Kelas Tambahan Untuk CEO

Kelas Tambahan Untuk CEO

Sang Pewaris Tak Berhati

Bunyi ketukan heels dan sepatu kulit yang beradu cepat dengan lantai marmer yang mengilap memecah keheningan lantai paling atas gedung Elang Group. Semua pegawai yang berpapasan langsung menunduk seratus delapan puluh derajat, tak ada yang berani menatap mata pria yang baru saja melangkah keluar dari lift privat tersebut.

Kian Elang Baskara.

Di usianya yang baru menginjak 28 tahun, ia sudah memikul takdir yang amat berat. Tiga tahun lalu, kematian mendadak sang ayah akibat serangan jantung memaksa Kian memotong masa mudanya. Sebagai anak semata wayang, seluruh kekaisaran bisnis Elang Group jatuh penuh ke tangannya. Tidak hanya menahkodai perusahaan induk yang bergerak di bidang startup dan teknologi, Kian juga memegang posisi sebagai Direktur Utama di yayasan pendidikan keluarga—sebuah kampus ternama dan SMP swasta elit di pusat kota.

"Jadwal hari ini, Pak Kian," ujar Rian, sekretaris pribadinya, seraya berjalan cepat menyamai langkah lebar sang CEO. "Jam sepuluh rapat evaluasi anggaran dengan dewan direksi Elang Group. Jam satu siang peninjauan fasilitas laboratorium baru di Kampus Elang Utama, dan jam tiga sore ada rapat dengan kepala sekolah SMP Elang Bangsa terkait insiden salah satu siswa kemarin."

Kian tidak berhenti melangkah. Jemarinya yang kokoh membetulkan posisi dasi yang sedikit melonggar.

"Laporan anggaran dari divisi pemasaran sudah kamu revisi?" suara Kian terdengar dingin, tegas, dan tanpa hembusan emosi.

"Sudah, Pak. Tapi... Manajer Pemasaran meminta waktu untuk menjelaskan alasan keterlambatan—"

"Tidak ada penjelasan," potong Kian dingin seraya mendorong pintu ruang kerjanya yang megah. "Satu persen kesalahan angka adalah kelalaian. Potong bonus divisinya sepuluh persen."

Rian meringis pelan, namun hanya bisa mengangguk pasrah. Satu lagi korban dari Sang Pangeran Es.

Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, seorang wanita paruh baya bertubuh anggun sedang duduk meminum teh hangat di sofa kulit. Ibu Eleanor, ibu kandung Kian sekaligus komisaris utama yayasan. Sejak peninggalan almarhum suaminya, Eleanor-lah satu-satunya alasan Kian masih mau tersenyum—itu pun sangat jarang.

"Kian, duduklah sebentar," panggil ibunya lembut.

Kian menghela napas pendek, lalu melunak sedikit. Ia mendekati ibunya dan mencium tangannya penuh hormat. "Ibu kenapa sudah di kantor pagi-pagi begini? Kesehatan Ibu belum stabil."

"Ibu ke sini bukan untuk bahas kesehatan, Kian," ujar Eleanor menatap putra tunggalnya dengan pandangan prihatin. "Ibu baru saja menerima laporan dari dewan direksi dan para dekan di kampus."

Kian mengernyitkan dahi. "Laporan apa? Semua dividen naik, efisiensi kampus meningkat lima belas persen."

"Tapi kamu memecat dua dosen senior minggu lalu hanya karena mereka terlambat menyerahkan modul lima menit, Kian!" tegas Eleanor. "Di SMP juga sama, para guru ketakutan setiap kali kamu datang meninjau. Kamu memimpin tempat usaha dan lembaga pendidikan seperti menjalankan kamp militer. Kian, manusia itu punya perasaan, bukan sekadar angka di atas kertas laporan keuangan."

"Disiplin adalah kunci efisiensi, Bu," balas Kian kaku. "Ayah mengajari saya untuk tidak pernah membawa perasaan ke dalam bisnis."

"Ayahmu tegas, tapi dia punya empati! Itu bedanya," potong Eleanor lembut namun menusuk. "Dewan direksi mulai resah dengan citra publikmu yang dingin dan kaku. Ini bisa berdampak buruk pada saham perusahaan dan reputasi yayasan."

Eleanor meletakkan sebuah cangkir tehnya, lalu mengambil sebuah brosur dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja kaca.

"Ibu sudah mendaftarkanmu ke sebuah program privat komunikasi dan pengembangan karakter. Ini wajib."

Kian menatap brosur itu dengan kening berkerut dalam. "Kelas komunikasi? Ibu bercanda? Saya seorang CEO Elang Group dan Direktur Utama dua lembaga pendidikan. Saya tidak butuh kelas anak kecil seperti ini."

"Kamu butuh, Kian. Atau Ibu akan mencabut hak veto kamu di rapat dewan direksi minggu depan," ancam Eleanor tenang, namun mematikan.

Kian mengepalkan tangannya.itu, ia tak punya pilihan lain. Dengan perasaan gusar dan harga diri yang terluka, Kian menyambar kertas brosur tersebut.

Di sana tertera nama sebuah bimbingan privat khusus dengan satu nama pengajar di bawahnya: Maya Saraswati, S.Pd., M.Hum.

Siapapun "Maya" ini, Kian berjanji dalam hati akan membuat wanita itu menyerah dan membubarkan kelas konyol ini pada hari pertama.

Langkah kaki Kian meninggalkan ruang kerja ibunya dengan ketukan yang jauh lebih berat dan gusar. Brosur di genggamannya sudah agak remuk. Nama Maya Saraswati, S.Pd., M.Hum. yang tertera di sana terus menari-nari di ingatan Kian, memicu kekesalan yang kian membakar harga dirinya.

Sore itu juga, Kian memutuskan untuk langsung mendatangi lokasi bimbingan privat tersebut—bukan untuk belajar, melainkan untuk memberi pelajaran pada si pengajar dan menyelesaikan "formalitas" ini secepat mungkin.

Perjumpaan di Ruang Kaca

Mobil sedan hitam Kian berhenti di depan sebuah bangunan tua berarsitektur kolonial yang dipenuhi pepohonan rindang di kawasan Jakarta Pusat. Tidak ada papan nama megah, hanya plang kayu kecil bertuliskan “Lentera Bahasa & Karakter”.

Kian melangkah masuk dengan gaya angkuhnya, bersiap menghadapi sesosok wanita yang ia bayangkan akan gemetar atau membungkuk hormat saat melihat Kian Elang Baskara.

Namun, pemandangan di dalam ruang kelas berdinding kaca itu justru menghentikan langkah Kian.

Seorang wanita berbalut kemeja linen putih dan kain batik modern sedang berdiri di depan lima anak remaja dari latar belakang kurang mampu—program sosial yang dikelola Maya di luar kelas privatnya. Suara wanita itu merdu, namun terpancar wibawa yang luar biasa kuat saat ia membimbing anak-anak itu membacakan puisi.

Saat pandangan mereka beradu melewati dinding kaca, tidak ada rasa terkejut, silau, apalagi takut di mata wanita itu. Maya Saraswati hanya menatap Kian tenang, lalu memberikan isyarat dengan jemarinya agar Kian menunggu di luar hingga kelasnya selesai.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, seorang Kian Elang Baskara diperintahkan untuk menunggu.

Benturan Dua DuniaLima belas menit kemudian, pintu kaca terbuka. Maya melangkah keluar, merapikan beberapa lembar kertas analisis bahasa di tangannya, lalu menatap Kian dari atas ke bawah secara tenang.

"Pak Kian Elang Baskara. Tiga belas menit lebih awal dari jadwal privat yang disepakati," ujar Maya datar, suara dan intonasinya begitu tertata, khas seorang pakar bahasa dan sastra. "Tepat waktu adalah bentuk rasa hormat, tetapi datang terlalu awal dan mengganggu fokus orang lain adalah bentuk dominasi yang tidak perlu."

Kian menyipitkan mata, rahangnya mengetat. "Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi, Bu Maya. Saya datang ke sini karena paksaan ibu saya. Jadi, sebutkan berapa tarif yang Anda inginkan untuk menandatangani sertifikat kelulusan saya tanpa perlu saya menghadiri kelas konyol ini."

Maya menghentikan gerak jemarinya. Ia menatap Kian lurus ke dalam manik matanya—sebuah tatapan yang biasanya membuat para manajer di Elang Group berkeringat dingin. Namun Maya justru tersenyum tipis, sebuah senyuman elegan yang terasa lebih dingin dari AC ruang kerja Kian.

"Uang Anda bisa membeli saham dan gedung, Pak Kian. Tapi di ruang kelas saya, uang Anda tidak lebih dari sekadar kertas," balas Maya santai seraya berjalan menuju meja kerjanya. "Ibu Eleanor membayar saya untuk membentuk kembali cara Anda berkomunikasi dan berempati, bukan untuk menjual tanda tangan."

"Saya memimpin puluhan ribu karyawan dan ribuan siswa!" tegas Kian, langkahnya mendekati Maya, mencoba mengintimidasi dengan postur tubuhnya yang tinggi. "Komunikasi saya tidak ada masalah."

Maya balik memutar badan, menatap Kian tanpa jarak.

"Memerintah bukanlah berkomunikasi, Pak Kian," potong Maya lembut namun menohok. "Anak buah Anda patuh karena takut, bukan karena hormat. Anda membangun benteng es untuk melindungi diri Anda sendiri sejak kehilangan ayah Anda, dan tanpa Anda sadari, es itu mulai menghancurkan kekaisaran yang Anda pimpin."

Kata-kata Maya bagai petir di siang bolong. Kian terpaku. Bagaimana mungkin wanita yang baru ditemuinya lima menit lalu bisa membaca luka mendalam yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik jas mewahnya?

Permainan Dimulai. "Anda tidak tahu apa-apa tentang saya atau bisnis saya," desis Kian dengan suara rendah yang berbahaya.

"Saya tahu cukup banyak dari cara Anda berdiri, bernapas, dan memotong kalimat orang lain," sahut Maya tenang seraya menyerahkan sebuah buku catatan kosong dan sebuah pulpen sederhana kepada Kian.

"Apa ini?" Kian menatap benda murah di tangannya dengan dahi berkerut.

"Tugas pertama Anda," jawab Maya sambil tersenyum tenang. "Mulai besok pagi, lepaskan jas mahal Anda. Selama dua jam setiap harinya sebelum jam kantor, Anda bukan CEO Elang Group. Anda adalah murid saya. Jika Anda mangkir satu kali saja, saya sendiri yang akan menyerahkan laporan evaluasi kegagalan Anda langsung ke tangan Ibu Eleanor."

Kian mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap Maya yang kini sudah kembali sibuk memeriksa tugas-tugas muridnya, sama sekali tak lagi memedulikan kehadiran sang pangeran es.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Kian, ia bertemu dengan lawan yang tidak bisa ditaklukkan dengan uang ataupun kekuasaan. Perang dingin antara CEO berhati es dan guru sastra bersuara lembut itu resmi dimulai.

Episodes
1 Sang Pewaris Tak Berhati
2 Kemeja Murah, Kopi Kapal, dan Tinta yang Bocor
3 Kursus Singkat Meminta Maaf & Insiden Pisang Goreng
4 Tamu yang Tak Diundang
5 Gemuruh Hujan dan Bayang-Bayang Kenyataan
6 Surat Pengunduran Diri
7 Pilihan di Ujung Tanduk
8 Kebohongan yang Teratur dan Janji di Bawah Hujan
9 Rahasia Tersebunyi dan Kebenaran yang Terkuak
10 Pindah Dinas, Drama Restoran, dan Operasi "Kejar Sampai Ujung Dunia
11 Saingan Baru di Kota Sejuk
12 Badai di Atas Bukit dan Pengorbanan yang Tak Terduga
13 Luka di Balik Jeruji Besi dan Penyesalan yang Terlambat
14 Detak Jantung dan Pengakuan di Balik Koma
15 Pasca-Koma, Amnesia Selektif, dan Bintang Kelas yang Bertingkah
16 Pisang Kepok, Kruk Patah, dan Bunga Lili yang Salah Alamat
17 Dua Hati di Bawah Langit Senja
18 Takhta yang Kembali dan Ujian Terakhir
19 Ketulusan di Balik Kobaran Api
20 Undangan dari Tanah Minang
21 Lamaran Agung di Istano Basa Pagaruyung
22 Megahnya Takhta Cinta dan Kehadiran Tamu Agung
23 Puncak Malam dan Malam Pertama yang Sempurna
24 Epilog Khusus: Pesan & Kesan dari Kian dan Maya
25 Di Balik Tirai Kehidupan Baru
26 Aroma Kopi yang Hilang dan Surat Tanpa Tanggal
27 Di Bawah Guyuran Hujan dan Benang yang Terurai
28 Pecahan Kaca dan Deru Lembar Takdir
29 Gemuruh di Ujung Dermaga
30 Pelukan di Ujung Gelombang dan Nilai Tak Terhingga
31 Tes Kehamilan dan "Misi Khusus" Sang Mantan Murid
32 Bayangan di Dalam Cermin dan Kotak Musik Tua
33 Bunga Seroja di Atas Surat Kaleng
34 Teka-Teki anagram dan Jeritan yang Bungkam
35 Nyala Lilin di Kamar Rahasia
36 Di Antara Runtuhan Puing dan Detik yang Melambat
37 Vonis Dokter, Aksi Pura-Pura, dan Sambal Terasi Jam Dua Pagi
38 Wangi Lavender di Atas Sajadah dan Panggilan Pagi Hari
39 Paspor Merah, Cokelat Panas, dan Sepatu Kets di Kota Geneva
40 Berburu Teka-Teki dengan Cokelat Meluncur dan Stroller Balap
41 Cangkir Porselen yang Pecah dan Gelak Tawa yang Terhenti
42 Gelap di Atas Danau dan Permainan Biola Terakhir
43 Dinding Dingin dan Kunci yang Terbuka
44 Serigala di Atas Tabir Gelap dan Penebusan Berdarah
45 Kepakan Angin Barat dan Pelukan di Pelataran Utama
46 Kereta Malam ke Garut dan Bau Sangrai Sangkuriang
47 ke Ranah Minang
48 Megahnya Kemilau Pagaruyung dan Pesona Desa Pariangan
49 Selendang Merah dan Senyuman dari Ranah Batipuh
50 Rahasia Cincin Pagaruyung dan Trik Konyol Sang Juara
51 Janji di Tepi Danau Singkarak dan Kepakan Sayap Baru
52 Drama Paspor yang Hilang dan 'Datuak' Paris yang Panik
53 Kiriman dari Paris dan 'Serangan' Keju Terbusuk di Dunia
54 Perang Dingin Roti Perancis, Cemburu Buta, dan Bunga yang Tertukar
55 Surat Bersegel Merah dan Sandiwara di Pulau Dewata
56 Nyala Api di Lembah Harau dan Peta yang Terlupakan
57 Cincin Daun Sirih, Kode Bahasa Minang, dan Drama Lamaran 'Salah Server'
58 Ujian Memasak Samba Lado dan Trauma Bawang Merah sang Mantan Peretas
59 Kabut Pagi di Jalur Kelok 9 dan Penampakan Konvoi Hitam
60 Jeritan Malam di Rumah Tua Kelok Sembilan
61 Peta Bintang di Dinding Rumah Tua dan Teka-Teki Waktu yang Terhenti
62 Codex Silsilah dan Bayangan Merah di Atas Selat Malaka
63 Kepulangan ke Jakarta dan Pesta Kejutan di Rumah Gadang
64 Senja di Paris dan Janji Setia di Bawah Menara Eiffel
65 Kode dalam Surat Undangan dan Bayangan di Kota Tua Zurich
66 Bayangan dari Zurich dan Janji di Kota Tua
67 Badai Salju di Benteng Lucerne dan Pertempuran Takdir
68 Kenangan di Lembah Bern dan Retaknya Sebuah Persahabatan
69 Kode Rahasia di Atas Awan dan Ancaman Lembah Anai
70 Operasi 'Penyusupan' Teluk Bayur dan Tragedi Keripik Sanjai Super Pedas
71 Pagi di Teluk Bayur dan Hukuman untuk sang Pahlawan Mules
72 Kejuatan dari Zurich dan Langkah Pertama di Rumah Gadang
73 Kepulangan ke Jakarta dan Misi 'Penyelamatan' Lemari Es
74 Panggilan Malam dari Selat Karimata dan Pembajakan Seroja-09
75 Operasi 'Seroja Emas' dan Dekoder di Kedalaman Laut Jawa
76 Pesta Kemenangan dan Janji Setia di Teluk Jakarta
77 Hukuman Kelas Tambahan untuk sang CEO
78 Ketika Mantan Eksekutor Menjadi 'Siswa' Matematika
79 Bencana Maket Bukittinggi dan 'Operasi Lem Kayu' di Kamar Tengah
80 Protokol 'Ksatria Hitam' dan Serangan di Dermaga Malam
81 Pagi di Rumah Gadang Mini dan Gelak Tawa di Dapur
82 Latihan Menjadi Ayah Siaga dan Operasi 'Popok Taktis'
83 Pendar Cahaya Senja di Ranah Minang dan Awal Segala Musim
84 Surat dari Swiss dan Rencana Besar di Rumah Gadang Batipuh
85 Tangisan Pertama di Tanah Datar dan Kebahagiaan Abadi
86 Syukuran Taqiqah dan 'Latihan Perang' Para Paman
87 Sinyal Misterius di Langit Jakarta dan 'Operasi Ratu Malam'
88 Jejak Konsorsium Singapura dan Misi Taktis di Teluk Jakarta
89 Resepsi Kejutan di Rumah Jakarta dan Diplomasi Meja Makan
90 'Misi Rahasia' di Rumah Sakit dan Senyum Kian Tanaya
91 Syukuran Tujuh Bulanan dan Misi 'Pakaian Bayi Kembar'
92 Tangisan Kembar di Jakarta dan Pelukan sang Ksatria
93 The Next Generation dan Sinyal Misterius di Kampus Nusantara
94 Ujian Generasi Baru dan Senja Abadi di Batipuh
95 Babak Baru di Ibu Kota Nusantara dan Sandi Generasi Emas
96 Kepulangan ke Jakarta dan Grand Design Generasi Emas
97 Operasi Kopi Taktis dan Bencana Pesta Kejutan Paman Dion
98 Operasi 'Kucing Oren' dan Taktik Absurd Paman Dion
99 Lulusnya Sang CEO dan 'Ijazah' Paling Berharga
100 PENGUMUMAN RESMI TAMAT (SEASON 1)
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Sang Pewaris Tak Berhati
2
Kemeja Murah, Kopi Kapal, dan Tinta yang Bocor
3
Kursus Singkat Meminta Maaf & Insiden Pisang Goreng
4
Tamu yang Tak Diundang
5
Gemuruh Hujan dan Bayang-Bayang Kenyataan
6
Surat Pengunduran Diri
7
Pilihan di Ujung Tanduk
8
Kebohongan yang Teratur dan Janji di Bawah Hujan
9
Rahasia Tersebunyi dan Kebenaran yang Terkuak
10
Pindah Dinas, Drama Restoran, dan Operasi "Kejar Sampai Ujung Dunia
11
Saingan Baru di Kota Sejuk
12
Badai di Atas Bukit dan Pengorbanan yang Tak Terduga
13
Luka di Balik Jeruji Besi dan Penyesalan yang Terlambat
14
Detak Jantung dan Pengakuan di Balik Koma
15
Pasca-Koma, Amnesia Selektif, dan Bintang Kelas yang Bertingkah
16
Pisang Kepok, Kruk Patah, dan Bunga Lili yang Salah Alamat
17
Dua Hati di Bawah Langit Senja
18
Takhta yang Kembali dan Ujian Terakhir
19
Ketulusan di Balik Kobaran Api
20
Undangan dari Tanah Minang
21
Lamaran Agung di Istano Basa Pagaruyung
22
Megahnya Takhta Cinta dan Kehadiran Tamu Agung
23
Puncak Malam dan Malam Pertama yang Sempurna
24
Epilog Khusus: Pesan & Kesan dari Kian dan Maya
25
Di Balik Tirai Kehidupan Baru
26
Aroma Kopi yang Hilang dan Surat Tanpa Tanggal
27
Di Bawah Guyuran Hujan dan Benang yang Terurai
28
Pecahan Kaca dan Deru Lembar Takdir
29
Gemuruh di Ujung Dermaga
30
Pelukan di Ujung Gelombang dan Nilai Tak Terhingga
31
Tes Kehamilan dan "Misi Khusus" Sang Mantan Murid
32
Bayangan di Dalam Cermin dan Kotak Musik Tua
33
Bunga Seroja di Atas Surat Kaleng
34
Teka-Teki anagram dan Jeritan yang Bungkam
35
Nyala Lilin di Kamar Rahasia
36
Di Antara Runtuhan Puing dan Detik yang Melambat
37
Vonis Dokter, Aksi Pura-Pura, dan Sambal Terasi Jam Dua Pagi
38
Wangi Lavender di Atas Sajadah dan Panggilan Pagi Hari
39
Paspor Merah, Cokelat Panas, dan Sepatu Kets di Kota Geneva
