Episode 3

Bab 3: Rumah Besar

Fajar Wicaksono menunggu di tepi jalan ketika Edric keluar dari Kantor Catatan Sipil.

Wajah mantan prajurit itu tetap datar, tetapi matanya sempat turun ke map tipis di tangan Edric. Ia tidak bertanya. Fajar tahu kapan seorang komandan ingin bicara dan kapan semua orang lebih baik diam.

"Oma?" tanya Edric.

"Di Rumah Besar, Pak. Katanya sakit."

"Katanya?"

Fajar membuka pintu mobil. "Saya lihat video yang dikirim Feli. Oma masih bisa marah-marah."

Edric masuk ke mobil, menutup mata sesaat. "Berarti belum sekarat."

"Belum, Pak."

Mobil hitam bergerak menuju Menteng. Di layar ponsel, kontak baru bertuliskan Nyonya Kho belum sempat ia hubungi lagi. Edric menatap nama itu, lalu menyimpan ponselnya saat gerbang besar Rumah Besar Kho terbuka.

Rumah itu berdiri di lahan luas yang hampir tidak masuk akal untuk pusat Jakarta. Bangunan kolonial tua dengan pilar putih, lantai marmer, dan halaman yang dijaga pohon beringin raksasa. Tidak ada papan nama, tidak ada kemewahan yang berteriak. Justru karena itu semua orang tahu, keluarga yang tinggal di sana tidak perlu membuktikan apa-apa.

Di ruang tengah, Liana Kho duduk tegak di kursi kayu ukir.

Tidak ada selimut. Tidak ada wajah pucat. Tidak ada orang sakit.

Yang ada hanya Oma Kho dengan gelang giok di pergelangan tangan, teh panas di sampingnya, dan tatapan siap mengadili cucu sulungnya.

"Edric."

"Oma."

"Kalau Oma benar-benar mati tadi, kamu baru pulang besok?"

Felicia Kho yang duduk di sofa langsung menahan tawa. "Koh Edric, Oma bilang kalau kamu nggak pulang, dia mau mati tiga kali."

"Feli," Hendra Kho menegur pelan.

Yuliana Kho duduk di samping suaminya, anggun seperti biasa, tetapi mata tajamnya memindai wajah Edric dari ujung rambut sampai sepatu. "Kamu dari mana? Kemejamu kusut."

"Urusan pribadi."

Oma Kho mengetuk meja dengan cangkir. "Urusan pribadi? Bagus. Oma juga punya urusan pribadi. Kamu sudah dua puluh delapan. Cucu teman-teman Oma sudah punya anak tiga. Kamu mau Oma mati tanpa lihat cicit?"

Edric mengambil tempat duduk. "Oma belum mati."

"Jangan mengalihkan."

"Saya tidak mengalihkan. Saya hanya menyampaikan fakta."

Feli tertawa kecil. Hendra menutup mulut dengan tangan, pura-pura batuk. Yuliana melirik mereka berdua seolah memperingatkan bahwa ruang tengah ini bisa berubah menjadi ruang sidang kapan saja.

Oma Kho mencondongkan tubuh. "Keluar dari TNI. Masuk Kho Group. Papa kamu tidak muda lagi. Hendra butuh kamu. Perusahaan juga butuh kamu."

"Saya masih mempertimbangkan."

"Kamu mempertimbangkan sejak enam tahun lalu."

"Karena enam tahun lalu saya sedang bertugas."

"Sekarang tugasmu pulang."

Kalimat itu membuat ruang tengah diam sesaat. Edric memandang ayahnya. Hendra tidak memaksa. Seperti biasa, Papa-nya memberi ruang, tetapi kelelahan di wajah pria itu tidak bisa disembunyikan.

Edric tahu. Kho Group bukan sekadar perusahaan. Itu medan perang lain, dengan dasi, saham, senyum palsu, dan keluarga yang saling menunggu celah.

Ia dulu memilih seragam loreng karena perang di lapangan lebih jujur.

"Soal perusahaan, saya pertimbangkan," katanya akhirnya.

Oma Kho menyipit. "Dan soal istri?"

Feli langsung duduk tegak.

Yuliana meletakkan cangkir. "Oma, jangan mulai lagi."

"Oma akan mulai terus sampai dia membawa perempuan pulang."

Edric diam selama satu detik terlalu lama.

Oma menangkapnya.

"Ada?"

Feli hampir melompat dari sofa. "Ada?! Koh Edric punya pacar?! Siapa? Dari keluarga mana? Cantik nggak? Dia tahu kamu galak?"

"Feli."

"Apa? Ini berita nasional keluarga Kho."

Edric menyandarkan punggung. "Mungkin sebentar lagi saya bawa seseorang pulang."

