Bab 3. Toko Buku Senja

Aroma kertas dan kopi menjadi hal pertama yang menyambut Nadira setiap kali membuka pintu Toko Buku Senja.

Jam dinding baru menunjukkan pukul delapan pagi ketika ia memutar papan kecil bertuliskan TUTUP menjadi BUKA. Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca besar di bagian depan, menerangi rak-rak kayu yang dipenuhi buku-buku berbagai genre.

Toko itu tidak besar. Hanya dua lantai dengan dinding berwarna krem serta hiasan dinding dengan beberapa lukisan pada abad pertengahan. Di sudut ruangan terdapat beberapa meja baca, lengkap dengan tanaman hias yang sengaja dirawat Nadira agar pengunjung merasa nyaman berlama-lama. Meski sederhana, tempat itu selalu terasa seperti rumah. Rumah yang dibangun dari mimpi ayahnya.

"Selamat pagi, Mbak Nad." Suara Maya, pegawai paruh waktu yang masih kuliah, memecah lamunannya.

"Pagi, May."

"Semalam pulang dari nikahan jam berapa?"

"Hampir jam sepuluh."

"Wah, pasti capek."

Nadira hanya tersenyum kecil.

Kalau dipikir-pikir, rasa lelahnya bukan karena menghadiri pesta pernikahan Raina. Melainkan karena setelah pulang, ia masih harus menghitung pemasukan toko yang lagi-lagi tidak mencapai target.

Semalam Nadira menerima telepon dari ibunya yang mengatakan bahwa ada beberapa orang datang ke rumah menagih cicilan bank. Dia tidak bercerita pada siapapun. Dia tidak mau membebani Raina yang sedang bahagia setelah menikah malah ikut menanggung kesedihannya.

Maya mulai menyalakan komputer kasir.

"Semoga hari ini ramai." Ucapan itu terdengar seperti doa yang setiap pagi mereka ulang.

Menjelang pukul sepuluh, beberapa pelanggan mulai berdatangan. Seorang ibu membeli buku cerita anak. Dua mahasiswa mencari buku referensi. Seorang bapak paruh baya datang hanya untuk membaca koran sambil memesan kopi.

Semuanya berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ramai. Namun cukup untuk membuat toko tetap hidup.

Nadira berdiri di balik meja kasir sambil menghitung hasil penjualan pagi itu. Belum sampai lima ratus ribu rupiah. Ia menghela napas pelan.

Dulu, saat ayahnya masih hidup, akhir pekan seperti ini selalu dipenuhi pelanggan. Bahkan beberapa orang rela duduk lesehan karena seluruh kursi penuh.

Kini banyak orang lebih memilih membeli buku secara daring. Sebagian lagi beralih membaca versi digital. Toko Buku Senja perlahan kehilangan pengunjungnya.

"Mbak." Maya memanggil pelan. "Ada kurir."

Seorang pria berseragam ekspedisi menyerahkan sebuah amplop putih. "Atas nama Nadira Pramesti."

"Terima kasih." Tanpa berpikir panjang, Nadira langsung membukanya. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Logo bank yang tercetak di pojok kiri atas membuat dadanya mendadak sesak. Matanya membaca setiap kalimat dengan perlahan. Apabila dalam waktu empat belas hari tidak dilakukan pembayaran tunggakan sesuai ketentuan, pihak bank berhak mengambil langkah hukum sesuai perjanjian kredit. Tangannya mulai bergetar.

"Mbak Nad...?" Maya memperhatikan perubahan raut wajah atasannya.

"Nggak apa-apa." Nadira buru-buru melipat kembali surat itu. Suaranya tidak lagi setenang tadi.

Menjelang siang, toko kembali sepi. Maya sibuk menyusun buku-buku baru di rak bagian belakang. Sementara Nadira duduk sendiri di meja kasir. Tatapannya tertuju pada sebuah foto berbingkai yang diletakkan di sudut meja.

Di dalam foto itu tampak seorang pria paruh baya tersenyum hangat sambil merangkul dirinya yang masih mengenakan seragam SMA.

