TUJUH KILOMETER MENUJU HURUF

Perjalanan dari rumah menuju sekolah tidak pernah benar-benar sama. Jalan setapak bisa menjadi keras pada musim kemarau, lalu berubah menjadi lumpur dalam satu malam. Batu yang kemarin kokoh dapat hanyut ketika sungai naik. Ranting yang biasa kami jadikan pegangan bisa patah tanpa peringatan.

Namun, aku memiliki cara agar Nira tidak terlalu takut. Aku membagi perjalanan menjadi tujuh tikungan. Setiap tikungan memiliki nama yang kami buat sendiri.

Tikungan pertama adalah Tikungan Nangka karena ada pohon nangka besar di samping jalan. Tikungan kedua kami sebut Tikungan Burung, sebab sering terdengar suara burung kutilang dari kebun kopi. Tikungan ketiga adalah Tikungan Batu Tidur. Di sana ada batu panjang yang bentuknya seperti orang sedang berbaring.

"Sudah sampai mana?" tanya Nira.

"Baru Tikungan Nangka."

"Berarti masih enam."

"Jangan dihitung sisanya. Hitung yang sudah lewat."

Ia mengangguk seperti memahami pelajaran penting. Lalu, beberapa langkah kemudian, ia bertanya lagi, "Sekarang sudah berapa?"

"Masih satu."

"Tikungannya lama sekali."

Aku berjalan lebih cepat agar ia berhenti bertanya. Namun, sepatu kiriku terus mengeluarkan bunyi tek yang berbeda. Retakan pada telapak belum terlihat membesar, tetapi aku bisa merasakan udara dingin masuk dari bawah setiap kali menginjak tanah basah.

Di antara tikungan pertama dan kedua, kami melewati mata air kecil. Biasanya aku mengisi botol bekas kecap di sana. Airnya sangat dingin sampai gigi Nira gemeretak. Pagi itu kami hanya membasahi bibir karena takut terlambat. Bekal air harus cukup sampai perjalanan pulang.

Setelah Tikungan Burung, jalan menurun menuju kebun kopi milik Pak Bramantya. Lerengnya curam. Saat hujan, kami harus berjalan menyamping agar tidak tergelincir. Pagi itu tanah hanya lembap, tetapi daun-daun kering menutup batu licin di bawahnya.

Aku mengambil sebatang kayu sebagai tongkat. "Pegang tas-ku," kataku kepada Nira.

"Nanti Kakak jatuh."

"Kalau kau pegang, kita jatuh bersama."

"Itu bukan lebih baik."

Aku menahan senyum. Nira kecil, tetapi ia selalu menemukan jawaban. Akhirnya kami turun satu per satu. Aku lebih dahulu, lalu menunggu beberapa langkah di bawah. Nira mengikuti dengan lutut ditekuk. Sepatu kebesarannya membuat ia sulit mengendalikan kaki. Dua kali ia hampir duduk di tanah.

Di dasar lereng, kami berhenti untuk mengatur napas. Kabut menempel pada rambut dan seragam. Nira membuka tasnya, mungkin ingin mengambil bekal.

"Jangan," kataku.

"Aku cuma lihat."

"Kalau dilihat terus, nasinya tidak bertambah."

Ia menutup tas dengan wajah kecewa.

Kami melanjutkan perjalanan melewati kebun. Cahaya pagi mulai masuk di sela daun, tetapi dasar kebun tetap gelap dan basah. Bau kopi matang bercampur tanah membuatku merasa lapar. Di beberapa tempat, lintah kecil menempel pada daun. Aku menyuruh Nira berjalan di tengah jalur dan tidak menyentuh semak.

Pohon-pohon kopi berdiri rapat. Buah merah bergantung di antara daun. Sesekali terdengar suara orang bekerja, tetapi tubuh mereka tidak terlihat karena kabut. Dari kejauhan, seseorang memanggil nama Ayah. Aku menjawab bahwa kami sedang pergi sekolah.

"Rajin sekali," teriak suara itu.

Aku tidak tahu apakah ucapan itu pujian atau rasa kasihan. Pada masa itu, banyak anak di dusun berhenti sekolah setelah kelas tiga atau empat. Mereka membantu orang tua di kebun, menjaga adik, atau mencari rumput. Sekolah dianggap penting, tetapi makan hari itu lebih mendesak.

