BAB 4: Dua Minggu yang Tak Terduga

Dua minggu telah berlalu sejak suntikan hormon pertama Sarah. Setiap pagi, dengan setia, Felix menjemputnya dari apartemen di Milan untuk pergi ke klinik ProVita di Liguria. Prosesnya berjalan sesuai jadwal. Suntikan demi suntikan, USG demi USG, hingga akhirnya tiba saat pengambilan sel telur dan pembuahan di laboratorium.

Hari itu, Sarah duduk di ruang tunggu klinik dengan tangan sedikit gemetar. Di sampingnya, Samudra Grayson duduk dengan tenang, mengenakan kemeja putih tanpa dasi. Anehnya, dua minggu terakhir ini, Samudra selalu hadir di setiap sesi penting. Ia mengaku sedang mengurus cabang perusahaan di Genoa, tapi Sarah curiga itu hanya alasan.

“Saraf?” tanya Samudra, menatap Sarah yang terus menggerak-gerakkan jempolnya.

“Agak, Pak. Ini proses penanaman embrio. Aku dengar rasanya seperti kram perut, tapi aku tetap deg-degan,” jawab Sarah jujur.

Samudra menghela napas. “Kamu sudah melalui suntikan, pengambilan sel telur, dan sekarang tinggal satu langkah lagi. Kamu wanita yang kuat, Sarah. Jangan menyerah sekarang.”

Sarah menatap Samudra. Kata-katanya terdengar sederhana, tapi ada ketulusan di dalamnya. Sejak hari pertama mereka makan di restoran pinggir pantai, Samudra perlahan mulai menunjukkan sisi lain dari dirinya. Tidak lagi hanya dingin dan kaku.

“Kamu juga, Pak. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu,” balas Sarah.

Saat itu, pintu ruang perawatan terbuka. dr. Andini keluar dengan senyuman lebar di wajahnya. Di tangannya, ia membawa sebuah tabung kecil berisi cairan bening. Tabung itu terlihat sangat rapuh, tapi di dalamnya ada kehidupan yang sedang menunggu untuk ditanamkan.

“Sarah, embrio sudah siap. Kualitasnya sangat baik. Sekarang saatnya kita pindahkan ke rahim Anda,” ujar dr. Andini.

Sarah berdiri, mengikuti dokter masuk ke ruangan. Samudra berdiri di belakangnya, memberikan dukungan tanpa berkata-kata. Sarah berbaring di ranjang medis. Dokter memasukkan selang tipis yang terhubung dengan tabung kecil itu ke dalam rahimnya. Prosesnya berlangsung cepat, hanya sekitar 10 menit.

Namun, saat selang itu ditarik keluar, Sarah merasakan ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Bukan secara fisik, tapi secara emosional. Ada kehidupan kecil yang sekarang bersarang di dalam rahimnya. Entah itu akan tumbuh atau tidak, tapi saat ini, ia merasa bertanggung jawab.

“Selesai. Sekarang Sarah harus istirahat total selama 30 menit. Jangan banyak bergerak. Saya akan periksa kembali kondisinya setelah ini,” jelas dr. Andini.

Samudra masuk ke ruangan dan duduk di kursi di samping ranjang Sarah. Ia menyilangkan tangannya, menatap layar monitor yang menampilkan detak jantung Sarah. Wanita itu masih berbaring, matanya sedikit terpejam.

“Kamu mau air?” tawar Samudra.

Sarah membuka matanya. “Nggak usah, Pak. Saya hanya ingin diam sebentar. Ini aneh rasanya. Di dalam aku ada sesuatu yang belum tentu hidup, tapi rasanya sudah berat banget.”

Samudra tersenyum tipis. “Jangan terlalu dipikirkan. Doakan saja yang terbaik.”

30 menit berlalu. dr. Andini kembali dan memeriksa kondisi Sarah. Semuanya baik. Sarah dipersilakan pulang. Namun, dr. Andini memberikan pesan penting.

“Sarah, untuk dua minggu ke depan, Anda harus menjaga kondisi tubuh dengan sangat hati-hati. Hindari aktivitas berat. Jangan stres. Dan yang paling penting, perhatikan pola makan. Jika ada pendarahan atau nyeri hebat, segera hubungi saya,” kata dr. Andini.

“Baik, Dok,” jawab Sarah.

Samudra dan Felix mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan, Sarah hanya diam. Tubuhnya terasa lemas, tapi ada perasaan aneh yang menggelitik di dadanya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Tiba di apartemennya, Sarah disambut oleh keheningan. Tempat itu terasa sepi. Ia berbaring di sofa, menatap langit-langit kamar. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Samudra.

"Jangan lupa makan malam. Aku sudah minta Felix mengirimkan makanan sehat untukmu. Istirahat yang cukup."

Sarah menatap pesan itu lama. Matanya terasa hangat. Ini bukan tentang kontrak lagi. Ini tentang perhatian. Samudra Grayson, pria yang ia kenal sebagai bos dingin tanpa perasaan, kini mengirimkan pesan seperti seorang teman.

