Bab 3: Persiapan di Bawah Langit Aneh

Tiga hari berlalu tanpa tanda-tanda Rourke kembali, namun ketegangan itu tidak pernah benar-benar hilang dari Rocking Spur Ranch. Elena tahu betul—orang seperti Rourke tidak akan menyerah semudah itu. Ia hanya menunggu waktu yang tepat.

"Kita butuh lebih banyak tangan di pagar," kata Whitlock pagi itu, menggelar peta lusuh ranch di atas meja dapur. "Dan kita butuh jalur mundur kalau semuanya gagal. Aku sudah bicara dengan beberapa orang—mereka bersedia membantu berjaga, asal ada kepastian mereka dan keluarganya aman."

Elena mengangguk, menatap peta itu dengan saksama. "Berapa banyak orang yang bisa memegang senjata?"

"Sekitar sembilan, termasuk aku dan Tommy. Sisanya perempuan, anak-anak, dan dua orang tua yang lebih berguna untuk memasak dan merawat yang terluka."

"Sembilan orang melawan lima belas—atau lebih, kalau Rourke benar-benar kembali dengan bala bantuan." Elena menghela napas, tangannya terangkat ke perutnya yang kini terasa semakin berat setiap hari. "Itu bukan pertarungan yang bisa kita menangkan hanya dengan keberanian."

Kotak cahaya di sudut penglihatannya berdenyut pelan, seolah menawarkan diri. Elena menatapnya lama, sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya.

"Whitlock," katanya perlahan, "kalau Gudang ini bisa mengeluarkan senapan berburu dan bubuk mesiu aneh yang menghukum niat jahat... mungkin ada lebih banyak yang bisa kutemukan di dalamnya. Aku hanya belum tahu caranya menggali lebih dalam."

Ia mengulurkan tangan ke arah kotak cahaya, memusatkan pikiran. "Aku butuh cara mempertahankan ranch ini. Bukan cuma senjata—pertahanan yang bisa menyelamatkan semua orang di sini."

Kotak itu berdenyut lebih terang, dan sederet daftar samar muncul di udara, lebih panjang dari yang pernah Elena lihat sebelumnya.

> **[Kategori Baru Terbuka: Pertahanan Wilayah]**

> **[Item tersedia: Kawat Berduri Diberkati (5 gulung), Obor Sinyal (3 unit), Dinamit Pertambangan (2 peti), Menara Pengawas Portabel (1 unit)]**

> **[Catatan: pembukaan kategori baru memerlukan niat yang jelas dan tulus untuk melindungi, bukan menyerang.]**

Mata Elena melebar. "Whitlock—lihat ini."

Marshal tua itu mendekat, membaca daftar yang mengambang di udara dengan campuran kekaguman dan kewaspadaan. "Dinamit pertambangan," gumamnya. "Itu bisa meruntuhkan jalur masuk kalau kita atur dengan benar. Dan menara pengawas—itu bisa memberi kita mata di kejauhan sebelum mereka sampai ke gerbang."

Sepanjang hari itu, ranch berubah menjadi sarang kesibukan. Tommy dan dua pemuda lain memasang kawat berduri di sepanjang titik-titik lemah pagar, sementara Whitlock mengatur peletakan dinamit di jalur sempit antara dua bukit—satu-satunya jalan yang mudah dilalui kuda menuju ranch dari arah timur.

Elena sendiri, meski tubuhnya kian berat, tak tinggal diam. Ia mengajari beberapa perempuan dan remaja cara memuat ulang senapan dengan cepat, sementara Sarah—kini sudah cukup pulih—membantu menyortir perbekalan medis yang dikeluarkan dari Gudang untuk mengantisipasi yang terburuk.

"Kau seharusnya istirahat, Elena," kata Sarah suatu sore, menatap khawatir saat Elena membantu mengangkat karung pasir untuk memperkuat dinding gudang jerami. "Kau delapan bulan, bukan delapan hari."

Elena tersenyum lelah, mengusap keringat di dahinya. "Kalau aku istirahat sekarang, Sarah, mungkin tidak akan ada waktu istirahat lagi nanti untuk siapa pun di sini."

