Episode 4

Bab 4: Kamar 606

Eve memegang gagang pintu, lalu berkedip pelan.

Ruangan VIP itu bukan toilet.

Ada sofa kulit gelap, meja rendah dengan botol wiski, dan tiga laki-laki yang sekarang menatapnya. Yang di tengah paling dikenalnya, meskipun otaknya yang mabuk butuh dua detik untuk menyambungkan wajah itu dengan kejadian pagi tadi.

"Kamu..." Eve menunjuknya dengan ragu. "Pak Kolonel?"

Brandon Ho, yang duduk di sisi kiri, langsung melirik Edric. Vincent Tan di sisi kanan menurunkan gelasnya dengan sangat hati-hati.

Edric berdiri. "Eve."

"Kok kamu di sini sih..." Eve masuk seolah ruangan itu memang disiapkan untuknya. "Dunia sempit ya."

Ia berjalan tiga langkah, hampir tersandung karpet, lalu jatuh duduk di sebelah Edric. Bukan hanya duduk. Kepalanya langsung bersandar di bahu pria itu, seolah tubuhnya sudah memutuskan tempat paling aman tanpa meminta izin akal sehat.

Brandon membuka mulut. "Ric, siapa ini?"

Edric menaruh gelasnya. Tangannya bergerak sangat alami ke bahu Eve, menahan agar ia tidak merosot.

"Istriku."

Hening.

Lalu Brandon tersedak. "Istri?! Kapan?! Bagaimana bisa?!"

Vincent, dengan wajah seorang dokter yang menghadapi kasus aneh, bertanya, "Akta Perkawinan-nya ada?"

"Ada."

"Hari ini?"

"Pagi tadi."

Brandon menatap Vincent, lalu menatap Edric lagi. "Aku cuma telat datang lima menit ke hidupmu, atau kamu memang gila?"

Eve tidak peduli. Ia memainkan ujung lengan kemeja Edric, matanya setengah terpejam.

"Rangga brengsek," gumamnya. "Tiga tahun... satu miliar... mawar putih buat Jess..."

Suara Brandon berhenti.

Eve tertawa kecil, lalu air matanya jatuh tiba-tiba. "Mama, aku bodoh ya?"

Edric menunduk. Wajah Eve basah, tetapi ia tidak benar-benar sadar sedang menangis. Bahunya kecil di balik gaun putih yang sudah kusut. Semua keberanian di bandara seperti meleleh, menyisakan perempuan muda yang terlalu lama menahan sakit sendirian.

Edric melepas jaketnya dan menyelimutkannya ke tubuh Eve.

"Ceritanya panjang," katanya kepada Brandon dan Vincent. "Nanti saya jelaskan."

"Kamu yakin dia tidak perlu diperiksa?" tanya Vincent.

"Dia mabuk."

"Mabuk dan menangis bukan diagnosis lengkap."

"Vin."

Vincent mengangkat kedua tangan. "Baik. Tapi beri dia air."

Brandon sudah menuangkan air mineral ke gelas. Untuk sekali ini ia tidak bercanda.

Eve menolak gelas itu. Ia malah meraih kerah Edric, mencengkeramnya dengan kuat untuk ukuran orang mabuk.

"Jangan pergi," bisiknya.

Edric membeku.

"Semua orang pergi. Papa pergi. Mama meninggal. Rangga juga..." Napas Eve patah. "Jangan pergi."

Brandon menunduk. Vincent memalingkan wajah, memberi ruang pada sesuatu yang terlalu pribadi.

Edric menatap perempuan di pelukannya. Di bandara ia melihat amarahnya. Di Catatan Sipil ia melihat keberaniannya. Malam ini ia melihat luka yang selama ini mungkin ditutup dengan pekerjaan, senyum tipis, dan kalimat "aku baik-baik saja".

Ia menunduk sedikit.

"Saya tidak akan pergi."

Eve tidak menjawab. Mungkin tidak mendengar. Namun genggamannya di kerah Edric perlahan mengendur.

Edric mengangkatnya.

Brandon cepat membuka pintu. Vincent mengambil tas Eve yang jatuh di dekat sofa.

"Ric," Brandon berbisik saat mereka keluar. "Kamu benar-benar menikah?"

