Memori Nandikara

Pagi itu tidak seperti biasanya.

Elisa terbangun dengan tubuh tersentak. Napasnya memburu, dada naik turun tidak beraturan, sementara keringat dingin membasahi pelipis hingga tengkuknya. Selimut yang menutupi tubuhnya telah berantakan, seolah ia baru saja berjuang melawan sesuatu di dalam tidurnya.

Matanya masih terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Butuh beberapa saat sebelum ia benar-benar menyadari bahwa dirinya sudah terbangun."Itu mimpi?" lirihnya serak.

Namun semakin ia mencoba mengingatnya, semakin ia sadar bahwa itu bukan sekadar mimpi buruk. Yang ia lihat terasa begitu nyata.

Bukan bayangan yang kabur seperti bunga tidur pada umumnya, melainkan potongan-potongan kehidupan seseorang yang tersusun sangat jelas. Ia bisa merasakan emosi di setiap adegan, mendengar suara-suara di sekelilingnya, bahkan ikut merasakan sakit yang bukan berasal dari dirinya.

Elisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil menarik napas panjang."Itu memorinya Nandikara."

Satu demi satu adegan kembali berputar di kepalanya. Dia melihat Nandikara yang berjalan dengan dagu terangkat, menatap rendah para pelayan yang hanya bisa menundukkan kepala. Kata-kata tajam keluar begitu saja dari bibir wanita itu, membuat beberapa pelayan menangis diam-diam setelah ia pergi.

Lalu berganti lagi.

Para Lady dari wilayah Timur yang selama ini sering menjadi sasaran ejekan Nandikara. Tatapan sinis, senyum mengejek, hingga ucapan-ucapan yang sengaja diucapkan agar mempermalukan mereka di hadapan orang lain.

Kemudian wajah Suri muncul. Berkali-kali.

Elisa dapat melihat bagaimana Nandikara selalu mencari alasan untuk memancing pertengkaran dengannya. Entah karena iri, kesal, atau sekadar ingin menang. Anehnya, Suri hampir tidak pernah membalas dengan cara yang sama. Gadis itu lebih sering memilih diam, meski sorot matanya jelas menyimpan rasa lelah menghadapi semua tingkah Nandikara.

Lalu, adegan terakhir membuat dada Elisa kembali sesak. Seorang pria berambut hitam dengan wajah tampan dan aura aristokrat berdiri di tengah keramaian.

Leonardo Snow.

Tatapan matanya begitu dingin, nyaris tanpa emosi.

Di hadapannya berdiri Nandikara, membawa harapan terakhirnya untuk menunggu jawaban atas perasaan yang selama ini ia simpan. Wajahnya memerah, tangannya gemetar, tetapi sorot matanya dipenuhi harapan.

Harapan yang hancur hanya dalam beberapa kalimat. Leonardo menolak proposal pertunangan dari ayahnya, tanpa sedikit pun menjaga harga dirinya. Penolakan yang disaksikan begitu banyak orang.

Tatapan meremehkan, bisik-bisik para bangsawan, tawa kecil yang terdengar dari berbagai sudut ruangan, semuanya berubah menjadi pisau yang menusuk harga diri Nandikara.

Elisa bahkan bisa merasakan sesak yang memenuhi dada wanita itu.

Rasa malu.

Kecewa.

Dan sakit hati yang luar biasa.

Tanpa sadar Elisa menggenggam selimutnya erat."Astaga..."

Dia akhirnya memahami mengapa kebencian Nandikara terhadap Suri begitu besar. Bukan semata-mata karena Suri, melainkan karena setelah kejadian itu, semua orang mulai membandingkan mereka. Leonardo yang terang-terangan menolak Nandikara justru beberapa kali terlihat memperlakukan Suri dengan sopan. Perbandingan itu menjadi luka yang terus menganga.

Elisa mengembuskan napas pelan."Pantas saja..." Ia menoleh ke arah jendela yang mulai diterpa cahaya matahari pagi.

"Pantas saja Suri bersikap seperti itu kemarin. Mungkin dia takut aku membuat keributan lagi setelah bertemu dengan pria sok ganteng itu." Nada bicaranya terdengar kesal, meski lebih banyak ditujukan kepada Leonardo daripada Suri.

Karena baru saja ia menyaksikan sendiri bagaimana Nandikara dipermalukan di depan begitu banyak orang. Sekeras apa pun sifat asli pemilik tubuh ini, rasa malu seperti itu tetap menyakitkan. Elisa memijat pelipisnya yang masih terasa berdenyut. Kini semuanya masuk akal.

Elisa tidak perlu lagi menebak-nebak hubungan Nandikara dengan orang-orang di rumah ini, maupun para bangsawan lainnya. Semua jawaban sudah ada di dalam kepalanya.

Seolah-olah sebelum benar-benar menghilang, Nandikara telah menyerahkan seluruh kenangan yang ia miliki kepada Elisa. Kenangan yang penuh kebahagiaan hanya sedikit, sementara sisanya dipenuhi amarah, penyesalan, dan luka.

Senyum tipis muncul di bibir Elisa, meski diwarnai rasa iba."Terima kasih, Kara." dia berbicara lirih, seolah wanita itu masih bisa mendengarnya."Kau sudah memberikan semua memorimu. Jadi nanti aku tidak akan bingung lagi menghadapi semua orang di sini."

Elisa menatap kedua telapak tangannya. Tubuh ini kini benar-benar menjadi miliknya. Bersamaan dengan itu, ia juga menerima seluruh masa lalu yang melekat pada nama Nandikara."Aku akan tetap pada keputusanku."

Tatapannya berubah mantap."Aku ingin hidup tenang. Aku tidak ingin masuk ke dalam alur cerita novel ini. Aku akan bersikap baik kepada semua orang, sebisa mungkin tidak membuat masalah."

