Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

KOTAK DI BAWAH MEJA GURU

Aku kembali ke SD Negeri Wanasetra pada suatu pagi yang cerah, hampir dua puluh empat tahun setelah terakhir kali duduk sebagai murid di sana. Jalan menuju sekolah sudah berubah. Dulu, kami harus melewati tanah merah yang licin dan batu-batu tajam. Kini, mobil dapat berhenti tepat di depan gerbang. Ada pagar besi, taman kecil, dan papan nama baru yang hurufnya berkilau ketika terkena matahari.

Aku berdiri beberapa saat di depan gerbang. Anak-anak berlari melewatiku dengan sepatu bersih dan tas berwarna-warni. Beberapa diantar oleh orang tua menggunakan sepeda motor. Seorang anak mengeluh karena ujung sepatunya terkena debu. Ibunya segera mengusapnya dengan saputangan. Pemandangan kecil itu membuatku tersenyum, tetapi juga meninggalkan rasa berat yang sulit dijelaskan.

"Kak Langga!"

Suara Nira terdengar dari teras kelas. Ia melambaikan tangan sambil berjalan cepat ke arahku. Rambutnya kini dipotong sebahu. Kacamata tipis bertengger di hidungnya. Sulit bagiku menyatukan sosok guru yang berdiri di depan murid-murid itu dengan anak kecil yang dulu selalu berjalan dua langkah di belakangku.

"Kau terlambat," katanya.

"Jalannya terlalu bagus. Aku sampai tidak mengenalinya."

Nira tertawa kecil. "Dulu kita berdoa supaya jalan ini dibangun. Sekarang Kakak malah menyalahkannya."

Hari itu sekolah mengadakan pameran kecil tentang sejarah Dusun Wanasetra dan perjuangan anak-anak mendapatkan pendidikan. Nira, yang telah mengajar di sana selama enam tahun, memintaku datang sebagai salah satu narasumber. Aku sebenarnya tidak suka berdiri di depan banyak orang. Namun, ia mengatakan murid-murid perlu mendengar kisah lama langsung dari seseorang yang mengalaminya.

Sebelum acara dimulai, Nira mengajakku masuk ke ruang kelas lama kami. Dindingnya telah dicat warna krem. Jendelanya lebih lebar dan lantainya sudah memakai keramik. Hanya papan tulis kayu di sudut ruangan yang masih tampak sama. Pada permukaannya terdapat goresan kapur yang tidak pernah benar-benar hilang.

"Meja guru ini mau diganti," kata Nira. "Kemarin aku membantu Pak Wiraga memindahkan barang. Lalu kami menemukan sesuatu."

Ia berjongkok di samping meja guru yang tua. Dari bawahnya, Nira menarik sebuah kotak kardus. Warnanya telah berubah menjadi cokelat pucat. Beberapa bagian sudutnya dimakan lembap. Pada tutupnya masih terlihat tulisan yang dibuat dengan spidol hitam, meski sebagian huruf sudah luntur.

LANGGA DAN NIRA.

Aku tidak langsung menyentuhnya.

Tulisan itu membawa kembali suara yang lama tidak kudengar: bunyi hujan di atas atap seng, suara Ibu meniup lampu minyak, dan napas Nira ketika berusaha mengimbangi langkahku. Aku mengira semua benda dari masa itu sudah hilang. Rumah lama kami telah diperbaiki. Banyak pakaian dibuang. Buku-buku sekolah rusak dimakan rayap. Namun, kotak ini ternyata bertahan di bawah meja guru, seolah menunggu kami pulang.

"Buka," kata Nira pelan.

Aku duduk di kursi murid. Tanganku terasa kaku saat mengangkat tutup kardus. Bau kertas tua dan tanah kering keluar dari dalamnya. Di atas beberapa buku tulis yang menguning, terbaring sepasang sepatu kecil.

Sepatu itu tidak lagi memiliki warna yang jelas. Kulitnya mengelupas. Bagian depan penuh retakan. Telapaknya ditambal potongan ban hitam dan dijahit dengan benang kasar. Tali sepatu kanan berwarna putih kusam, sedangkan tali kiri berwarna merah pudar. Salah satu sisinya masih memiliki noda lumpur yang mengeras seperti batu tipis.