"Ayah ..." Nadira mengusap bingkai foto itu perlahan. "Aku masih berusaha." Suara itu nyaris hanya berupa bisikan. Kenangan kembali memenuhi kepalanya.

Dulu, ayahnya sering berkata bahwa toko buku bukan sekadar tempat menjual buku. "Kalau orang pulang membawa satu buku, berarti kita ikut mengubah hidup satu orang." Kalimat itu yang membuat Nadira bertahan sampai sekarang.

Meski keuntungan semakin kecil. Meski cicilan semakin berat. Meski semua orang menyarankan agar toko itu dijual. Ia tidak pernah benar-benar sanggup melepaskannya.

Bel pintu kembali berbunyi. Seorang pria berkemeja biru masuk sambil membawa map hitam. "Selamat siang. Saya dari Bank Nusantara."

Jantung Nadira kembali berdegup lebih cepat.

"Saya hanya ingin memastikan Ibu sudah menerima surat peringatan yang kami kirim pagi ini."

Nadira mengangguk pelan. "Sudah."

"Kami berharap Ibu segera menghubungi pihak bank."

"Saya sedang mengusahakannya."

Pria itu tersenyum sopan. "Kami memahami kondisi Ibu tetapi keputusan akhir tetap berada di kantor pusat."

Setelah mengucapkan salam, pria itu kembali pergi. Maya yang sedari tadi pura-pura menyusun buku akhirnya mendekat.

"Mbak..."

"Iya?"

"Itu soal pinjaman toko, ya?"

Nadira tersenyum kecil. "Iya."

"Parah?"

Nadira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap rak-rak buku yang memenuhi ruangan. Setiap sudut toko menyimpan kenangan bersama ayahnya. Di sana ayahnya mengajarinya menghitung uang hasil penjualan. Di sana mereka pernah tertawa karena listrik mati saat hujan deras. Di sana pula ayahnya mengembuskan napas terakhir setelah terkena serangan jantung beberapa tahun lalu.

Bagaimana mungkin ia menjual semua kenangan itu?

"Selama toko ini masih berdiri aku akan mempertahankannya." Nadira berkata pelan.

Maya mengangguk. "Kalau butuh bantuan, bilang aja ya, Mbak."

"Terima kasih."

Menjelang sore, seorang anak kecil berlari masuk sambil menggandeng tangan ibunya.

"Mama yang kemarin!" Anak itu menunjuk sebuah buku dongeng bergambar kelinci.

Ibunya tersenyum meminta maaf. "Maaf ya, Mbak. Dia memang suka sekali ke sini."

"Nggak apa-apa." Nadira mengambil buku yang dimaksud lalu menyerahkannya kepada anak itu.

Wajah bocah kecil itu langsung berbinar. "Terima kasih, Kak." Hanya dua kata sederhana cukup membuat hati Nadira terasa sedikit lebih hangat.

Mungkin inilah alasan ayahnya tidak pernah menyerah. Karena selalu ada seseorang yang menemukan kebahagiaan lewat sebuah buku.

Menjelang toko tutup, Nadira kembali membuka laci meja kasir. Surat dari bank masih berada di sana. Ia menggenggam amplop putih itu erat-erat.

Empat belas hari.

Waktu yang bahkan lebih singkat daripada yang ia bayangkan. Jika tidak berhasil melunasi tunggakan, bukan hanya tokonya yang akan hilang. Melainkan seluruh kenangan yang selama ini ia jaga atas nama ayahnya.

Nadira menarik napas panjang sebelum melipat kembali surat itu. Jemarinya masih terasa dingin. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin ketika Maya menghampiri.

"Mbak, nggak apa-apa?"

"Iya."

"Yakin?"

Nadira mengangguk sambil memaksakan senyum. "Cuma surat dari bank."

Maya menggigit bibir bawahnya. Ia sebenarnya sudah beberapa kali mendengar pembicaraan Nadira dengan pihak bank melalui telepon, tetapi tak pernah berani bertanya lebih jauh.

"Apa masih soal cicilan?"

"Iya."

"Kalau boleh tahu, masih banyak?"

