SEPATU DARI PASAR LOAK

Sepatu dari pasar loak itu menjadi benda paling mahal yang pernah kami miliki, meskipun kulitnya mengelupas dan baunya seperti gudang lembap. Nira tidak peduli. Ia duduk di lantai sambil mengangkat kedua kakinya, memandang sepatu cokelat kebesaran itu dari berbagai arah.

"Kak, lihat. Aku seperti anak kota," katanya.

Aku hampir tertawa, tetapi urung. Ia mengatakannya dengan sangat bangga. Di buku pelajaran, anak-anak kota selalu digambar memakai sepatu bersih, kaus kaki putih, dan tas punggung yang bagus. Bagi Nira, sepasang sepatu bekas sudah cukup untuk membuatnya merasa dekat dengan dunia itu.

Ayah kemudian bercerita bahwa ia menemukan sepatu itu di sudut paling belakang pasar, bercampur dengan sandal putus dan tas sobek. Pedagang meminta harga yang tidak sanggup dibayarnya. Ayah menawar sambil menunjukkan uang hasil penjualan singkong. Ia pulang tanpa membeli gula, dan berjalan membawa dua bungkusan koran di bawah ketiaknya. Saat itu aku belum tahu bagian cerita tersebut; aku baru mendengarnya dari Ibu bertahun-tahun kemudian.

Sepatuku sendiri berwarna hitam. Mungkin dahulu mengilap, tetapi bagian depannya telah berubah abu-abu. Ada lipatan dalam di dekat jari kaki dan goresan panjang di sisi kanan. Solnya tipis. Ketika kutekan menggunakan ibu jari, bagian tengahnya melengkung seperti daun kering.

"Jangan ditekan begitu," kata Ayah. "Nanti cepat rusak."

Aku segera melepaskan tangan.

Ibu membawa kain basah dan membersihkan kedua pasang sepatu. Debu hitam menempel pada kain. Setelah dibersihkan, warnanya tidak banyak berubah. Namun, Nira tetap tersenyum. Ia membantu Ibu menggosok bagian depan menggunakan sedikit minyak kelapa.

"Kalau diolesi, kelihatan baru," katanya.

"Jangan terlalu banyak," jawab Ibu. "Nanti debu menempel semua."

Pagi itu kami tidak langsung berangkat. Ayah meminta kami mencoba berjalan di halaman terlebih dahulu. Ia ingin memastikan sepatu tidak terlepas di jalan. Kabut masih menutup pohon-pohon di belakang rumah. Tanah dingin dan sedikit basah.

Nira melangkah lebih dahulu. Sepatunya mengeluarkan bunyi berdecit. Pada langkah ketiga, tumit kanannya terangkat. Ia hampir jatuh, tetapi cepat-cepat memegang dinding bambu.

"Aku bisa," katanya sebelum siapa pun menolong.

Ayah menambahkan gumpalan kain di ujung sepatu. Ibu mencari kaus kaki lama milikku dan melipatnya menjadi dua. Setelah itu, sepatu Nira terasa lebih padat. Ia berjalan lagi. Langkahnya masih seperti bebek, tetapi tidak mudah terlepas.

Kemudian giliranku. Sepatu hitam itu terlalu sempit. Setiap kali melangkah, jari kakiku menekan bagian depan. Tumitku seperti digigit. Aku mencoba tidak menunjukkan rasa sakit.

"Bagaimana?" tanya Ayah.

"Enak," jawabku.

Ibu menatapku. Ia selalu tahu ketika aku berbohong, tetapi kali ini ia tidak membantah. Ia hanya membuka tali sepatu, mengendurkannya sedikit, lalu menyelipkan potongan kain tipis di belakang tumit agar kulitku tidak langsung bergesekan.

"Kalau lecet, bilang," katanya.

Aku mengangguk.

Di luar rumah, anak-anak lain mulai lewat menuju kebun. Mereka tidak bersekolah pagi itu karena membantu orang tua memetik kopi. Salah seorang dari mereka, Ranu, berhenti dan melihat kaki kami.

"Wah, sepatu baru," katanya.

Nira segera berdiri lebih tegak. "Dari pasar kecamatan."

"Bekas, ya?"

Senyum Nira sedikit mengecil. Aku ingin menjawab, tetapi Ayah lebih dahulu berkata, "Bekas bukan berarti tidak berguna."

