Kemeja Murah, Kopi Kapal, dan Tinta yang Bocor

Pukul 05.45 WIB. Suasana di depan bangunan tua berarsitektur kolonial itu masih diselimuti embun tipis dan suara burung gereja. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di pinggir jalan, namun pintunya tidak kunjung terbuka selama hampir lima menit.

Di dalam mobil, Kian Elang Baskara sedang mengalami krisis eksistensial tingkat tinggi.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca spion tengah. Tidak ada jas Armani berserat emas. Tidak ada jam tangan Patek Philippe bernilai ratusan juta. Yang melekat di tubuhnya pagi ini adalah sebuah kemeja katun polos warna krem seharga seratus ribuan yang dibeli asisten pribadinya kemarin sore di pasar swalayan—Luki, sang asisten, bahkan sempat menangis terharu saat membelinya karena mengira bosnya akhirnya bangkrut dan pasrah.

"Ingat Kian, ini cuma dua jam. Cuma dua jam," gumam Kian pada dirinya sendiri, merapikan kerah kemejanya yang terasa sedikit gatal di kulit mulusnya. "Setelah dua jam, kamu kembali jadi penguasa kekaisaran bisnis."

Kian melangkah turun, mencoba mempertahankan gaya berjalan khas CEO yang angkuh dan megah. Namun, langkah gagah itu langsung ternoda saat sepatu leather miliknya yang mengkilap menapak tepat di atas genangan air hujan sisa semalam.

Ciprat!

Noda lumpur cokelat sukses menghiasi bagian bawah celana bahannya. Kian menggeram pelan, mengutuk dalam hati.

Ketika Kian membuka pintu kaca berkode "Lentera Bahasa & Karakter", aroma kopi tubruk yang pekat langsung menyambut indra penciumannya—bukan aroma espresso double shot berbiji kopi Guatemala langka yang biasa disiapkan sekretarisnya.

Di sudut ruangan, Maya Saraswati sedang duduk santai sambil menyesap cangkir seng berukir hijau. Ia tampil anggun seperti biasa dengan blouse linen hijau sage, memegang sebuah kipas anyaman bambu kecil.

"Tepat pukul enam kurang tiga menit. Kemajuan yang cukup menghibur, Pak Kian," puji Maya tanpa berpaling dari buku yang dibacanya. "Dan celana Anda dapat aksen artistik baru rupanya."Kian menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang sudah memuncak di ubun-ubun. Ia berjalan mendekati meja kayu besar di tengah ruangan dan menduduki kursi kayu tanpa bantalan empuk. Punggungnya langsung menjerit protes.

"Saya sudah menuruti permainan konyol Anda, Bu Maya," ujar Kian seraya meletakkan buku catatan kosong dan pulpen murah dari Maya kemarin di atas meja. "Tanpa jas mahal. Tanpa pengawal. Sekarang, cepat selesaikan apa pun tugas absurd yang ingin Anda berikan."

Maya meletakkan cangkir sengnya dengan dentingan halus. Ia tersenyum—sebuah senyuman yang kini disadari Kian adalah sinyal bahaya tingkat tinggi.

"Tugas pertama Anda amat sederhana, Pak Kian," Maya mendorong sebuah wadah plastik berisi bahan-bahan kopi tubruk murah dan teko berisi air panas ke hadapan Kian. "Buatkan saya secangkir kopi. Kopi tubruk, dua sendok gula, tanpa krimer."

Kian melotot. Matanya hampir melompat keluar dari kelopak. "Apa?! Anda menyuruh CEO Elang Group—pria yang menguasai saham properti terbesar di kota ini—untuk jadi barista Anda?!"

"Di ruang kelas ini, Pak Kian, Anda adalah murid yang sedang belajar dasar-dasar melayani dan menurunkan ego," sahut Maya tenang, tatapannya selembut sutra namun sekeras baja. "Atau Anda prefer saya menelpon Ibu Eleanor sekarang untuk memberitahu bahwa putra bahagianya bahkan tidak tahu cara menyeduh air panas?"

Kian mengepalkan jemarinya. Bayangan ibunya yang mengancam akan membekukan aset dan mencabut posisi CEO-nya langsung menari-nari di kepala. Dengan dentuman napas gusar, Kian menarik teko air panas itu.

"Fine!" desis Kian.

Proses pembuatan kopi itu menjadi pertunjukan paling tragis sekaligus komedi dalam sejarah bangunan kolonial tersebut. Seorang Kian Elang Baskara, yang biasa menanda-tangani dokumen akuisisi bernilai triliunan rupiah, kini tampak ketakutan menumpahkan bubuk kopi hitam dari kemasan saset murah.

Srettt!

Kian merobek bungkusnya terlalu kuat. Bubuk kopi hitam beterbangan di udara, mendarat dengan sukses di hidung mancung dan pipi Kian.

"Achoo!" Kian bersin hebat, membuat sisa bubuk kopi di meja semakin berantakan.

Maya menutup mulutnya dengan kipas bambu, mencoba menahan tawa yang hampir meledak melihat sang pangeran es kini terlihat seperti pekerja tambang batu bara berwajah tampan.

"Bentuk komunikasi yang sangat ekspresif, Pak Kian," sindir Maya halus.

Kian mengusap wajahnya dengan kasar, meninggalkan loreng-loreng hitam di pipinya. "Diam Anda, Bu Maya."

Setelah perjuangan berdarah-darah (dan berdebu kopi) selama lima belas menit, secangkir kopi tubruk hitam akhirnya tersaji di depan Maya.

Maya menyesapnya sedikit, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Agak terlalu pahit. Sama seperti kepribadian Anda saat ini. Tapi tidak apa-apa, dapat poin lima dari sepuluh untuk usaha tidak membakar kelas saya."

"Sekarang, tugas intinya," Maya mengambil pulpen murah yang dibawa Kian dan membukanya. "Tuliskan satu paragraf ucapan terima kasih yang tulus kepada seseorang yang paling Anda benci di dunia ini di dalam buku catatan itu. Gunakan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan menyentuh."

Kian menatap buku catatan kosong itu dengan pandangan tidak percaya. "Menulis ucapan terima kasih? Untuk orang yang saya benci? Ini pelatihan kepemimpinan atau terapi kelompok anak TK?"

"Bahasa adalah cerminan jiwa, Pak Kian. Orang yang tidak bisa mengekspresikan rasa terima kasih kepada musuhnya adalah orang yang emosinya masih dipenjara oleh rasa gengsi," jawab Maya santai seraya menyodorkan pulpen itu.

Dengan gusar, Kian menyambar pulpen murah berwarna hitam tersebut. Ia bertekad untuk menyelesaikan tugas bodoh ini dalam sepuluh detik agar bisa segera keluar dari tempat terkutuk ini.

Ia mulai menekan mata pulpen ke atas kertas putih dengan sekuat tenaga, mencurahkan seluruh kekesalannya pada lembaran kertas tersebut.

Crrttt...

Tiba-tiba, pulpen murah seharga dua ribu rupiah itu tidak kuat menahan tekanan jari-jari sang CEO yang penuh amarah. Badannya retak, dan dalam sekejap mata—

SPLASH!

Tinta hitam pekat menyembur keluar dari tabung pulpen, membuncah tepat ke arah wajah Kian dan mengenai kerah kemeja krem barunya.

Kian membeku. Mulutnya sedikit terbuka. Tinta hitam menetes dari ujung hidungnya, menetes perlahan menimpa kemejanya yang kini penuh noda kopi dan tinta.

Hening merayap di dalam ruangan selama tiga detik penuh.

Pfft.

Maya yang biasanya begitu anggun, teratur, dan penuh wibawa pakar bahasa, akhirnya tidak sanggup lagi menahan diri. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, namun bahunya bergetar hebat. Tawa renyah yang amat nyaring pecah membasahi ruangan kaca itu.

"Bwahahaha! Maaf... pfft... Maafkan saya, Pak Kian," Maya tertawa sampai matanya berair, memegangi perutnya. "Saya tahu Anda ingin 'mewarnai' hari Anda, tapi tidak perlu secara harfiah seperti ini!"

Kian menatap Maya dengan pandangan membunuh—atau setidaknya berusaha membunuh, karena dengan noda kopi di pipi dan tinta hitam di hidung, ia lebih mirip beruang panda yang sedang merajuk daripada seorang penguasa bisnis yang menakutkan.

"Bu. Ma. Ya." Kian mengeja nama wanita itu dengan suara tertahan.

"A-ada apa, Pak Kian?" Maya mencoba merapikan napasnya, mengusap sudut matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa, meski bibirnya masih mengukir senyum lebar yang sangat renyah. "Apakah itu bentuk komunikasi baru dari spesies pangeran es?"

Kian berdiri dari kursinya, membuat kursi kayu itu berdecit nyaring. Ia menyapu noda tinta di wajahnya dengan sapu tangan sutra dari saku celananya—yang kini ikut hancur terkena noda.