Nadira tidak langsung menjawab. Ia membuka laci kasir, mengambil buku catatan keuangan yang sampulnya mulai lusuh, lalu membalik beberapa halaman.

"Beberapa bulan terakhir pemasukan terus turun." Ia menunjukkan deretan angka yang ditulis rapi dengan tinta biru. "Kalau begini terus, aku nggak bisa nutup cicilan bulan depan."

Maya memandang buku itu dengan perasaan bersalah. "Maaf ya, Mbak. Aku malah nambah beban karena harus digaji."

Nadira langsung menggeleng. "Jangan bilang begitu. Kalau bukan karena kamu, aku nggak mungkin bisa ngurus toko sendirian."

Maya tersenyum tipis. "Kalau memang lagi susah, gajiku bisa ditunda."

Nadira spontan menatapnya. "Nggak."

"Tapi, Mbak—"

"Nggak boleh."

Nada suara Nadira terdengar lebih tegas daripada biasanya.

"Ayah selalu bilang, orang yang bekerja sama kita jangan sampai pulang dengan perasaan haknya diambil."

Kalimat itu membuat Maya terdiam. Ia baru menyadari satu hal. Walaupun sedang berada dalam kesulitan, Nadira tidak pernah sekalipun mengurangi hak orang lain.

"Terima kasih, Mbak."

Nadira hanya tersenyum kecil. "Sekarang bantu aku bikin promo akhir pekan."

"Promo?"

"Iya."

"Diskon?"

"Bukan."

Nadira berpikir sejenak. "Gimana kalau beli dua buku gratis kopi?"

Mata Maya langsung berbinar. "Itu bagus!"

"Atau bikin tantangan membaca buat anak-anak."

"Wah, seru tuh!"

Keduanya mulai menuliskan beberapa ide di atas kertas kecil. Nadira masih ingin berusaha sebelum menyerah. Sekitar satu jam kemudian, seorang pelanggan tetap datang memasuki toko. Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu tersenyum ramah.

"Seperti biasa, Mbak. Novel sejarah terbaru sudah datang?"

"Sudah." Nadira mengambil satu buku dari rak bagian atas lalu menyerahkannya.

Pak Hendra membolak-balik beberapa halaman sebelum akhirnya mengangguk puas. "Kalau bukan karena toko ini, saya mungkin sudah berhenti beli buku."

Nadira tersenyum. "Kenapa memangnya, Pak?"

"Di toko besar rasanya beda." Pria itu memandang sekeliling. "Di sini saya selalu merasa seperti datang ke rumah teman."

Ucapan sederhana itu membuat hati Nadira menghangat. "Terima kasih."

"Jangan sampai tutup ya, Mbak."

Kalimat itu terdengar biasa. Namun entah mengapa, dada Nadira kembali terasa sesak. Ia hanya mampu mengangguk pelan.

Pak Hendra membayar bukunya lalu berpamitan. Begitu pintu kembali tertutup, Maya menatap Nadira sambil tersenyum.

"Tuh kan."

"Hm?"

"Masih banyak yang sayang sama Toko Buku Senja."

Nadira memandang rak-rak kayu yang memenuhi ruangan. Benar. Mungkin jumlah mereka tidak sebanyak dulu. Masih ada orang-orang yang datang bukan hanya untuk membeli buku. Mereka datang karena merasa memiliki tempat ini dan selama masih ada satu saja orang yang percaya pada Toko Buku Senja. Nadira ingin terus memperjuangkannya.

