Bab 5. Ajakan Bertemu

Keesokan paginya, Nadira datang ke bengkel lebih awal untuk mengambil motor maticnya. Jalanan Jakarta belum terlalu padat ketika ia memarkir langkah di depan bengkel kecil yang semalam menjadi tempat motornya dititipkan. Begitu melihat kedatangannya, salah seorang montir segera menghampiri sambil menyerahkan kunci motor yang kini sudah kembali menyala dengan normal. Nadira mengembuskan napas lega. Setidaknya ia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana harus berangkat ke toko menggunakan transportasi umum.

"Berapa total biaya servisnya, Pak?" tanyanya sambil membuka dompet.

Montir itu justru menggeleng pelan. "Sudah lunas, Mbak."

Nadira mengernyit bingung. "Lunas?"

"Iya. Semalam Pak Arga yang bayar sebelum pulang. Beliau bilang kalau Mbak datang tinggal ambil motornya saja."

Ucapan itu membuat Nadira terdiam cukup lama. Tatapannya beralih ke motor putih miliknya, sementara perasaan tidak enak perlahan memenuhi dada. Semalam Arga sudah bersusah payah mencarikan montir, menemaninya menunggu hingga kendaraan itu diperiksa, lalu mengantarnya pulang ketika motor belum bisa diperbaiki. Kini laki-laki itu bahkan diam-diam melunasi seluruh biaya servis tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Di sepanjang perjalanan menuju Toko Buku Senja, pikiran Nadira dipenuhi rasa tidak nyaman. Ia memang bukan orang yang mudah menerima bantuan, apalagi dari seseorang yang baru kembali ditemuinya setelah bertahun-tahun. Baginya, kebaikan sekecil apapun seharusnya dibalas, bukan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Sesampainya di toko, Maya langsung menyambutnya dengan wajah penasaran. "Motornya gimana, Mbak? Udah sembuh?"

"Udah," jawab Nadira sambil meletakkan tas di meja kasir. "Ternyata biaya servisnya udah dibayarin Arga."

"Wah ... baik banget."

"Itu dia masalahnya."

Maya terkekeh pelan melihat ekspresi Nadira yang justru terlihat pusing. "Ya tinggal bilang makasih."

"Kalau cuma makasih rasanya nggak cukup."

"Lah terus?"

Nadira memandang ponselnya yang tergeletak di atas meja. Nama Arga yang baru semalam tersimpan di daftar kontak terasa begitu mencolok. Untung saja mereka sempat bertukar nomor sebelum Arga pulang.

Setelah menimbang beberapa saat, Nadira akhirnya mengambil keputusan. Wanita itu akhirnya menekan tombol panggil. Entah mengapa, hanya untuk menghubungi Arga saja rasanya gugup. Mungkin karena sudah bertahun-tahun mereka tidak pernah berkomunikasi atau mungkin karena laki-laki itu sudah terlalu banyak membantunya dalam waktu yang begitu singkat.

Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.

"Halo?" Suara Arga terdengar tenang seperti biasanya.

"Ga ... ini Nadira."

"Aku tahu." Jawaban singkat itu membuat Nadira terkekeh pelan. Tentu saja Arga tahu. Nomornya baru semalam disimpan.

"Aku ganggu, ya?"

"Nggak. Kebetulan baru selesai rapat."

Nadira menarik napas pelan sebelum berkata, "Aku baru ambil motor di bengkel."

"Gimana? Udah normal?"

"Udah. Tapi..." Ia berhenti sejenak, berusaha menyusun kalimat yang tepat. "Kenapa biaya servisnya kamu yang bayar?"

Di seberang sana terdengar tawa pelan. "Cuma itu?"

"Itu penting buatku."

"Nad, aku cuma bantu."

"Justru itu. Aku nggak enak."

"Kamu nggak usah kepikiran."

"Nggak bisa."

Jawaban Nadira terdengar mantap. "Aku nggak suka punya utang budi."

Arga terdiam beberapa saat. Entah mengapa, mendengar kalimat itu membuat sudut bibirnya terangkat. Nadira ternyata masih sama seperti yang ia ingat. Perempuan itu selalu merasa harus membalas setiap kebaikan orang lain, sekecil apa pun. "Terus maunya gimana?" tanyanya akhirnya.

