Bab 2: Harga Sebuah Keajaiban

Pagi datang dengan warna langit yang masih belum kembali normal—ungu pucat bercampur jingga, seolah matahari sendiri ragu untuk terbit sepenuhnya. Elena berdiri di ambang gudang jerami, mengawasi para pengungsi yang mulai bangun satu demi satu, tubuh mereka kaku karena tidur di atas jerami dingin.

Sarah masih tertidur di sudut, kepalanya bersandar di bahu suaminya, Daniel. Wajahnya sudah tidak sepucat semalam. Setidaknya air dan roti dari Gudang semalam berhasil membuatnya bertahan.

"Bu Cross." Marshal Whitlock mendekat, topi kulitnya sudah terpasang rapi meski matanya masih menyisakan kelelahan semalam. "Boleh aku bicara sebentar? Empat mata."

Elena mengangguk, dan mereka berjalan menjauh dari gudang, menuju pagar kayu yang menghadap padang luas.

"Aku dulu Marshal selama dua puluh tahun," Whitlock memulai, suaranya rendah. "Aku sudah lihat segala jenis orang—perampok, penipu, pembunuh berdarah dingin yang tersenyum manis di depan juri. Aku tahu caranya membaca orang, Nyonya Cross. Dan aku sudah membaca dua puluh dua orang yang kubawa dari Redcliff semalam."

"Lalu?"

"Sebagian dari mereka baik. Sebagian lagi..." Whitlock menghela napas. "Sudah putus asa sampai titik di mana moral jadi barang mewah. Kalau mereka tahu apa yang kau punya—kekuatan mengeluarkan makanan dan senjata dari udara kosong—sebagian orang akan berterima kasih. Tapi sebagian lagi akan mulai berpikir bagaimana caranya merebut itu darimu."

Elena menatap Whitlock lama, lalu memandang ke arah gudang jerami tempat rombongan itu mulai bergerak, anak-anak kecil berlarian riang seolah dunia tidak baru saja kiamat.

"Jadi maksudmu aku harus menyembunyikannya?"

"Maksudku," Whitlock menjawab hati-hati, "kau harus mengendalikan siapa yang tahu, dan bagaimana kau menunjukkannya. Kekuatan seperti itu bisa jadi alasan orang mengikutimu sampai ke ujung dunia... atau alasan mereka menusukmu dari belakang saat kau tidur."

Kata-kata itu menggantung di udara pagi yang dingin. Elena meletakkan tangan di perutnya, merasakan tendangan kecil dari dalam—pengingat bahwa apa pun keputusan yang ia ambil sekarang, taruhannya bukan cuma nyawanya sendiri.

"Aku menghargai peringatanmu, Marshal," katanya akhirnya. "Tapi aku tidak bisa menutup pintu ranch ini untuk orang-orang yang butuh bantuan. Bukan begitu caraku dibesarkan, dan bukan begitu pula yang ingin kutunjukkan pada anakku kelak—kalau dia sempat lahir ke dunia yang masih punya arti kebaikan."

Whitlock tersenyum tipis, sorot matanya melunak. "Itulah jawaban yang kuharapkan, sejujurnya. Aku hanya ingin memastikan kau sadar risikonya."

Sebelum Elena sempat menjawab, teriakan Tommy memecah pagi. "Bu Cross! Ada yang datang dari arah bukit timur—bukan pengungsi. Mereka bawa kuda perang dan senjata banyak!"

Elena dan Whitlock bergegas ke arah pagar depan. Di kejauhan, sekelompok penunggang kuda—sekitar lima belas orang—bergerak cepat menyusuri jalan setapak menuju ranch, debu mengepul tinggi di belakang mereka. Di depan barisan, seorang pria bertopi hitam lebar menunggangi kuda hitam legam, jubah panjangnya berkibar seperti sayap gagak.