Aku mengenal setiap luka pada sepatu itu. Ingatanku bahkan masih menyimpan beratnya ketika basah dan bunyi aneh yang muncul setiap kali telapaknya mulai terlepas. Dahulu aku sering malu membawanya ke sekolah. Kini, di ruang kelas yang sepi itu, aku justru takut benda itu hancur sebelum sempat menceritakan apa pun.

Jahitan miring di dekat tumit adalah jahitanku yang pertama. Tambalan bundar di bagian telapak dibuat Ayah pada malam sebelum ujian. Tali merah berasal dari Mbah Wreda. Noda kecil berwarna kecokelatan di sisi dalam pernah kukira karat, sampai bertahun-tahun kemudian aku sadar itu adalah bekas darah dari kaki Nira.

"Masih kecil sekali," kataku.

"Kakak selalu bilang kakiku besar."

"Karena kau sering menginjak kakiku saat menyeberang sungai."

Nira tidak membalas. Dari aula terdengar beberapa murid memanggilnya Bu Nira. Ia menoleh sebentar, lalu tersenyum kepadaku. Dahulu ia paling takut berbicara dengan orang asing. Sekarang ia berdiri setiap hari di depan kelas, membimbing anak-anak membaca seperti Bu Satya pernah membimbingnya.

Ia duduk di kursi sebelahku dan menatap sepatu itu lama. Matanya tampak basah, tetapi ia tidak menangis. Kami berdua sudah terlalu sering menangisi masa lalu. Kini, kesedihan datang dengan cara lain: diam yang panjang, napas yang berat, atau tangan yang ragu menyentuh benda lama.

Aku mengangkat sepatu kiri. Kulitnya rapuh. Jika kutekan terlalu kuat, mungkin bagian depannya akan patah. Aneh sekali, pikirku. Benda sekecil ini pernah menanggung perjalanan ribuan kilometer. Ia melewati tujuh tikungan, tiga lereng, dua kebun, satu sungai, dan banyak hari ketika kami ingin menyerah.

Dari luar kelas terdengar suara bel. Murid-murid mulai berkumpul di aula. Mereka tertawa, saling memanggil, dan menyeret kursi tanpa rasa takut akan hujan atau sungai yang tiba-tiba naik. Aku menatap kaki mereka. Hampir semua memakai sepatu dengan ukuran yang tepat. Tidak ada yang mengganjal ujung sepatu dengan kain. Tidak ada yang mengikat telapak menggunakan kawat.

"Mereka tidak akan mengerti hanya dengan melihatnya," kataku.

"Itulah sebabnya Kakak harus bercerita."

Aku menggeleng. "Cerita kita terlalu panjang."

"Biarkan panjang. Mereka punya waktu."

Aku memandang jendela. Dari sana, jalan aspal tampak memanjang sampai ke arah Dusun Wanasetra. Jalan itu dulu hanya ada dalam ucapan Ayah. Ia selalu berkata suatu hari akan ada jalan yang bisa dilalui kendaraan. Kami mengangguk karena ingin mempercayainya, walau saat itu bahkan jembatan sederhana pun belum ada.

Nira mengambil sepatu kanan dan membersihkan debu di permukaannya dengan ujung lengan. Gerakannya hati-hati, seperti sedang menyentuh sesuatu yang hidup.

"Kak," katanya, "anak-anak sekarang sering mengira sekolah selalu sedekat ini. Mereka tidak tahu bahwa dulu ada anak yang harus bangun ketika langit masih gelap. Mereka juga tidak tahu ada orang-orang yang tidak sempat melihat jalan ini selesai."

Nama Ayah tidak disebut, tetapi aku mendengarnya di dalam kalimat itu.

Aku menutup mata sesaat. Bau tanah basah kembali memenuhi hidungku. Ruang kelas yang baru dicat menghilang. Aku melihat dinding bambu rumah kami, lampu minyak yang bergoyang, dan Nira kecil yang duduk sambil menguap. Aku melihat Ayah meletakkan dua pasang sepatu bekas di lantai. Aku mendengar Ibu berkata agar kami menjaga sepatu itu baik-baik karena tidak akan ada uang untuk membeli pengganti.

Ketika membuka mata, Nira masih menatapku.

Ia meletakkan sepatu lusuh itu di atas meja guru, lalu berbisik, "Kak, ceritakan kepada mereka bagaimana sepatu ini membawa kita sampai ke sini."

Terpopuler

Comments

Protocetus

Protocetus

jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada

2026-08-07

0

lihat semua
Episodes
1 KOTAK DI BAWAH MEJA GURU
2 PAGI YANG SELALU GELAP
3 SEPATU DARI PASAR LOAK
4 TUJUH KILOMETER MENUJU HURUF
5 BATU PERTAMA YANG LICIN
6 JANJI DI BAWAH POHON NANGKA
7 KELAS DENGAN LANTAI RETAK
8 TAWA DI DEPAN KANTIN
9 BENANG KARUNG
10 ADIK YANG BERJALAN DUA LANGKAH
11 TERLAMBAT SEKOLAH
12 GURU YANG MENAPAKI JALAN KAMI
13 SURAT TENTANG JALAN
14 ANGGARAN YANG SELALU HABIS
15 HUJAN DI DALAM SEPATU
16 KOTAK P3K BU SATYA
17 SATU BANTUAN UNTUK DUA ANAK
18 MUSIM YANG AKAN PANJANG
19 JALAN YANG BERUBAH MENJADI SUNGAI
20 FOTO JALAN BERLUMPUR
21 TANAH MENUTUP JEJAK
22 PUNGGUNG AYAH
23 ARUS YANG MENARIK TALI
24 TABUNGAN DALAM KALENG SUSU
25 UANG YANG DIPAKAI UNTUK OBAT
26 MALAM DI PUSKESMAS
27 PEKERJAAN DI BALIK BUKIT
28 BAHU YANG TIDAK BOLEH SAKIT
29 LAMPU KECIL DI MALAM PANJANG
30 HARI KETIKA NIRA TIDAK BANGUN
31 BERLARI PULANG
32 LANGKAH PERTAMA SETELAH DEMAM
33 ADIK DI PUNGGUNGKU
34 BUKU DARI JALU
35 UANG YANG DIKEMBALIKAN
36 KOTAK TANPA NAMA
37 UJIAN YANG DATANG TERLALU CEPAT
38 TELAPAK DARI BAN TRUK
39 BUKU YANG BASAH
40 JEMBATAN BAMBU HANYUT
41 MENCARI PERAHU
42 ARUS MEMBAWA KAMI
43 AYAH DI BAWAH POHON AREN
44 HARI MINGGU DI TEMPAT BATU
45 PILIHAN DI DEPAN AYAH
46 CERITA TENTANG JALAN
47 HADIAH SERATUS RIBU
48 SEPATU UNTUK AYAH
49 HARI YANG TERLALU CERAH
50 BATU YANG RUNTUH
51 MENUNGGU DI BAWAH HUJAN
52 MALAM TANPA AYAH
53 TANGAN YANG DITEMUKAN
54 PEMAKAMAN DI TANAH BASAH
55 RUMAH TANPA PENGHASILAN
56 KEMBALI KE TEMPAT YANG MERENGGUT AYAH
57 PERDEBATAN DI DEPAN IBU
58 DANA DUKA DARI SEKOLAH
59 BATU DI DALAM SAKU
60 LAPORAN TENTANG KEMATIAN AYAH
61 JEJAK YANG DIHAPUS HUJAN
62 KESAKSIAN IBU
63 AYAH YANG DIANGGAP TIDAK BEKERJA
64 BUKU UPAH
65 NAIK KELAS DENGAN SYARAT
66 LIBUR YANG BUKAN LIBUR
67 KEPULANGAN MBAH WREDA
68 BELAJAR MENJAHIT SEPATU
69 BENGKEL KECIL DI TERAS
70 KELAS ENAM
71 NIRA TERLAMBAT PULANG
72 SUARA DI BALIK GUDANG
73 RAPAT JEMBATAN KEDUA
74 TANDA TANGAN PAK BRAMANTYA
75 JEMBATAN YANG DIBANGUN BERSAMA
76 TALI MERAH MBAH WREDA
77 LANGKAH PERTAMA DI ATAS JEMBATAN
78 NAMA AYAH DIBERSIHKAN
79 UANG SANTUNAN
80 PERTUKARAN SEPATU
81 HADIAH TERAKHIR MBAH WREDA
82 MBAH WREDA PERGI
Episodes

Updated 82 Episodes

1
KOTAK DI BAWAH MEJA GURU
2
PAGI YANG SELALU GELAP
3
SEPATU DARI PASAR LOAK
4
TUJUH KILOMETER MENUJU HURUF
5
BATU PERTAMA YANG LICIN
6
JANJI DI BAWAH POHON NANGKA
7
KELAS DENGAN LANTAI RETAK
8
TAWA DI DEPAN KANTIN
9
BENANG KARUNG
10
ADIK YANG BERJALAN DUA LANGKAH
11
TERLAMBAT SEKOLAH
12
GURU YANG MENAPAKI JALAN KAMI
13
SURAT TENTANG JALAN
14
ANGGARAN YANG SELALU HABIS
15
HUJAN DI DALAM SEPATU
16
KOTAK P3K BU SATYA
17
SATU BANTUAN UNTUK DUA ANAK
18
MUSIM YANG AKAN PANJANG
19
JALAN YANG BERUBAH MENJADI SUNGAI
20
FOTO JALAN BERLUMPUR
21
TANAH MENUTUP JEJAK
22
PUNGGUNG AYAH
23
ARUS YANG MENARIK TALI
24
TABUNGAN DALAM KALENG SUSU
25
UANG YANG DIPAKAI UNTUK OBAT
26
MALAM DI PUSKESMAS
27
PEKERJAAN DI BALIK BUKIT
28
BAHU YANG TIDAK BOLEH SAKIT
29
LAMPU KECIL DI MALAM PANJANG
30
HARI KETIKA NIRA TIDAK BANGUN
31
BERLARI PULANG
32
LANGKAH PERTAMA SETELAH DEMAM
33
ADIK DI PUNGGUNGKU
34
BUKU DARI JALU
35
UANG YANG DIKEMBALIKAN
36
KOTAK TANPA NAMA
37
UJIAN YANG DATANG TERLALU CEPAT
38
TELAPAK DARI BAN TRUK
39
BUKU YANG BASAH
40
JEMBATAN BAMBU HANYUT
41
MENCARI PERAHU
42
ARUS MEMBAWA KAMI
43
AYAH DI BAWAH POHON AREN
44
HARI MINGGU DI TEMPAT BATU
45
PILIHAN DI DEPAN AYAH
46
CERITA TENTANG JALAN
47
HADIAH SERATUS RIBU
48
SEPATU UNTUK AYAH
49
HARI YANG TERLALU CERAH
50
BATU YANG RUNTUH
51
MENUNGGU DI BAWAH HUJAN
52
MALAM TANPA AYAH
53
TANGAN YANG DITEMUKAN
54
PEMAKAMAN DI TANAH BASAH
55
RUMAH TANPA PENGHASILAN
56
KEMBALI KE TEMPAT YANG MERENGGUT AYAH
57
PERDEBATAN DI DEPAN IBU
58
DANA DUKA DARI SEKOLAH
59
BATU DI DALAM SAKU
60
LAPORAN TENTANG KEMATIAN AYAH
61
JEJAK YANG DIHAPUS HUJAN
62
KESAKSIAN IBU
63
AYAH YANG DIANGGAP TIDAK BEKERJA
64
BUKU UPAH
65
NAIK KELAS DENGAN SYARAT
66
LIBUR YANG BUKAN LIBUR
67
KEPULANGAN MBAH WREDA
68
BELAJAR MENJAHIT SEPATU
69
BENGKEL KECIL DI TERAS
70
KELAS ENAM
71
NIRA TERLAMBAT PULANG
72
SUARA DI BALIK GUDANG
73
RAPAT JEMBATAN KEDUA
74
TANDA TANGAN PAK BRAMANTYA
75
JEMBATAN YANG DIBANGUN BERSAMA
76
TALI MERAH MBAH WREDA
77
LANGKAH PERTAMA DI ATAS JEMBATAN
78
NAMA AYAH DIBERSIHKAN
79
UANG SANTUNAN
80
PERTUKARAN SEPATU
81
HADIAH TERAKHIR MBAH WREDA
82
MBAH WREDA PERGI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!