meja telah tersusun beberapa map berisi laporan keuangan, proposal kerja sama, hingga agenda rapat dewan direksi yang harus dipimpinnya pagi itu.

Biasanya, sebelum pukul sepuluh semua dokumen itu sudah selesai ia baca. Hari ini berbeda. Hanya separuh dokumen yang Arga sentuh. Tatapannya justru berhenti pada kalender tatakan yang berada di meja kerja.

Tanggal dua puluh tujuh bulan ke tujuh. Sementara hari kelahirannya pada tanggal dua puluh lima bulan ke delapan. Jika wasiat itu benar, masih ada waktu untuk mempersiapkan pernikahan, bukan?

Arga menoleh ketika pintu ruangannya diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya.

"Selamat pagi, Pak." Vania membawakan tablet dan secangkir kopi hitam yang menjadi kesukaan atasannya.

"Rapat dengan divisi investasi dimulai tiga puluh menit lagi. Setelah itu ada penandatanganan kerja sama dengan Sakura Holdings." Sebagai sekretaris, Vania sangat menjunjung tinggi integritas dan profesionalitas.

"Tunda semua jadwalku sampai siang." Arga terdiam beberapa saat. “Hubungi Pak Dimas Prakoso, saya mau berbicara empat mata dengannya. Untuk saat ini, saya mau mengurus sesuatu dengan pengacara itu. Setelahnya, baru kita atur agenda yang lain.”

"Baik, Pak. Akan saya hubungi segera." Vania langsung bertindak. Selang lima belas menit, dia kembali menemui Arga.

“Pak Dimas sudah mengkonfirmasi pertemuan  pukul sebelas."

"Saya berangkat sekarang."

Kantor hukum Dimas Prakoso berada tidak jauh dari kantor pusat Wijaya Group.

Ruangan itu terasa tenang. Rak-rak kayu memenuhi hampir seluruh sisi dinding, dipenuhi dokumen hukum yang tersusun rapi. Aroma kopi dan kertas memenuhi udara.

Dimas berdiri menyambut kedatangan Arga. "Silakan duduk."

Arga langsung mengambil tempat di hadapan meja kerja pria paruh baya itu.

"Saya ingin penjelasan lengkap,” ucap Arga cepat pada topik pembicaraan.

Dimas mengangguk pelan sebelum mengambil sebuah map cokelat dari laci mejanya.

"Ini salinan resmi surat wasiat mendiang Bapak Wijaya."

Map itu berpindah ke tangan Arga. Perlahan ia membuka halaman demi halaman hingga matanya berhenti pada satu paragraf yang sudah semalam disebutkan melalui telepon.

"Hak kepemimpinan penuh atas Wijaya Group diberikan kepada cucu saya, Arga Wijaya, apabila ia telah menikah sebelum genap berusia tiga puluh tahun."

Arga mengembuskan napas panjang.

"Kenapa syarat sepenting ini tidak dibicarakan sejak awal? Kakek saya sudah meninggal sejak lima bulan lalu."

“Anda tidak bertanya lebih lanjut tentang hal lainnya, Pak Arga,” Jawab Dimas yang umurnya sepuluh tahun lebih tua dari Arga.

“Itu kewajiban anda selaku pengacara untuk menerangkan pada saya.” Arga tak mau kalah.

“Anda terlalu senang menerima semua kekuasaan itu tanpa tahu persyaratan yang lain.”

Arga tersenyum sinis. “Anda berpihak pada siapa sebenarnya.”

"Almarhum pernah berkata bahwa perusahaan sebesar ini tidak cukup dipimpin oleh orang yang cerdas. Pemimpinnya juga harus mampu membangun keluarga. Tujuannya untuk menjaga keberlangsungan."

Dimas membuka lembar berikutnya. "Selama syarat itu belum terpenuhi, hak kepemimpinan penuh belum dapat dialihkan kepada Anda. Dewan komisaris berhak menunjuk pemimpin sementara untuk mengambil keputusan strategis perusahaan."

Arga mengernyit. "Jadi posisiku sebagai CEO bisa digantikan?"

"Bukan digantikan tetapi kewenangan Anda akan sangat terbatas." Dimas memilih kosa katanya dengan hati-hati. “Saya tidak memihak kepada siapapun, Pak Arga. Saya hanya menjalankan tugas.”

Melihat respon Arga yang hanya mematung, membuat Dimas kembali bersuara. "Syaratnya hanya menikah. Tidak cukup berat menurut saya. Apalagi kalau tidak salah, Anda sudah bertunangan dengan Nona Bianca."