"Besok," tunjuk Kian dengan jari yang juga ternoda tinta ke arah Maya. "Besok saya akan datang tepat waktu lagi. Dan pastikan Anda menyiapkan pulpen yang tidak gampang meledak!

Maya menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Kian dengan tatapan jenaka penuh kemenangan. Ia mengambil selembar tisu dan menyodorkannya ke arah Kian.

"Sampai jumpa besok pagi pukul enam tepat, Pak CEO," ujar Maya lembut, suaranya kembali tertata namun matanya masih berkilat penuh rasa humor. "Jangan lupa cuci muka sebelum Anda memimpin rapat direksi Elang Group pagi ini. Saya tidak yakin para investor Anda siap melihat maskot baru perusahaan."

Kian merebut tisu itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memutar badannya, dan melangkah lebar-lebar keluar dari ruang kaca dengan langkah sengit.

Namun, saat ia melangkah menuju mobilnya di bawah rindangnya pohon kolonial, Kian menyadari satu hal yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun terakhir: jantungnya berdegup kencang, bukan karena amarah bisnis atau tekanan saham... melainkan karena tawa renyah seorang wanita bersuara merdu yang baru saja menghancurkan harga dirinya sampai ke titik nol.

Perang dingin ini jelas baru saja memanas dengan cara yang sangat konyol.

Pukul 05.50 WIB.

Kian Elang Baskara melangkah masuk ke ruang kaca dengan kepercayaan diri yang terestorasi 100%. Pagi ini ia tampil mengenakan kemeja katun polos biru muda yang pas di badannya, celana bahan kasual, serta sepatu sneakers putih bersih. Tidak ada genangan air, tidak ada bubuk kopi melayang, dan yang paling penting: ia membawa pulpen gel kualitas premium seharga tiga ratus ribu rupiah yang ia beli sendiri.

"Selamat pagi, Bu Maya," sapa Kian dengan nada sesantai mungkin, mencoba menunjukkan bahwa insiden "Panda Tinta" kemarin tidak mempengaruhi mentalnya sama sekali.

Maya yang sedang menata beberapa piring kecil di atas meja kayu menengadah. Matanya berbinar jenaka. "Selamat pagi, Pak Kian. Senang melihat Anda hadir dalam wujud manusia utuh tanpa corak tinta hari ini."

Kian mengabaikan sindiran itu dan langsung duduk. Namun, penciumannya mendeteksi aroma harum gurih yang sangat menggoda selera. Di atas meja, terhidang se piring pisang goreng kipas yang masih mengepul panas dan dua cangkir teh melati.

"Apa lagi ini? Ujian menyeduh teh?" tanya Kian curiga, melipat dadanya.

"Bukan. Ini sarapan," jawab Maya santai seraya menduduki kursinya. "Ibu Anda menelepon saya tadi malam. Beliau bilang Anda selalu melewatkan sarapan karena terlalu sibuk bersikap dingin pada dunia. Jadi, syarat masuk kelas hari ini: habiskan dua buah pisang goreng ini."

Kian mengerutkan kening, menatap pisang goreng berbalut tepung renyah itu seperti melihat benda asing dari planet lain. "Saya tidak makan makanan berminyak di pagi hari. Kalori dan kadar kolesterolnya—"

"Satu gigitan pisang goreng, atau satu laporan kegagalan ke Ibu Eleanor?" potong Maya tenang, menyerahkan sebuah garpu kecil.

Kian menggeram pelan. Dengan enggan, ia menyambar garpu tersebut, memotong sepotong kecil pisang goreng, dan memasukkannya ke dalam mulut.

Ia siap menyumpahi rasanya. Ia siap bilang bahwa ini makanan tidak sehat. Tapi begitu lidahnya mengecap perpaduan manisnya pisang raja yang lumer dan renyahnya adonan berbumbu wijen itu... Kian terpaku. Matanya sedikit membesar.

Enak banget. Sialan, batin Kian menjerit.

Maya yang mengamati perubahan ekspresi Kian hanya tersenyum tipis, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Bagaimana? Apakah rasa pisang goreng ini cukup merusak tatanan oligarki Anda?"

Kian dengan cepat menetralkan raut wajahnya, mengunyah perlahan seolah sedang menilai kualitas keju mahal dari Prancis. "Biasa saja. Tepungnya sedikit terlalu tebal." Tapi tangannya, tanpa sadar, justru memotong potongan kedua yang jauh lebih besar.

Maya menahan senyum. "Baiklah. Sambil Anda 'menikmati' pisang goreng yang biasa saja itu, mari kita masuk ke materi hari ini: Apresiasi dan Pujian."

Kian hampir tersedak. "Pujian?"

"Ya. Seorang pemimpin yang hebat tidak hanya tahu cara mengkritik, tapi juga tahu cara memuji," jelas Maya seraya mengambil sebuah kertas dari folder-nya. "Tugas Anda pagi ini adalah memberikan tiga pujian yang tulus dan spesifik kepada orang-orang di sekitar Anda. Kita mulai dari simulasi. Pujilah saya.

Kian menghentikan kunyahannya. "Memuji Anda?"

"Ya. Bebas. Penampilan saya, cara mengajar saya, atau apa saja. Tapi harus tulus dan spesifik. Tanpa kata 'tapi', tanpa sarkasme."

Kian berdeham, merapikan duduknya. Memuji bawahan atau mitra bisnis adalah hal biasa baginya, tapi memuji wanita di depannya ini terasa seperti diminta memanjat Monas tanpa tali.

"Ehem. Baiklah," Kian menatap Maya. Wanita itu mengenakan kemeja batik katun berpotongan elegan dengan rambut disanggul modern. Matanya yang jernih menatap Kian penuh antisipasi.

"Bu Maya... Anda..." Kian menggantung kalimatnya. Tenggorokannya mendadak kering. "Anda... punya gaya berpakaian yang... tidak merusak pemandangan."

Maya mengedipkan mata. "Tidak merusak pemandangan? Itu pujian atau deskripsi kelayakan bangunan dinas tata kota, Pak Kian?"

"Maksud saya, Anda terlihat... anggun!" seru Kian agak menaikkan nada suaranya karena panik. "Warna baju Anda cocok dengan warna kulit Anda. Puas?"

"Nilai lima dari sepuluh. Agak tertekan, tapi ada kemajuan," kekeh Maya. "Sekarang, coba pujian kedua. Kali ini telepon asisten pribadi Anda, Pak Luki."

Kian melotot. "Luki?! Kenapa harus Luki?"

"Karena beliau adalah orang yang paling sering menerima amukan Anda setiap hari. Buka HP Anda, loudspeaker, dan puji dia."

Dibawah tatapan mengintimidasi namun penuh kehangatan dari Maya, Kian akhirnya mengeluarkan ponselnya dengan jemari gemetar. Ia mencari kontak 'Luki Asisten' dan memanggilnya.

Hanya dalam satu detik, panggilan diangkat.

"Selamat pagi, Pak Kian! Ada yang bisa saya bantu? Mobil sudah siap, berkas rapat jam sembilan sudah di meja, dan saya sudah memesan kopi Guatemala kesukaan Bapak!" suara Luki terdengar sangat sigap namun penuh kecemasan dari seberang telepon.

Kian menarik napas panjang. Maya memberi isyarat tangan agar Kian mulai bicara.

"Luki," panggil Kian berat.

"Ya, Pak?! Ada yang salah?! Saya minta maaf Pak kalau ada dokumen yang keliru, jangan potong bonus saya Pak!" Luki langsung panik.

"Tidak. Tidak ada yang salah," Kian mengusap tengkuknya yang terasa panas. Wajahnya mulai memerah. "Saya... cuma mau bilang..."

"Bilang apa, Pak?"

"Kerja kamu... sangat bagus pagi ini. Terima kasih sudah mempersiapkan semuanya dengan teliti. Kamu... asisten yang sangat diandalkan."

Hening.

Tidak ada suara dari seberang telepon selama lima detik penuh. Maya menahan tawa sambil menutupi mulutnya dengan buku.

"P-Pak Kian...?" suara Luki terdengar bergetar hebat dari telepon.

"Ya?"

"Bapak... Bapak di mana sekarang? Bapak diculik? Atau Bapak lagi disandera babi ngepet Pak?! Tolong jangan macam-macam Pak, sebutkan tebusannya berapa, saya transfer sekarang juga asal Bapak selamat!!" histeris Luki dari seberang telfon.

Kian membelalakkan mata, harga dirinya yang sempat terkumpul langsung hancur berkeping-keping. "LUKI! Saya serius! Saya cuma mau memuji kamu!"

"Akal-akalan pemeras ini pasti! Pak Kian tidak mungkin memuji saya kecuali dunia mau kiamat! Halo?! Penjahat?! Jangan apa-apakan bos saya!"

TUT... TUT... TUT...

Sambungan telepon diputus sepihak oleh Luki.

Ruang kaca itu seketika pecah oleh tawa Maya. Guru sastra itu tertawa sampai harus menyandarkan kepalanya ke meja, bahunya naik turun. Tawa melengking yang begitu lepas dan merdu hingga membuat dinding kaca seolah ikut bergetar.

"Bwahahaha! Babi ngepet?! Pak Kian, asisten Anda berpikir Anda disandera babi ngepet!" gelak Maya dengan air mata menetes di sudut matanya.

Kian menatap ponselnya dengan ekspresi tidak percaya, lalu menatap Maya yang masih tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Kian merah padam, campuran antara malu setengah mati dan kejengkelan yang luar biasa.

"Asisten bodoh. Nanti jam sembilan langsung saya surat pemecatan dia," sungut Kian, membuang mukanya ke samping.

"Jangan dipecat," ujar Maya sambil mencoba merapikan napas dan mengusap air matanya. Ia menatap Kian dengan binar mata yang hangat. "Itu buktinya, Pak Kian. Selama ini Anda begitu kaku dan menakutkan, sampai-sampai satu kalimat tulus dari Anda justru dianggap sebagai musibah oleh orang terdekat Anda."

Kata-kata Maya kembali mendarat tepat di sasaran, namun kali ini tidak terasa menyakitkan. Ada rasa hangat yang aneh merayap di dada Kian.

Maya menyodorkan cangkir teh hangat ke hadapan Kian. "Tapi, usaha Anda tadi patut diacungi jempol. Anda mau mencobanya, dan itu langkah besar untuk seorang 'pangeran es'."

Kian menerima teh itu, menatap uap tipis yang membumbung. Tanpa sadar, sebuah sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah ukiran senyum tipis yang amat langka, bukan senyum sinis atau angkuh, melainkan senyum yang jujur.

"Pisang gorengnya..." gumam Kian pelan sambil menatap piring yang kini sudah kosong. "...Sebenarnya sangat enak."

Maya tertegun sejenak melihat senyuman tipis Kian. Ruangan itu mendadak terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Maya tersenyum manis, membalas tatapan Kian.

"Saya tahu," sahut Maya pelan. "Besok saya suruh bikinkan lagi. Tapi dengan syarat: besok Anda harus belajar cara meminta maaf, bukan cuma memuji."

Kian mendesah pasrah, tapi kali ini, tidak ada lagi rasa gusar di langkahnya saat ia beranjak berdiri untuk bersiap menuju kantor. Perang dingin mereka tampaknya mulai meleleh, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa penasaran yang kian membesar.

Episodes
1 Sang Pewaris Tak Berhati
2 Kemeja Murah, Kopi Kapal, dan Tinta yang Bocor
3 Kursus Singkat Meminta Maaf & Insiden Pisang Goreng
4 Tamu yang Tak Diundang
5 Gemuruh Hujan dan Bayang-Bayang Kenyataan
6 Surat Pengunduran Diri
7 Pilihan di Ujung Tanduk
8 Kebohongan yang Teratur dan Janji di Bawah Hujan
9 Rahasia Tersebunyi dan Kebenaran yang Terkuak
10 Pindah Dinas, Drama Restoran, dan Operasi "Kejar Sampai Ujung Dunia
11 Saingan Baru di Kota Sejuk
12 Badai di Atas Bukit dan Pengorbanan yang Tak Terduga
13 Luka di Balik Jeruji Besi dan Penyesalan yang Terlambat
14 Detak Jantung dan Pengakuan di Balik Koma
15 Pasca-Koma, Amnesia Selektif, dan Bintang Kelas yang Bertingkah
16 Pisang Kepok, Kruk Patah, dan Bunga Lili yang Salah Alamat
17 Dua Hati di Bawah Langit Senja
18 Takhta yang Kembali dan Ujian Terakhir
19 Ketulusan di Balik Kobaran Api
20 Undangan dari Tanah Minang
21 Lamaran Agung di Istano Basa Pagaruyung
22 Megahnya Takhta Cinta dan Kehadiran Tamu Agung
23 Puncak Malam dan Malam Pertama yang Sempurna
24 Epilog Khusus: Pesan & Kesan dari Kian dan Maya
25 Di Balik Tirai Kehidupan Baru
26 Aroma Kopi yang Hilang dan Surat Tanpa Tanggal
27 Di Bawah Guyuran Hujan dan Benang yang Terurai
28 Pecahan Kaca dan Deru Lembar Takdir
29 Gemuruh di Ujung Dermaga
30 Pelukan di Ujung Gelombang dan Nilai Tak Terhingga
31 Tes Kehamilan dan "Misi Khusus" Sang Mantan Murid
32 Bayangan di Dalam Cermin dan Kotak Musik Tua
33 Bunga Seroja di Atas Surat Kaleng
34 Teka-Teki anagram dan Jeritan yang Bungkam
35 Nyala Lilin di Kamar Rahasia
36 Di Antara Runtuhan Puing dan Detik yang Melambat
37 Vonis Dokter, Aksi Pura-Pura, dan Sambal Terasi Jam Dua Pagi
38 Wangi Lavender di Atas Sajadah dan Panggilan Pagi Hari
39 Paspor Merah, Cokelat Panas, dan Sepatu Kets di Kota Geneva
40 Berburu Teka-Teki dengan Cokelat Meluncur dan Stroller Balap
41 Cangkir Porselen yang Pecah dan Gelak Tawa yang Terhenti
42 Gelap di Atas Danau dan Permainan Biola Terakhir
43 Dinding Dingin dan Kunci yang Terbuka
44 Serigala di Atas Tabir Gelap dan Penebusan Berdarah
45 Kepakan Angin Barat dan Pelukan di Pelataran Utama
46 Kereta Malam ke Garut dan Bau Sangrai Sangkuriang
47 ke Ranah Minang
48 Megahnya Kemilau Pagaruyung dan Pesona Desa Pariangan
49 Selendang Merah dan Senyuman dari Ranah Batipuh
50 Rahasia Cincin Pagaruyung dan Trik Konyol Sang Juara
51 Janji di Tepi Danau Singkarak dan Kepakan Sayap Baru
52 Drama Paspor yang Hilang dan 'Datuak' Paris yang Panik
53 Kiriman dari Paris dan 'Serangan' Keju Terbusuk di Dunia
54 Perang Dingin Roti Perancis, Cemburu Buta, dan Bunga yang Tertukar
55 Surat Bersegel Merah dan Sandiwara di Pulau Dewata
56 Nyala Api di Lembah Harau dan Peta yang Terlupakan
57 Cincin Daun Sirih, Kode Bahasa Minang, dan Drama Lamaran 'Salah Server'
58 Ujian Memasak Samba Lado dan Trauma Bawang Merah sang Mantan Peretas
59 Kabut Pagi di Jalur Kelok 9 dan Penampakan Konvoi Hitam
60 Jeritan Malam di Rumah Tua Kelok Sembilan
61 Peta Bintang di Dinding Rumah Tua dan Teka-Teki Waktu yang Terhenti
62 Codex Silsilah dan Bayangan Merah di Atas Selat Malaka
63 Kepulangan ke Jakarta dan Pesta Kejutan di Rumah Gadang
64 Senja di Paris dan Janji Setia di Bawah Menara Eiffel
65 Kode dalam Surat Undangan dan Bayangan di Kota Tua Zurich
66 Bayangan dari Zurich dan Janji di Kota Tua
67 Badai Salju di Benteng Lucerne dan Pertempuran Takdir
68 Kenangan di Lembah Bern dan Retaknya Sebuah Persahabatan
69 Kode Rahasia di Atas Awan dan Ancaman Lembah Anai
70 Operasi 'Penyusupan' Teluk Bayur dan Tragedi Keripik Sanjai Super Pedas
71 Pagi di Teluk Bayur dan Hukuman untuk sang Pahlawan Mules
72 Kejuatan dari Zurich dan Langkah Pertama di Rumah Gadang
73 Kepulangan ke Jakarta dan Misi 'Penyelamatan' Lemari Es
74 Panggilan Malam dari Selat Karimata dan Pembajakan Seroja-09
75 Operasi 'Seroja Emas' dan Dekoder di Kedalaman Laut Jawa
76 Pesta Kemenangan dan Janji Setia di Teluk Jakarta
77 Hukuman Kelas Tambahan untuk sang CEO
78 Ketika Mantan Eksekutor Menjadi 'Siswa' Matematika
79 Bencana Maket Bukittinggi dan 'Operasi Lem Kayu' di Kamar Tengah
80 Protokol 'Ksatria Hitam' dan Serangan di Dermaga Malam
81 Pagi di Rumah Gadang Mini dan Gelak Tawa di Dapur
82 Latihan Menjadi Ayah Siaga dan Operasi 'Popok Taktis'
83 Pendar Cahaya Senja di Ranah Minang dan Awal Segala Musim
84 Surat dari Swiss dan Rencana Besar di Rumah Gadang Batipuh
85 Tangisan Pertama di Tanah Datar dan Kebahagiaan Abadi
86 Syukuran Taqiqah dan 'Latihan Perang' Para Paman
87 Sinyal Misterius di Langit Jakarta dan 'Operasi Ratu Malam'
88 Jejak Konsorsium Singapura dan Misi Taktis di Teluk Jakarta
89 Resepsi Kejutan di Rumah Jakarta dan Diplomasi Meja Makan
90 'Misi Rahasia' di Rumah Sakit dan Senyum Kian Tanaya
91 Syukuran Tujuh Bulanan dan Misi 'Pakaian Bayi Kembar'
92 Tangisan Kembar di Jakarta dan Pelukan sang Ksatria
93 The Next Generation dan Sinyal Misterius di Kampus Nusantara
94 Ujian Generasi Baru dan Senja Abadi di Batipuh
95 Babak Baru di Ibu Kota Nusantara dan Sandi Generasi Emas
96 Kepulangan ke Jakarta dan Grand Design Generasi Emas
97 Operasi Kopi Taktis dan Bencana Pesta Kejutan Paman Dion
98 Operasi 'Kucing Oren' dan Taktik Absurd Paman Dion
99 Lulusnya Sang CEO dan 'Ijazah' Paling Berharga
100 PENGUMUMAN RESMI TAMAT (SEASON 1)
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Sang Pewaris Tak Berhati
2
Kemeja Murah, Kopi Kapal, dan Tinta yang Bocor
3
Kursus Singkat Meminta Maaf & Insiden Pisang Goreng
4
Tamu yang Tak Diundang
5
Gemuruh Hujan dan Bayang-Bayang Kenyataan
6
Surat Pengunduran Diri
7
Pilihan di Ujung Tanduk
8
Kebohongan yang Teratur dan Janji di Bawah Hujan
9
Rahasia Tersebunyi dan Kebenaran yang Terkuak
10
Pindah Dinas, Drama Restoran, dan Operasi "Kejar Sampai Ujung Dunia
11
Saingan Baru di Kota Sejuk
12
Badai di Atas Bukit dan Pengorbanan yang Tak Terduga
13
Luka di Balik Jeruji Besi dan Penyesalan yang Terlambat
14
Detak Jantung dan Pengakuan di Balik Koma
15
Pasca-Koma, Amnesia Selektif, dan Bintang Kelas yang Bertingkah
16
Pisang Kepok, Kruk Patah, dan Bunga Lili yang Salah Alamat
17
Dua Hati di Bawah Langit Senja
18
Takhta yang Kembali dan Ujian Terakhir
19
Ketulusan di Balik Kobaran Api
20
Undangan dari Tanah Minang
21
Lamaran Agung di Istano Basa Pagaruyung
22
Megahnya Takhta Cinta dan Kehadiran Tamu Agung
23
Puncak Malam dan Malam Pertama yang Sempurna
24
Epilog Khusus: Pesan & Kesan dari Kian dan Maya
25
Di Balik Tirai Kehidupan Baru
26
Aroma Kopi yang Hilang dan Surat Tanpa Tanggal
27
Di Bawah Guyuran Hujan dan Benang yang Terurai
28
Pecahan Kaca dan Deru Lembar Takdir
29
Gemuruh di Ujung Dermaga
30
Pelukan di Ujung Gelombang dan Nilai Tak Terhingga
31
Tes Kehamilan dan "Misi Khusus" Sang Mantan Murid
32
Bayangan di Dalam Cermin dan Kotak Musik Tua
33
Bunga Seroja di Atas Surat Kaleng
34
Teka-Teki anagram dan Jeritan yang Bungkam
35
Nyala Lilin di Kamar Rahasia
36
Di Antara Runtuhan Puing dan Detik yang Melambat
37
Vonis Dokter, Aksi Pura-Pura, dan Sambal Terasi Jam Dua Pagi
38
Wangi Lavender di Atas Sajadah dan Panggilan Pagi Hari
39
Paspor Merah, Cokelat Panas, dan Sepatu Kets di Kota Geneva
40
Berburu Teka-Teki dengan Cokelat Meluncur dan Stroller Balap
41
Cangkir Porselen yang Pecah dan Gelak Tawa yang Terhenti
42
Gelap di Atas Danau dan Permainan Biola Terakhir
43
Dinding Dingin dan Kunci yang Terbuka
44
Serigala di Atas Tabir Gelap dan Penebusan Berdarah
45
Kepakan Angin Barat dan Pelukan di Pelataran Utama
46
Kereta Malam ke Garut dan Bau Sangrai Sangkuriang
47
ke Ranah Minang
48
Megahnya Kemilau Pagaruyung dan Pesona Desa Pariangan
49
Selendang Merah dan Senyuman dari Ranah Batipuh
50
Rahasia Cincin Pagaruyung dan Trik Konyol Sang Juara
51
Janji di Tepi Danau Singkarak dan Kepakan Sayap Baru
52
Drama Paspor yang Hilang dan 'Datuak' Paris yang Panik
53
Kiriman dari Paris dan 'Serangan' Keju Terbusuk di Dunia
54
Perang Dingin Roti Perancis, Cemburu Buta, dan Bunga yang Tertukar
55
Surat Bersegel Merah dan Sandiwara di Pulau Dewata
56
Nyala Api di Lembah Harau dan Peta yang Terlupakan
57
Cincin Daun Sirih, Kode Bahasa Minang, dan Drama Lamaran 'Salah Server'
58
Ujian Memasak Samba Lado dan Trauma Bawang Merah sang Mantan Peretas
59
Kabut Pagi di Jalur Kelok 9 dan Penampakan Konvoi Hitam
60
Jeritan Malam di Rumah Tua Kelok Sembilan
61
Peta Bintang di Dinding Rumah Tua dan Teka-Teki Waktu yang Terhenti
62
Codex Silsilah dan Bayangan Merah di Atas Selat Malaka
63
Kepulangan ke Jakarta dan Pesta Kejutan di Rumah Gadang
64
Senja di Paris dan Janji Setia di Bawah Menara Eiffel
65
Kode dalam Surat Undangan dan Bayangan di Kota Tua Zurich
66
Bayangan dari Zurich dan Janji di Kota Tua
67
Badai Salju di Benteng Lucerne dan Pertempuran Takdir
68
Kenangan di Lembah Bern dan Retaknya Sebuah Persahabatan
69
Kode Rahasia di Atas Awan dan Ancaman Lembah Anai
70
Operasi 'Penyusupan' Teluk Bayur dan Tragedi Keripik Sanjai Super Pedas
71
Pagi di Teluk Bayur dan Hukuman untuk sang Pahlawan Mules
72
Kejuatan dari Zurich dan Langkah Pertama di Rumah Gadang
73
Kepulangan ke Jakarta dan Misi 'Penyelamatan' Lemari Es
74
Panggilan Malam dari Selat Karimata dan Pembajakan Seroja-09
75
Operasi 'Seroja Emas' dan Dekoder di Kedalaman Laut Jawa
76
Pesta Kemenangan dan Janji Setia di Teluk Jakarta
77
Hukuman Kelas Tambahan untuk sang CEO
78
Ketika Mantan Eksekutor Menjadi 'Siswa' Matematika
79
Bencana Maket Bukittinggi dan 'Operasi Lem Kayu' di Kamar Tengah
80
Protokol 'Ksatria Hitam' dan Serangan di Dermaga Malam
81
Pagi di Rumah Gadang Mini dan Gelak Tawa di Dapur
82
Latihan Menjadi Ayah Siaga dan Operasi 'Popok Taktis'
83
Pendar Cahaya Senja di Ranah Minang dan Awal Segala Musim
84
Surat dari Swiss dan Rencana Besar di Rumah Gadang Batipuh
85
Tangisan Pertama di Tanah Datar dan Kebahagiaan Abadi
86
Syukuran Taqiqah dan 'Latihan Perang' Para Paman
87
Sinyal Misterius di Langit Jakarta dan 'Operasi Ratu Malam'
88
Jejak Konsorsium Singapura dan Misi Taktis di Teluk Jakarta
89
Resepsi Kejutan di Rumah Jakarta dan Diplomasi Meja Makan
90
'Misi Rahasia' di Rumah Sakit dan Senyum Kian Tanaya
91
Syukuran Tujuh Bulanan dan Misi 'Pakaian Bayi Kembar'
92
Tangisan Kembar di Jakarta dan Pelukan sang Ksatria
93
The Next Generation dan Sinyal Misterius di Kampus Nusantara
94
Ujian Generasi Baru dan Senja Abadi di Batipuh
95
Babak Baru di Ibu Kota Nusantara dan Sandi Generasi Emas
96
Kepulangan ke Jakarta dan Grand Design Generasi Emas
97
Operasi Kopi Taktis dan Bencana Pesta Kejutan Paman Dion
98
Operasi 'Kucing Oren' dan Taktik Absurd Paman Dion
99
Lulusnya Sang CEO dan 'Ijazah' Paling Berharga
100
PENGUMUMAN RESMI TAMAT (SEASON 1)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!