Suasana ruang rapat mendadak hening.
Semua mata tertuju pada layar proyektor yang menampilkan laporan kerja sama dengan perusahaan asal Singapura. Di ujung meja, Arga Mahendra berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang selalu membuatnya tampak berwibawa sekaligus sulit didekati.
“Presentasi dimulai.”
Suaranya datar, namun cukup membuat seluruh peserta rapat langsung fokus.
Nayla yang duduk di barisan belakang menguap pelan.
“Ya ampun… baru lima menit saja sudah ngomong angka semua.”
Ia menahan kantuk sambil mencubit pahanya sendiri.
Rina yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol sikunya.
“Jangan melamun.”
“Iya, Kak.”
Namun lima menit kemudian…
Nayla kembali melamun.
Bukan karena bosan.
Melainkan karena tatapan Arga sesekali mengarah kepadanya.
“Kenapa sih? Apa ada yang nempel di mukaku?”
Ia buru-buru mengusap pipinya.
Tidak ada apa-apa.
Rapat hampir selesai ketika salah satu investor asing berdiri.
Namanya Leonard Tan.
Pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu tersenyum ramah kepada seluruh peserta.
Bahasa Indonesianya cukup fasih.
“Terima kasih atas sambutannya.”
Semua bertepuk tangan.
Saat hendak keluar ruangan, Leonard tidak sengaja menjatuhkan sebuah pulpen.
Pulpen itu menggelinding hingga ke dekat kaki Nayla.
Dengan sigap Nayla mengambilnya.
“Pak, pulpennya.”
Leonard menerima pulpen itu sambil tersenyum.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Kamu pegawai baru?”
“Iya.”
Leonard mengangguk.
“Kamu ramah.”
“Nggak seperti bosmu.”
Nayla spontan terkekeh.
“Pak…”
“Kalau itu saya setuju.”
Mereka tertawa bersamaan.
Di saat yang sama…
Tatapan Arga langsung mengarah ke arah mereka.
Ekspresinya tetap datar.
Namun sorot matanya berubah dingin.
Dimas yang berdiri di sampingnya menelan ludah.
“Waduh…”
“Pak Arga lagi nggak suka.”
Beberapa saat kemudian.
Semua orang kembali bekerja.
Nayla sedang menyusun arsip ketika telepon kantor berdering.
“Nayla.”
“Iya?”
“Pak Arga memanggil.”
Nayla langsung memegang kepalanya.
“Lagi?”
“Kenapa sih tiap hari dipanggil?”
Rina tertawa kecil.
“Mungkin kamu pegawai favorit.”
“Favorit dimarahin.”
Tok…
Tok…
“Masuk.”
Nayla membuka pintu.
“Pak, ada apa?”
Arga tidak langsung menjawab.
Ia masih membaca beberapa dokumen.
Setelah beberapa detik, barulah ia berbicara.
“Kamu kenal Leonard?”
“Nggak.”
“Tapi tadi tertawa dengannya.”
Nayla mengernyit.
“Lho?”
“Memangnya nggak boleh?”
Arga mengangkat kepala.
“Itu tamu perusahaan.”
“Iya.”
“Makanya saya sopan.”
Arga berdiri.
Perlahan berjalan mendekat.
“Nayla.”
“Iya?”
“Jangan terlalu akrab dengan tamu.”
Nayla memasang wajah bingung.
“Pak…”
“Saya cuma balikin pulpen.”
“Lalu beliau bercanda.”
“Masa saya harus cemberut?”
Arga terdiam.
Ia sendiri tidak tahu kenapa merasa terganggu melihat Nayla tertawa bersama pria lain.
Yang ia tahu…
Ia tidak menyukainya.
“Pokoknya jaga sikap.”
Nayla menyipitkan mata.
“Bapak…”
“Aneh.”
“Maksudnya?”
“Kalau saya jutek dibilang nggak ramah.”
“Kalau saya ramah dibilang jangan akrab.”
