Perubahan Nandikara

"Dia hanya bertanya tentang keadaanku, Bu."

Ucapan Elisa membuat Suri dan Nyonya Winter saling berpandangan. Keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa saat.

"Kau baik-baik saja, kan, Kara?" tanya Nyonya Winter dengan suara yang jauh lebih lembut. Tatapan perempuan itu dipenuhi rasa heran. Putrinya benar-benar bersikap di luar kebiasaan.

Biasanya, begitu melihat wajah Suri, Nandikara pasti langsung meledak, melontarkan kata-kata tajam, bahkan berusaha mengusir gadis itu dari hadapannya.

Elisa terlihat mulai merasa gugup ketika menyadari kedua perempuan itu terus menatapnya dengan ekspresi aneh.

Apa aku salah bicara?

"Aku baik-baik saja, Bu. Bisakah aku beristirahat sekarang? Badanku masih terasa lemas." Elisa sengaja mencari alasan agar Nyonya Winter segera meninggalkan kamarnya. Semakin lama mereka berada di sana, semakin besar kemungkinan penyamarannya terbongkar.

"Baiklah. Ibu akan membiarkanmu beristirahat." Nyonya Winter mengangguk pelan, lalu menoleh tajam ke arah Suri."Dan kau, cepat keluar dari kamar ini." Nada bicaranya begitu dingin hingga membuat suasana kembali menegang. Sangat jelas terlihat bahwa Nyonya Winter tidak menyukai Suri.

Mendengar ucapan tersebut, Elisa tiba-tiba teringat jalan cerita novel yang pernah dibacanya.

Benar juga. Suri memiliki ibu dan adik tiri yang selalu memperlakukannya dengan buruk. Berarti adik tiri yang dimaksud adalah Nandikara, sedangkan ibu tirinya adalah Nyonya Winter.

"Biarkan Suri tetap di sini, Bu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya."

Permintaan itu membuat Nyonya Winter kembali mengernyit."Berbicara dengan Suri? Kau yakin, Kara?"

Elisa hanya mengangguk pelan.

"Baiklah kalau begitu." Meski masih dipenuhi tanda tanya, Nyonya Winter akhirnya melangkah keluar. Namun, sebelum pintu benar-benar tertutup, ia sempat menoleh ke arah Suri."Suri, jangan macam-macam." Setelah mengucapkan peringatan itu, barulah ia pergi.

Pintu kamar tertutup rapat. Suri mengembuskan napas panjang sambil memasang wajah datar."Memangnya aku ini monster?"

Elisa diam-diam memperhatikan gadis berwajah jutek di depannya. Kalau benar dia adalah Suri Winter, maka langkah pertama yang harus ia lakukan agar bisa bertahan hidup di dunia novel ini adalah menjadikan Suri sebagai sahabatnya.

Kalau Suri berpihak padanya, besar kemungkinan Agnes juga akan menerimanya. Dan jika Agnes sudah menjadi temannya, Putra Mahkota Erlan tentu tidak akan mencelakainya. Bagaimanapun juga, Agnes adalah gadis yang sangat dicintai sang putra mahkota.

Membayangkan rencana indah itu membuat sudut bibir Elisa terangkat membentuk senyum tipis.

"Kau kenapa?" Suri semakin dibuat bingung oleh tingkah adik tirinya.

Pertama, Nandikara sama sekali tidak mengamuk saat melihatnya, padahal kecelakaan beberapa hari lalu terjadi karena ia tidak sengaja mendorong Nandikara hingga gadis itu terjatuh dan tak sadarkan diri.

Karena rasa bersalah itulah Suri diam-diam datang ke kamar ini untuk meminta maaf. Ia bahkan sudah siap dilempari vas bunga atau diusir dengan makian, seperti biasanya. Namun, tidak satu pun dari semua itu terjadi. Yang lebih aneh lagi, Nandikara tampak begitu normal.

Biasanya gadis itu selalu berdandan mencolok dengan riasan tebal dan perhiasan berlebihan, lalu mengomel tanpa henti seperti nenek sihir dalam cerita dongeng. Hari ini semuanya berbeda.

Sangat berbeda.

Elisa tersenyum cerah."Aku tidak apa-apa, Suri. Dan apa pun yang pernah terjadi, aku sudah memaafkanmu. Jadi santai saja. Aku tidak akan marah."

Suri menatapnya seolah sedang melihat orang asing."Apa kepalamu terbentur lebih keras dari yang kukira? Kenapa tiba-tiba kau bersikap semanis ini?"

