Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Bab 1: Darah di Tepi Jurang

​Malam turun dengan kejam di Kota Daun Gugur. Angin musim dingin melolong seperti roh pendendam, menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, di halaman belakang kediaman Klan Lin yang terpencil, seorang pemuda bertelanjang dada tetap duduk bersila di atas batu es.

​Pemuda itu adalah Lin Tian.

​Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat. Otot-ototnya berkedut menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia sedang berusaha menyerap energi spiritual dari udara, mengalirkannya ke dalam tubuhnya. Namun, setiap kali energi itu memasuki meridiannya—saluran energi dalam tubuh manusia—rasa sakit seperti disayat ribuan pisau langsung menyerang.

​Pftt!

​Lin Tian memuntahkan seteguk darah hitam. Tubuhnya limbung dan ia jatuh bertumpu pada kedua tangannya, terengah-engah.

​"Lagi-lagi gagal," gumamnya dengan senyum pahit. Ia menatap kedua tangannya yang gemetar. "Meridian yang hancur sejak lahir. Tubuh yang dikutuk oleh surga. Apakah aku, Lin Tian, benar-benar ditakdirkan menjadi sampah seumur hidupku?"

​Di Benua Timur, kekuatan adalah segalanya. Seorang kultivator tingkat Pengembara Qi bisa menghancurkan batu dengan tangan kosong, sementara mereka yang mencapai tingkat Pondasi Bumi bisa berjalan di atas air dan memanipulasi elemen. Bagi Klan Lin, salah satu dari tiga klan besar di kota ini, memiliki keturunan yang tidak bisa berkultivasi adalah sebuah aib besar.

​Sejak kedua orang tuanya menghilang dalam sebuah ekspedisi sepuluh tahun lalu, status Lin Tian di klan anjlok drastis. Dari seorang Tuan Muda yang dihormati, ia menjadi bahan tertawaan. Jatah sumber dayanya dipotong, pelayannya ditarik, dan ia diasingkan ke gubuk reyot di dekat Jurang Hukuman di belakang gunung klan.

​Satu-satunya peninggalan orang tuanya hanyalah sebuah kalung dengan bandul mutiara hitam kusam yang kini melingkar di lehernya.

​Lin Tian mengusap sisa darah di sudut bibirnya dan berdiri. Matanya tidak menunjukkan keputusasaan, melainkan tekad yang menyala-nyala. "Aku tidak akan menyerah. Jika langit tidak mengizinkanku berkultivasi, aku akan menghancurkan langit itu sendiri!"

​Kresek.

​Telinga Lin Tian berkedut. Suara ranting patah yang sangat pelan terdengar dari balik rimbunnya pohon bambu. Suasananya mendadak terasa terlalu sunyi; bahkan suara jangkrik pun berhenti.

​Sebagai seseorang yang tidak memiliki Qi, Lin Tian melatih panca inderanya dan fisiknya hingga ke batas maksimal. Insting bertahannya menjerit.

​Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan dirinya ke samping.

​Brak!

​Tepat di tempatnya berdiri sedetik yang lalu, sebuah pedang perak menancap dalam ke tanah, membelah batu es menjadi dua. Tiga sosok berpakaian hitam pekat muncul dari bayang-bayang pepohonan. Mata mereka memancarkan aura membunuh yang dingin.

​"Reaksi yang lumayan untuk seorang sampah," desis salah satu pembunuh dengan suara parau. "Tapi sayang, malam ini adalah malam terakhirmu bernapas, Tuan Muda Lin."

​Lin Tian mundur perlahan, menjaga keseimbangannya. Matanya memindai ketiga orang itu. Aura yang memancar dari tubuh mereka bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

​"Pengembara Qi tingkat kelima," batin Lin Tian, hatinya tenggelam. Menghadapi satu saja sudah mustahil baginya, apalagi tiga. "Siapa yang mengirim kalian? Lin Feng? Atau Tetua Pertama?"