"Aku mau traktir kamu makan siang."

"Makan siang?"

"Iya."

"Nggak usah repot-repot."

"Kalau kamu nolak, aku bakal tetap merasa punya utang."

Arga mengembuskan napas pelan sambil melirik jadwal di meja kerjanya. Sore nanti masih ada satu pertemuan dengan investor, tetapi makan siang selama satu jam bukan sesuatu yang mustahil. "Baiklah."

Senyum Nadira langsung mengembang. "Serius?"

"Iya. Nanti aku ke toko kamu, aku yang jemput.” Arga mengakhiri percakapan mereka. “Jam dua belas, ya. Soalnya aku ada agenda malamnya.”

“Yaudah kalau gitu,” tutup Nadira.

Tepat pukul dua belas, Arga memarkir mobilnya di depan Toko Buku Senja. Berbeda dengan biasanya, kali ini ia mengenakan kemeja biru muda tanpa jas. Penampilannya terlihat jauh lebih santai dibanding sosok CEO yang setiap hari memenuhi halaman bisnis berbagai media.

Nadira sudah menunggu di depan toko. Ia mengenakan blouse putih sederhana dipadukan dengan celana kain berwarna krem. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai sebahu, bergerak pelan tertiup angin siang yang hangat.

"Jadi mau makan di mana?" Arga bertanya.

"Aku punya tempat langganan."

Arga mengangguk. "Ayo."

Alih-alih mengarahkan Arga ke restoran mewah, Nadira justru mengajaknya berjalan kaki beberapa menit menuju sebuah warung makan sederhana yang berada di sudut jalan. Bangunannya tidak besar, tetapi terlihat bersih dan ramai oleh pegawai kantoran.

Arga sempat menatap papan nama warung itu sebelum menoleh kepada Nadira. "Kamu sering makan di sini?"

"Hampir setiap minggu."

"Kenapa bukan restoran?"

Nadira tertawa kecil. "Karena menurutku makanan enak nggak harus mahal."

Jawaban itu membuat Arga ikut tersenyum. Begitu mereka duduk, pemilik warung langsung menghampiri Nadira dengan wajah ramah.

"Seperti biasa, Nad?"

"Iya, Bu. Khusus hari ini tambah satu porsi, ya."

Perempuan paruh baya itu kemudian melirik Arga dengan senyum yang sulit diartikan. "Temannya?"

"Iya, Bu. Teman."

"Oooh..."

Nadira langsung tahu ke mana arah pikiran perempuan itu. "Bukan seperti yang Ibu pikir."

Pemilik warung itu justru tertawa kecil sebelum pergi menyiapkan pesanan.

Arga menahan tawanya. "Kamu kenapa ketawa?"

"Nggak."

"Jelas-jelas ketawa."

"Lucu aja."

Nadira mendengus pelan. "Ibu Sari memang suka begitu."

Tak lama kemudian, dua piring ayam bakar lengkap dengan lalapan dan sambal terhidang di atas meja. Aroma bumbu bakar yang harum langsung memenuhi udara.

"Gimana?" tanya Nadira setelah Arga mencicipi suapan pertamanya.

Arga mengangguk pelan. "Enak. Jauh lebih enak dari yang aku bayangin."

"Nah, mulai sekarang jangan meremehkan warung pinggir jalan."

"Siap, Bu Guru."

Mereka kembali tertawa.

Obrolan yang awalnya hanya seputar makanan perlahan beralih ke masa-masa kuliah. Arga mengenang pertemuan pertama mereka ketika dirinya sedang sibuk menyelesaikan skripsi di semester delapan, sementara Nadira baru menginjak semester dua. Saat itu Nadira tanpa ragu membantu mencarikan buku referensi yang sulit ditemukan di perpustakaan hingga rela berkeliling dari satu rak ke rak lainnya.