Elisa terkekeh pelan."Dunia ini terlalu indah untuk dikotori oleh kebencian. Bukankah akan lebih baik kalau kita saling bersikap baik? Apa pun yang terjadi di masa lalu, mari kita lupakan. Mulai hari ini kita akan menjadi sahabat yang tidak terpisahkan."

Keheningan kembali memenuhi kamar.

Suri hanya bisa menatap Nandikara tanpa berkedip. Kini ia benar-benar yakin. Kepala adik tirinya itu pasti terbentur sesuatu saat jatuh. Kalau tidak, mana mungkin Nandikara mengucapkan kata-kata seaneh itu?

***

"Cani, nanti temui koki yang memasak hari ini. Katakan padanya kalau aku sangat puas dengan hidangan yang dia sajikan," ujar Elisa dengan senyum puas yang sejak tadi tak lepas dari wajahnya.

Makan malam itu benar-benar melampaui ekspektasinya.

Sepotong daging sapi panggang yang empuk disiram saus tomat bercita rasa manis dan pedas, disajikan bersama aneka sayuran segar serta roti hangat. Setiap suapan terasa begitu sempurna hingga membuat Elisa nyaris lupa menjaga citra anggunnya sebagai seorang putri bangsawan.

Di kehidupan lamanya, hidangan semewah ini hanyalah kemewahan yang sesekali bisa ia nikmati. Dengan gajinya yang pas-pasan, ia harus menabung berbulan-bulan hanya untuk mencicipi steak di restoran. Namun kini, makanan seperti ini justru menjadi santapan sehari-hari.

Jadi beginilah rasanya hidup sebagai orang kaya, batin Elisa. Senyum di bibirnya semakin lebar.

"Baik, Nona," jawab Cani dengan wajah yang tak kalah sumringah.

Melihat perubahan sang majikan membuat hati pelayan muda itu dipenuhi rasa syukur. Beberapa hari terakhir, Lady Nandikara seolah menjadi orang yang berbeda. Tidak ada lagi bentakan, makian, ataupun amarah yang membuat para pelayan gemetar ketakutan. Sebaliknya, sang nona kini kerap mengucapkan terima kasih, bahkan tak segan memberikan pujian atas pekerjaan mereka.

Tak heran jika menurut Cani, kecantikan majikannya kini semakin terpancar. Wajah yang dahulu hampir selalu dipenuhi kekesalan kini terlihat jauh lebih lembut karena jarang dihiasi amarah.

"Apa jadwalku setelah ini, Cani?" tanya Elisa sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet.

Selama beberapa hari berada di tubuh Nandikara, Elisa perlahan mulai membaur dengan keluarga Winter. Semuanya berjalan lebih lancar daripada yang ia bayangkan. Bahkan hubungannya dengan Suri pun mulai membaik.

Langkah pertamanya cukup berhasil. Yang harus dia lakukan sekarang hanyalah bersikap manis, makan enak, tidur nyenyak, dan menjalani kehidupan seorang bangsawan. Hidup seperti itu benar-benar terasa sempurna.

"Tidak ada, Nona. Setelah makan malam, Anda bisa langsung beristirahat agar tubuh Anda tetap bugar untuk kegiatan besok. Bukankah anda dan nona Suri akan pergi ke pusat kota."

Elisa mengangguk pelan."Sungguh kehidupan yang sempurna," gumamnya sambil tersenyum puas. Ia lalu berdiri dari kursinya. "Baiklah, aku sudah selesai. Terima kasih sudah menemaniku makan malam, Cani. Sekarang aku ingin menikmati pelukan kasur empukku. Kau juga boleh kembali ke kamarmu dan beristirahat."

"Baik, Nona." Cani menundukkan kepala dengan hormat sebelum melangkah keluar dari ruang makan.

Di sepanjang perjalanan menuju kamar para pelayan, senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya. Ia benar-benar menyukai perubahan Lady Nandikara. Memang sempat beredar desas-desus bahwa sang nona berubah drastis setelah kepalanya terbentur saat mengalami kecelakaan. Namun bagi Cani, apa pun penyebabnya sama sekali tidak penting.

Selama Lady Nandikara tetap menjadi sosok yang baik seperti sekarang, itu sudah lebih dari cukup baginya.

Episodes
1 Tiba-tiba Jadi Bangsawan
2 Perubahan Nandikara
3 Keluarga Duke Timur
4 Memori Nandikara
5 Misi Bertahan Hidup
6 Meluruskan kesalahpahaman
7 Membayar Ganti Rugi
8 Rasa Penasaran Leon
9 Seutas Pita Kain
10 Pameran Seni
11 Undangan Dari Raja
12 Menuju Istana
13 Permintaan Maaf Leon
14 Hal Tak Terduga
15 Pencuri Bunga
16 Alur Yang Berubah
17 Hari Berburu
18 Tatapan Sang Putra Mahkota
19 Mencari Rusa Bertanduk Emas
20 Kemenangan Pangeran Erlan
21 Lamaran Yang Menggemparkan
22 Keputusan Yang Berbahaya
23 Pertemuan Rahasia
24 Seolah Menghadapi Raja Singa
25 Sepuluh Menit Untuk Marah
26 Pilihan Nandikara
27 Candu Yang Menakutkan
28 Tentang Rumor
29 Rencana Lady Anastasia
30 Diculik
31 Di Tengah Padang Ilalang
32 Secuil Masa Lalu
33 Persiapan Pesta Raja
34 Surat Tanpa Nama
35 Tuduhan Yang Mengguncang Pesta
36 Jebakan Di Rumah Kaca
37 Keputusan Sepihak Pangeran Erlan
38 Kesadaran Yang Terlambat
39 Alur Yang Semakin Kacau
40 Ego Yang Terluka
41 Kompromi
42 Perjalanan Ke Timur
43 Obsesi Erlan
44 Pria berwajah jutek
45 Kembali Ke Ibu Kota
46 Akhirnya Pulang
47 Nandikara Winter
48 Peringatan Nandikara
49 Janji Erlan
50 Rencana Pangeran Erlan
51 Perdebatan
52 Perlawanan Elisa
53 Perintah Rahasia
54 Memulai Penyelidikan
55 Mata-mata Elisa
56 Berkuda
57 Kedatangan Keluarga Winter
58 Tangisan Elisa
59 Kecurigaan Erlan
60 Ekor Kecil Sang Pangeran
61 Barang Bukti
62 Buku Harian Suri
63 Pengakuan Suri
64 Tempat Bersandar
65 Permintaan Suri
66 Keputusan Akhir Elisa
67 Putri Mahkota Nandikara
68 Novel Baru: Melarikan Diri Dari Raja
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Tiba-tiba Jadi Bangsawan
2
Perubahan Nandikara
3
Keluarga Duke Timur
4
Memori Nandikara
5
Misi Bertahan Hidup
6
Meluruskan kesalahpahaman
7
Membayar Ganti Rugi
8
Rasa Penasaran Leon
9
Seutas Pita Kain
10
Pameran Seni
11
Undangan Dari Raja
12
Menuju Istana
13
Permintaan Maaf Leon
14
Hal Tak Terduga
15
Pencuri Bunga
16
Alur Yang Berubah
17
Hari Berburu
18
Tatapan Sang Putra Mahkota
19
Mencari Rusa Bertanduk Emas
20
Kemenangan Pangeran Erlan
21
Lamaran Yang Menggemparkan
22
Keputusan Yang Berbahaya
23
Pertemuan Rahasia
24
Seolah Menghadapi Raja Singa
25
Sepuluh Menit Untuk Marah
26
Pilihan Nandikara
27
Candu Yang Menakutkan
28
Tentang Rumor
29
Rencana Lady Anastasia
30
Diculik
31
Di Tengah Padang Ilalang
32
Secuil Masa Lalu
33
Persiapan Pesta Raja
34
Surat Tanpa Nama
35
Tuduhan Yang Mengguncang Pesta
36
Jebakan Di Rumah Kaca
37
Keputusan Sepihak Pangeran Erlan
38
Kesadaran Yang Terlambat
39
Alur Yang Semakin Kacau
40
Ego Yang Terluka
41
Kompromi
42
Perjalanan Ke Timur
43
Obsesi Erlan
44
Pria berwajah jutek
45
Kembali Ke Ibu Kota
46
Akhirnya Pulang
47
Nandikara Winter
48
Peringatan Nandikara
49
Janji Erlan
50
Rencana Pangeran Erlan
51
Perdebatan
52
Perlawanan Elisa
53
Perintah Rahasia
54
Memulai Penyelidikan
55
Mata-mata Elisa
56
Berkuda
57
Kedatangan Keluarga Winter
58
Tangisan Elisa
59
Kecurigaan Erlan
60
Ekor Kecil Sang Pangeran
61
Barang Bukti
62
Buku Harian Suri
63
Pengakuan Suri
64
Tempat Bersandar
65
Permintaan Suri
66
Keputusan Akhir Elisa
67
Putri Mahkota Nandikara
68
Novel Baru: Melarikan Diri Dari Raja

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!