Bab 4: Hukum Menelan Kehampaan

​Hutan Bambu Hitam terletak beberapa puluh mil di sebelah barat Kota Daun Gugur. Tempat ini terkenal dengan kabut miasma yang beracun pada malam hari dan keberadaan Binatang Buas Iblis tingkat rendah. Bagi penduduk biasa, hutan ini adalah zona kematian. Namun bagi Lin Tian saat ini, tempat ini adalah surga kultivasi yang sempurna.

​Setelah berlari menembus kegelapan selama hampir satu jam, Lin Tian menemukan sebuah gua alam yang tersembunyi di balik tirai air terjun kecil. Tempat itu lembab dan ditumbuhi lumut bercahaya, namun cukup aman dari intaian hewan buas maupun manusia.

​Ia duduk bersila di atas sebuah batu datar yang dingin, menutup matanya, dan memusatkan kesadarannya ke dalam ruang pikirannya.

​Di sana, bayangan raksasa Mutiara Kehampaan berputar lambat, memancarkan cahaya ungu keemasan yang menenangkan.

​"Senior," panggil Lin Tian dalam batinnya. "Waktuku hanya satu bulan sebelum Turnamen Bela Diri klan dimulai. Meski kekuatanku setara dengan tahap Pondasi Bumi, aku tidak memiliki teknik bela diri apa pun selain dasar-dasar klan yang sudah usang. Tolong ajari aku bagaimana menggunakan Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit."

​Suara kuno itu bergema memecah keheningan pikiran Lin Tian.

​"Teknik Kehampaan Sembilan Langit bukanlah sekadar metode memutar Qi seperti yang dilakukan oleh semut-semut fana di dunia ini. Ini adalah hukum perampasan."

​"Perampasan?" kening Lin Tian berkerut.

​"Benar. Surga tidak adil, maka kita merampas dari surga. Bumi pelit akan sumber daya, maka kita menelannya paksa. Tahap pertama dari teknik ini disebut Tubuh Penelan Kehampaan."

​Sebuah aliran informasi yang sangat besar tiba-tiba membanjiri otak Lin Tian. Aksara-aksara kuno berwarna emas mengalir di depan matanya, membentuk diagram aliran Qi yang sangat rumit.

​"Kultivator biasa menyerap energi spiritual dari udara dengan lambat, menyaring kotorannya melalui meridian, lalu menyimpannya di Dantian. Proses itu membuang-buang waktu," lanjut suara kuno itu dengan nada meremehkan. "Dengan Tubuh Penelan Kehampaan, Dantian milikmu akan bertindak layaknya lubang hitam. Kau bisa menyerap inti energi dari Binatang Iblis, tanaman spiritual, atau batu roh secara langsung. Mutiara Kehampaan akan memusnahkan segala racun dan kotoran, mengubahnya menjadi Qi paling murni untukmu."

​Napas Lin Tian memburu. Di Benua Timur, menyerap Inti Binatang Iblis secara langsung adalah tindakan bunuh diri. Energi buas di dalamnya bisa meledakkan meridian manusia. Jika apa yang dikatakan entitas itu benar, maka kecepatan kultivasinya akan melampaui logika dunia ini!

​"Selain itu, sebagai teknik pertarungan awal, aku mewariskan Tiga Langkah Hantu Kehampaan dan Tinju Penghancur Bintang tingkat dasar. Pelajari itu, dan kau tidak akan tertandingi di antara mereka yang berada di bawah tahap Inti Emas."

​"Terima kasih, Senior!"

​Lin Tian segera membuka matanya. Tanpa membuang waktu, ia memutar Qi di dalam tubuhnya mengikuti jalur meridian yang ditunjukkan oleh diagram tersebut. Seketika, pusaran kecil terbentuk di perut bagian bawahnya (Dantian). Energi spiritual di dalam gua itu tersedot masuk ke dalam tubuhnya dengan kecepatan gila-gilaan, membentuk pusaran angin kecil di sekitarnya.

​Perburuan Berdarah

​Tiga hari kemudian.