​Pembunuh di tengah tertawa dingin. "Orang mati tidak perlu tahu. Bunuh dia!"

​Ketiganya melesat secara bersamaan bak panah yang lepas dari busurnya. Pedang mereka berkilat di bawah cahaya bulan, mengincar titik-titik vital di tubuh Lin Tian.

​Lin Tian mengertakkan gigi. Ia tidak memiliki Qi, namun ia hafal setiap gerakan bela diri dasar Klan Lin. Saat pedang pertama menebas ke arah lehernya, ia menunduk tajam, menggunakan momentum itu untuk menyapu kaki sang penyerang.

​Bugh!

​Pembunuh itu kehilangan keseimbangan sesaat. Namun, perbedaan kekuatan mereka terlalu besar. Sebelum Lin Tian bisa mendaratkan pukulan lanjutan, pembunuh kedua melayangkan tendangan berlapis energi spiritual yang bersarang telak di dada Lin Tian.

​Krak!

​Suara tulang rusuk yang patah terdengar mengerikan. Lin Tian terlempar sejauh sepuluh meter, menghantam pohon pinus besar sebelum jatuh berguling-guling di tanah. Darah segar menyembur dari mulutnya, mewarnai pakaiannya menjadi merah pekat.

​Pandangannya mulai mengabur. Rasa sakit yang melumpuhkan menjalar dari dadanya. Ia berusaha merangkak mundur, namun tanah di belakangnya perlahan menghilang. Ia telah terdesak hingga ke bibir Jurang Hukuman—lembah tak berdasar yang diselimuti kabut beracun. Legenda mengatakan, tidak ada satu pun makhluk hidup yang pernah kembali dari dasar jurang itu.

​Ketiga pembunuh itu berjalan mendekat dengan santai, mengayunkan pedang mereka untuk membersihkan sisa darah.

​"Waktunya mati, Sampah."

​Pembunuh di tengah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap memenggal kepala Lin Tian.

​Dalam detik-detik terakhir itu, Lin Tian tidak memejamkan mata. Ia menatap tajam ke arah ketiga pembunuh itu, mengukir wajah dan aura mereka dalam ingatannya. Matanya memancarkan keengganan dan kebencian yang sangat pekat.

​Brak!

​Pedang itu berayun turun, tetapi Lin Tian lebih dulu menjatuhkan dirinya ke belakang. Angin malam menderu di telinganya saat tubuhnya terjerembap ke dalam kegelapan jurang yang menganga.

​"Jika aku selamat... aku bersumpah demi darahku, aku akan membasmi kalian semua hingga ke akar-akarnya!"

​Gema suaranya memudar ditelan kabut hitam, meninggalkan ketiga pembunuh itu berdiri di tepi jurang.

​"Dia melompat sendiri ke Jurang Hukuman. Jangankan manusia, tulang dewa pun akan hancur di bawah sana," kata salah satu pembunuh. "Ayo kembali dan laporkan bahwa tugas telah selesai."

​Di bawah sana, Lin Tian terus jatuh. Angin kencang menyayat kulitnya, dan kesadarannya berada di ambang batas.

​Apakah ini akhirnya? pikirnya getir. Aku mati sebagai sampah yang tak berdaya.

​Tiba-tiba, kalung di lehernya putus akibat tebasan angin. Mutiara hitam kusam itu terlepas, jatuh tepat di atas dada Lin Tian yang bersimbah darah. Saat darah segar yang membawa keengganan luar biasa itu menyentuh permukaan mutiara, sebuah fenomena aneh terjadi.

​Mutiara hitam itu bergetar hebat. Retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaannya, memancarkan cahaya ungu keemasan yang menyilaukan. Cahaya itu menembus kegelapan jurang, menahan tubuh Lin Tian yang sedang jatuh dengan kekuatan yang lembut namun tak terbantahkan.

​Di dalam pikiran Lin Tian yang hampir padam, sebuah suara kuno yang bergema dari ujung alam semesta meledak seperti guntur.

​"Darah yang dipenuhi keengganan... Jiwa yang menolak tunduk pada takdir..."

​Suara itu berat, membawa keagungan seorang kaisar yang memandang rendah jutaan dunia.

​"Siklus sepuluh ribu tahun telah usai. Kunci menuju kehampaan telah terbuka. Engkau, bocah fana dengan meridian yang hancur... apakah engkau bersedia menanggung beban karma dari Mutiara Kehampaan?"

​Lin Tian tidak bisa membuka matanya, namun kesadarannya merespons dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. "Beri aku kekuatan... kekuatan untuk membantai musuhku... dan aku akan menanggung beban apa pun!"

​"Bagus! Maka terimalah warisan Dewa Kehampaan. Biarkan tubuh fanamu dihancurkan, agar tubuh sucimu dapat dilahirkan kembali!"

​Mutiara hitam itu meledak menjadi untaian cahaya kosmis yang melesat masuk menembus dada Lin Tian. Seketika itu juga, rasa sakit yang jutaan kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya merobek kesadarannya. Cahaya ungu keemasan membungkus tubuh Lin Tian membentuk sebuah kepompong raksasa yang bercahaya di tengah-tengah kegelapan Jurang Hukuman.

​Roda takdir Benua Timur, baru saja mulai berputar.

Episodes
1 Bab 1: Darah di Tepi Jurang
2 Bab 2: Kelahiran Kembali di Dasar Jurang
3 Bab 3: Hantu dari Dasar Jurang
4 Bab 4: Hukum Menelan Kehampaan
5 Bab 5: Kembalinya Sang Hantu
6 Bab 6: Kejatuhan Sang Jenius
7 Bab 7: Membelah Langit Menuju Awan Ungu
8 Bab 8: Gerbang Awan Ungu
9 Bab 9: Lautan Qi Kehampaan
10 Bab 10: Menguji Pedang dengan Darah
11 Bab 11: Papan Misi Berdarah
12 Bab 12: Hukum Rimba di Lembah Abu Berdarah
13 Bab 13: Memutus Sungai Bintang
14 Bab 14: Transaksi di Atas Magma
15 Bab 15: Paviliun Kitab Suci
16 Bab 16: Logam Hitam Tanpa Nama
17 Bab 17: Langit Berdarah Makam Kuno
18 Bab 18: Lembah Kuburan Pedang
19 Bab 19: Runtuhnya Inti Emas
20 Bab 20: Menelan Emas, Menyerap Jantung Pedang
21 Bab 21: Istana Darah
22 Bab 22: Takhta Darah
23 Bab 23: Badai Spasial dan Murka di Awan Ungu
24 Bab 24: Pemberontakan di Bawah Awan Ungu
25 Bab 25: Buronan Nomor Satu dan Kota Naga Jatuh
26 Bab 26: Bunga Darah di Kedai Bulan
27 Bab 27: Perampokan Terang-terangan di Balai Lelang
28 Bab 28: Kehampaan Menelan Lautan Darah
29 Bab 29: Pemburu yang Menjadi Mangsa
30 Bab 30: Ngarai Pemutus Jiwa
31 Bab 31: Hancurnya Sang Penjaga
32 Bab 32: Guntur Kepunahan dan Boneka Surgawi
33 Bab 33: Gema di Benua Timur dan Evolusi Pedang Kehampaan
34 Bab 34: Konvergensi Langit
35 Bab 35: Hujan Darah dan Besi Jatuh
36 Bab 36: Kiamat Darah Hitam
37 Bab 37: Lahirnya Jiwa Kehampaan
38 Bab 38: Hukum Alam Atas
39 Bab 39: Gerbang Tulang
40 Bab 40: Perampokan Menara
41 Bab 41: Batas Keserakahan
42 Bab 42: Distrik Tengkorak Bawah dan Benang Hukum Alam
43 Bab 43: Pemahaman Hukum Ruang dan Tiga Raja Iblis
44 Bab 44: Penguasa Mutlak Bawah Tanah dan Turunnya Pasukan Darah
45 Bab 45: Pembantaian Formasi Darah
46 Bab 46: Domain Darah
47 Bab 47: Harga Menentang Langit
48 Bab 48: Kehidupan Fana dan Beratnya Sebilah Pedang Besi
49 Bab 49: Pemahaman Pedang Kayu dan Tamu Tak Diundang
50 Bab 50: Batu Asahan dari Sekte Angin Jatuh
Episodes

Updated 50 Episodes

1
Bab 1: Darah di Tepi Jurang
2
Bab 2: Kelahiran Kembali di Dasar Jurang
3
Bab 3: Hantu dari Dasar Jurang
4
Bab 4: Hukum Menelan Kehampaan
5
Bab 5: Kembalinya Sang Hantu
6
Bab 6: Kejatuhan Sang Jenius
7
Bab 7: Membelah Langit Menuju Awan Ungu
8
Bab 8: Gerbang Awan Ungu
9
Bab 9: Lautan Qi Kehampaan
10
Bab 10: Menguji Pedang dengan Darah
11
Bab 11: Papan Misi Berdarah
12
Bab 12: Hukum Rimba di Lembah Abu Berdarah
13
Bab 13: Memutus Sungai Bintang
14
Bab 14: Transaksi di Atas Magma
15
Bab 15: Paviliun Kitab Suci
16
Bab 16: Logam Hitam Tanpa Nama
17
Bab 17: Langit Berdarah Makam Kuno
18
Bab 18: Lembah Kuburan Pedang
19
Bab 19: Runtuhnya Inti Emas
20
Bab 20: Menelan Emas, Menyerap Jantung Pedang
21
Bab 21: Istana Darah
22
Bab 22: Takhta Darah
23
Bab 23: Badai Spasial dan Murka di Awan Ungu
24
Bab 24: Pemberontakan di Bawah Awan Ungu
25
Bab 25: Buronan Nomor Satu dan Kota Naga Jatuh
26
Bab 26: Bunga Darah di Kedai Bulan
27
Bab 27: Perampokan Terang-terangan di Balai Lelang
28
Bab 28: Kehampaan Menelan Lautan Darah
29
Bab 29: Pemburu yang Menjadi Mangsa
30
Bab 30: Ngarai Pemutus Jiwa
31
Bab 31: Hancurnya Sang Penjaga
32
Bab 32: Guntur Kepunahan dan Boneka Surgawi
33
Bab 33: Gema di Benua Timur dan Evolusi Pedang Kehampaan
34
Bab 34: Konvergensi Langit
35
Bab 35: Hujan Darah dan Besi Jatuh
36
Bab 36: Kiamat Darah Hitam
37
Bab 37: Lahirnya Jiwa Kehampaan
38
Bab 38: Hukum Alam Atas
39
Bab 39: Gerbang Tulang
40
Bab 40: Perampokan Menara
41
Bab 41: Batas Keserakahan
42
Bab 42: Distrik Tengkorak Bawah dan Benang Hukum Alam
43
Bab 43: Pemahaman Hukum Ruang dan Tiga Raja Iblis
44
Bab 44: Penguasa Mutlak Bawah Tanah dan Turunnya Pasukan Darah
45
Bab 45: Pembantaian Formasi Darah
46
Bab 46: Domain Darah
47
Bab 47: Harga Menentang Langit
48
Bab 48: Kehidupan Fana dan Beratnya Sebilah Pedang Besi
49
Bab 49: Pemahaman Pedang Kayu dan Tamu Tak Diundang
50
Bab 50: Batu Asahan dari Sekte Angin Jatuh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!