"Itu..." Whitlock menyipitkan mata, wajahnya berubah tegang. "Itu Silas Rourke. Bekas pemburu bayaran, sekarang memimpin genk perampok terbesar di county ini. Kalau dia sampai di Redcliff sebelum kota itu hancur, dia pasti sudah dengar kabar tentang 'keajaiban' yang terjadi di sini."

Jantung Elena berdegup kencang. "Dari mana dia bisa tahu?"

"Berita menyebar cepat, bahkan di tengah kiamat," jawab Whitlock getir. "Salah satu dari rombongan kita semalam pasti bicara terlalu banyak di persimpangan jalan sebelum sampai kemari."

Elena menggenggam senapannya erat, menatap kotak cahaya yang samar mengambang di sudut penglihatannya, seolah menanyakan apakah keajaiban itu siap digunakan untuk pertarungan yang jauh lebih berbahaya daripada melawan ternak bermutasi.

Silas Rourke menghentikan kudanya tepat lima puluh meter dari gerbang ranch, mengangkat tangan sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk berhenti. Suaranya menggelegar melintasi jarak itu, penuh keyakinan seorang pria yang terbiasa selalu menang.

"Nyonya Cross!" serunya, nada bicaranya nyaris ramah, namun ada ancaman tersembunyi di setiap kata. "Aku dengar kau baru saja jadi wanita paling beruntung—atau paling terkutuk—di seluruh wilayah ini. Aku cuma ingin bicara. Tidak ada yang perlu terluka... asalkan kau mau berbagi sedikit dari 'berkah' yang kau punya."

Di belakang Elena, para pengungsi mulai berkumpul, ketakutan terpancar jelas di wajah mereka. Sarah menggenggam tangan Daniel erat-erat, sementara anak-anak kecil disembunyikan di balik tubuh orang dewasa.

Elena melangkah maju, berdiri tegak di depan gerbang ranch-nya sendiri, satu tangan di senapan, satu tangan lagi terkepal di sisi perutnya yang membuncit.

"Rourke," serunya balik, suaranya lantang meski jantungnya berdegup liar. "Dunia sudah cukup hancur tanpa orang-orang sepertimu menambah kekacauan. Pergi sekarang, dan aku janji tidak ada yang perlu mati hari ini."

Rourke tertawa keras, suara yang menggema mengerikan di tengah padang kosong. "Berani juga, untuk wanita hamil yang sendirian menghadapi lima belas orang bersenjata."

"Siapa bilang aku sendirian?"

Di belakangnya, Whitlock mengangkat senapan tuanya, dan satu demi satu, para pengungsi pria yang masih punya keberanian tersisa mengambil posisi di sepanjang pagar—garpu jerami, kapak, apa pun yang bisa mereka temukan sebagai senjata.

Untuk sesaat, keheningan mencekam menggantung di antara dua kelompok itu, hanya dipecah oleh angin gurun yang membawa debu berputar-putar di antara mereka, seolah dunia sendiri menahan napas menunggu siapa yang akan menembakkan peluru pertama.

---

Angin berhenti bertiup sesaat, seolah alam sendiri menahan napas. Silas Rourke masih duduk santai di atas kudanya, namun matanya—dingin dan menghitung—tidak pernah lepas dari Elena.

"Kau punya nyali, aku akui itu," katanya akhirnya, memecah keheningan. "Tapi nyali tidak menghentikan peluru, Nyonya. Aku datang untuk bernegosiasi, bukan bertarung. Berikan aku sepersepuluh dari apa pun keajaiban yang kau punya, dan aku janji ranch ini tidak akan kusentuh."

"Dan kalau aku menolak?"

Senyum Rourke melebar, menampilkan gigi yang menguning oleh tembakau. "Maka aku akan mengambil semuanya, dan kau tidak akan sempat melahirkan anak itu untuk melihatnya."

Kata-kata itu bagai percikan api di padang kering. Elena merasakan amarah membakar dadanya, namun ia menahan diri, tahu betul bahwa satu kesalahan bisa mengorbankan nyawa dua puluh dua orang yang kini bergantung padanya.