Ia membalas pesannya. "Terima kasih, Pak. Saya akan istirahat."

Malam itu, Sarah berbaring di tempat tidurnya. Ia memegang perutnya dengan lembut. “Halo, kecil. Aku belum tahu kamu laki-laki atau perempuan. Tapi aku harap kamu tumbuh sehat. Aku... aku akan menjaga kamu sebaik mungkin.”

Air matanya perlahan jatuh di atas sarung bantal. Ia menangis. Bukan karena sedih, tapi karena ia tidak mengerti perasaannya sendiri. Ia benci dirinya karena mulai peduli pada anak ini, dan ia juga benci kenyataan bahwa suatu hari nanti, anak ini akan diambil darinya.

Hari-hari berlalu. Sarah menjalani hari-harinya dengan tenang. Ia bekerja dari rumah, mengirim laporan lewat email, dan sesekali menerima kunjungan dari Felix. Felix selalu membawakan makanan, buah, dan kadang-kadang bunga segar. Felix sering bercerita tentang Samudra. Tentang betapa bosnya itu sering menanyakan kabar Sarah melalui Felix.

“Aneh, kan? Bos dulu nggak pernah peduli sama siapa pun,” ujar Felix suatu sore saat ia datang mengantar sup ayam.

“Mungkin dia hanya takut investasinya gagal,” jawab Sarah, berusaha mencari alasan logis.

Felix tertawa. “Investasi? Sarah, aku bekerja sama dia selama lima tahun. Aku tahu dia nggak pernah repot-repot kayak gini untuk urusan bisnis. Ini bukan soal uang. Ini soal kamu.”

Sarah menatap Felix tajam. “Jangan ngaco, Fel. Kami hanya kontrak.”

“Terserah kamu mau bilang apa,” Felix mengangkat bahu. “Tapi lihat saja nanti.”

Sarah memutuskan untuk mengabaikan perkataan Felix. Namun, sulit untuk mengabaikan perasaannya sendiri. Setiap kali ia membuka ponsel dan melihat nama Samudra di layar, jantungnya berdegup lebih kencang. Dan itu membuatnya takut.

Pada hari ke-14, tepat saat ia harus kembali ke klinik untuk tes kehamilan, Sarah bangun dengan perasaan cemas luar biasa. Ia tidak bisa tidur semalaman. Di dalam kamar mandi, ia menatap cermin dan membisikkan doa.

“Tolong, Tuhan. Biarkan ini berhasil.”

Felix menjemputnya pukul 07.00. Kali ini, saat mobil melaju ke klinik, Samudra tidak ada. Felix berkata bahwa Samudra sedang ada rapat penting di Roma dan akan menyusul jika rapat selesai. Sarah sedikit kecewa, tapi ia tidak mau mengakuinya.

Di klinik, dr. Andini mengambil sampel darah Sarah. Sarah menunggu hasilnya di ruang tunggu, jantungnya berdegup kencang. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Ia melihat jam dinding di ruangan itu. 10 menit. 20 menit. 30 menit.

Akhirnya, pintu terbuka. dr. Andini keluar dengan selembar kertas di tangannya. Wajahnya tidak terbaca. Sarah berdiri, menahan napas.

“Bagaimana, Dok?” tanya Sarah dengan suara bergetar.

dr. Andini tersenyum lebar. “Selamat, Sarah. Tes kehamilan Anda positif. Embrio berhasil menempel. Anda hamil.”

Dunia Sarah seolah berhenti berputar. Ia terdiam, mulutnya terbuka, tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya mengalir deras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Benarkah, Dok? Saya... saya hamil?”

“Benar. Selamat. Sekarang Anda harus benar-benar menjaga kesehatan. Kehamilan ini masih sangat muda. Sangat rapuh,” jelas dr. Andini.

Sarah mengangguk sambil menangis. Di tengah tangisnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Samudra.

"Bagaimana hasilnya?"

Sarah tidak bisa mengetik. Jari-jarinya gemetar. Ia hanya mengirim satu emoji. Sebuah tanda cinta kecil. Lalu ia menambahkan satu kalimat.

"Positif, Pak. Saya hamil."

Tak lama, ia menerima balasan singkat dari Samudra.

"Aku pulang sekarang."

Sarah menatap layar ponselnya. Dua minggu yang lalu, ia hanya menganggap ini sebagai kontrak. Tapi sekarang? Dengan dua kata, “aku pulang”, Samudra telah mengubah segalanya.

Sarah memegang perutnya, masih basah oleh air mata. Ia tersenyum. Ada kehidupan di dalamnya. Dan ada sesuatu yang mulai tumbuh di hatinya. Sesuatu yang mungkin jauh lebih berbahaya dari kontrak itu sendiri.