Sarah menatapnya lama, lalu meletakkan tangan di bahu Elena. "Kau tahu, sejak malam pertama kami sampai di sini, aku terus berpikir—mungkin bukan kebetulan Gudang itu memilihmu. Seorang ibu yang rela mempertaruhkan segalanya demi orang lain, bahkan orang asing. Itu bukan kekuatan sembarangan yang dipilih untuk sembarang orang."

Kata-kata itu mengendap dalam diri Elena sepanjang sisa hari, terngiang bahkan saat malam tiba dan ia berbaring di ranjangnya, mendengarkan detak jantung ganda yang menjadi pengingat konstan tentang apa—dan siapa—yang sedang ia pertaruhkan.

Menjelang tengah malam, Tommy yang bertugas jaga pertama di menara pengawas portabel berlari tergesa ke rumah utama, wajahnya pucat di bawah cahaya bulan yang aneh.

"Bu Cross," katanya terengah, "ada obor menyala di kejauhan. Banyak. Bergerak ke arah sini."

Elena bangkit dari ranjangnya secepat tubuhnya yang berat mengizinkan, menyambar senapan yang selalu tersedia di sisi tempat tidurnya. Di luar jendela, ia bisa melihatnya sendiri—titik-titik api kecil berkelap-kelip di kegelapan bukit timur, semakin banyak, semakin dekat.

Rourke telah kembali. Dan kali ini, ia tidak datang sendirian.

---

Lonceng peringatan yang dipasang Whitlock di menara pengawas berdentang keras, membelah keheningan malam. Dalam hitungan menit, seluruh ranch terjaga—para pria bergegas ke posisi pertahanan yang telah mereka latih selama tiga hari terakhir, sementara perempuan dan anak-anak berkumpul di ruang bawah tanah rumah utama yang telah diperkuat dengan karung pasir.

Elena berdiri di teras, senapan di tangan, menyaksikan barisan obor yang kini jelas terlihat—puluhan, bukan lagi lima belas. Rourke benar-benar telah mengumpulkan bala bantuan dari genk-genk lain di county, memanfaatkan kekacauan kiamat untuk merekrut siapa pun yang cukup putus asa atau serakah untuk bergabung dengannya.

"Mereka menuju jalur sempit di timur," lapor Tommy dari menara, suaranya bergetar namun tegas. "Persis seperti yang diperkirakan Marshal."

Whitlock berdiri di samping Elena, wajahnya keras seperti batu karang. "Ini saatnya, Nyonya Cross. Beri aba-aba kapan pun kau siap."

Elena menatap ke arah jalur sempit antara dua bukit, tempat dinamit telah ditanam dengan hati-hati tiga hari sebelumnya. Rencananya sederhana namun berisiko tinggi—biarkan sebagian besar rombongan Rourke memasuki jalur sempit itu sebelum meledakkannya, mempersempit jumlah musuh yang bisa mencapai ranch secara langsung.

"Tunggu," bisiknya, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Tunggu sampai mereka benar-benar masuk."

Barisan obor semakin dekat, cahaya jingga mereka menari-nari mengerikan di kegelapan. Elena bisa mendengar derap kuda, gemerincing senjata, dan suara tawa kasar beberapa perampok yang terlalu percaya diri akan kemenangan mudah malam ini.

Ketika barisan terdepan Rourke akhirnya memasuki jalur sempit—diikuti sebagian besar rombongan di belakangnya—Elena mengangkat tangan.

"Sekarang!"

Whitlock menyalakan sumbu yang telah disiapkan. Ledakan pertama mengguncang malam, disusul ledakan kedua tepat beberapa detik kemudian. Tanah dan batu berhamburan ke udara, jeritan kaget dan kepanikan segera menggantikan tawa kasar yang tadi terdengar.

Sebagian jalur runtuh, mengubur beberapa penunggang kuda di bawah longsoran batu, sementara sisanya terpental mundur dalam kekacauan total. Namun tidak semua orang Rourke terjebak—sekitar dua puluh penunggang berhasil melewati jalur sebelum ledakan, kini berpacu langsung menuju ranch dengan amarah membara.

"Bersiap!" teriak Whitlock, dan barisan pembela ranch mengangkat senjata mereka.