​Di kedalaman Hutan Bambu Hitam, raungan buas memecah keheningan. Seekor Macan Tutul Mata Darah—Binatang Iblis Tingkat 1 Puncak, yang kekuatannya setara dengan manusia di tahap Pengembara Qi tingkat kesembilan—menerjang maju dengan cakar beracun yang siap merobek mangsanya.

​Mangsa itu adalah Lin Tian.

​Alih-alih menghindar, Lin Tian menyeringai. Matanya memancarkan kilatan ungu yang dingin.

​"Tepat waktu untuk menguji teknik baruku!"

​Tiga Langkah Hantu Kehampaan!

​Sosok Lin Tian tiba-tiba memudar, meninggalkan bayangan palsu di tempatnya berdiri. Cakar macan tutul itu hanya merobek udara kosong. Di saat yang bersamaan, Lin Tian sudah muncul tepat di titik buta sang monster, yaitu di sisi kanan lehernya.

​Energi Qi yang liar meledak di kepalan tangan kanannya, memancarkan cahaya keemasan yang redup namun padat.

​Tinju Penghancur Bintang!

​Bugh! KRAK!

​Pukulan itu mendarat telak di tengkorak Macan Tutul Mata Darah. Kekuatan hantaman setara ribuan kati meledak seketika, meremukkan tengkorak binatang buas itu ke dalam. Monster besar itu terlempar sejauh lima meter, menghantam pohon bambu tebal hingga patah dua, dan mati seketika tanpa sempat mengeluarkan suara erangan terakhir.

​Lin Tian mengibaskan darah dari tangannya sambil berjalan mendekat. Menggunakan belati berburu berkarat yang ia bawa dari rumah, ia membelah dada binatang itu dan mengeluarkan sebuah kristal bundar seukuran ibu jari yang berwarna merah pekat—Inti Binatang Iblis.

​Ia duduk bersila tepat di samping bangkai itu. Tanpa ragu, Lin Tian menggenggam inti tersebut dan memutar Tubuh Penelan Kehampaan.

​Wung!

​Daya hisap yang luar biasa muncul dari telapak tangannya. Inti berwarna merah pekat itu perlahan meredup saat energi buas di dalamnya ditarik paksa masuk ke dalam meridian Lin Tian. Alih-alih meledak karena energi liar, pusaran di Dantian Lin Tian menggiling energi tersebut, memurnikannya seketika menjadi Qi yang lembut namun sangat padat.

​Dalam waktu kurang dari setengah jam, kristal di tangannya berubah menjadi debu abu-abu. Lin Tian membuka matanya, merasakan Qi di tubuhnya semakin meluap-luap.

​"Luar biasa," gumam Lin Tian takjub. "Satu Inti Binatang Iblis Tingkat 1 ini biasanya butuh waktu sebulan untuk disuling menjadi pil oleh alkemis, lalu butuh satu minggu lagi untuk diserap kultivator biasa. Aku hanya butuh setengah jam!"

​Senyum dingin terbentuk di wajahnya saat ia memandang lebih dalam ke arah hutan yang gelap.

​"Mulai hari ini, Hutan Bambu Hitam ini adalah ladang panenku."

​Menjelang Badai

​Waktu mengalir bagaikan butiran pasir di sela jari. Di dalam Hutan Bambu Hitam, jeritan Binatang Iblis menjadi nyanyian harian. Selama dua puluh delapan hari berikutnya, Lin Tian menjelma menjadi hantu pencabut nyawa bagi makhluk-makhluk di hutan itu.

​Dari babi hutan bertaring besi hingga ular phyton bersisik batu, tidak ada satu pun yang lolos dari perburuannya.

​Ia mendorong fisiknya hingga ke batas mutlak. Tubuhnya yang tadinya sedikit kurus kini dihiasi otot-otot ramping yang padat seperti baja. Tatapan matanya setajam pedang yang diasah dengan darah. Di bawah penyerapan ratusan Inti Binatang Iblis menggunakan Tubuh Penelan Kehampaan, pusaran Qi di Dantiannya kini telah memadat menjadi bentuk cairan kental—tanda mutlak bahwa ia sedang menginjak ambang batas menuju tahap Pondasi Bumi.