Arga tersenyum hambar. "Hubungan kami sedang tidak baik."

"Apakah masih bisa diselamatkan?"

Arga tidak langsung menjawab. Ia mengingat beberapa bulan terakhir Bianca semakin sering menolak makan malam bersama. Pesan-pesannya mulai dibalas singkat. Telepon yang biasanya berlangsung berjam-jam kini hanya beberapa menit. Mereka masih bertahan, tetapi sama-sama tahu ada sesuatu yang berubah.

"Saya tidak tahu,” singkat Arga menjawab.

Dimas mengangguk pelan. "Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda."

"Tidak apa-apa."

"Namun, jika memang Anda ingin memenuhi wasiat itu ..." Sebagai pengacara, Dimas berhak memberikan solusi. "... Anda tidak punya banyak waktu."

Keluar dari kantor Dimas, Arga langsung menuju mobilnya. Baru saja pintu tertutup, ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuatnya terdiam beberapa detik.

Bianca Calling...

Tanpa berpikir panjang, ia mengangkatnya.

"Ga ..."

Suara Bianca terdengar pelan.

"Kita bisa ketemu hari ini?"

Arga memejamkan mata sejenak. "Aku juga memang mau ketemu kamu."

"Sore nanti?"

"Boleh."

"Aku tunggu di cafe biasa."

Telepon terputus. Selama beberapa detik Arga hanya menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Entah kenapa, ada firasat yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Sore harinya, di cafe kecil kawasan Senopati mulai dipenuhi pengunjung yang baru pulang bekerja. Tempat itu bukan sesuatu yang asing bagi Arga maupun Bianca.

Di sinilah mereka pertama kali sepakat menjalin hubungan tiga tahun lalu.

Arga datang lebih dulu. Secangkir americano di depannya sudah mulai dingin ketika Bianca akhirnya muncul. Perempuan itu masih secantik biasanya. Blazer krem dipadukan dress putih sederhana membuat penampilannya tetap elegan. Namun, senyumnya tidak lagi sehangat dulu.

"Maaf, buat kamu menunggu.” Bianca menyapa.

Arga tersenyum sambil menggeleng. Menatap Bianca yang mengambil kursi di depannya. Padahal dahulu, perempuan itu senang sekali menyandar di bahunya sehingga mereka sering duduk bersebelahan.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Suara mesin kopi dan percakapan pengunjung lain justru terasa lebih jelas dibanding keheningan di antara mereka.

"Aku dengar kamu sibuk." Bianca membuka percakapan.

"Seperti biasa."

"Kamu kelihatan capek."

Arga tersenyum tipis. "Semalam memang nggak tidur."

Bianca menundukkan pandangan. "Ga..." panggilnya lirih.

"Hm?"

"Aku rasa kita harus menyelesaikan semuanya."

Kalimat itu membuat jemari Arga yang menggenggam cangkir berhenti bergerak. "Maksud kamu?"

Bianca menarik napas panjang. "Aku nggak bisa lanjut."

Arga memandang perempuan di depannya cukup lama, seolah berharap kalimat berikutnya akan mengubah arti ucapan itu.

"Aku minta maaf."

"Karena pekerjaanmu?"

Bianca menggeleng.

"Lalu?" tanya Arga lagi.

"Aku cuma merasa..." Bianca tersenyum pahit. "...hubungan kita sudah lama berubah."

Arga ingin menyangkal. Ingin mengatakan bahwa semuanya masih bisa diperbaiki tetapi jauh di dalam hati, ia tahu Bianca tidak sepenuhnya salah.

Kesibukan membuat mereka semakin jauh. Pertemuan berubah menjadi formalitas. Telepon hanya membahas jadwal. Tidak ada lagi mimpi yang mereka bangun bersama.

"Jadi ini keputusanmu?"

Bianca mengangguk pelan.

"Sudah tidak bisa berubah?"

"Maaf."

Arga mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Bianca bangkit dari kursinya. Sebelum pergi, ia menatap Arga dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Percayalah..." Ia berhenti beberapa detik. "...aku nggak pernah berniat menyakitimu."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Bianca berbalik dan berjalan meninggalkan cafe.

Arga tetap duduk di tempatnya. Tidak mengejar ataupun memanggil Bianca supaya kembali kepadanya. Beberapa jam yang lalu ia masih berpikir Bianca adalah jawaban atas syarat wasiat kakeknya. Kini Perempuan itu juga telah pergi.