"Kamu mau lihat akta sekarang?"

"Aku mau duduk dulu sebelum pingsan."

Di koridor, seorang laki-laki berlari dari arah ruang biasa. Daniel Tjioe berhenti mendadak ketika melihat Eve dalam pelukan orang asing.

"Woi!" Dan maju dengan wajah siap memukul. "Kamu siapa? Turunkan dia!"

Edric berhenti. "Saya suaminya."

"Suami? Eve nggak punya suami! Dia baru putus sama..."

Kata-kata Dan terhenti saat melihat cincin di jari Eve. Cincin sederhana, baru, dan terlalu nyata untuk dijadikan lelucon.

Dan menatap Eve. Sahabatnya tidur dengan pipi basah, tetapi tubuhnya tidak menegang di pelukan Edric. Justru ia menempel seperti orang yang akhirnya berhenti berlari.

"Eve," Dan memanggil pelan.

Eve hanya menggumam, "Dan, jangan berisik..."

Brandon, di belakang Edric, nyaris tertawa. Vincent menyikutnya.

Dan mengulurkan tangan pada Vincent. "Tasnya."

Vincent menyerahkan tas Eve tanpa protes. Dan memeriksa ponsel, dompet, dan keadaan Eve dengan cepat. Ia bukan keluarga, bukan pacar, tetapi ia jelas orang yang terbiasa memastikan Eve pulang utuh.

"Dia minum banyak," kata Dan.

"Saya tahu," jawab Edric.

"Kalau sampai ada apa-apa dengan dia, saya pastikan kamu menyesal."

Brandon mengangkat alis. "Berani juga."

Edric tidak tersinggung. "Bagus. Dia butuh teman seperti itu."

Dan tidak terlihat luluh, tetapi amarahnya turun sedikit. "Nama kamu siapa?"

"Edric Kho."

Perubahan kecil lewat di wajah Dan. Ia tahu nama Kho. Siapa pun yang hidup di lingkaran Jakarta cukup lama tahu bahwa beberapa nama keluarga tidak pernah sekadar nama.

"Kho yang mana?"

"Yang akan kamu cari di internet setelah ini."

Dan menyipit. "Aku makin tidak suka kamu."

"Nanti saja. Sekarang dia butuh tidur."

Dan menatap Eve sekali lagi. Ia ingin merebutnya, membawa pulang sendiri, tetapi ia juga tahu Eve tinggal sendirian di kos kecil tanpa orang yang bisa menjaganya malam ini. Pria bernama Edric itu terlalu tenang untuk ukuran penculik, dan cincin di tangan Eve terlalu mengganggu untuk diabaikan.

"Kirim alamat," kata Dan akhirnya. "Dan kabari kalau dia sudah bangun."

"Baik."

"Aku serius."

"Saya juga."

Di parkiran, Fajar sudah menunggu di samping Toyota Alphard hitam. Wajahnya tidak berubah ketika melihat Edric menggendong seorang perempuan.

"Ke mana, Pak?"

"Apartemen Menteng Park."

"Siap, Pak."

Brandon membuka pintu mobil. Vincent menyerahkan tas Eve ke Edric.

"Ric," kata Vincent pelan, "dia rapuh malam ini. Jangan jadikan ini permainan."

Edric menatapnya. "Saya tidak pernah bermain."

Mobil bergerak keluar dari basement Velvet Lounge. Lampu Jakarta lewat di kaca seperti garis-garis panjang. Eve tidur dengan kepala di bahu Edric, napasnya mulai teratur.

Edric menatap wajahnya yang lelah.

Di balik kelopak mata itu ada seorang perempuan yang baru dikhianati, baru menikah, dan belum tahu ia menikah dengan siapa.

Fajar melirik dari kaca spion, lalu cepat-cepat kembali menatap jalan.

"Pak?"

"Besok pagi," kata Edric, tanpa mengalihkan mata dari Eve, "minta Jerry cari semua informasi tentang Evelina Lim."

"Siap."

Eve bergerak sedikit dalam tidurnya. Jarinya mencari sesuatu, lalu menggenggam ujung kemeja Edric.

Edric membiarkannya.

Terpopuler

Comments

aku

aku

nah kan syokk semua 😃

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!