Ranu mengangkat bahu lalu pergi. Aku menatap Ayah. Ia tidak marah. Ia hanya kembali berjongkok dan memeriksa simpul tali sepatu Nira.

Sebelum kami berangkat, Ibu membungkus sepatu dengan daun pisang kering. Rencananya, kami akan memakai sandal di jalan setapak dan baru mengenakan sepatu di dekat sekolah. Namun, sandal Nira benar-benar tidak bisa dipakai lagi. Tali rafianya putus ketika ia baru melangkah keluar rumah.

"Pakai sepatunya dari sini saja," kata Ayah.

Ibu tampak ragu. "Jalannya basah."

"Kalau tidak dipakai, dia berjalan tanpa alas."

Aku menawarkan sandal milikku kepada Nira, tetapi ukurannya terlalu besar dan telapaknya pun hampir putus. Akhirnya kami mengenakan sepatu sejak dari rumah. Ayah mengingatkan kami agar tidak menginjak genangan, tidak menendang batu, dan mengangkat kaki tinggi-tinggi di lumpur.

"Kalau basah, jemur dekat tungku. Jangan terlalu dekat api," katanya.

"Kalau kotor?" tanya Nira.

"Bersihkan."

"Kalau talinya lepas?"

"Ikat lagi."

"Kalau rusak?"

Ayah terdiam sejenak. "Kita perbaiki."

Jawaban itu menjadi aturan di rumah kami selama bertahun-tahun. Jika sesuatu rusak, kami tidak langsung menggantinya. Kami menjahit, mengikat, menambal, atau menggunakannya dengan cara berbeda. Baju menjadi lap. Karung menjadi tas. Kaleng susu menjadi tempat menabung. Sepatu yang hampir mati dipaksa hidup kembali.

Kami mulai berjalan. Pada awalnya, aku senang mendengar bunyi sepatu menyentuh tanah. Bunyi itu berbeda dari sandal jepit. Lebih berat dan lebih teratur. Tok, tok, tok. Seolah setiap langkah mengatakan bahwa kami benar-benar anak sekolah.

Nira berjalan di belakangku sambil sesekali memandang kakinya sendiri. Ia hampir menabrak punggungku karena tidak melihat jalan.

"Lihat ke depan," kataku.

"Aku cuma memastikan sepatuku masih ada."

"Sepatu tidak akan lari."

"Bisa saja. Sepatu ini besar."

Kami tertawa. Nira lalu mencoba membuat sepatu itu berbunyi bersamaan dengan langkahku. Ia melangkah terlalu lebar, hampir jatuh, lalu tertawa lagi. Suara tawanya memantul di antara pohon kopi. Untuk beberapa saat, perjalanan terasa ringan. Bahkan udara dingin tidak terlalu mengganggu. Aku membayangkan tiba di sekolah dengan sepatu yang pantas. Tidak ada lagi perintah berdiri di luar barisan. Tidak ada lagi tatapan teman-teman pada kakiku.

Namun, setelah melewati kebun kopi pertama, rasa sakit di tumitku mulai terasa. Setiap langkah membuat kulit bergesekan. Aku memperlambat jalan, tetapi Nira segera menyadarinya.

"Kakak sakit?"

"Tidak."

"Jalannya jadi seperti Mbah Wreda."

Mbah Wreda berjalan pincang karena kaki kirinya pernah tertimpa kayu. Aku mencoba melangkah biasa lagi. Rasa perih semakin kuat, tetapi aku menahannya. Aku tidak ingin Ayah tahu sepatu yang dibelinya terlalu kecil. Aku takut ia akan merasa gagal.

Di tikungan pertama, tanah berubah lebih berbatu. Aku mengingat pesan Ayah dan mengangkat kaki tinggi-tinggi. Sebuah batu kecil masuk ke sela telapak. Aku menghentakkan kaki pelan untuk melepaskannya.

Saat itulah terdengar bunyi kecil dari bawah sepatu kiriku.

Krek.

Aku berhenti.

Nira menabrak punggungku. "Kenapa?"

Aku mengangkat kaki dan memeriksa telapak. Dari luar tidak terlihat apa-apa. Namun, ketika kutekuk sedikit, bagian depan sol membuka selebar kuku. Retakan itu kecil, hampir tidak berarti. Aku meyakinkan diri bahwa sepatu masih kuat.

"Tidak apa-apa," kataku.

"Aku dengar bunyi."

"Ranting."