“Padahal aku mau mengajaknya menikah.” Arga tersenyum hambar. Menyayangkan segalanya berakhir disaat yang benar-benar dia butuhkan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arga tidak hanya berpacu dengan waktu. Ia juga harus mencari seseorang yang bersedia menjadi istrinya sebelum hitungan itu berakhir.

Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Di Pelaminan
2 Bab 2. Batas Waktu Tiga Puluh Hari
3 Bab 3. Toko Buku Senja
4 Bab 4. Nama Yang Terlintas
5 Bab 5. Ajakan Bertemu
6 Bab 6. Sebuah Tawaran
7 Bab 7. Pilihan Terakhir
8 Bab 8. Kesepakatan Tanpa Cinta
9 Bab 9. Makan Malam Keluarga Wijaya
10 Bab 10. Rahasia Yang Mengenali Nama
11 Bab 11. Hari Pernikahan
12 Bab 12. Rumah Yang Terlalu Sepi
13 Bab 13. Aturan Di Bawah Satu Atap
14 Bab 14. Sarapan Bersama
15 Bab 15. Perempuan Itu Kembali
16 Bab 16. Buku Catatan Ayah
17 Bab 17. Nama Yang Terhapus
18 Bab 18. Malam Yang Tidak Tenang
19 Bab 19. Orang Yang Mengawasi
20 Bab 20. Kecurigaan Pertama
21 Bab 21. Hari Pertama Sebagai Istri CEO
22 Bab 22. Gosip Yang Beredar
23 Bab 23. Luka Yang Tak Terlihat
24 Bab 24. Hujan Dari Hati
25 Bab 25. Sebuah Kebiasaan Baru
26 Bab 26. Nama Aurora
27 Bab 27. Jejak Yang Tertinggal
28 Bab 28. Tatapan Kecurigaan
29 Bab 29. Surat Tanpa Pengirim
30 Bab 30. Jangan Percaya Siapapun
31 Bab 31. Bayangan Masa Lalu
32 Bab 32. Kecurigaan Baru
33 Bab 33. Orang Yang mengikuti
34 Bab 34. Kevin Yang Mencurigakan
35 Bab 35. Makan Malam
36 Bab 36. Halaman Yang Sobek
37 Bab 37. Proyek Yang Dihapus
38 Bab 38. Orang Kepercayaan Kakek
39 Bab 39. Kunci Di Dalam Buku
40 Bab 40. Kotak Penyimpanan Nomer 217
41 Bab 41. Kotak Nomor 217
42 Bab 42. Flashdisk Yang Rusak
43 Bab 43. Pesan Ayah
44 Bab 44. Orang Ketiga
45 Bab 45. Nyaris Kehilangan
46 Bab 46. Bianca Datang
47 Bab 47. Kebohongan Pertama
48 Bab 48. Orang Yang Dipercaya
49 Bab 49. Jejak Yang Hilang
50 Bab 50. Seseorang Berbohong
51 Bab 51. Audit Internal
52 Bab 52. Nama Kevin
53 Bab 53. Pengkhianat
54 Bab 54. Luka Lama
55 Bab 55. Buku Kedua
56 Bab 56. Malam Kebakaran
57 Bab 57. Orang Yang Menolong
58 Bab 58. Rahasia Bianca
59 Bab 59. Potongan Rekaman
60 Bab 60. Nama Yang Hilang
61 Bab 61. Isi Buku Kedua
62 Bab 62. Nama Yang Dicoret
63 Bab 63. Kevin Menghilang
64 Bab 64. Ratih Panik
65 Bab 65. Alibi Kevin
66 Bab 66. Orang Yang Selalu Ada
67 Bab 67. Rekaman Lama
68 Bab 68. Potongan Puzzle
69 Bab 69. Pengkhianatan (Lagi)
70 Bab 70. Nama Itu
71 Bab 71. Topeng Yang Retak
72 Bab 72. Berkas Rahasia
73 Bab 73. Proyek Aurora
74 Bab 74. Kesalahan Pertama
75 Bab 75. Kebohongan Yang Membesar
76 Bab 76. Ancaman
77 Bab 77. Pilihan Arga
78 Bab 78. Perpisahan
79 Bab 79. Konfrontasi
80 Bab 80. Malam Pengakuan
81 Bab 81. Semua Terbongkar
82 Bab 82. Permintaan Maaf
83 Bab 83. Nama Baik
84 Bab 84. Keputusan Baru
