BAB 2: Selembar Kain dan Langkah Pertama

​Dua minggu berlalu sejak malam badai yang menyambut kehadiran Aidil. Tubuh Dini belum sepenuhnya pulih, tetapi waktu dan keadaan tak membiarkannya berlama-lama beristirahat. Uang tabungan sisa yang dibawanya makin menipis, tersisa beberapa lembar puluhan ribu di dasar dompetnya.

​Pagi itu, udara dingin masih menggantung di luar kontrakan. Dini duduk di tepi kasur sambil menggendong Aidil menggunakan selembar kain jarik tua—satu-satunya kain panjang yang ia miliki. Ia mengikatkan kain itu dengan hati-hati ke bahunya, memastikan posisi Aidil nyaman dan hangat di dadanya.

​"Ibu pamit cari rezeki sebentar ya, Nak," bisik Dini sambil mencium pipi Aidil yang sedikit memerah.

​Langkah kaki Dini terasa agak berat saat pertama kali menapakkan kaki di luar pintu kontrakan. Rasa perih bekas persalinan masih menyengat di bagian bawah tubuhnya, namun rasa takut akan hari esok jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya.

​Tujuan pertamanya adalah rumah-rumah warga di kompleks perumahan yang tak jauh dari gang kontrakannya. Dini memberanikan diri mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lain, menawarkan jasa mencuci atau menyetrika pakaian.

​"Maaf, Bu... tidak butuh tukang cuci," tolak seorang wanita dari balik pagar rumah pertama.

​"Sudah ada orang yang bantu-bantuan di rumah, Mbak," sahut pemilik rumah kedua dengan nada dingin sebelum menutup pintu.

​Penolakan demi penolakan menghantamnya. Beberapa orang menatap Dini dengan pandangan aneh—seorang wanita muda berpakaian lusuh, menggendong bayi merah yang belum genap berumur satu bulan di bawah terik matahari yang mulai menyengat.

​Matahari makin tinggi, dan peluh mulai membasahi dahi Dini. Tangannya mulai pegal menopang beban Aidil, sementara lengannya terasa gemetar. Di tengah keputusasaan itu, Aidil mulai menggeliat dan menangis pelan karena haus.

​Dini bergegas mencari tempat berteduh. Ia duduk di atas bangku kayu kusam di depan sebuah warung kelontong kecil yang sepi. Dengan cekatan, ia menutupi tubuhnya dengan ujung kain sarung lalu menyusui Aidil.

​"Baru melahirkan ya, Mbak?" tanya seorang ibu paruh baya pemilik warung kelontong tersebut sambil menyodorkan segelas air putih hangat.

​Dini menengadah, terkejut dengan kebaikan yang tiba-tiba itu. "I-iya, Bu. Terima kasih banyak..."

​"Anaknya tampan sekali," ucap ibu warung itu tulus, melihat Aidil yang mulai tenang menyusu. "Kenapa sudah jalan-jalan bawa bayi serentang ini? Kasihan bayinya kena angin luar."

​Tenggorokan Dini mendadak tercekat. Air mata yang coba ia tahan seharian hampir saja tumpah. "Saya... saya lagi cari pekerjaan mencuci atau menyetrika, Bu. Untuk beli kebutuhan Aidil."

​Ibu pemilik warung itu mengamati penampilan Dini—mata sayunya yang menyimpan duka mendalam, pakaiannya yang bersahaja, serta ketulusannya memeluk sang anak. Hati wanita tua itu tersentuh.

​"Di belakang rumah saya ada tumpukan sprei dan pakaian kotor bekas kontrakan anak saya yang baru pulang," ujar ibu warung itu pelan. "Kalau Mbak mau dan sanggup, Mbak bisa cuci di sini. Nanti saya bayar."

​Mata Dini seketika berbinar. Rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya mendadak sirna.

​"Mau, Bu! Saya mau!" jawab Dini cepat dengan nada bergetar.

​Hari itu, di pelataran belakang sebuah warung sederhana, Dini memulai langkah pertamanya. Dengan Aidil yang tertidur lelap dalam buaian kain di dadanya, kedua tangan Dini masuk ke dalam ember besar, mengucek pakaian demi pakaian. Busa sabun membasahi jemarinya, dan keringat menetes di pelipisnya.

​Setiap kali tangannya terasa pegal dan napasnya sesak, Dini hanya perlu menunduk sebentar, menatap wajah polos Aidil di dadanya. Dan di sana, ia selalu menemukan alasan untuk terus mengucek satu lembar pakaian lagi.

Episodes
1 BAB 1: Suara Tangis di Penghujung Malam
2 BAB 2: Selembar Kain dan Langkah Pertama
3 BAB 3: Fajar Pertama dan Janji Semangkuk Bubur
4 Bab 4 Busa Sabun dan Tetes Air Mata
5 BAB 5: Demam Pertama dan Ujian di Tengah Malam
6 BAB 6: Suara Sumbang dan Semangkuk Tajin
7 BAB 7: Tangan Kering dan Bekas Luka di Jemari
8 BAB 8: Di Bawah Bayang-Bayang Pertokoan Tua
9 BAB 9: Di Antara Bau Bumbu dan Dentang Kuali
10 BAB 10: Udangan dari Masa Lalu
11 BAB 11: Bayangan di Ujung Gang
12 BAB 12: Di Atas Kertas Bermaterai dan Keteguhan Hati
13 BAB 13: Di Atas Meja Hijau dan Senjata Terakhir
14 BAB 14: Ketukan Palu dan Fajar Kesaksian
15 BAB 15: Langkah Pertama di Atas Tanah Rata ​Kemenangan di meja hijau Pengadilan
16 BAB 16: Resep Rahasia dan Kobaran Api di Dapur
17 BAB 17: Ujian di Balik Etalase Kaca
18 BAB 18: Roda yang Berputar dan Panggilan Telefon dari Rumah Sakit
19 BAB 19: Bayang-Bayang Ayah dan Ulang Tahun Pertama
20 BAB 20: Bara Terakhir dan Pelita yang Menyala
21 BAB 21: Jejak di Atas Pasir dan Senja yang Tersenyum
22 BAB 22: Benih-Benih Harapan dan Prasasti Ketulusan
23 BAB 23: Cahaya Pagi dan Pelabuhan Hati
24 BAB 24: Prasasti di Atas Puncak dan Dermaga Kebahagiaan
25 BAB 25: Mahkota Ketulusan dan Fajar Yang Abadi
26 BAB 26: Melukis Cakrawala Baru
27 BAB 27: Benteng Kekeluargaan dan Ujian Kepemimpinan
28 BAB 28: Senandung di Bawah Naungan Rindang
29 BAB 29: Bisik-Bisik dari Balik Jeruji dan Wajah yang Terlupa
30 BAB 30 Pintu yang Tak Akan Kubuka Lagi
31 BAB 31 Kala Datang Membawa Sebuah Niat
32 BAB 32 Perempuan dari Masa Lalu Kala
33 BAB 33 Rahasia di Balik Pernikahan yang Batal
34 BAB 34 Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah?
35 BAB 35 Hari Ketika Dini Memilih Bahagia
36 BAB 36 Dua Garis dan Ketakutan Seorang Ibu
37 BAB 37 Ketika Yudi Mendengar Kabar Kehamilan Dini
38 BAB 38 Dua Ayah di Satu Meja
39 BAB 39 Janji yang Tak Sempat Ditepati
40 BAB 40 Pintu Pertama Yayasan
41 BAB 41 Sepuluh Cabang, Satu Mimpi
42 BAB 42 Tender Miliaran dan Lawan yang Salah
43 BAB 43 Harga Sebuah Pengkhianatan
44 BAB 44 Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan
45 BAB 45 Ketika Pesanan Membesar Dua Kali Lipat
46 BAB 46 Jaringan yang Tumbuh di Dalam Rumah Sendiri
47 BAB 47 Perang Tepung, Gula, dan Minyak
48 BAB 48 Racun di Balik Sebuah Kemasan
49 BAB 49 Harga Sebuah Kendali
50 BAB 50 Perempuan yang Berdiri di Panggung Nasional
51 BAB 51 Fitnah yang Menyerang dari Segala Arah
52 BAB 52 Ketika Orang yang Pernah Menyakiti Datang Meminta Pertolongan
53 BAB 53 Pertemuan Ayah dan Anak
54 BAB 54 Tiga Ribu Dua Ratus Tujuh Belas Harapan
55 BAB 55 Keberanian untuk Berkata Tidak
56 BAB 56 Ketika Kepercayaan Diuji Sekali Lagi
57 BAB 57 Perang di Balik Meja Hukum
58 BAB 58 Ketika Semua Buku Dibuka
Episodes