Episodes
1 Bab 1. Pertemuan Di Pelaminan
2 Bab 2. Batas Waktu Tiga Puluh Hari
3 Bab 3. Toko Buku Senja
4 Bab 4. Nama Yang Terlintas
5 Bab 5. Ajakan Bertemu
6 Bab 6. Sebuah Tawaran
7 Bab 7. Pilihan Terakhir
8 Bab 8. Kesepakatan Tanpa Cinta
9 Bab 9. Makan Malam Keluarga Wijaya
10 Bab 10. Rahasia Yang Mengenali Nama
11 Bab 11. Hari Pernikahan
12 Bab 12. Rumah Yang Terlalu Sepi
13 Bab 13. Aturan Di Bawah Satu Atap
14 Bab 14. Sarapan Bersama
15 Bab 15. Perempuan Itu Kembali
16 Bab 16. Buku Catatan Ayah
17 Bab 17. Nama Yang Terhapus
18 Bab 18. Malam Yang Tidak Tenang
19 Bab 19. Orang Yang Mengawasi
20 Bab 20. Kecurigaan Pertama
21 Bab 21. Hari Pertama Sebagai Istri CEO
22 Bab 22. Gosip Yang Beredar
23 Bab 23. Luka Yang Tak Terlihat
24 Bab 24. Hujan Dari Hati
25 Bab 25. Sebuah Kebiasaan Baru
26 Bab 26. Nama Aurora
27 Bab 27. Jejak Yang Tertinggal
28 Bab 28. Tatapan Kecurigaan
29 Bab 29. Surat Tanpa Pengirim
30 Bab 30. Jangan Percaya Siapapun
31 Bab 31. Bayangan Masa Lalu
32 Bab 32. Kecurigaan Baru
33 Bab 33. Orang Yang mengikuti
34 Bab 34. Kevin Yang Mencurigakan
35 Bab 35. Makan Malam
36 Bab 36. Halaman Yang Sobek
37 Bab 37. Proyek Yang Dihapus
38 Bab 38. Orang Kepercayaan Kakek
39 Bab 39. Kunci Di Dalam Buku
40 Bab 40. Kotak Penyimpanan Nomer 217
41 Bab 41. Kotak Nomor 217
42 Bab 42. Flashdisk Yang Rusak
43 Bab 43. Pesan Ayah
44 Bab 44. Orang Ketiga
45 Bab 45. Nyaris Kehilangan
46 Bab 46. Bianca Datang
47 Bab 47. Kebohongan Pertama
48 Bab 48. Orang Yang Dipercaya
49 Bab 49. Jejak Yang Hilang
50 Bab 50. Seseorang Berbohong
51 Bab 51. Audit Internal
52 Bab 52. Nama Kevin
53 Bab 53. Pengkhianat
54 Bab 54. Luka Lama
55 Bab 55. Buku Kedua
56 Bab 56. Malam Kebakaran
57 Bab 57. Orang Yang Menolong
58 Bab 58. Rahasia Bianca
59 Bab 59. Potongan Rekaman
60 Bab 60. Nama Yang Hilang
61 Bab 61. Isi Buku Kedua
62 Bab 62. Nama Yang Dicoret
63 Bab 63. Kevin Menghilang
64 Bab 64. Ratih Panik
65 Bab 65. Alibi Kevin
66 Bab 66. Orang Yang Selalu Ada
67 Bab 67. Rekaman Lama
68 Bab 68. Potongan Puzzle
69 Bab 69. Pengkhianatan (Lagi)
70 Bab 70. Nama Itu
71 Bab 71. Topeng Yang Retak
72 Bab 72. Berkas Rahasia
73 Bab 73. Proyek Aurora
74 Bab 74. Kesalahan Pertama
75 Bab 75. Kebohongan Yang Membesar
76 Bab 76. Ancaman
77 Bab 77. Pilihan Arga
78 Bab 78. Perpisahan
79 Bab 79. Konfrontasi
80 Bab 80. Malam Pengakuan
81 Bab 81. Semua Terbongkar
82 Bab 82. Permintaan Maaf
83 Bab 83. Nama Baik
84 Bab 84. Keputusan Baru
85 Bab 85. Akhir Kontrak
86 Bab 86. Melepaskan
87 Bab 87. Melepaskan
88 Bab 88. Sebelum Kita Jatuh Cinta
89 Bab 89. Pilihan Hati
90 Bab 90. Rumah
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Pertemuan Di Pelaminan
2
Bab 2. Batas Waktu Tiga Puluh Hari
3
Bab 3. Toko Buku Senja
4
Bab 4. Nama Yang Terlintas
5
Bab 5. Ajakan Bertemu
6
Bab 6. Sebuah Tawaran
7
Bab 7. Pilihan Terakhir
8
Bab 8. Kesepakatan Tanpa Cinta
9
Bab 9. Makan Malam Keluarga Wijaya
10
Bab 10. Rahasia Yang Mengenali Nama
11
Bab 11. Hari Pernikahan
12
Bab 12. Rumah Yang Terlalu Sepi
13
Bab 13. Aturan Di Bawah Satu Atap
14
Bab 14. Sarapan Bersama
15
Bab 15. Perempuan Itu Kembali
16
Bab 16. Buku Catatan Ayah
17
Bab 17. Nama Yang Terhapus
18
Bab 18. Malam Yang Tidak Tenang
19
Bab 19. Orang Yang Mengawasi
20
Bab 20. Kecurigaan Pertama
21
Bab 21. Hari Pertama Sebagai Istri CEO
22
Bab 22. Gosip Yang Beredar
23
Bab 23. Luka Yang Tak Terlihat
24
Bab 24. Hujan Dari Hati
25
Bab 25. Sebuah Kebiasaan Baru
26
Bab 26. Nama Aurora
27
Bab 27. Jejak Yang Tertinggal
28
Bab 28. Tatapan Kecurigaan
29
Bab 29. Surat Tanpa Pengirim
30
Bab 30. Jangan Percaya Siapapun
31
Bab 31. Bayangan Masa Lalu
32
Bab 32. Kecurigaan Baru
33
Bab 33. Orang Yang mengikuti
34
Bab 34. Kevin Yang Mencurigakan
35
Bab 35. Makan Malam
36
Bab 36. Halaman Yang Sobek
37
Bab 37. Proyek Yang Dihapus
38
Bab 38. Orang Kepercayaan Kakek
39
Bab 39. Kunci Di Dalam Buku
40
Bab 40. Kotak Penyimpanan Nomer 217
41
Bab 41. Kotak Nomor 217
42
Bab 42. Flashdisk Yang Rusak
43
Bab 43. Pesan Ayah
44
Bab 44. Orang Ketiga
45
Bab 45. Nyaris Kehilangan
46
Bab 46. Bianca Datang
47
Bab 47. Kebohongan Pertama
48
Bab 48. Orang Yang Dipercaya
49
Bab 49. Jejak Yang Hilang
50
Bab 50. Seseorang Berbohong
51
Bab 51. Audit Internal
52
Bab 52. Nama Kevin
53
Bab 53. Pengkhianat
54
Bab 54. Luka Lama
55
Bab 55. Buku Kedua
56
Bab 56. Malam Kebakaran
57
Bab 57. Orang Yang Menolong
58
Bab 58. Rahasia Bianca
59
Bab 59. Potongan Rekaman
60
Bab 60. Nama Yang Hilang
61
Bab 61. Isi Buku Kedua
62
Bab 62. Nama Yang Dicoret
63
Bab 63. Kevin Menghilang
64
Bab 64. Ratih Panik
65
Bab 65. Alibi Kevin
66
Bab 66. Orang Yang Selalu Ada
67
Bab 67. Rekaman Lama
68
Bab 68. Potongan Puzzle
69
Bab 69. Pengkhianatan (Lagi)
70
Bab 70. Nama Itu
71
Bab 71. Topeng Yang Retak
72
Bab 72. Berkas Rahasia
73
Bab 73. Proyek Aurora
74
Bab 74. Kesalahan Pertama
75
Bab 75. Kebohongan Yang Membesar
76
Bab 76. Ancaman
77
Bab 77. Pilihan Arga
78
Bab 78. Perpisahan
79
Bab 79. Konfrontasi
80
Bab 80. Malam Pengakuan
81
Bab 81. Semua Terbongkar
82
Bab 82. Permintaan Maaf
83
Bab 83. Nama Baik
84
Bab 84. Keputusan Baru
85
Bab 85. Akhir Kontrak
86
Bab 86. Melepaskan
87
Bab 87. Melepaskan
88
Bab 88. Sebelum Kita Jatuh Cinta
89
Bab 89. Pilihan Hati
90
Bab 90. Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!