Episodes
1 BAB 1: Kontrak Senilai Satu Miliar
2 BAB 2: Tabung Kecil, Harapan Baru
3 BAB 3: Suntikan, Keheningan, dan Aroma Laut Mediterania
4 BAB 4: Dua Minggu yang Tak Terduga
5 BAB 5: Malam yang Canggung
6 BAB 6: Makan Siang Paksa di Ruang CEO
7 BAB 7: Panas, Heels, dan Secangkir Kopi
8 BAB 8: Undangan Malam
9 BAB 9: Gala Malam di Villa Toscana
10 BAB 10: Villa di Tengah Badai
11 BAB 11: Pagi di Villa
12 BAB 12: Belanja di Supermarket Italia
13 BAB 13: Dua Bulan
14 BAB 14: Pertemuan dengan Kakek Idris
15 BAB 15: Kebakaran
16 BAB 16: Pasta di Tengah Malam
17 BAB 17: Sarapan Bersama dan Halte Bus
18 BAB 18: Mual di Kantor
19 BAB 19: Ngidam Pizza Keju Berlimpah
20 BAB 20: Demam di Hari Minggu
21 BAB 21: Kebaikan yang Mengubah Segalanya
22 BAB 22: Apartemen Baru, Keputusan Baru
23 BAB 23: Keputusan
24 BAB 24: Terbang ke London Bersama
25 BAB 25: Peresmian Kantor London
26 BAB 26: Belanja Peralatan Bayi di London
27 BAB 27: Mantan di Meja Sebelah
28 BAB 28: Pulang ke Italia dengan Hati yang Berat
29 BAB 29: Kehidupan Baru dan Detak Jantung Kecil
30 BAB 30: Enam Bulan
31 BAB 31: Flashback – Saat Gosip Itu Membuatku Hancur
32 BAB 32: Keseharian Sarah di Mansion
33 BAB 33: Rasa Penasaran yang Menggelitik
34 BAB 34: Nama dari Kakek Idris
35 BAB 35: Mempersiapkan Kamar untuk Arya
36 BAB 36: Kedatangan Violet yang Tak Terduga
37 BAB 37: Kejutan di Rumah Baru
38 BAB 38: Pindah ke Rumah Baru
39 BAB 39: Menunggu Arya dengan Penuh Cinta
40 BAB 40: Pulang ke Rumah untuk Pertama Kalinya
41 BAB 41: Kehidupan Baru Bersama Arya
42 BAB 42: Nama dan Harapan
43 BAB 43: Arya Bisa Duduk
44 BAB 44: Arya Mulai Merangkak
Episodes

Updated 44 Episodes

1
BAB 1: Kontrak Senilai Satu Miliar
2
BAB 2: Tabung Kecil, Harapan Baru
3
BAB 3: Suntikan, Keheningan, dan Aroma Laut Mediterania
4
BAB 4: Dua Minggu yang Tak Terduga
5
BAB 5: Malam yang Canggung
6
BAB 6: Makan Siang Paksa di Ruang CEO
7
BAB 7: Panas, Heels, dan Secangkir Kopi
8
BAB 8: Undangan Malam
9
BAB 9: Gala Malam di Villa Toscana
10
BAB 10: Villa di Tengah Badai
11
BAB 11: Pagi di Villa
12
BAB 12: Belanja di Supermarket Italia
13
BAB 13: Dua Bulan
14
BAB 14: Pertemuan dengan Kakek Idris
15
BAB 15: Kebakaran
16
BAB 16: Pasta di Tengah Malam
17
BAB 17: Sarapan Bersama dan Halte Bus
18
BAB 18: Mual di Kantor
19
BAB 19: Ngidam Pizza Keju Berlimpah
20
BAB 20: Demam di Hari Minggu
21
BAB 21: Kebaikan yang Mengubah Segalanya
22
BAB 22: Apartemen Baru, Keputusan Baru
23
BAB 23: Keputusan
24
BAB 24: Terbang ke London Bersama
25
BAB 25: Peresmian Kantor London
26
BAB 26: Belanja Peralatan Bayi di London
27
BAB 27: Mantan di Meja Sebelah
28
BAB 28: Pulang ke Italia dengan Hati yang Berat
29
BAB 29: Kehidupan Baru dan Detak Jantung Kecil
30
BAB 30: Enam Bulan
31
BAB 31: Flashback – Saat Gosip Itu Membuatku Hancur
32
BAB 32: Keseharian Sarah di Mansion
33
BAB 33: Rasa Penasaran yang Menggelitik
34
BAB 34: Nama dari Kakek Idris
35
BAB 35: Mempersiapkan Kamar untuk Arya
36
BAB 36: Kedatangan Violet yang Tak Terduga
37
BAB 37: Kejutan di Rumah Baru
38
BAB 38: Pindah ke Rumah Baru
39
BAB 39: Menunggu Arya dengan Penuh Cinta
40
BAB 40: Pulang ke Rumah untuk Pertama Kalinya
41
BAB 41: Kehidupan Baru Bersama Arya
42
BAB 42: Nama dan Harapan
43
BAB 43: Arya Bisa Duduk
44
BAB 44: Arya Mulai Merangkak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!