Sejak hari itu, mereka beberapa kali bertemu di kampus, mulai dari saling bertukar jurnal, mengerjakan tugas di perpustakaan, hingga tanpa sengaja berteduh bersama saat hujan mengguyur sore hari. Setelah Arga lulus, mereka tidak bertukar kabar lagi hingga bertemu di pernikahan Raina dan Satria beberapa hari lalu.

Selesai makan, Nadira berdiri lebih dulu menuju kasir. Kali ini ia benar-benar tidak memberi kesempatan Arga mengeluarkan dompet.

"Pokoknya jangan dibayar lagi. Nanti aku beneran marah."

Arga hanya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Baik, Bu Nadira."

Setelah berpamitan dengan Bu Sari, mereka melangkah keluar dari warung. Matahari mulai condong ke barat. Arga melirik jam tangannya sekilas sebelum mengembuskan napas.

"Aku harus balik ke kantor. Ada rapat jam lima sore."

"Nggak apa-apa. Makasih ya udah mau ditraktir."

"Harusnya aku yang bilang makasih."

Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran. Suasananya hening, tidak canggung. Sesekali Nadira menendang pelan kerikil kecil di jalan.

“Aku pulang naik gojek aja, Ga. Kamu kayaknya lagi buru-buru.”

“Aku mau antar kamu pulang.”

Nadira menggeleng. “Nggak usah, deh.”

“Kalau gitu aku pesan taksi, ya.” Arga langsung merogoh ponsel dari saku baju.

“Haduh, tapi aku udah pesen ojek duluan.” Nadira tersenyum lebar sembari menunjukkan ponselnya yang menampilkan layar aplikasi pesanan, menunggu sepuluh menit lagi hingga sopir online itu datang.

Arga terkekeh, “Aku kalah cepat ternyata.”

Nadira mengerling puas, kemudian sibuk melacak sopirnya dari aplikasi. Arga memperhatikan perempuan itu diam-diam. Dia menggaruk pelipisnya pelan. Entah kenapa, pikirannya seperti belum selesai.

"Nad,” panggilnya membuat Nadira mendongkak.

Dengan terbata-bata, Arga mulai bertanya. “Kamu ... masih jomblo?" 

Nadira mengernyit. "Iya. Kenapa?"

"Nggak cuma nanya."

"Oh."

Hening beberapa detik. Arga mengangguk pelan, seolah baru menemukan jawaban dari sesuatu yang mengusik pikirannya.

"Kalau gitu nikah sama aku aja." Kalimat itu meluncur begitu saja. Bahkan Arga sendiri baru menyadari apa yang baru saja diucapkannya.

Nadira menatapnya selama beberapa detik. Lalu, tanpa aba-aba, tawanya pecah. "Ya ampun, Arga!" katanya di sela-sela tawa. "Kamu kalau banyak pikiran omongannya suka ngelantur, ya?"

Arga berkedip pelan. "Ngelantur?"

"Iya." Nadira masih menahan tawanya. "Baru ketemu lagi dua hari, langsung ngajak nikah. Untung aku nggak gampang baper."

Arga ikut terkekeh kecil, memilih mengangguk daripada menjelaskan.

"Iya deh, anggap aja bercanda."

"Nah, gitu lebih masuk akal." Nadira melambaikan tangan usai sopir pesanannya datang. “Aku pergi dulu, ya.”

Sementara Arga berdiri mematung di samping mobil sambil mengembuskan napas pelan, lalu mengusap wajahnya sendiri.

"Aku barusan ngomong apa, sih?" Entah kenapa, ucapan yang dianggap lelucon oleh Nadira itu justru terus terngiang di kepalanya sepanjang perjalanan kembali ke kantor.

