Hukuman dari Sang CEO

Matahari baru merambat naik ketika Nayla tiba di Mahendra Group. Berbeda dengan kemarin, kali ini ia datang tiga puluh menit lebih awal.

“Aku nggak mau dibilang telat lagi sama manusia kulkas itu.”

Ia tersenyum puas sambil menyeruput kopi dingin.

Begitu melewati pintu lobi, beberapa karyawan menyapanya.

“Pagi, Nayla.”

“Pagi!”

“Gimana? Masih hidup setelah ketemu Pak Arga?”

Nayla terkekeh.

“Masih, kan? Berarti beliau nggak seganas yang kalian bilang.”

Beberapa orang hanya saling pandang.

Mereka yakin Nayla belum benar-benar mengenal Arga Mahendra.

Di lantai tiga puluh…

Arga berdiri di depan jendela ruangannya.

Tatapannya mengarah ke halaman depan gedung.

Dimas masuk membawa tablet.

“Pak, rapat dimulai lima belas menit lagi.”

Arga mengangguk.

Namun matanya menangkap sosok Nayla yang baru saja turun dari ojek online.

Gadis itu berjalan santai sambil sesekali melompat kecil menghindari genangan air.

Arga menggeleng pelan.

“Seperti anak kecil.”

“Hah, Pak?”

“Tidak ada.”

Jam menunjukkan pukul sepuluh.

Seluruh staf administrasi sibuk menyusun dokumen untuk rapat besar dengan investor.

“Nayla.”

“Iya, Kak Rina?”

“Tolong fotokopi berkas ini tiga puluh rangkap.”

“Siap!”

Nayla menerima map tebal itu dan segera menuju ruang fotokopi.

Sayangnya…

Mesin fotokopi yang sudah tua tiba-tiba berbunyi keras.

Krekk…

“Lho?”

“Lho, jangan macet sekarang dong.”

Ia membuka penutup mesin.

Kertas tersangkut.

Dengan hati-hati ia menariknya.

Bruak!

Seluruh kertas malah robek.

“Astaga…”

Belum sempat bernapas lega…

Mesin itu mengeluarkan asap tipis.

“Cklek!”

Listrik mati sesaat.

Semua orang menoleh.

Rina memegang dahinya.

“Nayla…”

“Maaf, Kak…”

“Aku nggak sengaja.”

Belum lima menit…

Dimas datang ke ruang administrasi.

“Nayla Pramesti.”

“Iya?”

“Pak Arga memanggil.”

Seluruh ruangan langsung sunyi.

Beberapa orang menatap Nayla dengan wajah iba.

“Semoga selamat.”

“Kalau besok nggak masuk, kami paham.”

Nayla menarik napas panjang.

“Doakan aku.”

Tok…

Tok…

“Masuk.”

Nayla membuka pintu perlahan.

Arga sedang membaca laporan.

“Pak…”

“Kamu merusak mesin fotokopi?”

Nayla menggaruk tengkuk.

“Bukan merusak…”

“Cuma…”

“Dia yang rusak.”

Arga mengangkat kepala.

“Mesin itu baik-baik saja sejak tiga tahun lalu.”

“Iya.”

“Terus pas ketemu saya dia pensiun.”

Dimas spontan batuk menahan tawa.

Arga melirik tajam.

Dimas langsung diam.

“Biaya perbaikannya cukup mahal.”

Nayla langsung pucat.

“Pak…”

“Gaji saya belum keluar.”

Arga berdiri dari kursinya.

Perlahan ia berjalan mendekat.

Setiap langkahnya membuat Nayla tanpa sadar mundur.

Sampai…

Punggungnya menyentuh dinding.

Kini jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter.

Nayla menelan ludah.

“Kenapa dia tinggi banget, sih?”

Arga menatap lurus ke matanya.

“Kamu tahu hukuman bagi pegawai yang ceroboh?”

Nayla menggeleng pelan.

“Dipecat?”

“Tidak.”

Nayla mengembuskan napas lega.

“Syukurlah…”

“Kamu akan lembur.”

Senyumnya langsung lenyap.

“Hah?”

“Lembur?”

“Sampai semua dokumen selesai.”

“Tapi, Pak…”

“Tidak ada tapi.”

Nayla mengembuskan napas panjang.

“Baik.”

Saat hendak keluar, suara Arga kembali terdengar.

“Dan satu lagi.”

Nayla menoleh.

“Besok jangan bawa kopi.”

“Hah?”

“Kenapa?”

“Saya tidak ingin jas saya mandi kopi untuk kedua kalinya.”

Nayla memutar bola matanya.

“Tenang saja.”

“Besok saya bawa teh.”

Arga terdiam.

Dimas menunduk agar tidak tertawa.

Malam harinya.

Seluruh lantai administrasi sudah hampir kosong.

Hanya tersisa Nayla yang masih sibuk menyusun dokumen.

Perutnya berbunyi.

“Kriiuk…”

“Ya Allah…”

“Lapar…”

Ia membuka tas.

Kosong.

“Bekalku habis.”

Saat sedang mengeluh…

Sebuah kotak makan diletakkan di mejanya.

Nayla mendongak.

Dimas tersenyum.

“Silakan dimakan.”

“Eh?”

“Ini buat saya?”

“Iya.”