“Maunya Bapak apa?”
Arga tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,
“Jangan membuat orang salah paham.”
Nayla tertawa kecil.
“Siapa yang salah paham?”
“Bapak?”
Arga langsung terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia kehabisan kata-kata.
Melihat wajah CEO itu membeku, Nayla tersenyum puas.
“Nah, kan.”
“Ternyata Pak CEO juga bisa kalah debat.”
Ia berbalik hendak keluar.
Namun sebelum membuka pintu…
Suara Arga kembali terdengar.
“Nayla.”
“Iya?”
“Bunga dari pagi tadi…”
Nayla menoleh.
“Kenapa?”
“Itu dari pacarmu?”
Nayla spontan tertawa.
“Bapak kepo?”
Arga langsung mengalihkan pandangan.
“Saya hanya bertanya.”
“Bukan.”
“Bukan pacar.”
“Cuma sahabat.”
Jawaban itu membuat Arga tanpa sadar mengembuskan napas lega.
Sayangnya…
Nayla sempat melihat ekspresi kecil itu.
Ia mengernyit.
“Perasaan… tadi dia lega?”
Sore harinya.
Mahendra Group mengadakan acara makan malam sederhana untuk menyambut investor.
Seluruh karyawan diwajibkan hadir.
Nayla mengenakan gaun biru muda sederhana.
Rambutnya dibiarkan tergerai.
Saat memasuki ballroom hotel…
Beberapa rekan kerja langsung memujinya.
“Cantik banget.”
“Nayla, beda ya kalau pakai dress.”
Ia tertawa malu.
“Ah, biasa aja.”
Di sudut ruangan…
Arga baru saja masuk.
Tatapannya langsung berhenti pada satu orang.
Nayla.
Untuk beberapa detik…
Ia bahkan lupa menyapa para tamu.
Dimas yang melihat itu tersenyum tipis.
“Pak CEO… bahaya.”
“Tatapannya beda.”
Belum sempat Arga menghampiri…
Leonard lebih dulu datang.
“Nayla.”
“Halo, Pak.”
“Kamu cantik malam ini.”
“Terima kasih.”
Leonard mengulurkan tangan.
“Mau berdansa?”
Nayla membeku.
“Hah?”
“Saya nggak bisa.”
“Saya ajari.”
Belum sempat Nayla menjawab…
Sebuah suara dingin terdengar dari belakang.
“Maaf.”
Semua orang menoleh.
Arga berdiri dengan wajah datar.
“Nayla.”
“Iya, Pak?”
“Ikut saya.”
Leonard tersenyum sopan.
“Tapi saya sedang mengajak—”
“Dia masih bekerja.”
Kalimat Arga memotong ucapan Leonard.
“Tugasnya belum selesai.”
Padahal…
Acara makan malam itu tidak ada pekerjaan sama sekali.
Nayla mengernyit bingung.
“Kerjaan apa?”
Namun karena yang memanggil adalah CEO, ia tidak punya pilihan selain mengikuti Arga.
Begitu mereka berjalan menjauh…
Nayla tidak tahan lagi.
“Pak.”
“Apa?”
“Tugas apa?”
Arga berhenti melangkah.
Ia menatap Nayla beberapa detik.
Lalu berkata singkat,
“Ikut saja.”
Nayla melipat kedua tangan di dada.
“Bapak bohong, ya?”
Arga terdiam.
“Bapak cuma nggak mau saya berdansa sama Pak Leonard, kan?”
Kalimat itu membuat Arga membeku.
Tatapan mereka bertemu.
Jarak keduanya begitu dekat.
Nayla menatap wajah tampan di depannya sambil tersenyum jahil.
“Jangan-jangan…”
“Bapak cemburu?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Arga tidak langsung menjawab.
Namun detak jantungnya yang tiba-tiba menjadi lebih cepat seolah memberikan jawaban yang bahkan belum berani ia akui pada dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments