The Legend Of Hu Jin

The Legend Of Hu Jin

Bau Darah dan Bayi yang Bisu

​Bau amis darah bercampur pekatnya racikan herbal menyeruak di dalam kediaman Permaisuri Kedua. Di atas ranjang kayu cendana, Lin Xue terbaring payah. Napasnya tersengal, putus-putus, seolah dadanya dihimpit batu besar.

​Di sampingnya, Raja Hu Yan mencengkeram jemari sang istri yang kian mendingin. Pria yang tak pernah berkedip saat merobek dada musuh di medan perang itu kini gemetar hebat. Otot-otot rahangnya mengeras, menahan tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya.

​"Jangan tutup matamu, Xue-er..." bisikan Hu Yan pecah. Air matanya menetes, jatuh tepat di pipi Lin Xue yang pucat pasi. "Aku mohon... tetaplah bernapas."

​Lin Xue menyunggingkan senyum tipis—begitu redup, bagai lilin kehabisan bahan bakar. Dengan sisa tenaga yang ada, ia membalas remasan tangan suaminya.

​"Yang Mulia..." suara Lin Xue terputus oleh ringisan menahan sakit. "Janji kita... Anda masih mengingatnya?"

​"Aku ingat!" Hu Yan mengangguk cepat, menyapu kasar air mata di wajahnya. "Jika dia laki-laki, ia adalah Hu Jin. Harapan kita. Dan jika perempuan, ia Hu Mei. Aku tidak pernah lupa, Xue-er..."

​"Hu Jin... nama yang indah..."

​Belum sempat kata itu selesai diucapkan, jeritan histeris Lin Xue memecah ruangan. Gelombang rasa sakit hebat kembali menghantamnya. Para tabib dan dayang mendadak panik, saling berteriak panik seraya mendesak Hu Yan untuk mundur dari sisi ranjang. Pria itu dipaksa menyaksikan wanita yang paling dicintainya bertaruh nyawa untuk terakhir kali.

​Lalu, keheningan mencekam mendadak jatuh.

​Seorang tabib tua mengangkat tubuh kecil yang baru lahir dengan tangan gemetar. Namun, tak ada lengkingan tangis bayi yang memecah malam.

​Bayi laki-laki itu benar-benar diam. Mata hitamnya yang jernih terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang kacau tanpa berkedip.

​"D-dia... laki-laki, Yang Mulia!" seru sang tabib gagap, kebingungan dan takut melihat bayi yang membisu itu.

​Hu Yan melangkah maju dan mengambil putranya ke dalam dekapan. "Hu Jin... putraku..."

​Namun, rasa haru itu menguap dalam sekejap.

​Di atas ranjang, tangan Lin Xue terkulai lemas ke tepi dipan. Napas terakhirnya terembus pelan, bersamaan dengan deru angin malam yang menerobos jendela dan memadamkan lilin-lalin di sudut ruangan.

​"Permaisuri?!" jerit dayang utama sambil ambruk berlutut.

​"Xue-er?!"

​Hu Yan menerobos maju. Ia menempelkan dua jarinya ke leher sang istri, namun tak ada lagi denyut nadi di sana. Pria paling berkuasa di tanah Timur itu ambruk di samping ranjang, meraung meratapi tubuh kaku cinta sejatinya. Dan di dalam dekapannya, sang bayi tetap diam, seolah paham duka mendalam yang sedang melingkupi ayahnya.

​Kabar duka dan kelahiran sang Pangeran menyebar cepat ke seluruh penjuru istana. Namun di tengah selimut duka itu, duri pengkhianatan mulai menusuk dari balik bayangan.

​Di kediaman utama, Permaisuri Pertama sibuk meratapi nasib malang adik madunya. Namun sang adik, Zhao Feng, berdiri di balik pilar dengan pandangan dingin. Matanya menyipit penuh kalkulasi serakah.

​Jika bayi itu dibiarkan hidup, takhta tidak akan pernah tersentuh oleh keluarga Zhao, batin Zhao Feng murka.

​Memanfaatkan kekacauan istana yang kehilangan fokus, Zhao Feng menyusup ke lorong rahasia. Di sana, ia mencegat Kasim Li—abdi kepercayaan yang memegang kunci akses istana. Tanpa banyak bicara, Zhao Feng melempar kantong kain tebal. Bunyi berdenting berat dari emas dan batu permata langsung memecah sunyi.

​"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Li," bisik Zhao Feng dingin.

​Kasim Li menerima kantong itu dengan jemari gemetar. "Tuan Zhao... Baginda Raja sedang berduka. Jika hal ini terungkap—"

​"Tidak akan ada yang tahu!" potong Zhao Feng seraya mencengkeram bahu Kasim Li hingga pria tua itu meringis. "Istana sedang lumpuh. Ambil bayi itu, buang keluar gerbang kota, dan pastikan dia tidak pernah melihat matahari esok hari!"

​Dini hari, saat kegelapan mencapai puncaknya.

​Setelah mencampur racun pembius dosis ringan ke dalam teko minum para dayang, Kasim Li menyusup masuk ke kamar bayi. Napasnya memburu cepat. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat tubuh kecil Hu Jin dari ayunan emasnya.

​Aneh. Bayi itu sama sekali tidak menangis atau terbangun kaget.

​Mata hitamnya yang jernih justru terbuka lebar, menatap lurus ke arah Kasim Li dalam kegelapan. Tatapan dingin yang seolah mampu menembus busuknya niat sang kasim. Perasaan merinding menjalar hebat di punggung Kasim Li, namun keserakahan dengan cepat melumpuhkan rasa takutnya.

​Ia membungkus tubuh Hu Jin dengan kain tebal, melompat lewat jendela, lalu lenyap ditelan pekatnya malam.

​Pagi harinya, Istana Timur gempar luar biasa.

​Raungan murka Raja Hu Yan membahana hingga ke luar kediaman. Meja giok tebal di hadapannya hancur berkeping-keping menjadi debu akibat luapan aura Qi yang tak terkendali.

​"Cari putraku! Cari dia sampai ke ujung dunia!"

​Seluruh prajurit dikerahkan. Gerbang kota dikunci rapat. Namun, tak ada satu pun jejak yang tertinggal. Kehilangan istri tercinta dan putra tunggalnya dalam kurun waktu satu malam meremukkan jiwa Hu Yan. Pria perkasa itu akhirnya jatuh sakit, terpuruk dalam keputusasaan yang dalam.

​Di aula istana, Permaisuri Pertama meratap pedih, tak pernah menduga bahwa malapetaka ini dirancang oleh adiknya sendiri.

​Sementara itu, Zhao Feng berdiri tepat di samping sang Permaisuri. Ia menunduk dalam-dalam, pura-pura menyapu air mata. Namun di balik lengan bajunya yang lebar, tangannya terkepal puas dengan senyum tipis yang terukir licik.

​Menangislah, Yang Mulia... batinnya penuh kemenangan. Putra mahkotamu sudah jadi bangkai di luar sana, dan takhta ini sebentar lagi akan jadi milikku.

Terpopuler

Comments

yos helmi

yos helmi

😍😍😍😍😍

2026-08-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bau Darah dan Bayi yang Bisu
2 Terbuang ke Hutan Terlarang
3 Takdir di Puncak Es Salju
4 Cahaya Emas dan Jalan yang Dipilih
5 Janji di Bawah Gerbang
6 Warisan di Gua Es
7 Warisan Tiga Tahun
8 Kota Seribu Pedang
9 Kotak Misterius dan Pertemuan Kembali
10 Tekanan Es dan Jepit Teratai Emas
11 Ancaman Tiga Sekte dan Janji yang Membakar
12 Konflik di Lembah Angin Puyuh
13 Jenderal Tua dan Panggilan Negeri
14 Pertemuan di Paviliun Terlarang
15 Amukan Pengkhianat dan Penyelamatan di Batas Maut
16 Kebangkitan Pangeran dan Visi Masa Depan
17 Pangeran Naga dan Terobosan Langit
18 Kebaikan di Lembah Hijau
19 Pertemuan di Jembatan Pelangi Kuno
20 Paviliun Seribu Pusaka
21 Kota Besar Teratai Hitam
22 Kedamaian di Bawah Rembulan
23 Intrik Petinggi dan Tawa di Gang Sempit
24 Gemuruh Babak Penyisihan
25 Satu Ketukan Jari
26 Rona di Pipi Sang Dewi
27 Ambang Pertempuran Delapan Besar
28 Terbukanya Topi Jerami dan Duel Bintang Nirwana
29 Ledakan Naga Es
30 Akhir Laga Final dan Sang Juara Sejati
31 Deklarasi Sang Pangeran
32 Tangan Besi Sang Pangeran
33 Pelukan Sang Putra Mahkota
34 Strategi Berdarah dan Kenangan Sang Permaisuri
35 Badai Aliansi di Balik Selimut Malam
36 Tembok Istana yang Runtuh
37 Badai Es di Pelataran Agung dan Bayangan Sang Pengkhianat
38 Dua Jiwa Satu Kesucian
39 Bentrokan Puncak dan Duet Jiwa Abadi
40 Artefak Kuno dan Portal Takdir
41 Di Bawah Langit Asing
42 Kepolosan Hati Sang Pangeran
43 Kabar dari Kota Awan Biru
44 Gerbang Kota Awan Biru
Episodes

Updated 44 Episodes

1
Bau Darah dan Bayi yang Bisu
2
Terbuang ke Hutan Terlarang
3
Takdir di Puncak Es Salju
4
Cahaya Emas dan Jalan yang Dipilih
5
Janji di Bawah Gerbang
6
Warisan di Gua Es
7
Warisan Tiga Tahun
8
Kota Seribu Pedang
9
Kotak Misterius dan Pertemuan Kembali
10
Tekanan Es dan Jepit Teratai Emas
11
Ancaman Tiga Sekte dan Janji yang Membakar
12
Konflik di Lembah Angin Puyuh
13
Jenderal Tua dan Panggilan Negeri
14
Pertemuan di Paviliun Terlarang
15
Amukan Pengkhianat dan Penyelamatan di Batas Maut
16
Kebangkitan Pangeran dan Visi Masa Depan
17
Pangeran Naga dan Terobosan Langit
18
Kebaikan di Lembah Hijau
19
Pertemuan di Jembatan Pelangi Kuno
20
Paviliun Seribu Pusaka
21
Kota Besar Teratai Hitam
22
Kedamaian di Bawah Rembulan
23
Intrik Petinggi dan Tawa di Gang Sempit
24
Gemuruh Babak Penyisihan
25
Satu Ketukan Jari
26
Rona di Pipi Sang Dewi
27
Ambang Pertempuran Delapan Besar
28
Terbukanya Topi Jerami dan Duel Bintang Nirwana
29
Ledakan Naga Es
30
Akhir Laga Final dan Sang Juara Sejati
31
Deklarasi Sang Pangeran
32
Tangan Besi Sang Pangeran
33
Pelukan Sang Putra Mahkota
34
Strategi Berdarah dan Kenangan Sang Permaisuri
35
Badai Aliansi di Balik Selimut Malam
36
Tembok Istana yang Runtuh
37
Badai Es di Pelataran Agung dan Bayangan Sang Pengkhianat
38
Dua Jiwa Satu Kesucian
39
Bentrokan Puncak dan Duet Jiwa Abadi
40
Artefak Kuno dan Portal Takdir
41
Di Bawah Langit Asing
42
Kepolosan Hati Sang Pangeran
43
Kabar dari Kota Awan Biru
44
Gerbang Kota Awan Biru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!