“Pak Arga yang menyuruh.”

Nayla langsung melongo.

“Serius?”

“Iya.”

“Masa sih?”

Dimas mengangguk.

“Beliau bilang pegawai yang pingsan karena kelaparan justru bikin pekerjaan makin lama selesai.”

Nayla mendengus.

“Tuh, kan.”

“Alasannya tetap nyebelin.”

Meski begitu…

Ia membuka kotak makan itu.

Isinya nasi hangat, ayam goreng, sayur, dan buah.

Perutnya langsung berbunyi lebih keras.

“Kalau begini…”

“Pak CEO memang nyebelin.”

“Tapi…”

“Masih punya hati.”

Di balik pintu kaca ruangannya…

Arga diam-diam melihat Nayla yang sedang makan dengan lahap.

Tanpa sadar…

Sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup membuat Dimas yang berdiri di sampingnya terkejut.

“Wah… jangan-jangan gunung es itu mulai mencair…”

Arga kembali memasang wajah datar.

“Apa?”

“Tidak ada, Pak.”

Namun dalam hati, Dimas yakin satu hal.

Sejak Nayla datang…

Suasana kantor yang selama ini terasa dingin mulai berubah.

Dan perubahan itu baru saja dimulai.

Episodes
1 Kopi, Jas Mahal, dan Mulut Pedas
2 Musuh di Hari Pertama
3 Hukuman dari Sang CEO
4 CEO itu Ternyata Cemburuan
5 Jangan Dekati Pegawaiku!
6 Jangan Ge-er!
7 Rumor yang Mengguncang Kantor
8 Jadi Asisten CEO? Mimpi Buruk Dimulai!
9 Tunangan yang Tak Diundang
10 Cemburu yang Tak Mau Diakui
11 Terjebak Semalam Bareng CEO
12 Foto yang Menghebohkan Perusahaan
13 Ancamam untuk Nayla
14 Menginap di Rumah CEO?
15 Tinggal Serumah dengan Keluarga CEO
16 Aku Tidak Akan Membiarkanmu Terluka
17 Skandal yang Menghancurkan Kepercayaan
18 Bukti yang Mengubah Segalanya
19 Pengkhianatan Terungkap
20 Dalang di Balik Semua Kekacauan
21 Aku Akan Menjemputmu
22 Ledakan yang Mengubah Segalanya
23 Rahasia Keluarga Mahendra
24 Malam yang Mengubah Segalanya
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Skandal Satu Payung
30 Perjalanan Dinas yang Bikin Heboh
31 Satu kamar?!
32 Cemburu Tingkat Dewa
33 Jadi Pasangan CEO? Siapa Takut!
34 CEO Mulai Terang-Terengan
35 Pengakuan yang Tertunda
36 Saingan Lama, Ancaman Baru
37 Pertama kalinya Nayla marah pada Arga
38 Pacaran diam-diam? Pacaran terang-terangan dong
39 Restu Ibu Nayla
40 Makan malam bersama keluarga Arga
41 Kembalinya mantan tunangan
42 CEO Mahendra mengamuk
43 Jangan pernah tinggalkan aku
44 Serangan balik sang CEO
45 Permintaan maaf
46 Family Gathering
47 Pasangan serasi
48 Misi Rahasia
Episodes

Updated 48 Episodes

1
Kopi, Jas Mahal, dan Mulut Pedas
2
Musuh di Hari Pertama
3
Hukuman dari Sang CEO
4
CEO itu Ternyata Cemburuan
5
Jangan Dekati Pegawaiku!
6
Jangan Ge-er!
7
Rumor yang Mengguncang Kantor
8
Jadi Asisten CEO? Mimpi Buruk Dimulai!
9
Tunangan yang Tak Diundang
10
Cemburu yang Tak Mau Diakui
11
Terjebak Semalam Bareng CEO
12
Foto yang Menghebohkan Perusahaan
13
Ancamam untuk Nayla
14
Menginap di Rumah CEO?
15
Tinggal Serumah dengan Keluarga CEO
16
Aku Tidak Akan Membiarkanmu Terluka
17
Skandal yang Menghancurkan Kepercayaan
18
Bukti yang Mengubah Segalanya
19
Pengkhianatan Terungkap
20
Dalang di Balik Semua Kekacauan
21
Aku Akan Menjemputmu
22
Ledakan yang Mengubah Segalanya
23
Rahasia Keluarga Mahendra
24
Malam yang Mengubah Segalanya
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Skandal Satu Payung
30
Perjalanan Dinas yang Bikin Heboh
31
Satu kamar?!
32
Cemburu Tingkat Dewa
33
Jadi Pasangan CEO? Siapa Takut!
34
CEO Mulai Terang-Terengan
35
Pengakuan yang Tertunda
36
Saingan Lama, Ancaman Baru
37
Pertama kalinya Nayla marah pada Arga
38
Pacaran diam-diam? Pacaran terang-terangan dong
39
Restu Ibu Nayla
40
Makan malam bersama keluarga Arga
41
Kembalinya mantan tunangan
42
CEO Mahendra mengamuk
43
Jangan pernah tinggalkan aku
44
Serangan balik sang CEO
45
Permintaan maaf
46
Family Gathering
47
Pasangan serasi
48
Misi Rahasia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!