Kotak cahaya di sudut penglihatannya berdenyut pelan, seolah merespons detak jantungnya yang memburu. Sebuah ide gila melintas di benaknya.

"Baiklah," serunya, mengangkat satu tangan sebagai tanda damai. "Aku akan tunjukkan padamu apa yang kupunya."

Whitlock menoleh cepat, matanya melebar penuh peringatan, namun Elena mengangkat tangan lagi, isyarat agar ia percaya.

Elena melangkah beberapa kaki ke depan gerbang, cukup jauh agar terlihat jelas oleh seluruh rombongan Rourke, namun masih dalam jangkauan perlindungan pagar. Ia mengulurkan tangan ke udara kosong, dan kotak cahaya keemasan itu berpendar terang, terlihat jelas bahkan di bawah sinar matahari pagi yang aneh.

Gumaman kaget terdengar dari barisan anak buah Rourke. Beberapa dari mereka menarik kekang kuda mundur selangkah, mata melebar ketakutan.

"Ini yang kau inginkan?" seru Elena, suaranya menggema tegas. "Baik. Tapi ingat satu hal, Rourke—kekuatan ini merespons niatku untuk melindungi kehidupan, bukan untuk menghancurkannya. Dan sistem ini punya cara tersendiri untuk menghukum keserakahan."

Ia tidak benar-benar tahu apakah kalimat itu benar, namun taruhannya sudah dilempar. Dari dalam kotak cahaya, bukan peti amunisi atau makanan yang muncul kali ini—melainkan sebuah tong kayu besar, berdebar dengan suara mendesis aneh dari dalamnya.

> **[Item Khusus Tersedia: Bubuk Mesiu Terkutuk]**

> **[Peringatan: hanya dapat digunakan untuk pertahanan diri. Efek samping tidak terduga bagi mereka yang berniat jahat.]**

Elena sendiri terkejut membaca peringatan itu, namun cepat menyembunyikan keraguannya. Ia menendang tong itu hingga terguling beberapa kaki ke arah Rourke, lalu mundur kembali ke belakang pagar.

"Ambil kalau kau berani," tantangnya. "Tapi jangan salahkan aku kalau keserakahanmu membakarmu sendiri."

Rourke menyipitkan mata, curiga namun juga tergoda. Ia memberi isyarat pada salah satu anak buahnya—pria bertubuh kekar bernama Grubbs—untuk memeriksa tong itu.

Grubbs turun dari kuda, mendekat dengan hati-hati, lalu membuka tutup tong itu dengan laras senapannya.

Yang keluar bukan mesiu biasa.

Asap ungu pekat menyembur keluar, disusul suara mendesis seperti ular raksasa. Grubbs terlonjak mundur, namun terlambat—asap itu sudah menyelimuti wajahnya. Ia terbatuk keras, matanya berair, dan dalam hitungan detik, tubuhnya ambruk ke tanah, mengerang kesakitan namun tidak sekarat—hanya lumpuh sesaat, seolah diracuni oleh sesuatu yang menghukum niat jahatnya.

Kepanikan menjalar cepat di antara anak buah Rourke. Beberapa dari mereka mulai menarik kekang kuda mundur, wajah pucat pasi menyaksikan rekan mereka ambruk begitu saja.

"Ilmu hitam," gumam salah satu dari mereka. "Wanita itu punya ilmu hitam!"

Elena sendiri tidak tahu persis apa yang baru saja terjadi, namun ia memanfaatkan momen kepanikan itu sepenuhnya. "Sistem ini tahu siapa yang punya niat baik dan siapa yang tidak," serunya lantang, suaranya penuh keyakinan palsu yang meyakinkan. "Kalian masih punya kesempatan untuk pergi. Tapi jika kalian menyerang ranch ini, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada kalian semua."

Rourke menatap Grubbs yang masih mengerang di tanah, lalu menatap Elena dengan sorot mata campuran antara amarah dan ketakutan tersembunyi. Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, keraguan mulai muncul di wajahnya.