Terpopuler

Comments

liyute_281

liyute_281

di bab sblmnya, bukannya Nadira berhijab ya

2026-08-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Di Pelaminan
2 Bab 2. Batas Waktu Tiga Puluh Hari
3 Bab 3. Toko Buku Senja
4 Bab 4. Nama Yang Terlintas
5 Bab 5. Ajakan Bertemu
6 Bab 6. Sebuah Tawaran
7 Bab 7. Pilihan Terakhir
8 Bab 8. Kesepakatan Tanpa Cinta
9 Bab 9. Makan Malam Keluarga Wijaya
10 Bab 10. Rahasia Yang Mengenali Nama
11 Bab 11. Hari Pernikahan
12 Bab 12. Rumah Yang Terlalu Sepi
13 Bab 13. Aturan Di Bawah Satu Atap
14 Bab 14. Sarapan Bersama
15 Bab 15. Perempuan Itu Kembali
16 Bab 16. Buku Catatan Ayah
17 Bab 17. Nama Yang Terhapus
18 Bab 18. Malam Yang Tidak Tenang
19 Bab 19. Orang Yang Mengawasi
20 Bab 20. Kecurigaan Pertama
21 Bab 21. Hari Pertama Sebagai Istri CEO
22 Bab 22. Gosip Yang Beredar
23 Bab 23. Luka Yang Tak Terlihat
24 Bab 24. Hujan Dari Hati
25 Bab 25. Sebuah Kebiasaan Baru
26 Bab 26. Nama Aurora
27 Bab 27. Jejak Yang Tertinggal
28 Bab 28. Tatapan Kecurigaan
29 Bab 29. Surat Tanpa Pengirim
30 Bab 30. Jangan Percaya Siapapun
31 Bab 31. Bayangan Masa Lalu
32 Bab 32. Kecurigaan Baru
33 Bab 33. Orang Yang mengikuti
34 Bab 34. Kevin Yang Mencurigakan
35 Bab 35. Makan Malam
36 Bab 36. Halaman Yang Sobek
37 Bab 37. Proyek Yang Dihapus
38 Bab 38. Orang Kepercayaan Kakek
39 Bab 39. Kunci Di Dalam Buku
40 Bab 40. Kotak Penyimpanan Nomer 217
41 Bab 41. Kotak Nomor 217
42 Bab 42. Flashdisk Yang Rusak
43 Bab 43. Pesan Ayah
44 Bab 44. Orang Ketiga
45 Bab 45. Nyaris Kehilangan
46 Bab 46. Bianca Datang
47 Bab 47. Kebohongan Pertama
48 Bab 48. Orang Yang Dipercaya
49 Bab 49. Jejak Yang Hilang
50 Bab 50. Seseorang Berbohong
51 Bab 51. Audit Internal
52 Bab 52. Nama Kevin
53 Bab 53. Pengkhianat
54 Bab 54. Luka Lama
55 Bab 55. Buku Kedua
56 Bab 56. Malam Kebakaran
57 Bab 57. Orang Yang Menolong
58 Bab 58. Rahasia Bianca
59 Bab 59. Potongan Rekaman
60 Bab 60. Nama Yang Hilang
61 Bab 61. Isi Buku Kedua
62 Bab 62. Nama Yang Dicoret
63 Bab 63. Kevin Menghilang
64 Bab 64. Ratih Panik
65 Bab 65. Alibi Kevin
66 Bab 66. Orang Yang Selalu Ada
67 Bab 67. Rekaman Lama
68 Bab 68. Potongan Puzzle
69 Bab 69. Pengkhianatan (Lagi)
70 Bab 70. Nama Itu
71 Bab 71. Topeng Yang Retak
72 Bab 72. Berkas Rahasia
73 Bab 73. Proyek Aurora
74 Bab 74. Kesalahan Pertama
75 Bab 75. Kebohongan Yang Membesar
76 Bab 76. Ancaman
77 Bab 77. Pilihan Arga
78 Bab 78. Perpisahan
79 Bab 79. Konfrontasi
80 Bab 80. Malam Pengakuan
81 Bab 81. Semua Terbongkar
82 Bab 82. Permintaan Maaf
83 Bab 83. Nama Baik
84 Bab 84. Keputusan Baru
85 Bab 85. Akhir Kontrak
86 Bab 86. Melepaskan
87 Bab 87. Melepaskan
88 Bab 88. Sebelum Kita Jatuh Cinta
89 Bab 89. Pilihan Hati