​Sring!

​Di hari kedua puluh sembilan, Lin Tian berdiri di bawah air terjun, membiarkan air sedingin es menghantam tubuhnya yang bertelanjang dada. Ia membuka mata, dan aura Qi yang kuat meledak dari tubuhnya, menghentikan aliran air terjun itu selama beberapa detik.

​Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang jauh melampaui imajinasi masa lalunya.

​"Sudah waktunya," gumamnya pelan. Suaranya datar, namun mengandung niat membunuh yang tertahan.

​Lin Tian mengambil kemeja hitam sederhana yang ia beli menggunakan koin emas pembunuh tempo hari dari sebuah desa kecil di pinggiran hutan. Ia mengenakannya, menyembunyikan otot-ototnya yang terbentuk sempurna, dan menyisir rambut hitamnya ke belakang.

​Hari ini adalah hari pertama bulan purnama di musim gugur.

​Hari di mana seluruh klan, tetua, dan tamu kehormatan dari penjuru Kota Daun Gugur akan berkumpul di alun-alun kediaman utama Klan Lin.

​Hari Turnamen Bela Diri.

​Lin Tian menoleh ke arah timur, tempat matahari perlahan terbit membelah kabut pagi.

​"Lin Feng, Tetua Pertama... nikmatilah sisa teh pagi kalian. Karena siang ini, panggung kebanggaan kalian akan berubah menjadi altar pembalasanku."

​Dengan satu tolakan langkah menggunakan Tiga Langkah Hantu Kehampaan, sosok Lin Tian berubah menjadi bayangan buram, melesat keluar dari hutan menuju Kota Daun Gugur.

Terpopuler

Comments

Raju

Raju

pembalasan dimulai !!