"Ini belum berakhir, Nyonya Cross," geramnya, menarik kekang kudanya mundur. "Aku akan kembali—dengan lebih banyak orang, dan lebih siap."

Ia memberi isyarat pada anak buahnya yang tersisa untuk mengangkut Grubbs dan mundur, kembali ke arah bukit timur dari mana mereka datang. Debu mengepul tinggi mengiringi kepergian mereka, hingga akhirnya siluet mereka menghilang di balik cakrawala.

Elena baru merasakan lututnya gemetar setelah rombongan itu benar-benar hilang dari pandangan. Whitlock bergegas mendekat, menopang bahunya.

"Itu," katanya, suaranya penuh kekaguman sekaligus kekhawatiran, "adalah salah satu hal paling berani sekaligus paling gila yang pernah kulihat seumur hidupku."

"Aku juga tidak tahu apa yang baru saja terjadi," Elena mengaku jujur, menatap kotak cahaya yang kini kembali tenang di sudut penglihatannya. "Tapi sepertinya... Gudang ini punya batasannya sendiri. Dan sepertinya ia tidak suka orang-orang serakah."

Whitlock mengangguk pelan, namun matanya tetap menerawang ke arah bukit timur. "Rourke bukan orang yang mudah menyerah, Nyonya. Ancamannya bukan gertakan kosong. Dia akan kembali."

Elena menatap ke arah para pengungsi yang perlahan mulai bernapas lega, anak-anak kecil yang tadi bersembunyi kini mengintip dari balik gudang jerami. Sarah tersenyum lemah padanya dari kejauhan, satu tangan di perutnya sendiri.

"Kalau begitu," kata Elena pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Whitlock, "kita punya waktu untuk bersiap. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun merenggut apa yang sudah kubangun—atau siapa pun yang kulindungi."

Ia menoleh ke arah cakrawala barat, ke arah matahari yang mulai naik penuh di langit yang masih berwarna aneh, dan untuk pertama kalinya sejak kiamat dimulai, ia merasakan sesuatu selain ketakutan murni: sebuah tekad yang membara, setajam padang gurun di bawah terik matahari.

Terpopuler

Comments

Dorinaanakjunny Dorinaanakjunny

Dorinaanakjunny Dorinaanakjunny

bodoh buat apa bilang ada kekuatan
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!