90 Bab 90. Rumah
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Di Pelaminan
2
Bab 2. Batas Waktu Tiga Puluh Hari
3
Bab 3. Toko Buku Senja
4
Bab 4. Nama Yang Terlintas
5
Bab 5. Ajakan Bertemu
6
Bab 6. Sebuah Tawaran
7
Bab 7. Pilihan Terakhir
8
Bab 8. Kesepakatan Tanpa Cinta
9
Bab 9. Makan Malam Keluarga Wijaya
10
Bab 10. Rahasia Yang Mengenali Nama
11
Bab 11. Hari Pernikahan
12
Bab 12. Rumah Yang Terlalu Sepi
13
Bab 13. Aturan Di Bawah Satu Atap
14
Bab 14. Sarapan Bersama
15
Bab 15. Perempuan Itu Kembali
16
Bab 16. Buku Catatan Ayah
17
Bab 17. Nama Yang Terhapus
18
Bab 18. Malam Yang Tidak Tenang
19
Bab 19. Orang Yang Mengawasi
20
Bab 20. Kecurigaan Pertama
21
Bab 21. Hari Pertama Sebagai Istri CEO
22
Bab 22. Gosip Yang Beredar
23
Bab 23. Luka Yang Tak Terlihat
24
Bab 24. Hujan Dari Hati
25
Bab 25. Sebuah Kebiasaan Baru
26
Bab 26. Nama Aurora
27
Bab 27. Jejak Yang Tertinggal
28
Bab 28. Tatapan Kecurigaan
29
Bab 29. Surat Tanpa Pengirim
30
Bab 30. Jangan Percaya Siapapun
31
Bab 31. Bayangan Masa Lalu
32
Bab 32. Kecurigaan Baru
33
Bab 33. Orang Yang mengikuti
34
Bab 34. Kevin Yang Mencurigakan
35
Bab 35. Makan Malam
36
Bab 36. Halaman Yang Sobek
37
Bab 37. Proyek Yang Dihapus
38
Bab 38. Orang Kepercayaan Kakek
39
Bab 39. Kunci Di Dalam Buku
40
Bab 40. Kotak Penyimpanan Nomer 217
41
Bab 41. Kotak Nomor 217
42
Bab 42. Flashdisk Yang Rusak
43
Bab 43. Pesan Ayah
44
Bab 44. Orang Ketiga
45
Bab 45. Nyaris Kehilangan
46
Bab 46. Bianca Datang
47
Bab 47. Kebohongan Pertama
48
Bab 48. Orang Yang Dipercaya
49
Bab 49. Jejak Yang Hilang
50
Bab 50. Seseorang Berbohong
51
Bab 51. Audit Internal
52
Bab 52. Nama Kevin
53
Bab 53. Pengkhianat
54
Bab 54. Luka Lama
55
Bab 55. Buku Kedua
56
Bab 56. Malam Kebakaran
57
Bab 57. Orang Yang Menolong
58
Bab 58. Rahasia Bianca
59
Bab 59. Potongan Rekaman
60
Bab 60. Nama Yang Hilang
61
Bab 61. Isi Buku Kedua
62
Bab 62. Nama Yang Dicoret
63
Bab 63. Kevin Menghilang
64
Bab 64. Ratih Panik
65
Bab 65. Alibi Kevin
66
Bab 66. Orang Yang Selalu Ada
67
Bab 67. Rekaman Lama
68
Bab 68. Potongan Puzzle
69
Bab 69. Pengkhianatan (Lagi)
70
Bab 70. Nama Itu
71
Bab 71. Topeng Yang Retak
72
Bab 72. Berkas Rahasia
73
Bab 73. Proyek Aurora
74
Bab 74. Kesalahan Pertama
75
Bab 75. Kebohongan Yang Membesar
76
Bab 76. Ancaman
77
Bab 77. Pilihan Arga
78
Bab 78. Perpisahan
79
Bab 79. Konfrontasi
80
Bab 80. Malam Pengakuan
81
Bab 81. Semua Terbongkar
82
Bab 82. Permintaan Maaf
83
Bab 83. Nama Baik
84
Bab 84. Keputusan Baru
85
Bab 85. Akhir Kontrak
86
Bab 86. Melepaskan
87
Bab 87. Melepaskan
88
Bab 88. Sebelum Kita Jatuh Cinta
89
Bab 89. Pilihan Hati
90
Bab 90. Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!