Ia terdiam sejenak. Bayangan Leonardo yang mempermalukan Nandikara kembali muncul di kepalanya, membuat dadanya sedikit sesak."Meskipun aku ingin sekali membalas sakit hatimu pada Leonardo Snow." Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan."Tapi balas dendam hanya akan menyeretku masuk ke konflik yang seharusnya bisa kuhindari. Aku tidak ingin mengubah jalan hidupku menjadi lebih rumit hanya karena emosi."

Elisa tersenyum kecil, kali ini dengan ketulusan yang lembut."Maafkan aku, Kara. Aku tidak bisa membalas semua rasa sakitmu."

"Tapi aku berjanji, akan menjalani hidup ini dengan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya, nama Nandikara tidak akan lagi dikenal sebagai wanita yang penuh kebencian."

Episodes
1 Tiba-tiba Jadi Bangsawan
2 Perubahan Nandikara
3 Keluarga Duke Timur
4 Memori Nandikara
5 Misi Bertahan Hidup
6 Meluruskan kesalahpahaman
7 Membayar Ganti Rugi
8 Rasa Penasaran Leon
9 Seutas Pita Kain
10 Pameran Seni
11 Undangan Dari Raja
12 Menuju Istana
13 Permintaan Maaf Leon
14 Hal Tak Terduga
15 Pencuri Bunga
16 Alur Yang Berubah
17 Hari Berburu
18 Tatapan Sang Putra Mahkota
19 Mencari Rusa Bertanduk Emas
20 Kemenangan Pangeran Erlan
21 Lamaran Yang Menggemparkan
22 Keputusan Yang Berbahaya
23 Pertemuan Rahasia
24 Seolah Menghadapi Raja Singa
25 Sepuluh Menit Untuk Marah
26 Pilihan Nandikara
27 Candu Yang Menakutkan
28 Tentang Rumor
29 Rencana Lady Anastasia
30 Diculik
31 Di Tengah Padang Ilalang
32 Secuil Masa Lalu
33 Persiapan Pesta Raja
34 Surat Tanpa Nama
35 Tuduhan Yang Mengguncang Pesta
36 Jebakan Di Rumah Kaca
37 Keputusan Sepihak Pangeran Erlan
38 Kesadaran Yang Terlambat
39 Alur Yang Semakin Kacau
40 Ego Yang Terluka
41 Kompromi
42 Perjalanan Ke Timur
43 Obsesi Erlan
44 Pria berwajah jutek
45 Kembali Ke Ibu Kota
46 Akhirnya Pulang
47 Nandikara Winter
48 Peringatan Nandikara
49 Janji Erlan
50 Rencana Pangeran Erlan
51 Perdebatan
52 Perlawanan Elisa
53 Perintah Rahasia
54 Memulai Penyelidikan
55 Mata-mata Elisa
56 Berkuda
57 Kedatangan Keluarga Winter
58 Tangisan Elisa
59 Kecurigaan Erlan
60 Ekor Kecil Sang Pangeran
61 Barang Bukti
62 Buku Harian Suri
63 Pengakuan Suri
64 Tempat Bersandar
65 Permintaan Suri
66 Keputusan Akhir Elisa
67 Putri Mahkota Nandikara
68 Novel Baru: Melarikan Diri Dari Raja
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Tiba-tiba Jadi Bangsawan
2
Perubahan Nandikara
3
Keluarga Duke Timur
4
Memori Nandikara
5
Misi Bertahan Hidup
6
Meluruskan kesalahpahaman
7
Membayar Ganti Rugi
8
Rasa Penasaran Leon
9
Seutas Pita Kain
10
Pameran Seni
11
Undangan Dari Raja
12
Menuju Istana
13
Permintaan Maaf Leon
14
Hal Tak Terduga
15
Pencuri Bunga
16
Alur Yang Berubah
17
Hari Berburu
18
Tatapan Sang Putra Mahkota
19
Mencari Rusa Bertanduk Emas
20
Kemenangan Pangeran Erlan
21
Lamaran Yang Menggemparkan
22
Keputusan Yang Berbahaya
23
Pertemuan Rahasia
24
Seolah Menghadapi Raja Singa
25
Sepuluh Menit Untuk Marah
26
Pilihan Nandikara
27
Candu Yang Menakutkan
28
Tentang Rumor
29
Rencana Lady Anastasia
30
Diculik
31
Di Tengah Padang Ilalang
32
Secuil Masa Lalu
33
Persiapan Pesta Raja
34
Surat Tanpa Nama
35
Tuduhan Yang Mengguncang Pesta
36
Jebakan Di Rumah Kaca
37
Keputusan Sepihak Pangeran Erlan
38
Kesadaran Yang Terlambat
39
Alur Yang Semakin Kacau
40
Ego Yang Terluka
41
Kompromi
42
Perjalanan Ke Timur
43
Obsesi Erlan
44
Pria berwajah jutek
45
Kembali Ke Ibu Kota
46
Akhirnya Pulang
47
Nandikara Winter
48
Peringatan Nandikara
49
Janji Erlan
50
Rencana Pangeran Erlan
51
Perdebatan
52
Perlawanan Elisa
53
Perintah Rahasia
54
Memulai Penyelidikan
55
Mata-mata Elisa
56
Berkuda
57
Kedatangan Keluarga Winter
58
Tangisan Elisa
59
Kecurigaan Erlan
60
Ekor Kecil Sang Pangeran
61
Barang Bukti
62
Buku Harian Suri
63
Pengakuan Suri
64
Tempat Bersandar
65
Permintaan Suri
66
Keputusan Akhir Elisa
67
Putri Mahkota Nandikara
68
Novel Baru: Melarikan Diri Dari Raja

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!