Ruangan itu benar-benar berhenti.

Hendra mengangkat alis. Yuliana dan Oma bertukar pandang, satu penuh perhitungan, satu penuh kemenangan.

"Siapa?" tanya Oma pelan. "Dari keluarga mana?"

"Nanti Oma tahu."

"Edric."

"Saya serius."

Dua kata itu cukup. Oma Kho hidup cukup lama untuk membedakan cucunya sedang menunda atau sedang menjaga sesuatu yang belum siap disentuh.

Yuliana menatap putranya lebih lama. "Kamu bertemu dia di mana?"

Edric mengambil cangkir teh yang belum ia minum. "Di tempat yang ramai."

Feli mengerang. "Jawaban macam apa itu?"

Oma tidak ikut tertawa. "Afrika Selatan?"

Jari Edric berhenti di gagang cangkir.

"Kamu pulang dari misi PBB dua tahun lalu dengan mata yang berbeda," lanjut Oma. "Oma bukan buta. Ada orang yang kamu lihat di sana?"

Edric tidak menjawab.

Keheningan itu lebih keras dari pengakuan.

Sementara itu, di kos kecilnya, Eve mengunci pintu dan akhirnya menangis sampai tenggorokannya sakit.

Ia tidak menangis saat Rangga menggandeng Jess. Tidak saat ponsel orang-orang mengarah padanya. Tidak saat menandatangani akta di Catatan Sipil. Namun begitu sendirian, tubuhnya menyerah.

Ia menangisi uang satu miliar yang mungkin tidak kembali. Ia menangisi Mama Lili yang tidak ada untuk memeluknya. Ia menangisi dirinya sendiri yang selama tiga tahun percaya bahwa kesetiaan bisa membuat orang lain ikut setia.

Setelah dua jam, air matanya habis.

Eve mencuci wajah. Matanya bengkak, hidungnya merah, tetapi ia masih bisa berdiri. Di cermin, ia melihat perempuan yang kemarin diselingkuhi, pagi tadi menikah, dan sekarang tidak tahu harus menyebut dirinya apa.

Istri?

Kata itu terlalu aneh.

Ia mengambil ponsel dan menelepon Daniel Tjioe.

"Dan."

Di seberang, suara Dan langsung berubah. "Eve? Suaramu kenapa?"

"Malam ini temenin aku minum. Aku butuh teman."

"Rangga?"

Eve diam.

Dan mengumpat pendek. "Di mana? Velvet Lounge? Aku booking."

"Jangan tanya dulu."

"Aku tidak tanya. Aku cuma siap-siap menghajar orang."

Untuk pertama kalinya hari itu, Eve hampir tersenyum.

Malamnya, Velvet Lounge di Kuningan menyambutnya dengan lampu redup, musik rendah, dan aroma parfum mahal. Dan sudah menunggu di lobi dengan jaket hitam dan wajah marah yang ditahan.

Begitu melihat mata Eve, ia tidak mengatakan "kan sudah kubilang". Ia hanya membuka tangan. Eve masuk ke pelukannya sebentar, lalu cepat-cepat melepaskan diri sebelum menangis lagi.

Mereka duduk di ruang privat biasa. Dan memesan minuman yang tidak terlalu keras, tetapi Eve meminum semuanya seperti air putih.

"Rangga sama Jess," kata Eve akhirnya.

Dan meletakkan gelasnya terlalu keras. "Aku dari dulu sudah bilang dia nggak bener."

"Jangan."

"Apa?"

"Jangan bilang begitu malam ini." Eve menatap gelasnya. "Aku tahu kamu benar. Itu yang paling sakit."

Dan langsung diam.

Mereka minum dalam hening yang tidak canggung. Dan tidak memaksa. Ia hanya duduk di sana, memastikan gelas Eve tidak terlalu cepat kosong, memastikan tidak ada orang asing mendekat, memastikan sahabatnya tidak sendirian.

Menjelang pukul sebelas, Eve berdiri.

"Toilet."

"Aku antar?"

"Aku masih bisa jalan."

Dan memandang langkahnya yang sudah tidak lurus. "Itu definisi masih bisa jalan versi siapa?"

Eve melambaikan tangan tanpa menoleh.

Koridor Velvet Lounge bercabang dua. Lampu dindingnya redup, pintu-pintu privat memakai nomor emas. Eve menyipit, mencoba mencari tanda toilet. Musik dari ruang lain berdenyut pelan di telinganya.

606.

Entah kenapa angka itu terlihat seperti pintu yang benar.

Ia mendorongnya.

Di dalam, tiga laki-laki menoleh.

Dan di tengah sofa, dengan gelas wiski di tangan, duduk suaminya.

Terpopuler

Comments

aku

aku

klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!