Updated 58 Episodes

1
BAB 1: Suara Tangis di Penghujung Malam
2
BAB 2: Selembar Kain dan Langkah Pertama
3
BAB 3: Fajar Pertama dan Janji Semangkuk Bubur
4
Bab 4 Busa Sabun dan Tetes Air Mata
5
BAB 5: Demam Pertama dan Ujian di Tengah Malam
6
BAB 6: Suara Sumbang dan Semangkuk Tajin
7
BAB 7: Tangan Kering dan Bekas Luka di Jemari
8
BAB 8: Di Bawah Bayang-Bayang Pertokoan Tua
9
BAB 9: Di Antara Bau Bumbu dan Dentang Kuali
10
BAB 10: Udangan dari Masa Lalu
11
BAB 11: Bayangan di Ujung Gang
12
BAB 12: Di Atas Kertas Bermaterai dan Keteguhan Hati
13
BAB 13: Di Atas Meja Hijau dan Senjata Terakhir
14
BAB 14: Ketukan Palu dan Fajar Kesaksian
15
BAB 15: Langkah Pertama di Atas Tanah Rata ​Kemenangan di meja hijau Pengadilan
16
BAB 16: Resep Rahasia dan Kobaran Api di Dapur
17
BAB 17: Ujian di Balik Etalase Kaca
18
BAB 18: Roda yang Berputar dan Panggilan Telefon dari Rumah Sakit
19
BAB 19: Bayang-Bayang Ayah dan Ulang Tahun Pertama
20
BAB 20: Bara Terakhir dan Pelita yang Menyala
21
BAB 21: Jejak di Atas Pasir dan Senja yang Tersenyum
22
BAB 22: Benih-Benih Harapan dan Prasasti Ketulusan
23
BAB 23: Cahaya Pagi dan Pelabuhan Hati
24
BAB 24: Prasasti di Atas Puncak dan Dermaga Kebahagiaan
25
BAB 25: Mahkota Ketulusan dan Fajar Yang Abadi
26
BAB 26: Melukis Cakrawala Baru
27
BAB 27: Benteng Kekeluargaan dan Ujian Kepemimpinan
28
BAB 28: Senandung di Bawah Naungan Rindang
29
BAB 29: Bisik-Bisik dari Balik Jeruji dan Wajah yang Terlupa
30
BAB 30 Pintu yang Tak Akan Kubuka Lagi
31
BAB 31 Kala Datang Membawa Sebuah Niat
32
BAB 32 Perempuan dari Masa Lalu Kala
33
BAB 33 Rahasia di Balik Pernikahan yang Batal
34
BAB 34 Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah?
35
BAB 35 Hari Ketika Dini Memilih Bahagia
36
BAB 36 Dua Garis dan Ketakutan Seorang Ibu
37
BAB 37 Ketika Yudi Mendengar Kabar Kehamilan Dini
38
BAB 38 Dua Ayah di Satu Meja
39
BAB 39 Janji yang Tak Sempat Ditepati
40
BAB 40 Pintu Pertama Yayasan
41
BAB 41 Sepuluh Cabang, Satu Mimpi
42
BAB 42 Tender Miliaran dan Lawan yang Salah
43
BAB 43 Harga Sebuah Pengkhianatan
44
BAB 44 Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan
45
BAB 45 Ketika Pesanan Membesar Dua Kali Lipat
46
BAB 46 Jaringan yang Tumbuh di Dalam Rumah Sendiri
47
BAB 47 Perang Tepung, Gula, dan Minyak
48
BAB 48 Racun di Balik Sebuah Kemasan
49
BAB 49 Harga Sebuah Kendali
50
BAB 50 Perempuan yang Berdiri di Panggung Nasional
51
BAB 51 Fitnah yang Menyerang dari Segala Arah
52
BAB 52 Ketika Orang yang Pernah Menyakiti Datang Meminta Pertolongan
53
BAB 53 Pertemuan Ayah dan Anak
54
BAB 54 Tiga Ribu Dua Ratus Tujuh Belas Harapan
55
BAB 55 Keberanian untuk Berkata Tidak
56
BAB 56 Ketika Kepercayaan Diuji Sekali Lagi
57
BAB 57 Perang di Balik Meja Hukum
58
BAB 58 Ketika Semua Buku Dibuka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!