Episode 5

Bab 5: Sarapan Pertama

Eve bangun dengan kepala seperti dihantam palu.

Langit-langit di atasnya putih bersih. Terlalu tinggi untuk kamar kosnya. Seprai di bawah tubuhnya juga terlalu halus, wangi sabun mahal yang tidak ia kenal. Ia menahan napas, lalu perlahan menoleh.

Kamar asing.

Jendela besar.

Jakarta terbentang di luar, gedung-gedung tinggi berkilau di bawah matahari pagi. Dari sudut tertentu, ia bahkan bisa melihat Monas berdiri jauh di antara kabut tipis kota.

Eve duduk terlalu cepat.

"Aduh..."

Kepalanya berdenyut. Ia meraba tubuhnya. Ia memakai kaus putih besar yang jelas bukan miliknya. Gaun putih semalam terlipat rapi di kursi, tasnya ada di meja kecil, dan cincin di jari manisnya masih terpasang.

Ingatan datang seperti pecahan kaca.

Velvet Lounge. Pintu salah. Edric. Air mata. Dan yang marah. Mobil hitam.

Eve menutup wajah.

"Mati aku."

Aroma telur, bawang putih, dan kopi masuk dari celah pintu. Perutnya yang kosong langsung bereaksi. Ia turun dari ranjang, menemukan sandal rumah di samping tempat tidur, lalu keluar dengan langkah pelan.

Apartemen itu luas, terlalu luas untuk satu orang. Ruang tamu bergaya minimalis dengan rak buku penuh, sofa abu-abu, gitar akustik di sudut, dan balkon dengan dua kursi lipat seperti perlengkapan orang yang suka memandangi langit.

Di dapur terbuka, Edric berdiri di depan kompor.

Ia memakai celana olahraga abu-abu dan kaus putih tanpa lengan. Bukan seragam, bukan kemeja resmi. Bahunya lebar, lengannya kuat, dan rambutnya sedikit berantakan. Untuk beberapa detik, Eve lupa bahwa ia sedang panik.

Edric menoleh. "Sudah bangun? Duduk dulu. Sarapan hampir siap."

Nada itu terlalu biasa. Seolah membawa pulang istri mabuk yang baru dikenalnya dua hari adalah kegiatan akhir pekan normal.

Eve memegang ujung kaus. "Ini baju siapa?"

"Saya."

"Kamu yang ganti?"

Edric mematikan kompor, menoleh penuh. "Fajar membeli kaus baru dari minimarket bawah. Saya taruh di kamar. Kamu ganti sendiri setengah sadar sambil memaki Rangga."

Wajah Eve terbakar. "Aku memaki apa?"

"Cukup kreatif."

"Edric."

"Saya tidak akan mengulang. Reputasimu sebagai perempuan sopan masih aman."

Ia menaruh sepiring nasi goreng di meja, lalu segelas air hangat. Di sampingnya ada telur mata sapi dan irisan timun. Sarapan sederhana, tetapi aromanya membuat dada Eve anehnya hangat.

"Aku semalam..." Eve duduk. "Aku melakukan hal memalukan?"

"Kamu mabuk, nangis, terus tidur. Itu saja."

"Itu saja?"

"Kamu juga mengancam gelas karena isinya habis."

Eve menutup mata. "Aku tidak mau hidup lagi."

Edric duduk di seberangnya. "Makan dulu. Mati butuh tenaga."

Ia tertawa sebelum sempat menahan diri. Tawa kecil, serak karena sisa alkohol dan tangis. Edric melihatnya sebentar, lalu menunduk pada kopinya.

Suapan pertama nasi goreng membuat Eve berhenti. Rasanya enak. Tidak berlebihan, tidak seperti makanan restoran, tetapi hangat.

"Kamu masak?"

"Tidak terlihat?"

"Aku kira tentara cuma bisa makan ransum."

"Kami juga manusia."

Eve hampir tersenyum lagi. Lalu matanya bergerak ke sekeliling apartemen. Lantai kayu, perangkat kopi mahal, buku-buku impor, speaker kecil di rak, pemandangan pusat kota. Semua terlalu rapi, terlalu mahal.

"Apartemen ini punya siapa?"

"Teman saya."

"Temanmu meminjamkan apartemen sebagus ini?"

"Dia sedang di luar negeri."

"Baik sekali."

"Lumayan."

Eve menatapnya curiga. Edric makan dengan tenang, wajahnya tidak menunjukkan retak sedikit pun. Kalau ia berbohong, ia melakukannya dengan kemampuan yang menakutkan.

Setelah sarapan, Eve ingin mandi. Edric menunjuk kamar mandi tamu dan berkata handuk baru ada di rak. Di dalam, semuanya memang baru. Sampo, sabun, sikat gigi, bahkan skincare dasar masih tersegel.

Eve berdiri lama di depan wastafel.

Entah pria ini terlalu siap menghadapi apa pun, atau hidupnya memang menyimpan banyak hal yang tidak Eve pahami.

