BAB 5: Malam yang Canggung

Samudra Grayson belum pernah menyetir mobilnya sendiri secepat ini dalam hidupnya. Biasanya, ia selalu duduk di kursi belakang, membiarkan Felix atau sopir pribadinya yang mengemudi. Tapi malam ini, begitu ia membaca pesan Sarah dari klinik, ia langsung meminta Felix mengirimkan alamat apartemen Sarah dan mengambil alih kemudi mobil sport hitamnya.

Rapat di Roma yang sedianya berlangsung hingga malam ia pangkas habis. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera berada di sisi Sarah. Ia tidak mau mengakui, bahkan pada dirinya sendiri, bahwa perasaan itu bukan hanya tentang kontrak.

Perjalanan dari Roma ke Milan memakan waktu sekitar tiga jam. Di tengah perjalanan, ia mampir di sebuah trattoria tepi jalan yang terkenal dengan hidangan sehatnya. Ia memesan beberapa bungkus makanan: sup minestrone kaya sayuran, pollo al limone (ayam lemon) yang dipanggang tanpa minyak, serta seporsi salad dengan ricotta dan buah ara. Ia juga membeli sekantong anggur merah Italia dan beberapa jenis buah-buahan segar.

Saat mobilnya melaju memasuki kawasan apartemen mewah di pusat Milan, jam di dasbor menunjukkan pukul 20.30. Samudra memarkir mobil di area parkir bawah tanah, lalu berjalan cepat menuju lift. Ia menekan tombol lantai 12. Di dalam lift, ia merapikan kerah kemejanya dan menghela napas. Untuk pertama kalinya, ia merasa gugup.

Sementara itu, di dalam apartemennya, Sarah baru saja selesai mandi. Semenjak pulang dari klinik, ia tidak bisa berhenti tersenyum. Ia menatap bayangannya di cermin kamar mandi, tangannya masih menempel di perut yang rata.

"Aku hamil," bisiknya pelan, masih tidak percaya.

Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambut panjangnya yang masih basah. Ia hanya mengenakan sleeping dress tipis berwarna krem, tanpa bra, karena memang sudah jadi kebiasaannya di rumah. Rambutnya yang basah meneteskan air di bahunya, membuat kain tipis itu sedikit menempel pada tubuhnya.

Sarah berjalan ke ruang tamu, berniat mencari hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Ia tidak menyangka akan ada tamu malam ini, apalagi tamu spesial. Saat ia melewati dapur untuk mengambil segelas air, tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi.

Ding-dong.

Sarah mengerutkan kening. "Felix, ya? Tumben dia malam-malam begini datang, mungkin mau kasih kabar tentang Bos yang masih di Roma," pikirnya.

Ia berjalan ke pintu tanpa berpikir panjang, menarik gagang pintu, dan membukanya.

"Felix, kamu kok—"

Kalimat Sarah langsung terpotong. Matanya membulat sempurna. Di depan pintu, berdiri Samudra Grayson dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, membawa beberapa kantong kertas berisi makanan dan sekantong buah. Wajahnya datar seperti biasa, tapi ada sedikit kerutan di alisnya yang menunjukkan bahwa ia sedang menahan sesuatu.

"Pak... Bos?" Sarah terbata-bata, tubuhnya membeku di ambang pintu.

Samudra menatap Sarah dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya menangkap rambut Sarah yang basah, meneteskan air ke bahu mulus yang hanya ditutupi kain tipis berwarna krem. Ia bisa melihat siluet tubuh Sarah di balik kain yang sedikit basah itu. Tanpa sadar, otot rahang Samudra menegang. Ia mengalihkan pandangannya dengan cepat, menatap langit-langit lorong apartemen.

"Aku... bawa makanan malam. Felix bilang kamu belum makan," ujar Samudra, suaranya terdengar sedikit serak.

Sarah baru saja menyadari sesuatu. Astaga. Aku nggak pakai bra, dan bajuku tipis banget!

Wajah Sarah langsung memerah padam. Ia panik, melangkah mundur ke dalam apartemen. "M-Maaf, Pak. Silakan masuk dulu, saya... saya mau ganti baju dulu!"

Sarah berbalik dan berlari kecil menuju kamarnya, meninggalkan Samudra yang masih berdiri di depan pintu. Samudra menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Ia meletakkan kantong-kantong makanan di atas meja makan. Matanya mengitari apartemen Sarah. Tempat itu tidak terlalu besar, tapi tertata rapi dengan sentuhan feminin. Ada beberapa pot tanaman hias di sudut ruangan, dan di sofa ada selimut berbulu tebal berwarna pastel. Samudra duduk di kursi makan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar tidak karuan.

"Otakku kok bisa ngaco begini," gumamnya dalam hati. "Dia hanya asistenku. Dan ini hanya kontrak."

Sekitar lima menit kemudian, pintu kamar Sarah terbuka. Sarah keluar dengan pakaian yang sudah diganti: celana panjang berbahan katun tebal dan kemeja kaos berwarna putih yang sopan. Rambutnya masih setengah basah, tapi ia sudah mengeringkannya dengan handuk. Wajahnya masih merah, namun ia mencoba tersenyum canggung.

"Maaf, Pak, tadi saya kaget," ucap Sarah, duduk di kursi di seberang Samudra.

"Tidak apa-apa," jawab Samudra datar, menyingkirkan pandangannya. "Sebaiknya kamu segera mengeringkan rambutmu. Kamu baru saja selesai prosedur. Kalau kedinginan, bisa sakit."

Sarah mengangguk pelan. "Iya, Pak. Nanti saya keringkan."

Samudra membuka salah satu kantong makanan dan mengeluarkan beberapa kotak takeaway. "Aku membeli sup sayur, ayam panggang, dan salad buah. Kamu harus makan yang bergizi, terutama di awal kehamilan ini."

Sarah menatap makanan di atas meja. Ada sesuatu yang mengharukan di hati kecilnya. Samudra Grayson, yang biasa disibukkan dengan transaksi milyaran euro, kini membawakan makanan malam untuknya. Padahal ia baru saja pulang rapat dari Roma.

"Terima kasih, Pak. Bapak benar-benar baik," ucap Sarah pelan.

Samudra menatapnya. "Ini tanggung jawabku. Aku yang memintamu untuk ini. Jadi aku harus menjagamu."

Ada jeda. Sarah membuka kotak sup dan mulai menyeruputnya perlahan. Supnya hangat dan menenangkan perutnya yang terasa sedikit mual. Samudra hanya diam, memperhatikannya.

Saat Sarah mengambil sepotong ayam, ia menatap Samudra. "Pak, Bapak sudah makan? Atau Bapak juga mau?"

Samudra menggeleng. "Aku sudah makan sebelumnya."

"Tapi Bapak kan belum pulang ke apartemen Bapak. Ini perjalanan tiga jam dari Roma," Sarah membalas. "Bapak pasti capek. Makanlah sedikit."

Samudra ragu. Tapi melihat tatapan Sarah yang tulus, ia akhirnya mengambil garpu dan mencicipi sepotong ayam. Suasana makan malam itu terasa canggung, tapi juga hangat. Keduanya sesekali saling menatap, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.

Setelah beberapa saat, Sarah menghabiskan makanannya. Ia mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, lalu kembali duduk. Rasa mengantuk mulai menyerangnya karena efek kehamilan muda. Matanya mulai sayu.

Samudra melihat itu. "Kamu sudah mengantuk. Istirahat saja. Aku akan... pulang sekarang."

Samudra berdiri dan mengambil jaketnya. Sarah juga berdiri, mengantarnya ke pintu. Saat Samudra melewati pintu, ia berhenti sejenak dan menatap Sarah.

"Besok pagi, Felix akan mengantar makanan sarapan. Jangan lupa makan," pesannya.

"Baik, Pak. Terima kasih atas makan malamnya," jawab Sarah.

Samudra tersenyum tipis. Sebelum ia melangkah pergi, matanya menangkap bercak kecil di kerah kemejanya. Ternyata tadi saat ia memotong ayam, saus lemon itu menciprat. Ia mengerutkan kening.

Sarah melihat itu. "Pak, baju Bapak kena saus."

"Ah, iya. Biar saja, nanti dicuci," jawab Samudra cuek.

Sarah mengambil selembar tisu basah dari dapur dan mendekati Samudra. "Saya bersihkan sebentar, Pak. Nanti susah hilang kalau sudah kering."

Sarah mengangkat tangannya dan mulai mengusap kerah kemeja Samudra dengan lembut. Gerakannya pelan dan teliti. Samudra membeku. Jarak mereka sangat dekat. Ia bisa mencium aroma sabun mandi yang segar dari rambut Sarah, dan juga aroma lemon dari tisu basah itu.

Perasaannya bergejolak. Hatinya berteriak untuk meraih tangan Sarah, tapi logikanya menahan.

Sarah menyelesaikan usapannya dan mundur selangkah. "Sudah bersih, Pak."

Samudra menatapnya dalam. "Terima kasih, Sarah. Selamat malam."

"Selamat malam, Pak."

Samudra melangkah pergi, berjalan menuju lift. Saat pintu lift tertutup, ia menatap langit-langit lift dan menghela napas panjang.

"Kau dalam masalah besar, Samudra," bisiknya dalam hati.

Dan Sarah, di balik pintu apartemennya, bersandar pada pintu dan menutup matanya. Ia memegang perutnya.

"Aku tidak seharusnya merasakan ini. Tapi... kenapa rasanya begitu sulit untuk berpaling?"

Di balik kontrak, di balik perjanjian, ada getaran yang tidak tertulis. Dan malam itu, di apartemen kecil di Milan, dua orang yang saling mengaku hanya terikat kertas, mulai merasakan ada tali yang lebih kuat yang mulai melilit hati mereka.

Episodes
1 BAB 1: Kontrak Senilai Satu Miliar
2 BAB 2: Tabung Kecil, Harapan Baru
3 BAB 3: Suntikan, Keheningan, dan Aroma Laut Mediterania
4 BAB 4: Dua Minggu yang Tak Terduga
5 BAB 5: Malam yang Canggung
6 BAB 6: Makan Siang Paksa di Ruang CEO
7 BAB 7: Panas, Heels, dan Secangkir Kopi
8 BAB 8: Undangan Malam
9 BAB 9: Gala Malam di Villa Toscana
10 BAB 10: Villa di Tengah Badai
11 BAB 11: Pagi di Villa
12 BAB 12: Belanja di Supermarket Italia
13 BAB 13: Dua Bulan
14 BAB 14: Pertemuan dengan Kakek Idris
15 BAB 15: Kebakaran
16 BAB 16: Pasta di Tengah Malam
17 BAB 17: Sarapan Bersama dan Halte Bus
18 BAB 18: Mual di Kantor
19 BAB 19: Ngidam Pizza Keju Berlimpah
20 BAB 20: Demam di Hari Minggu
21 BAB 21: Kebaikan yang Mengubah Segalanya
22 BAB 22: Apartemen Baru, Keputusan Baru
23 BAB 23: Keputusan
24 BAB 24: Terbang ke London Bersama
25 BAB 25: Peresmian Kantor London
26 BAB 26: Belanja Peralatan Bayi di London
27 BAB 27: Mantan di Meja Sebelah
28 BAB 28: Pulang ke Italia dengan Hati yang Berat
29 BAB 29: Kehidupan Baru dan Detak Jantung Kecil
30 BAB 30: Enam Bulan
31 BAB 31: Flashback – Saat Gosip Itu Membuatku Hancur
32 BAB 32: Keseharian Sarah di Mansion
33 BAB 33: Rasa Penasaran yang Menggelitik
34 BAB 34: Nama dari Kakek Idris
35 BAB 35: Mempersiapkan Kamar untuk Arya
36 BAB 36: Kedatangan Violet yang Tak Terduga
37 BAB 37: Kejutan di Rumah Baru
38 BAB 38: Pindah ke Rumah Baru
39 BAB 39: Menunggu Arya dengan Penuh Cinta
40 BAB 40: Pulang ke Rumah untuk Pertama Kalinya
41 BAB 41: Kehidupan Baru Bersama Arya
42 BAB 42: Nama dan Harapan
43 BAB 43: Arya Bisa Duduk
44 BAB 44: Arya Mulai Merangkak
Episodes

Updated 44 Episodes

1
BAB 1: Kontrak Senilai Satu Miliar
2
BAB 2: Tabung Kecil, Harapan Baru
3
BAB 3: Suntikan, Keheningan, dan Aroma Laut Mediterania
4
BAB 4: Dua Minggu yang Tak Terduga
5
BAB 5: Malam yang Canggung
6
BAB 6: Makan Siang Paksa di Ruang CEO
7
BAB 7: Panas, Heels, dan Secangkir Kopi
8
BAB 8: Undangan Malam
9
BAB 9: Gala Malam di Villa Toscana
10
BAB 10: Villa di Tengah Badai
11
BAB 11: Pagi di Villa
12
BAB 12: Belanja di Supermarket Italia
13
BAB 13: Dua Bulan
14
BAB 14: Pertemuan dengan Kakek Idris
15
BAB 15: Kebakaran
16
BAB 16: Pasta di Tengah Malam
17
BAB 17: Sarapan Bersama dan Halte Bus
18
BAB 18: Mual di Kantor
19
BAB 19: Ngidam Pizza Keju Berlimpah
20
BAB 20: Demam di Hari Minggu
21
BAB 21: Kebaikan yang Mengubah Segalanya
22
BAB 22: Apartemen Baru, Keputusan Baru
23
BAB 23: Keputusan
24
BAB 24: Terbang ke London Bersama
25
BAB 25: Peresmian Kantor London
26
BAB 26: Belanja Peralatan Bayi di London
27
BAB 27: Mantan di Meja Sebelah
28
BAB 28: Pulang ke Italia dengan Hati yang Berat
29
BAB 29: Kehidupan Baru dan Detak Jantung Kecil
30
BAB 30: Enam Bulan
31
BAB 31: Flashback – Saat Gosip Itu Membuatku Hancur
32
BAB 32: Keseharian Sarah di Mansion
33
BAB 33: Rasa Penasaran yang Menggelitik
34
BAB 34: Nama dari Kakek Idris
35
BAB 35: Mempersiapkan Kamar untuk Arya
36
BAB 36: Kedatangan Violet yang Tak Terduga
37
BAB 37: Kejutan di Rumah Baru
38
BAB 38: Pindah ke Rumah Baru
39
BAB 39: Menunggu Arya dengan Penuh Cinta
40
BAB 40: Pulang ke Rumah untuk Pertama Kalinya
41
BAB 41: Kehidupan Baru Bersama Arya
42
BAB 42: Nama dan Harapan
43
BAB 43: Arya Bisa Duduk
44
BAB 44: Arya Mulai Merangkak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!