Pertempuran pecah dalam kekacauan cahaya obor dan kilatan tembakan. Elena menembak dari balik pagar, setiap peluru dihitung dengan hati-hati—ia tidak punya kemewahan untuk membuang-buang amunisi meski Gudangnya nyaris tak terbatas, karena mengeluarkan perbekalan di tengah pertempuran sengit membutuhkan konsentrasi yang tidak selalu ia miliki.

Seorang perampok berhasil melompati pagar dekat gudang jerami, namun Sarah—yang seharusnya bersembunyi di ruang bawah tanah—muncul dari balik tumpukan jerami dengan garpu di tangan, menusuknya dengan keberanian yang mengejutkan sebelum pria itu sempat menembakkan senjatanya.

"Sarah!" jerit Elena panik, namun wanita muda itu hanya menatapnya dengan mata berkilat penuh tekad. "Aku tidak akan bersembunyi sementara kalian mempertaruhkan nyawa untuk kami!"

Di tengah kekacauan itu, Elena melihat sosok Rourke sendiri, menunggangi kudanya menerobos garis pertahanan, langsung menuju arahnya dengan pistol terhunus.

"Kau pikir dinamit murahan bisa menghentikanku, Nyonya Cross?!" teriaknya murka, matanya menyala penuh dendam.

Elena mengangkat senapannya, namun terlambat—kudanya sudah terlalu dekat. Dalam sepersekian detik yang terasa seperti selamanya, ia melihat moncong pistol Rourke terarah tepat ke perutnya.

Naluri lebih cepat dari pikiran. Elena melemparkan diri ke samping, tembakan Rourke meleset tipis, mengenai tiang pagar di belakangnya. Namun gerakan tiba-tiba itu membuatnya kehilangan keseimbangan—ia jatuh terjerembab ke tanah, rasa sakit tajam menjalar dari perutnya.

"Tidak," desisnya, panik menyergap. "Tidak sekarang—"

Whitlock muncul dari sisi lain, menembak kaki kuda Rourke hingga hewan itu meringkik keras dan menjatuhkan penunggangnya. Sebelum Rourke sempat bangkit, Whitlock sudah berdiri di atasnya, moncong senapan terarah tepat ke dahinya.

"Sudah cukup, Rourke," geram Whitlock. "Perintahkan anak buahmu mundur, atau aku bersumpah demi Tuhan aku akan menariknya sekarang juga."

Rourke, menyadari posisinya yang terjepit dan melihat semakin banyak anak buahnya yang tumbang atau melarikan diri dalam kekacauan, akhirnya mengangkat tangan tanda menyerah, wajahnya dipenuhi amarah yang tertelan kekalahan.

Namun perhatian Elena bukan lagi pada Rourke. Ia meringkuk di tanah, satu tangan menekan perutnya yang terasa kram hebat, napasnya memburu tidak teratur.

"Elena!" Sarah berlari mendekat, wajahnya pucat pasi melihat kondisi Elena. "Astaga—dia mau melahirkan!"