85 Bab 85. Akhir Kontrak
86 Bab 86. Melepaskan
87 Bab 87. Melepaskan
88 Bab 88. Sebelum Kita Jatuh Cinta
89 Bab 89. Pilihan Hati
90 Bab 90. Rumah
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Di Pelaminan
2
Bab 2. Batas Waktu Tiga Puluh Hari
3
Bab 3. Toko Buku Senja
4
Bab 4. Nama Yang Terlintas
5
Bab 5. Ajakan Bertemu
6
Bab 6. Sebuah Tawaran
7
Bab 7. Pilihan Terakhir
8
Bab 8. Kesepakatan Tanpa Cinta
9
Bab 9. Makan Malam Keluarga Wijaya
10
Bab 10. Rahasia Yang Mengenali Nama
11
Bab 11. Hari Pernikahan
12
Bab 12. Rumah Yang Terlalu Sepi
13
Bab 13. Aturan Di Bawah Satu Atap
14
Bab 14. Sarapan Bersama
15
Bab 15. Perempuan Itu Kembali
16
Bab 16. Buku Catatan Ayah
17
Bab 17. Nama Yang Terhapus
18
Bab 18. Malam Yang Tidak Tenang
19
Bab 19. Orang Yang Mengawasi
20
Bab 20. Kecurigaan Pertama
21
Bab 21. Hari Pertama Sebagai Istri CEO
22
Bab 22. Gosip Yang Beredar
23
Bab 23. Luka Yang Tak Terlihat
24
Bab 24. Hujan Dari Hati
25
Bab 25. Sebuah Kebiasaan Baru
26
Bab 26. Nama Aurora
27
Bab 27. Jejak Yang Tertinggal
28
Bab 28. Tatapan Kecurigaan
29
Bab 29. Surat Tanpa Pengirim
30
Bab 30. Jangan Percaya Siapapun
31
Bab 31. Bayangan Masa Lalu
32
Bab 32. Kecurigaan Baru
33
Bab 33. Orang Yang mengikuti
34
Bab 34. Kevin Yang Mencurigakan
35
Bab 35. Makan Malam
36
Bab 36. Halaman Yang Sobek
37
Bab 37. Proyek Yang Dihapus
38
Bab 38. Orang Kepercayaan Kakek
39
Bab 39. Kunci Di Dalam Buku
40
Bab 40. Kotak Penyimpanan Nomer 217
41
Bab 41. Kotak Nomor 217
42
Bab 42. Flashdisk Yang Rusak
43
Bab 43. Pesan Ayah
44
Bab 44. Orang Ketiga
45
Bab 45. Nyaris Kehilangan
46
Bab 46. Bianca Datang
47
Bab 47. Kebohongan Pertama
48
Bab 48. Orang Yang Dipercaya
49
Bab 49. Jejak Yang Hilang
50
Bab 50. Seseorang Berbohong
51
Bab 51. Audit Internal
52
Bab 52. Nama Kevin
53
Bab 53. Pengkhianat
54
Bab 54. Luka Lama
55
Bab 55. Buku Kedua
56
Bab 56. Malam Kebakaran
57
Bab 57. Orang Yang Menolong
58
Bab 58. Rahasia Bianca
59
Bab 59. Potongan Rekaman
60
Bab 60. Nama Yang Hilang
61
Bab 61. Isi Buku Kedua
62
Bab 62. Nama Yang Dicoret
63
Bab 63. Kevin Menghilang
64
Bab 64. Ratih Panik
65
Bab 65. Alibi Kevin
66
Bab 66. Orang Yang Selalu Ada
67
Bab 67. Rekaman Lama
68
Bab 68. Potongan Puzzle
69
Bab 69. Pengkhianatan (Lagi)
70
Bab 70. Nama Itu
71
Bab 71. Topeng Yang Retak
72
Bab 72. Berkas Rahasia
73
Bab 73. Proyek Aurora
74
Bab 74. Kesalahan Pertama
75
Bab 75. Kebohongan Yang Membesar
76
Bab 76. Ancaman
77
Bab 77. Pilihan Arga
78
Bab 78. Perpisahan
79
Bab 79. Konfrontasi
80
Bab 80. Malam Pengakuan
81
Bab 81. Semua Terbongkar
82
Bab 82. Permintaan Maaf
83
Bab 83. Nama Baik
84
Bab 84. Keputusan Baru
85
Bab 85. Akhir Kontrak
86
Bab 86. Melepaskan
87
Bab 87. Melepaskan
88
Bab 88. Sebelum Kita Jatuh Cinta
89
Bab 89. Pilihan Hati
90
Bab 90. Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!