2026-07-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Debu, Darah, dan Sebuah Kotak Aneh
2 Bab 2: Harga Sebuah Keajaiban
3 Bab 3: Persiapan di Bawah Langit Aneh
4 Bab 4 : Detik-Detik Genting
5 Bab 5: Fajar Baru di Rocking Spur
6 Bab 6: Aliansi Padang Barat
7 Bab 7: Perjalanan ke Prescott
8 Bab 8: Bayangan dari Utara
9 Bab 9: Pilihan Seorang Ibu
10 Bab 10: Reruntuhan Prometheus
11 Bab 11: Fragmen yang Terpecah
12 Bab 12: Jantung Prometheus
13 Bab 13: Suara di Balik Cahaya
14 Bab 14: Kepulangan yang Berbeda
15 Bab 15: Enam Bulan Kemudian
16 Bab 16: Rencana di Bawah Bulan
17 Bab 17: Konfrontasi di Alun-Alun
18 Bab 18: Dua Fragmen, Dua Jalan
19 Bab 19: Retakan di Balik Topeng
20 Bab 20: Membangun Kembali Ashford
21 Bab 21: Kabar dari Timur
22 Bab 22: Divisi Pemulihan Nasional
23 Bab 23: Perpisahan yang Sulit
24 Bab 24: Menuju Pegunungan Timur
25 Bab 25: Gerbang Kristal
26 Bab 26: Lorong Kenangan
27 Bab 27: Kesadaran Prometheus Prime
28 Bab 28: Harga Sesungguhnya
29 Bab 29: Uji Resonansi
30 Bab 30: Bayangan Masa Depan
31 Bab 31: Penyatuan
32 Bab 32: Jangkar Kemanusiaan
33 Bab 33: Gema di Gurun Es
34 Bab 34: Bisikan dari Bawah Tanah
35 Bab 35: Warisan Darah
36 Bab 36: Bayangan di Balik Cahaya
37 Bab 37: Langit yang Gelap
38 Bab 38: Bayangan Sang Raja
39 Bab 39: Kedalaman dan Kebenaran
40 Bab 40: Mata di Langit
41 Bab 41: Benih-Benih Kebangkitan
42 Bab 42: Gerbang Harapan
43 Bab 43: Bayangan yang Menelan Cahaya
44 Bab 44: Hening Sebelum Badai
45 Bab 45: Pengadilan di Atas Debu
46 Bab 46: Tamu dari Bayangan
47 Bab 47: Retakan di Cermin
48 Bab 48: Panggung Kaca
49 Bab 49: Gema yang Palsu
50 Bab 50: Kota Cermin
51 Bab 51: Resonansi Murni
52 Bab 52: Badai di Lautan Data
53 Bab 53: Akar dan Roda Gigi
54 Bab 54: Jantung Besi yang Membeku
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Bab 1: Debu, Darah, dan Sebuah Kotak Aneh
2
Bab 2: Harga Sebuah Keajaiban
3
Bab 3: Persiapan di Bawah Langit Aneh
4
Bab 4 : Detik-Detik Genting
5
Bab 5: Fajar Baru di Rocking Spur
6
Bab 6: Aliansi Padang Barat
7
Bab 7: Perjalanan ke Prescott
8
Bab 8: Bayangan dari Utara
9
Bab 9: Pilihan Seorang Ibu
10
Bab 10: Reruntuhan Prometheus
11
Bab 11: Fragmen yang Terpecah
12
Bab 12: Jantung Prometheus
13
Bab 13: Suara di Balik Cahaya
14
Bab 14: Kepulangan yang Berbeda
15
Bab 15: Enam Bulan Kemudian
16
Bab 16: Rencana di Bawah Bulan
17
Bab 17: Konfrontasi di Alun-Alun
18
Bab 18: Dua Fragmen, Dua Jalan
19
Bab 19: Retakan di Balik Topeng
20
Bab 20: Membangun Kembali Ashford
21
Bab 21: Kabar dari Timur
22
Bab 22: Divisi Pemulihan Nasional
23
Bab 23: Perpisahan yang Sulit
24
Bab 24: Menuju Pegunungan Timur
25
Bab 25: Gerbang Kristal
26
Bab 26: Lorong Kenangan
27
Bab 27: Kesadaran Prometheus Prime
28
Bab 28: Harga Sesungguhnya
29
Bab 29: Uji Resonansi
30
Bab 30: Bayangan Masa Depan
31
Bab 31: Penyatuan
32
Bab 32: Jangkar Kemanusiaan
33
Bab 33: Gema di Gurun Es
34
Bab 34: Bisikan dari Bawah Tanah
35
Bab 35: Warisan Darah
36
Bab 36: Bayangan di Balik Cahaya
37
Bab 37: Langit yang Gelap
38
Bab 38: Bayangan Sang Raja
39
Bab 39: Kedalaman dan Kebenaran
40
Bab 40: Mata di Langit
41
Bab 41: Benih-Benih Kebangkitan
42
Bab 42: Gerbang Harapan
43
Bab 43: Bayangan yang Menelan Cahaya
44
Bab 44: Hening Sebelum Badai
45
Bab 45: Pengadilan di Atas Debu
46
Bab 46: Tamu dari Bayangan
47
Bab 47: Retakan di Cermin
48
Bab 48: Panggung Kaca
49
Bab 49: Gema yang Palsu
50
Bab 50: Kota Cermin
51
Bab 51: Resonansi Murni
52
Bab 52: Badai di Lautan Data
53
Bab 53: Akar dan Roda Gigi
54
Bab 54: Jantung Besi yang Membeku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!