40
Berburu Teka-Teki dengan Cokelat Meluncur dan Stroller Balap
41
Cangkir Porselen yang Pecah dan Gelak Tawa yang Terhenti
42
Gelap di Atas Danau dan Permainan Biola Terakhir
43
Dinding Dingin dan Kunci yang Terbuka
44
Serigala di Atas Tabir Gelap dan Penebusan Berdarah
45
Kepakan Angin Barat dan Pelukan di Pelataran Utama
46
Kereta Malam ke Garut dan Bau Sangrai Sangkuriang
47
ke Ranah Minang
48
Megahnya Kemilau Pagaruyung dan Pesona Desa Pariangan
49
Selendang Merah dan Senyuman dari Ranah Batipuh
50
Rahasia Cincin Pagaruyung dan Trik Konyol Sang Juara
51
Janji di Tepi Danau Singkarak dan Kepakan Sayap Baru
52
Drama Paspor yang Hilang dan 'Datuak' Paris yang Panik
53
Kiriman dari Paris dan 'Serangan' Keju Terbusuk di Dunia
54
Perang Dingin Roti Perancis, Cemburu Buta, dan Bunga yang Tertukar
55
Surat Bersegel Merah dan Sandiwara di Pulau Dewata
56
Nyala Api di Lembah Harau dan Peta yang Terlupakan
57
Cincin Daun Sirih, Kode Bahasa Minang, dan Drama Lamaran 'Salah Server'
58
Ujian Memasak Samba Lado dan Trauma Bawang Merah sang Mantan Peretas
59
Kabut Pagi di Jalur Kelok 9 dan Penampakan Konvoi Hitam
60
Jeritan Malam di Rumah Tua Kelok Sembilan
61
Peta Bintang di Dinding Rumah Tua dan Teka-Teki Waktu yang Terhenti
62
Codex Silsilah dan Bayangan Merah di Atas Selat Malaka
63
Kepulangan ke Jakarta dan Pesta Kejutan di Rumah Gadang
64
Senja di Paris dan Janji Setia di Bawah Menara Eiffel
65
Kode dalam Surat Undangan dan Bayangan di Kota Tua Zurich
66
Bayangan dari Zurich dan Janji di Kota Tua
67
Badai Salju di Benteng Lucerne dan Pertempuran Takdir
68
Kenangan di Lembah Bern dan Retaknya Sebuah Persahabatan
69
Kode Rahasia di Atas Awan dan Ancaman Lembah Anai
70
Operasi 'Penyusupan' Teluk Bayur dan Tragedi Keripik Sanjai Super Pedas
71
Pagi di Teluk Bayur dan Hukuman untuk sang Pahlawan Mules
72
Kejuatan dari Zurich dan Langkah Pertama di Rumah Gadang
73
Kepulangan ke Jakarta dan Misi 'Penyelamatan' Lemari Es
74
Panggilan Malam dari Selat Karimata dan Pembajakan Seroja-09
75
Operasi 'Seroja Emas' dan Dekoder di Kedalaman Laut Jawa
76
Pesta Kemenangan dan Janji Setia di Teluk Jakarta
77
Hukuman Kelas Tambahan untuk sang CEO
78
Ketika Mantan Eksekutor Menjadi 'Siswa' Matematika
79
Bencana Maket Bukittinggi dan 'Operasi Lem Kayu' di Kamar Tengah
80
Protokol 'Ksatria Hitam' dan Serangan di Dermaga Malam
81
Pagi di Rumah Gadang Mini dan Gelak Tawa di Dapur
82
Latihan Menjadi Ayah Siaga dan Operasi 'Popok Taktis'
83
Pendar Cahaya Senja di Ranah Minang dan Awal Segala Musim
84
Surat dari Swiss dan Rencana Besar di Rumah Gadang Batipuh
85
Tangisan Pertama di Tanah Datar dan Kebahagiaan Abadi
86
Syukuran Taqiqah dan 'Latihan Perang' Para Paman
87
Sinyal Misterius di Langit Jakarta dan 'Operasi Ratu Malam'
88
Jejak Konsorsium Singapura dan Misi Taktis di Teluk Jakarta
89
Resepsi Kejutan di Rumah Jakarta dan Diplomasi Meja Makan
90
'Misi Rahasia' di Rumah Sakit dan Senyum Kian Tanaya
91
Syukuran Tujuh Bulanan dan Misi 'Pakaian Bayi Kembar'
92
Tangisan Kembar di Jakarta dan Pelukan sang Ksatria
93
The Next Generation dan Sinyal Misterius di Kampus Nusantara
94
Ujian Generasi Baru dan Senja Abadi di Batipuh
95
Babak Baru di Ibu Kota Nusantara dan Sandi Generasi Emas
96
Kepulangan ke Jakarta dan Grand Design Generasi Emas
97
Operasi Kopi Taktis dan Bencana Pesta Kejutan Paman Dion
98
Operasi 'Kucing Oren' dan Taktik Absurd Paman Dion
99
Lulusnya Sang CEO dan 'Ijazah' Paling Berharga
100
PENGUMUMAN RESMI TAMAT (SEASON 1)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!