---

Episodes
1 Bab 1: Debu, Darah, dan Sebuah Kotak Aneh
2 Bab 2: Harga Sebuah Keajaiban
3 Bab 3: Persiapan di Bawah Langit Aneh
4 Bab 4 : Detik-Detik Genting
5 Bab 5: Fajar Baru di Rocking Spur
6 Bab 6: Aliansi Padang Barat
7 Bab 7: Perjalanan ke Prescott
8 Bab 8: Bayangan dari Utara
9 Bab 9: Pilihan Seorang Ibu
10 Bab 10: Reruntuhan Prometheus
11 Bab 11: Fragmen yang Terpecah
12 Bab 12: Jantung Prometheus
13 Bab 13: Suara di Balik Cahaya
14 Bab 14: Kepulangan yang Berbeda
15 Bab 15: Enam Bulan Kemudian
16 Bab 16: Rencana di Bawah Bulan
17 Bab 17: Konfrontasi di Alun-Alun
18 Bab 18: Dua Fragmen, Dua Jalan
19 Bab 19: Retakan di Balik Topeng
20 Bab 20: Membangun Kembali Ashford
21 Bab 21: Kabar dari Timur
22 Bab 22: Divisi Pemulihan Nasional
23 Bab 23: Perpisahan yang Sulit
24 Bab 24: Menuju Pegunungan Timur
25 Bab 25: Gerbang Kristal
26 Bab 26: Lorong Kenangan
27 Bab 27: Kesadaran Prometheus Prime
28 Bab 28: Harga Sesungguhnya
29 Bab 29: Uji Resonansi
30 Bab 30: Bayangan Masa Depan
31 Bab 31: Penyatuan
32 Bab 32: Jangkar Kemanusiaan
33 Bab 33: Gema di Gurun Es
34 Bab 34: Bisikan dari Bawah Tanah
35 Bab 35: Warisan Darah
36 Bab 36: Bayangan di Balik Cahaya
37 Bab 37: Langit yang Gelap
38 Bab 38: Bayangan Sang Raja
39 Bab 39: Kedalaman dan Kebenaran
40 Bab 40: Mata di Langit
41 Bab 41: Benih-Benih Kebangkitan
42 Bab 42: Gerbang Harapan
43 Bab 43: Bayangan yang Menelan Cahaya
44 Bab 44: Hening Sebelum Badai
45 Bab 45: Pengadilan di Atas Debu
46 Bab 46: Tamu dari Bayangan
47 Bab 47: Retakan di Cermin
48 Bab 48: Panggung Kaca
49 Bab 49: Gema yang Palsu
50 Bab 50: Kota Cermin
51 Bab 51: Resonansi Murni
52 Bab 52: Badai di Lautan Data
53 Bab 53: Akar dan Roda Gigi
54 Bab 54: Jantung Besi yang Membeku
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Bab 1: Debu, Darah, dan Sebuah Kotak Aneh
2
Bab 2: Harga Sebuah Keajaiban
3
Bab 3: Persiapan di Bawah Langit Aneh
4
Bab 4 : Detik-Detik Genting
5
Bab 5: Fajar Baru di Rocking Spur
6
Bab 6: Aliansi Padang Barat
7
Bab 7: Perjalanan ke Prescott
8
Bab 8: Bayangan dari Utara
9
Bab 9: Pilihan Seorang Ibu
10
Bab 10: Reruntuhan Prometheus
11
Bab 11: Fragmen yang Terpecah
12
Bab 12: Jantung Prometheus
13
Bab 13: Suara di Balik Cahaya
14
Bab 14: Kepulangan yang Berbeda
15
Bab 15: Enam Bulan Kemudian
16
Bab 16: Rencana di Bawah Bulan
17
Bab 17: Konfrontasi di Alun-Alun
18
Bab 18: Dua Fragmen, Dua Jalan
19
Bab 19: Retakan di Balik Topeng
20
Bab 20: Membangun Kembali Ashford
21
Bab 21: Kabar dari Timur
22
Bab 22: Divisi Pemulihan Nasional
23
Bab 23: Perpisahan yang Sulit
24
Bab 24: Menuju Pegunungan Timur
25
Bab 25: Gerbang Kristal
26
Bab 26: Lorong Kenangan
27
Bab 27: Kesadaran Prometheus Prime
28
Bab 28: Harga Sesungguhnya
29
Bab 29: Uji Resonansi
30
Bab 30: Bayangan Masa Depan
31
Bab 31: Penyatuan
32
Bab 32: Jangkar Kemanusiaan
33
Bab 33: Gema di Gurun Es
34
Bab 34: Bisikan dari Bawah Tanah
35
Bab 35: Warisan Darah
36
Bab 36: Bayangan di Balik Cahaya
37
Bab 37: Langit yang Gelap
38
Bab 38: Bayangan Sang Raja
39
Bab 39: Kedalaman dan Kebenaran
40
Bab 40: Mata di Langit
41
Bab 41: Benih-Benih Kebangkitan
42
Bab 42: Gerbang Harapan
43
Bab 43: Bayangan yang Menelan Cahaya
44
Bab 44: Hening Sebelum Badai
45
Bab 45: Pengadilan di Atas Debu
46
Bab 46: Tamu dari Bayangan
47
Bab 47: Retakan di Cermin
48
Bab 48: Panggung Kaca
49
Bab 49: Gema yang Palsu
50
Bab 50: Kota Cermin
51
Bab 51: Resonansi Murni
52
Bab 52: Badai di Lautan Data
53
Bab 53: Akar dan Roda Gigi
54
Bab 54: Jantung Besi yang Membeku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!