Ucapan Derix terpotong saat tubuh Aghasa lebih dulu berlari dengan cepat menghampiri sosok gadis kecil yang tengah berusaha untuk tetap bernapas.
Dengan kedua tangan yang bergetar, Aghasa memeluk tubuh rapuh gadis itu. Dapat dilihatnya iris keemasan yang keruh karena kelopak mata gadis kecil itu yang sedikit terbuka, semakin membuat perasaannya semakin tak karuan.
“Apa yang kau lihat?! Cepat panggil penyihir penyembuh!”
Sang Grand Duke terlihat kehilangan kendali. Raut wajah yang biasanya tegas dan datar itu terlihat sedikit ketakutan?
Derix yang akhirnya tersadar karena bentakan Aghasa, lantas berbalik menuju pusat perkumpulan ksatria yang bertugas malam ini dengan cepat.
“Bernapas, bernapaslah dengan pelan.” Tangan yang terbalut sarung tangan hitam
itu dengan pelan menyentuh pipi Angel yang kehilangan ronanya.
“Maafkan aku... Kumohon, bertahanlah sedikit lagi.“
Terlihat kelopak mata Ella mengedip pelan. Ditengah kesadarannya yang hampir menghilang, Ella merasa ia tidak mau memberontak karena orang asing yang memeluknya ini berniat menolong bahkan terlihat khawatir akan dirinya?
Namun pandangan sayu yang perlahan mulai menutup itu juga menatap Aghasa bingung.
Menurutnya wajar jika ada sedikit dari beberapa orang yang masih akan khawatir melihat seorang anak kecil yang kesulitan bernapas, tergeletak sendirian dan mengenaskan di tengah keramaian.
'Tapi, kenapa tuan ksatria terlihat seperti ingin, menangis?'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Haah, huh – “
Napas gadis kecil yang tertidur di atas ranjang besar dengan selimut yang memeluknya, terdengar stabil.
Berbeda dengan beberapa saat ketika ia di bawa. Ella mengeliat pelan, matanya berkedip untuk menyesuaikan cahaya.
Sedetik kemudian ia terkejut mendapati dirinya berbaring di sebuah kasur megah nan empuk dengan selimut hangat yang tebal menyelimuti tubuh kecilnya.
‘Apa aku sudah mati?' Tubuh Ella perlahan duduk bersandar.
Memperhatikan keadaan sekitar tempat dirinya berada. Satu kalimat yang terlintas di benaknya, 'Cantik'.
Sebuah kamar yang bahkan lebih besar dari bangunan Panti Asuhan Greys. Ornamen cantik di setiap sudut dinding putihnya.
Serta perabotan besar seperti lemari, meja rias, bahkan ada beberapa sofa besar yang terlihat tidak kalah empuk dari kasur yang tengah ia tempati.
‘Sebenarnya, sekarang aku berada dimana ya?’ Entah kenapa, Ella tidak merasa bahwa tempat ini berbahaya untuknya.
Sekelibatan kenangan sebelum ia kehilangan kesadaran mulai muncul. Ella mengingat bahwa sebelumnya ada seorang pria menggunakan baju yang bagus memeluk dirinya yang tengah sekarat.
‘Apakah tuan ksatria itu yang membawaku?’
Tubuh Ella tersentak kaget kala menyadari sesuatu. Tepat di samping kanan ranjang, di atas nakas putih gading yang dilihatnya, terdapat tas juga gumpalan kain yang ia bawa.
'Ah, ternyata tuan ksatria menyimpannya untukku’
Namun sedetik kemudian, dengan panik Ella beranjak turun dari kasur yang sebenarnya masih ingin ia tiduri setelah puas dengan pikirannya. ‘
Bagaimana ini? Aku tidur di atas
kasur ini padahal tubuhku sangat kotor’
Tangan gadis kecil itu dengan sigap membersihkan debu-debu yang menurutnya ada karena ia tidur di atasnya.