Nira melihat tanah di sekitar kami. Tidak ada ranting. Hanya batu dan lumpur. Ia menatapku, tetapi tidak bertanya lagi.

Aku kembali berjalan. Bunyi langkah sepatu kiri berubah. Tok pada kaki kanan, lalu tek pada kaki kiri. Tok, tek, tok, tek. Setiap bunyi mengingatkanku pada retakan kecil yang mungkin akan membesar.

Di belakangku, Nira mulai menyanyikan lagu alfabet agar perjalanan tidak terasa panjang. Aku ikut menyebut huruf-hurufnya, meski pikiranku tertinggal pada suara krek tadi. Kami baru berjalan kurang dari satu kilometer. Tahun ajaran masih sangat panjang.

Episodes
1 KOTAK DI BAWAH MEJA GURU
2 PAGI YANG SELALU GELAP
3 SEPATU DARI PASAR LOAK
4 TUJUH KILOMETER MENUJU HURUF
5 BATU PERTAMA YANG LICIN
6 JANJI DI BAWAH POHON NANGKA
7 KELAS DENGAN LANTAI RETAK
8 TAWA DI DEPAN KANTIN
9 BENANG KARUNG
10 ADIK YANG BERJALAN DUA LANGKAH
11 TERLAMBAT SEKOLAH
12 GURU YANG MENAPAKI JALAN KAMI
13 SURAT TENTANG JALAN
14 ANGGARAN YANG SELALU HABIS
15 HUJAN DI DALAM SEPATU
16 KOTAK P3K BU SATYA
17 SATU BANTUAN UNTUK DUA ANAK
18 MUSIM YANG AKAN PANJANG
19 JALAN YANG BERUBAH MENJADI SUNGAI
20 FOTO JALAN BERLUMPUR
21 TANAH MENUTUP JEJAK
22 PUNGGUNG AYAH
23 ARUS YANG MENARIK TALI
24 TABUNGAN DALAM KALENG SUSU
25 UANG YANG DIPAKAI UNTUK OBAT
26 MALAM DI PUSKESMAS
27 PEKERJAAN DI BALIK BUKIT
28 BAHU YANG TIDAK BOLEH SAKIT
29 LAMPU KECIL DI MALAM PANJANG
30 HARI KETIKA NIRA TIDAK BANGUN
31 BERLARI PULANG
32 LANGKAH PERTAMA SETELAH DEMAM
33 ADIK DI PUNGGUNGKU
34 BUKU DARI JALU
35 UANG YANG DIKEMBALIKAN
36 KOTAK TANPA NAMA
37 UJIAN YANG DATANG TERLALU CEPAT
38 TELAPAK DARI BAN TRUK
39 BUKU YANG BASAH
40 JEMBATAN BAMBU HANYUT
41 MENCARI PERAHU
42 ARUS MEMBAWA KAMI
43 AYAH DI BAWAH POHON AREN
44 HARI MINGGU DI TEMPAT BATU
45 PILIHAN DI DEPAN AYAH
46 CERITA TENTANG JALAN
47 HADIAH SERATUS RIBU
48 SEPATU UNTUK AYAH
49 HARI YANG TERLALU CERAH
50 BATU YANG RUNTUH
51 MENUNGGU DI BAWAH HUJAN
52 MALAM TANPA AYAH
53 TANGAN YANG DITEMUKAN
54 PEMAKAMAN DI TANAH BASAH
55 RUMAH TANPA PENGHASILAN
56 KEMBALI KE TEMPAT YANG MERENGGUT AYAH
57 PERDEBATAN DI DEPAN IBU
58 DANA DUKA DARI SEKOLAH
59 BATU DI DALAM SAKU
60 LAPORAN TENTANG KEMATIAN AYAH
61 JEJAK YANG DIHAPUS HUJAN
62 KESAKSIAN IBU
63 AYAH YANG DIANGGAP TIDAK BEKERJA
64 BUKU UPAH
65 NAIK KELAS DENGAN SYARAT
66 LIBUR YANG BUKAN LIBUR
67 KEPULANGAN MBAH WREDA
68 BELAJAR MENJAHIT SEPATU
69 BENGKEL KECIL DI TERAS
70 KELAS ENAM
71 NIRA TERLAMBAT PULANG
72 SUARA DI BALIK GUDANG
73 RAPAT JEMBATAN KEDUA
74 TANDA TANGAN PAK BRAMANTYA
75 JEMBATAN YANG DIBANGUN BERSAMA
76 TALI MERAH MBAH WREDA
77 LANGKAH PERTAMA DI ATAS JEMBATAN
78 NAMA AYAH DIBERSIHKAN
79 UANG SANTUNAN
80 PERTUKARAN SEPATU
81 HADIAH TERAKHIR MBAH WREDA
82 MBAH WREDA PERGI
Episodes

Updated 82 Episodes

1
KOTAK DI BAWAH MEJA GURU
2
PAGI YANG SELALU GELAP
3
SEPATU DARI PASAR LOAK
4
TUJUH KILOMETER MENUJU HURUF
5
BATU PERTAMA YANG LICIN
6
JANJI DI BAWAH POHON NANGKA
7
KELAS DENGAN LANTAI RETAK
8
TAWA DI DEPAN KANTIN
9
BENANG KARUNG
10
ADIK YANG BERJALAN DUA LANGKAH
11
TERLAMBAT SEKOLAH
12
GURU YANG MENAPAKI JALAN KAMI
13
SURAT TENTANG JALAN
14
ANGGARAN YANG SELALU HABIS
15
HUJAN DI DALAM SEPATU
16
KOTAK P3K BU SATYA
17
SATU BANTUAN UNTUK DUA ANAK
18
MUSIM YANG AKAN PANJANG
19
JALAN YANG BERUBAH MENJADI SUNGAI
20
FOTO JALAN BERLUMPUR
21
TANAH MENUTUP JEJAK
22
PUNGGUNG AYAH
23
ARUS YANG MENARIK TALI
24
TABUNGAN DALAM KALENG SUSU
25
UANG YANG DIPAKAI UNTUK OBAT
26
MALAM DI PUSKESMAS
27
PEKERJAAN DI BALIK BUKIT
28
BAHU YANG TIDAK BOLEH SAKIT
29
LAMPU KECIL DI MALAM PANJANG
30
HARI KETIKA NIRA TIDAK BANGUN
31
BERLARI PULANG
32
LANGKAH PERTAMA SETELAH DEMAM
33
ADIK DI PUNGGUNGKU
34
BUKU DARI JALU
35
UANG YANG DIKEMBALIKAN
36
KOTAK TANPA NAMA
37
UJIAN YANG DATANG TERLALU CEPAT
38
TELAPAK DARI BAN TRUK
39
BUKU YANG BASAH
40
JEMBATAN BAMBU HANYUT
41
MENCARI PERAHU
42
ARUS MEMBAWA KAMI
43
AYAH DI BAWAH POHON AREN
44
HARI MINGGU DI TEMPAT BATU
45
PILIHAN DI DEPAN AYAH
46
CERITA TENTANG JALAN
47
HADIAH SERATUS RIBU
48
SEPATU UNTUK AYAH
49
HARI YANG TERLALU CERAH
50
BATU YANG RUNTUH
51
MENUNGGU DI BAWAH HUJAN
52
MALAM TANPA AYAH
53
TANGAN YANG DITEMUKAN
54
PEMAKAMAN DI TANAH BASAH
55
RUMAH TANPA PENGHASILAN
56
KEMBALI KE TEMPAT YANG MERENGGUT AYAH
57
PERDEBATAN DI DEPAN IBU
58
DANA DUKA DARI SEKOLAH
59
BATU DI DALAM SAKU
60
LAPORAN TENTANG KEMATIAN AYAH
61
JEJAK YANG DIHAPUS HUJAN
62
KESAKSIAN IBU
63
AYAH YANG DIANGGAP TIDAK BEKERJA
64
BUKU UPAH
65
NAIK KELAS DENGAN SYARAT
66
LIBUR YANG BUKAN LIBUR
67
KEPULANGAN MBAH WREDA
68
BELAJAR MENJAHIT SEPATU
69
BENGKEL KECIL DI TERAS
70
KELAS ENAM
71
NIRA TERLAMBAT PULANG
72
SUARA DI BALIK GUDANG
73
RAPAT JEMBATAN KEDUA
74
TANDA TANGAN PAK BRAMANTYA
75
JEMBATAN YANG DIBANGUN BERSAMA
76
TALI MERAH MBAH WREDA
77
LANGKAH PERTAMA DI ATAS JEMBATAN
78
NAMA AYAH DIBERSIHKAN
79
UANG SANTUNAN
80
PERTUKARAN SEPATU
81
HADIAH TERAKHIR MBAH WREDA
82
MBAH WREDA PERGI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!