Ayah berbeda. Ia selalu berkata, "Tangan kalian boleh membantu bekerja, tetapi kepala kalian harus terus belajar." Aku belum benar-benar memahami maksudnya. Bagiku, belajar adalah menyalin tulisan dari papan dan menghafal perkalian. Aku belum tahu bahwa huruf dan angka dapat menjadi pintu keluar dari tempat yang tidak memiliki jalan.

Setelah kebun kopi, kami sampai di Tikungan Batu Tidur. Nira duduk di atas batu panjang itu tanpa meminta izin.

"Sebentar saja," katanya. "Kakiku berenang di dalam sepatu."

Aku berjongkok dan membuka tali sepatunya. Gumpalan kain di ujung telah bergeser. Aku menariknya keluar, merapikan, lalu memasukkannya kembali. Kaus kakinya mengerut di tumit. Kulit di pergelangan mulai merah.

"Sakit?"

"Sedikit."

"Kita bisa pulang."

Nira segera berdiri. "Tidak. Hari ini Bu Guru mau menyuruhku membaca."

Ia sangat suka membaca. Di rumah kami hanya memiliki tiga buku: satu buku cerita yang kehilangan sampul, satu buku pelajaran bekas, dan kitab doa milik Ibu. Nira membaca semuanya berulang kali. Bahkan tulisan pada bungkus sabun pun ia baca keras-keras.

Kami berjalan lagi. Tikungan keempat bernama Tikungan Bambu karena rumpun bambu menutup sebagian langit. Setelah itu, jalan bercabang. Jalur kiri menuju ladang jagung, sedangkan jalur kanan menurun ke sungai. Tidak ada papan penunjuk. Orang luar sering salah jalan, tetapi kakiku hafal setiap batu.

"Kak," kata Nira, "kenapa sekolahnya tidak dibangun dekat rumah kita?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Aku menoleh kepadanya. Wajahnya berkeringat meski udara dingin. Ujung rok seragamnya terkena lumpur. Sepatu cokelatnya sudah kehilangan kilap minyak kelapa yang tadi dibuat Ibu.

"Karena muridnya lebih banyak di dekat jalan kabupaten," jawabku.

"Kita juga murid."

"Iya."

"Kenapa jalan kabupaten tidak dipindah ke sini?"

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya anak kelas lima. Aku tidak memahami anggaran, peta, atau keputusan pemerintah. Aku hanya tahu rumah kami berada jauh dan sekolah tidak akan mendekat hanya karena Nira lelah.

"Setiap langkah membuatmu lebih pintar," kataku akhirnya.

"Kalau sekolahnya dekat, apa aku jadi kurang pintar?"

Aku terdiam. Jawabanku terdengar bodoh bahkan bagi diriku sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, pertanyaan Nira terus kuingat. Saat itu aku belum mengerti bahwa orang dewasa sering memuji anak yang berjalan jauh tanpa bertanya mengapa anak itu harus menghadapi bahaya. Kami disebut rajin, kuat, dan pantang menyerah. Namun, tidak seorang pun seharusnya membutuhkan keberanian hanya untuk sampai ke kelas.

Kami melewati Tikungan Bambu, Tikungan Akar, dan Tikungan Angin. Tinggal satu tikungan lagi sebelum sungai terlihat. Aku menyuruh Nira bernyanyi agar semangatnya kembali. Ia mulai menyebut huruf dari A sampai Z. Setiap huruf mengikuti satu langkah.

A untuk ayam.

B untuk buku.

C untuk cacing.

Ketika sampai huruf H, kami mencapai Tikungan Ketujuh. Kabut perlahan terbuka. Biasanya dari tempat itu kami dapat melihat batu-batu besar yang menjadi pijakan menyeberangi sungai.

Pagi itu suara air terdengar lebih keras.

Aku berhenti sebelum jalan menurun. Nira berdiri di belakangku dan memegang ujung tas-ku.

Di bawah kami, sungai berwarna cokelat mengalir cepat. Batu pertama masih terlihat, tetapi batu kedua hanya muncul separuh. Batu ketiga, yang menurut Ayah menjadi batas aman, sesekali tertutup air.

"Kak," bisik Nira, "airnya lebih tinggi daripada kemarin."

Aku tidak menjawab. Sekolah berada di seberang. Rumah berada jauh di belakang. Di antara keduanya, sungai bergerak seperti sedang memilih apakah akan mengizinkan kami lewat.

Episodes
1 KOTAK DI BAWAH MEJA GURU
2 PAGI YANG SELALU GELAP
3 SEPATU DARI PASAR LOAK
4 TUJUH KILOMETER MENUJU HURUF
5 BATU PERTAMA YANG LICIN
6 JANJI DI BAWAH POHON NANGKA
7 KELAS DENGAN LANTAI RETAK
8 TAWA DI DEPAN KANTIN
9 BENANG KARUNG
10 ADIK YANG BERJALAN DUA LANGKAH
11 TERLAMBAT SEKOLAH
12 GURU YANG MENAPAKI JALAN KAMI
13 SURAT TENTANG JALAN
14 ANGGARAN YANG SELALU HABIS
15 HUJAN DI DALAM SEPATU
16 KOTAK P3K BU SATYA
17 SATU BANTUAN UNTUK DUA ANAK
18 MUSIM YANG AKAN PANJANG
19 JALAN YANG BERUBAH MENJADI SUNGAI
20 FOTO JALAN BERLUMPUR
21 TANAH MENUTUP JEJAK
22 PUNGGUNG AYAH
23 ARUS YANG MENARIK TALI
24 TABUNGAN DALAM KALENG SUSU
25 UANG YANG DIPAKAI UNTUK OBAT
26 MALAM DI PUSKESMAS
27 PEKERJAAN DI BALIK BUKIT
28 BAHU YANG TIDAK BOLEH SAKIT
29 LAMPU KECIL DI MALAM PANJANG
30 HARI KETIKA NIRA TIDAK BANGUN
31 BERLARI PULANG
32 LANGKAH PERTAMA SETELAH DEMAM
33 ADIK DI PUNGGUNGKU
34 BUKU DARI JALU
35 UANG YANG DIKEMBALIKAN
36 KOTAK TANPA NAMA
37 UJIAN YANG DATANG TERLALU CEPAT
38 TELAPAK DARI BAN TRUK
39 BUKU YANG BASAH
40 JEMBATAN BAMBU HANYUT
41 MENCARI PERAHU
42 ARUS MEMBAWA KAMI
43 AYAH DI BAWAH POHON AREN
44 HARI MINGGU DI TEMPAT BATU
45 PILIHAN DI DEPAN AYAH
46 CERITA TENTANG JALAN
47 HADIAH SERATUS RIBU
48 SEPATU UNTUK AYAH
49 HARI YANG TERLALU CERAH
50 BATU YANG RUNTUH
51 MENUNGGU DI BAWAH HUJAN
52 MALAM TANPA AYAH
53 TANGAN YANG DITEMUKAN
54 PEMAKAMAN DI TANAH BASAH
55 RUMAH TANPA PENGHASILAN
56 KEMBALI KE TEMPAT YANG MERENGGUT AYAH
57 PERDEBATAN DI DEPAN IBU
58 DANA DUKA DARI SEKOLAH
59 BATU DI DALAM SAKU
60 LAPORAN TENTANG KEMATIAN AYAH
61 JEJAK YANG DIHAPUS HUJAN
62 KESAKSIAN IBU
63 AYAH YANG DIANGGAP TIDAK BEKERJA
64 BUKU UPAH
65 NAIK KELAS DENGAN SYARAT
66 LIBUR YANG BUKAN LIBUR
67 KEPULANGAN MBAH WREDA
68 BELAJAR MENJAHIT SEPATU
69 BENGKEL KECIL DI TERAS
70 KELAS ENAM
71 NIRA TERLAMBAT PULANG
72 SUARA DI BALIK GUDANG
73 RAPAT JEMBATAN KEDUA
74 TANDA TANGAN PAK BRAMANTYA
75 JEMBATAN YANG DIBANGUN BERSAMA
76 TALI MERAH MBAH WREDA
77 LANGKAH PERTAMA DI ATAS JEMBATAN
78 NAMA AYAH DIBERSIHKAN
79 UANG SANTUNAN
80 PERTUKARAN SEPATU
81 HADIAH TERAKHIR MBAH WREDA
82 MBAH WREDA PERGI
Episodes

Updated 82 Episodes

1
KOTAK DI BAWAH MEJA GURU
2
PAGI YANG SELALU GELAP
3
SEPATU DARI PASAR LOAK
4
TUJUH KILOMETER MENUJU HURUF
5
BATU PERTAMA YANG LICIN
6
JANJI DI BAWAH POHON NANGKA
7
KELAS DENGAN LANTAI RETAK
8
TAWA DI DEPAN KANTIN
9
BENANG KARUNG
10
ADIK YANG BERJALAN DUA LANGKAH
11
TERLAMBAT SEKOLAH
12
GURU YANG MENAPAKI JALAN KAMI
13
SURAT TENTANG JALAN
14
ANGGARAN YANG SELALU HABIS
15
HUJAN DI DALAM SEPATU
16
KOTAK P3K BU SATYA
17
SATU BANTUAN UNTUK DUA ANAK
18
MUSIM YANG AKAN PANJANG
19
JALAN YANG BERUBAH MENJADI SUNGAI
20
FOTO JALAN BERLUMPUR
21
TANAH MENUTUP JEJAK
22
PUNGGUNG AYAH
23
ARUS YANG MENARIK TALI
24
TABUNGAN DALAM KALENG SUSU
25
UANG YANG DIPAKAI UNTUK OBAT
26
MALAM DI PUSKESMAS
27
PEKERJAAN DI BALIK BUKIT
28
BAHU YANG TIDAK BOLEH SAKIT
29
LAMPU KECIL DI MALAM PANJANG
30
HARI KETIKA NIRA TIDAK BANGUN
31
BERLARI PULANG
32
LANGKAH PERTAMA SETELAH DEMAM
33
ADIK DI PUNGGUNGKU
34
BUKU DARI JALU
35
UANG YANG DIKEMBALIKAN
36
KOTAK TANPA NAMA
37
UJIAN YANG DATANG TERLALU CEPAT
38
TELAPAK DARI BAN TRUK
39
BUKU YANG BASAH
40
JEMBATAN BAMBU HANYUT
41
MENCARI PERAHU
42
ARUS MEMBAWA KAMI
43
AYAH DI BAWAH POHON AREN
44
HARI MINGGU DI TEMPAT BATU
45
PILIHAN DI DEPAN AYAH
46
CERITA TENTANG JALAN
47
HADIAH SERATUS RIBU
48
SEPATU UNTUK AYAH
49
HARI YANG TERLALU CERAH
50
BATU YANG RUNTUH
51
MENUNGGU DI BAWAH HUJAN
52
MALAM TANPA AYAH
53
TANGAN YANG DITEMUKAN
54
PEMAKAMAN DI TANAH BASAH
55
RUMAH TANPA PENGHASILAN
56
KEMBALI KE TEMPAT YANG MERENGGUT AYAH
57
PERDEBATAN DI DEPAN IBU
58
DANA DUKA DARI SEKOLAH
59
BATU DI DALAM SAKU
60
LAPORAN TENTANG KEMATIAN AYAH
61
JEJAK YANG DIHAPUS HUJAN
62
KESAKSIAN IBU
63
AYAH YANG DIANGGAP TIDAK BEKERJA
64
BUKU UPAH
65
NAIK KELAS DENGAN SYARAT
66
LIBUR YANG BUKAN LIBUR
67
KEPULANGAN MBAH WREDA
68
BELAJAR MENJAHIT SEPATU
69
BENGKEL KECIL DI TERAS
70
KELAS ENAM
71
NIRA TERLAMBAT PULANG
72
SUARA DI BALIK GUDANG
73
RAPAT JEMBATAN KEDUA
74
TANDA TANGAN PAK BRAMANTYA
75
JEMBATAN YANG DIBANGUN BERSAMA
76
TALI MERAH MBAH WREDA
77
LANGKAH PERTAMA DI ATAS JEMBATAN
78
NAMA AYAH DIBERSIHKAN
79
UANG SANTUNAN
80
PERTUKARAN SEPATU
81
HADIAH TERAKHIR MBAH WREDA
82
MBAH WREDA PERGI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!