Ella juga merapihkan tata letak bantal dan melipat selimut sebisanya.
Baginya selimut yang terbuntal acak itu kini terlihat cukup rapih. Dilihat dari cahaya remang di dalam kamar juga suasana yang sunyi.
“Sepertinya ... masih, malam,” monolognya.
Ella mengambil barang bawaannya, memeluk benda-benda berharga baginya dan kembali berbaring di atas lantai tepat di samping bawah ranjang besar.
Tertidur di lantai bersih yang halus ini dibanding kasur keras yang kotor di panti asuhan merupakan sebuah kenyamanan bagi dirinya.
“Besok, aku ... harus, ber-terima kasih,” lirih Ella sebelum kantuk kembali memeluk kesadarannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kau sudah dengar? Katanya semalam tuan menemukan anak itu!”
“Ssttt! Kau tidak boleh sembarang menyebutnya seperti itu. Dan juga, orang yang akan kita layani pagi ini kan beliau,” tegurnya.
Dua wanita yang mengenakkan seragam pelayan keluarga grand duke itu menghentikan perbincangan yang mereka lakukan di depan sebuah pintu besar yang menjulang di hadapan mereka.
Salah satu dari mereka berdehem pelan, keduanya mempersiapkan diri sebelum mengetuk pintu.
Tok, tok-
“Permisi, Nona. Kami pelayan yang akan membantu anda membersihkan diri.”
Hening. Tidak ada sahutan maupun deheman yang menjadi jawaban untuk kedua pelayan itu. Kedua wanita pelayan itu beradu tatap, bingung.
“Apa menurutmu nona belum sadarkan diri juga?”
Memandang kembali pintu yang masih setia tertutup, ia menggeleng pelan menjawab dugaan rekannya. “Aku tidak tahu.”
“Bagaimana ini? Tuan sedang pergi keluar sejak matahari terbit. Bagaimana jika memang terjadi sesuatu lagi dengan nona?”
Kekhawatiran mulai muncul di raut wajah keduanya. Mereka dilanda perasaan bingung juga takut menjadi satu.
“Mari kita cek ke dalam,” putusnya tegas. “Kita yang bertanggung jawab merawat nona pagi ini, jadi kita juga harus menjaga beliau jika terjadi sesuatu selagi tuan tidak berada di kediaman.”
Anggukan tegas dari rekannya membuat kedua pelayan wanita itu pada akhirnya membuka pintu di depan mereka tanpa jawaban dari ijin yang sebelumnya terlontar.
“Permisi Nona ... Kami masuk.”
Tubuh mereka berdua menegang terkejut kala melihat ranjang yang terdapat seorang
gadis kecil terbaring di atasnya kemarin, kini telah kosong. Bahkan bantal-bantal kembali tertata dengan selimut terlipat acak.
Trang –
Perlengkapan mandi yang sedari tadi di pegang oleh pelayan wanita itu terjatuh kala tangannya terasa lemas dan kehilangan tenaga.
Yang menjadi puncak keterkejutan mereka adalah, saat pandangan mereka tertuju ke arah satu titik di atas lantai, dimana seorang anak kecil yang tertidur di atas lantai dingin tanpa alas memeluk sebuah tas dan kain kumuh dengan saat erat seolah hanya itu yang ia punya.
“Ada apa ini?”
Derix yang memang tengah melakukan patroli jarak dekat di sekitar kamar tamu yang berharga bagi tuannya itu datang kala mendengar suara berisik dari dalam kamar.
“Tuan Derix ... No, nona-“
Pandangan Derix yang awalnya menelisik raut terkejut dua pelayan wanita kediaman grand duke itu teralihkan saat sudut matanya menangkap pemandangan gadis kecil yang tertidur meringkuk di atas lantai.
“Nona!” Sontak dengan sigap Derix berlari mendekat.
Ella yang merasakan akan kehadiran orang lain serta kebisingan di sekitarnya pun perlahan mengerjap terbangun. Ia mengusap kedua kelopak matanya sambil terduduk.