2026-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Darah di Tepi Jurang
2 Bab 2: Kelahiran Kembali di Dasar Jurang
3 Bab 3: Hantu dari Dasar Jurang
4 Bab 4: Hukum Menelan Kehampaan
5 Bab 5: Kembalinya Sang Hantu
6 Bab 6: Kejatuhan Sang Jenius
7 Bab 7: Membelah Langit Menuju Awan Ungu
8 Bab 8: Gerbang Awan Ungu
9 Bab 9: Lautan Qi Kehampaan
10 Bab 10: Menguji Pedang dengan Darah
11 Bab 11: Papan Misi Berdarah
12 Bab 12: Hukum Rimba di Lembah Abu Berdarah
13 Bab 13: Memutus Sungai Bintang
14 Bab 14: Transaksi di Atas Magma
15 Bab 15: Paviliun Kitab Suci
16 Bab 16: Logam Hitam Tanpa Nama
17 Bab 17: Langit Berdarah Makam Kuno
18 Bab 18: Lembah Kuburan Pedang
19 Bab 19: Runtuhnya Inti Emas
20 Bab 20: Menelan Emas, Menyerap Jantung Pedang
21 Bab 21: Istana Darah
22 Bab 22: Takhta Darah
23 Bab 23: Badai Spasial dan Murka di Awan Ungu
24 Bab 24: Pemberontakan di Bawah Awan Ungu
25 Bab 25: Buronan Nomor Satu dan Kota Naga Jatuh
26 Bab 26: Bunga Darah di Kedai Bulan
27 Bab 27: Perampokan Terang-terangan di Balai Lelang
28 Bab 28: Kehampaan Menelan Lautan Darah
29 Bab 29: Pemburu yang Menjadi Mangsa
30 Bab 30: Ngarai Pemutus Jiwa
31 Bab 31: Hancurnya Sang Penjaga
32 Bab 32: Guntur Kepunahan dan Boneka Surgawi
33 Bab 33: Gema di Benua Timur dan Evolusi Pedang Kehampaan
34 Bab 34: Konvergensi Langit
35 Bab 35: Hujan Darah dan Besi Jatuh
36 Bab 36: Kiamat Darah Hitam
37 Bab 37: Lahirnya Jiwa Kehampaan
38 Bab 38: Hukum Alam Atas
39 Bab 39: Gerbang Tulang
40 Bab 40: Perampokan Menara
41 Bab 41: Batas Keserakahan
42 Bab 42: Distrik Tengkorak Bawah dan Benang Hukum Alam
43 Bab 43: Pemahaman Hukum Ruang dan Tiga Raja Iblis
44 Bab 44: Penguasa Mutlak Bawah Tanah dan Turunnya Pasukan Darah
45 Bab 45: Pembantaian Formasi Darah
46 Bab 46: Domain Darah
47 Bab 47: Harga Menentang Langit
48 Bab 48: Kehidupan Fana dan Beratnya Sebilah Pedang Besi
49 Bab 49: Pemahaman Pedang Kayu dan Tamu Tak Diundang
50 Bab 50: Batu Asahan dari Sekte Angin Jatuh
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1: Darah di Tepi Jurang
2
Bab 2: Kelahiran Kembali di Dasar Jurang
3
Bab 3: Hantu dari Dasar Jurang
4
Bab 4: Hukum Menelan Kehampaan
5
Bab 5: Kembalinya Sang Hantu
6
Bab 6: Kejatuhan Sang Jenius
7
Bab 7: Membelah Langit Menuju Awan Ungu
8
Bab 8: Gerbang Awan Ungu
9
Bab 9: Lautan Qi Kehampaan
10
Bab 10: Menguji Pedang dengan Darah
11
Bab 11: Papan Misi Berdarah
12
Bab 12: Hukum Rimba di Lembah Abu Berdarah
13
Bab 13: Memutus Sungai Bintang
14
Bab 14: Transaksi di Atas Magma
15
Bab 15: Paviliun Kitab Suci
16
Bab 16: Logam Hitam Tanpa Nama
17
Bab 17: Langit Berdarah Makam Kuno
18
Bab 18: Lembah Kuburan Pedang
19
Bab 19: Runtuhnya Inti Emas
20
Bab 20: Menelan Emas, Menyerap Jantung Pedang
21
Bab 21: Istana Darah
22
Bab 22: Takhta Darah
23
Bab 23: Badai Spasial dan Murka di Awan Ungu
24
Bab 24: Pemberontakan di Bawah Awan Ungu
25
Bab 25: Buronan Nomor Satu dan Kota Naga Jatuh
26
Bab 26: Bunga Darah di Kedai Bulan
27
Bab 27: Perampokan Terang-terangan di Balai Lelang
28
Bab 28: Kehampaan Menelan Lautan Darah
29
Bab 29: Pemburu yang Menjadi Mangsa
30
Bab 30: Ngarai Pemutus Jiwa
31
Bab 31: Hancurnya Sang Penjaga
32
Bab 32: Guntur Kepunahan dan Boneka Surgawi
33
Bab 33: Gema di Benua Timur dan Evolusi Pedang Kehampaan
34
Bab 34: Konvergensi Langit
35
Bab 35: Hujan Darah dan Besi Jatuh
36
Bab 36: Kiamat Darah Hitam
37
Bab 37: Lahirnya Jiwa Kehampaan
38
Bab 38: Hukum Alam Atas
39
Bab 39: Gerbang Tulang
40
Bab 40: Perampokan Menara
41
Bab 41: Batas Keserakahan
42
Bab 42: Distrik Tengkorak Bawah dan Benang Hukum Alam
43
Bab 43: Pemahaman Hukum Ruang dan Tiga Raja Iblis
44
Bab 44: Penguasa Mutlak Bawah Tanah dan Turunnya Pasukan Darah
45
Bab 45: Pembantaian Formasi Darah
46
Bab 46: Domain Darah
47
Bab 47: Harga Menentang Langit
48
Bab 48: Kehidupan Fana dan Beratnya Sebilah Pedang Besi
49
Bab 49: Pemahaman Pedang Kayu dan Tamu Tak Diundang
50
Bab 50: Batu Asahan dari Sekte Angin Jatuh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!