Ia mandi cepat, lalu baru sadar gaunnya tertinggal di kamar. Karena panik, ia membungkus tubuh dengan handuk besar dan membuka pintu sedikit. Ruang tamu tampak kosong.

Ia berlari kecil menuju kamar.

Pada saat yang sama, Edric masuk dari balkon sambil membawa cangkir kopi.

Mereka bertemu di tengah ruang.

Eve menjerit.

Edric langsung berbalik, begitu cepat sampai kopinya hampir tumpah. "Pakai baju dulu."

Suaranya rendah. Sedikit serak.

"Jangan lihat!"

"Saya sudah tidak lihat."

"Kamu tadi lihat!"

"Refleks mata manusia tidak bisa dinegosiasi."

"Edric!"

"Saya menghadap tembok, Eve."

Ia memang menghadap tembok. Bahunya kaku, dan Eve melihat telinganya merah. Pemandangan itu entah kenapa membuat kepanikannya berubah menjadi malu yang lebih sulit dihadapi.

Ia kabur ke kamar dan menutup pintu.

Sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan gaun semalam. Suasana sudah berubah. Ada sesuatu yang canggung di udara, tipis tetapi nyata, seperti garis baru yang tidak sengaja mereka lewati.

Eve duduk di sofa, menjaga jarak.

"Jadi," katanya, mencoba terdengar dewasa, "kita sudah menikah."

"Benar."

"Kamu tinggal di mana?"

"Belum tetap. Saya sering di barak atau tugas."

"Barak bisa untuk orang menikah?"

"Tidak ideal."

Eve memandang apartemen itu lagi. Dalam kepalanya, angka-angka mulai bergerak. Kosnya kecil, jauh dari pusat kota, dan ia harus bolak-balik untuk kerja. Apartemen ini luas. Kalau benar dipinjam teman, mungkin mereka hanya perlu membayar biaya perawatan.

"Kalau kamu mau," katanya hati-hati, "kita bisa tinggal di sini bareng. Bagi dua biayanya."

Edric berhenti meminum kopi. "Bagi dua?"

"Iya. Aku kerja. Kamu juga kerja. Kita sama-sama cari makan."

"Gaji tentara tidak besar."

"Nggak apa-apa. Aku bisa bantu lebih banyak di awal. Tapi nanti kalau kamu ada rezeki, gantian."

Edric menatapnya lama.

"Kenapa?" Eve tersinggung. "Kamu pikir aku tidak bisa bayar?"

"Saya hanya berpikir kamu sangat serius."

"Tentu saja. Aku tidak mau jadi beban. Kita memang menikah mendadak, tapi bukan berarti aku mau hidup dari kamu."

Ada sesuatu di mata Edric yang melunak. "Baik. Kita bagi dua."

"Urusan rumah juga bagi dua. Aku bisa masak, tapi tidak tiap hari. Kamu tadi bisa masak, jadi jadwal masak bisa bergantian. Belanja juga patungan. Kalau ada yang keluar malam, kabari. Kalau mau cerai..."

Kata itu membuat Edric mengangkat mata.

Eve berhenti.

"Maksudku, kalau suatu hari kita merasa ini tidak masuk akal..."

"Kita bicarakan nanti," kata Edric.

Nada suaranya tetap tenang, tetapi ada batas keras di sana. Eve tidak tahu kenapa satu kalimat itu membuat dadanya berdebar.

Malam sebelumnya, ketika Eve tidur di kamar, Edric tidak tidur.

Ia duduk di ruang tamu dengan lampu redup. Dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, ia mendengar Eve beberapa kali mengigau. Sekali ia menyebut Rangga dengan suara penuh marah. Sekali lagi ia memanggil Mama dengan suara yang membuat ruangan terasa lebih dingin.

Pukul empat pagi, Edric mengirim pesan kepada Jerry Oei.

Evelina Lim. Semua informasi. Pagi ini.

Balasan datang beberapa detik kemudian.

Pak, ini jam empat pagi.

Edric mengetik dua kata.

Pagi ini.

Laporan itu tiba sebelum matahari penuh naik. Pendidikan Eve, pekerjaan di Linguara, hubungan dengan Rangga, keluarga Lim, kematian Lilian Ong yang tercatat sebagai bunuh diri karena depresi.

Edric membaca bagian terakhir lebih lama.

Sekarang, ketika Eve duduk di sofanya sambil serius membahas jadwal belanja dan patungan listrik, Edric menyimpan semua informasi itu di belakang matanya.

Ia bisa memberi tahu siapa dirinya.

Ia bisa berkata apartemen ini miliknya, bukan pinjaman. Ia bisa berkata uang bukan masalah. Ia bisa menyingkirkan semua ketakutan praktis Eve dalam satu kalimat.

Tetapi Eve sedang tersenyum kecil karena merasa berhasil menyusun hidup baru dengan aturan yang adil.

Untuk hari ini, Edric membiarkan senyum itu tetap ada.

"Baik," katanya. "Mulai hari ini, kita sama-sama cari makan."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!