Pemandangan yang pertama kali tersaji adalah raut panik seorang pria--dengan pedang di pinggangnya--tengah berjongkok di depan dirinya.
Serta dua orang wanita yang seperti mengenakan pakaian seragam senada, berdiri di belakang pria itu.
‘Pria dengan pedang? Seorang Ksatria? Tapi ... Dia tidak terlihat mirip dengan pria yang ingin menangis saat menolongku semalam.’
Ella mengernyitkan keningnya pusing.
Derix yang menangkap hal itu sontak meminta ijin dan segera menggendong tubuh Ella kembali ke atas kasur yang hangat dan nyaman, sebelum mendapat persetujuan dari Ella yang tersentak kaget kala dirinya kembali menduduki kasir besar semalam.
Ella yang panik saat tubuhnya dibawa kembali tidak bisa memberontak dengan jelas karena raut khawatir tiga orang asing yang bersamanya itu membuat perasaanya terasa aneh.
“Nona, apa masih ada yang terasa menyakitkan di suatu tempat?”
'Ka-kakak itu bertanya padaku?'
Meskipun kebingungan, Ella tetap menjawab dengan menggeleng pelan saat dirinya yakin pertanyaan itu tertuju untuknya. Ia melirik kecil ke arah Derix. “Tu-tubuhku ... “
“Ya? Apa ada yang sakit di tubuh Nona?” Derix semakin panik kala mendengar lirihan sayu gadis kecil itu, Ia dengan sigap langsung bertanya kembali.
“Ko-kotor.”
Derix dan dua pelayan wanita itu saling tatap sesaat. Mencoba mengerti potongan kalimat yang terucap dari Ella. Sampai salah satu dari pelayan wanita yang lebih tenang memutuskan untuk lebih mendekat.
Bertumpu dengan menggunakan lututnya di pinggir ranjang, wanita itu berujar dengan nada lembut. “Apa yang anda maksud kalau tubuh nona saat ini terasa kotor?”
Ia berpikir gadis kecil itu tidak nyaman karena belum membersihkan diri di pagi hari dan ini memang sudah waktunya.
Ella mengangguk pelan dengan memeluk kedua lututnya. “Kasurnya, karena aku. Jadi, kotor,” serunya dengan perasaan takut.
Apa? Jadi yang membuat gadis kecil ini merasa tidak nyaman adalah dia merasa bersalah karena dia telah mengotori kasur? pikir ketiganya.
Derix menggeleng dengan tegas membantah perkataan Ella. “Nona, anda tidak perlu merasa segan dan bersalah hanya karena membuat sebuah kasur mejadi kotor.”
Ella menatap Derix dengan kedua matanya, mencoba mencari arti dari kalimat pria itu. Apakah maksudnya kasur ini memang kotor sehingga tidak apa-apa dirinya yang juga kotor untuk duduk bahkan tidur di atasnya? pikir Ella.
“Dan jika kotor. Para pelayan bisa membersihkannya kembali,” jelas Derix melanjutkan ucapannya. Dengan disertai anggukan dari dua orang pelayan wanita.
“Kenyamanan Nona lah yang harus menjadi prioritas disini.”
“A-aku? ... Kenapa?”
Derix mengangguk. “Tidak mungkin tuan grand duke membiarkan begitu saja anggota keluarganya yang sedang sakit tidur di atas lantai yang dingin.”
Wajah Ella terlihat kebingungan. ‘Keluarga? Kata tetua panti, aku kan tidak memiliki keluarga’
Senyuman haru dari tiga orang dewasa di kamar itu yang ditunjukkan untuknya, menambah perasaan bingung Ella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aghasa melangkah memasuki sebuah ruangan pribadi di kediamannya dengan jantung yang berdebar.
Mendapati tempat tidur yang semalam terdapat gadis kecil yang ia selamatkan kini kosong, ia sontak menatap gelisah kesekeliling.
“Dimana gadis kecil itu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments