Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Tiba-tiba Jadi Bangsawan

"Meski baru saja pulih dari sakit, kecantikan Anda sama sekali tidak memudar, Nona."

Pujian yang meluncur dari bibir pelayan yang tengah menyisir rambut panjang majikannya itu rupanya tidak mampu mencairkan ekspresi dingin di wajah sang nona.

"Wajahku masih pucat, Cani. Mana mungkin terlihat cantik? Jangan mengada-ada."

Pelayan bernama Cani itu langsung menggeleng kuat."Mana berani saya mengada-ada, Nona? Anda memang sangat cantik. Lady Nandikara adalah bangsawan muda tercantik di seluruh Wilayah Timur."

Memang sudah menjadi rutinitas Cani, setiap dia membantu nonanya bersolek, Ia harus memberikan banyak pujian, dan sanjungan pada majikannya, karena kalau tidak, Cani akan mendapatkan masalah besar. Tapi hari ini, pujian itu benar-benar tulus. Nonanya memang terlihat sangat cantik dengan riasan yang sangat sederhana, tidak seperti biasanya.

Namun, alih-alih senang mendengarnya, Nandikara justru semakin mengerucutkan bibir."Sudah cukup, Cani. Kau boleh pergi."

"Baik, Nona. Jika membutuhkan sesuatu, silakan panggil saya."

Cani membungkukkan badan hormat sebelum melangkah keluar. Tak lama kemudian, pintu kamar pun tertutup pelan, menyisakan keheningan yang begitu terasa.

Begitu hanya seorang diri, Nandikara atau lebih tepatnya Elisa mengangkat sebelah tangannya ke arah cermin besar di hadapannya. Jemarinya perlahan menyentuh permukaan kaca yang dingin, sementara sepasang mata bening itu menatap pantulan seorang gadis berparas luar biasa cantik.

Itu bukan wajahnya. Bukan wajah Elisa yang biasa ia lihat setiap pagi sebelum berangkat kerja. Wajah itu milik Lady Nandikara, salah satu tokoh pendukung dalam novel yang pernah ia baca.

"Kalau ini mimpi, kok lama banget sih? Sampai kapan gue terjebak di sini?" gumamnya sambil mengembuskan napas panjang.

Namanya Elisa.

Seorang gadis pekerja biasa yang entah karena keajaiban apa, tiba-tiba terbangun di dalam dunia novel kerajaan berjudul 'Mengejar Cinta Sang Putra Mahkota'. Masalahnya, dari sekian banyak karakter yang ada, ia justru merasuki tubuh Lady Nandikara. Salah satu karakter pendukung yang jarang muncul, tapi sekali muncul menjengkelkan, tipe antagonis.

"Jika dipikir-pikir lagi, enak juga ya hidup di sini," ocehnya sambil tetap menatap bayangannya sendiri."Mau makan tinggal bilang, langsung disiapin. Mau apa-apa ada pelayan. Nggak kayak hidup gue yang isinya kerja mulu dari pagi sampai malam. Kaya engga, gila iya."

Elisa mendecak pelan."Wajah cantik, kaya, lahir dari keluarga bangsawan. Beruntung banget hidup lo, Nandikara." Ia menggeleng kecil, lalu terkekeh sendiri."Sayangnya terlalu bucin sama putra mahkota. Ujung-ujungnya malah sengsara. Padahal kalo hidup Lo lempeng, pasti selamat."

Tatapannya kembali menelusuri wajah cantik di dalam cermin."Eh, sebenarnya lo mati nggak, sih, di akhir cerita?" tanyanya pada pantulan dirinya sendiri."Biasanya tokoh antagonis kan mati tragis. Masalahnya setiap ada adegan lo, selalu gue skip. Jadi gue sama sekali nggak tahu nasib akhir lo."

Seketika senyum tipis di bibirnya memudar."Lama-lama kaya orang gila gue, ngomong sendiri."

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Sedikit demi sedikit, Elisa mulai mencerna kenyataan yang sulit diterima.

Yang terakhir kali ia ingat hanyalah pulang kerja dalam keadaan kelelahan. Sesampainya di rumah, ia mandi, lalu merebahkan tubuh di atas kasur sambil melanjutkan novel fantasi romantis favoritnya, karena terlalu larut menikmati cerita, tanpa sadar ia tertidur.

Namun saat membuka mata, bukan lagi langit-langit kamar kontrakannya yang menyambut. Melainkan kamar mewah bergaya kerajaan yang sama persis seperti deskripsi di dalam novel. Awalnya Elisa mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun hari berganti hari, dan ia masih berada di tempat yang sama. Semuanya terasa begitu nyata.

"Gue harus memastikan dulu posisi lo masih aman, Nandikara," gumam Elisa pelan sambil menatap pantulan wajah cantik di hadapannya.

"Kalau memang nggak bisa pulang, setidaknya gue harus cari cara supaya nggak ikut mati di akhir cerita."

***

"Bagaimana kondisi putriku?" tanya Nyonya Winter kepada tabib keluarga yang selama tiga hari terakhir tidak pernah absen memantau perkembangan kesehatan Nandikara.

"Tidak ada luka yang serius," jawab sang tabib sambil merapikan tas medisnya."Hanya saja, Nona masih harus banyak beristirahat. Jangan sampai memikirkan sesuatu yang dapat membuatnya cemas."

"Dengar itu, Kara. Kau tidak boleh terus-terusan memikirkan bocah sombong itu," bisik Nyonya Winter pelan, seolah tidak ingin ucapannya terdengar oleh sang tabib.

Kening Elisa langsung berkerut.

Bocah sombong? Siapa?

Otaknya bekerja keras mengingat kembali isi novel itu. Namun, tidak ada satu pun bagian yang membahas kehidupan pribadi Nandikara. Wajar saja, gadis itu hanyalah seorang figuran yang nyaris tidak mendapat porsi cerita. Ia hanya muncul sesaat dengan penampilan glamor, selalu mengenakan gaun-gaun berwarna cerah dan riasan wajah yang tebal. Hanya itu yang berhasil Elisa ingat. Karena itulah, ia sempat terkejut saat melihat wajah Nandikara untuk pertama kalinya. Cantik sekali pikirnya. Jauh berbeda dari kesan yang tergambar dalam novel. Kalau Nandikara saja secantik ini, bagaimana dengan Agnes, si pemeran utama, secantik apa dia?

Elisa hanya bisa berdeham pelan, berusaha menyembunyikan kepanikannya. Ia takut jika Nyonya Winter atau tabib itu mulai mengajukan pertanyaan yang tidak mampu ia jawab.

Untungnya, setelah pemeriksaan selesai, tabib keluarga segera berpamitan. Nyonya Winter pun mengantarnya keluar kamar.

Keheningan akhirnya menyelimuti ruangan.

Tak lama kemudian...

Tok... tok...

"Bolehkah aku masuk?"

Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan seorang gadis muda yang tampaknya sebaya dengan Nandikara. Wajahnya manis, tetapi ekspresinya terkesan jutek dan dingin.

Jantung Elisa kembali berdegup lebih cepat.

Siapa lagi ini?

Dia sama sekali tidak mengenali wajah gadis itu. Semakin lama berada di dunia novel ini, semakin ia sadar bahwa ternyata kehidupan Nandikara jauh lebih rumit daripada yang tertulis di novel.

"Aku sungguh tidak sengaja, Kara," ucap gadis itu lirih."Kalau kau ingin berteriak atau memarahiku, lakukan saja. Mungkin itu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku padamu."

Elisa hanya berkedip bingung. Rasa bersalah? Memangnya dia melakukan apa?

"Aku kan masih sakit," jawab Elisa asal."Kurasa aku tidak punya tenaga untuk berteriak."

Gadis itu melangkah mendekat hingga berdiri di sisi ranjang."Kalau begitu, kau boleh memukulku."

Belum sempat Elisa menjawab, suara nyaring tiba-tiba menggema dari ambang pintu.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Suri? Apa kau ingin mencelakai adikmu lagi? Kamu belum puas, sudah membuat Kara terbaring lemah seperti ini?"

Nyonya Winter berdiri di sana dengan wajah penuh kemarahan.

Elisa spontan menoleh ke gadis itu. Dia membeku.

Suri?

Nama itu terasa sangat familiar. Elisa berusaha mengingat-ingat. Dan akhirnya...

Jangan-jangan, dia Suri Winter? Sahabat dekat Agnes, yang merupakan pemeran utama dalam novel.

Mata Elisa membelalak.

Kalau benar, berarti Suri adalah kakaknya Nandikara?

Terpopuler

Comments

Amiera Syaqilla

Amiera Syaqilla

hey author

2026-08-11

1

lihat semua
Episodes
1 Tiba-tiba Jadi Bangsawan
2 Perubahan Nandikara
3 Keluarga Duke Timur
4 Memori Nandikara
5 Misi Bertahan Hidup
6 Meluruskan kesalahpahaman
7 Membayar Ganti Rugi
8 Rasa Penasaran Leon
9 Seutas Pita Kain
10 Pameran Seni
11 Undangan Dari Raja
12 Menuju Istana
13 Permintaan Maaf Leon
14 Hal Tak Terduga
15 Pencuri Bunga
16 Alur Yang Berubah
17 Hari Berburu
18 Tatapan Sang Putra Mahkota
19 Mencari Rusa Bertanduk Emas
20 Kemenangan Pangeran Erlan
21 Lamaran Yang Menggemparkan
22 Keputusan Yang Berbahaya
23 Pertemuan Rahasia
24 Seolah Menghadapi Raja Singa
25 Sepuluh Menit Untuk Marah
26 Pilihan Nandikara
27 Candu Yang Menakutkan
28 Tentang Rumor
29 Rencana Lady Anastasia
30 Diculik
31 Di Tengah Padang Ilalang
32 Secuil Masa Lalu
33 Persiapan Pesta Raja
34 Surat Tanpa Nama
35 Tuduhan Yang Mengguncang Pesta
36 Jebakan Di Rumah Kaca
37 Keputusan Sepihak Pangeran Erlan
38 Kesadaran Yang Terlambat
39 Alur Yang Semakin Kacau
40 Ego Yang Terluka
41 Kompromi
42 Perjalanan Ke Timur
43 Obsesi Erlan
44 Pria berwajah jutek
45 Kembali Ke Ibu Kota
46 Akhirnya Pulang
47 Nandikara Winter
48 Peringatan Nandikara
49 Janji Erlan
50 Rencana Pangeran Erlan
51 Perdebatan
52 Perlawanan Elisa
53 Perintah Rahasia
54 Memulai Penyelidikan
55 Mata-mata Elisa
56 Berkuda
57 Kedatangan Keluarga Winter
58 Tangisan Elisa
59 Kecurigaan Erlan
60 Ekor Kecil Sang Pangeran
61 Barang Bukti
62 Buku Harian Suri
63 Pengakuan Suri
64 Tempat Bersandar
65 Permintaan Suri
66 Keputusan Akhir Elisa
67 Putri Mahkota Nandikara
68 Novel Baru: Melarikan Diri Dari Raja
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Tiba-tiba Jadi Bangsawan
2
Perubahan Nandikara
3
Keluarga Duke Timur
4
Memori Nandikara
5
Misi Bertahan Hidup
6
Meluruskan kesalahpahaman
7
Membayar Ganti Rugi
8
Rasa Penasaran Leon
9
Seutas Pita Kain
10
Pameran Seni
11
Undangan Dari Raja
12
Menuju Istana
13
Permintaan Maaf Leon
14
Hal Tak Terduga
15
Pencuri Bunga
16
Alur Yang Berubah
17
Hari Berburu
18
Tatapan Sang Putra Mahkota
19
Mencari Rusa Bertanduk Emas
20
Kemenangan Pangeran Erlan
21
Lamaran Yang Menggemparkan
22
Keputusan Yang Berbahaya
23
Pertemuan Rahasia
24
Seolah Menghadapi Raja Singa
25
Sepuluh Menit Untuk Marah
26
Pilihan Nandikara
27
Candu Yang Menakutkan
28
Tentang Rumor
29
Rencana Lady Anastasia
30
Diculik
31
Di Tengah Padang Ilalang
32
Secuil Masa Lalu
33
Persiapan Pesta Raja
34
Surat Tanpa Nama
35
Tuduhan Yang Mengguncang Pesta
36
Jebakan Di Rumah Kaca
37
Keputusan Sepihak Pangeran Erlan
38
Kesadaran Yang Terlambat
39
Alur Yang Semakin Kacau
40
Ego Yang Terluka
41
Kompromi
42
Perjalanan Ke Timur
43
Obsesi Erlan
44
Pria berwajah jutek
45
Kembali Ke Ibu Kota
46
Akhirnya Pulang
47
Nandikara Winter
48
Peringatan Nandikara
49
Janji Erlan
50
Rencana Pangeran Erlan
51
Perdebatan
52
Perlawanan Elisa
53
Perintah Rahasia
54
Memulai Penyelidikan
55
Mata-mata Elisa
56
Berkuda
57
Kedatangan Keluarga Winter
58
Tangisan Elisa
59
Kecurigaan Erlan
60
Ekor Kecil Sang Pangeran
61
Barang Bukti
62
Buku Harian Suri
63
Pengakuan Suri
64
Tempat Bersandar
65
Permintaan Suri
66
Keputusan Akhir Elisa
67
Putri Mahkota Nandikara
68
Novel Baru: Melarikan Diri Dari Raja

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!