Bab 4 Busa Sabun dan Tetes Air Mata

​Aroma sabun cuci yang menyengat bercampur dengan wangi tanah basah di pelataran belakang warung Bu Marni—pemilik warung kelontong yang memberi Dini kesempatan. Tiga ember plastik besar penuh dengan sprei tebal dan pakaian kotor menanti untuk dibersihkan. Bagi orang lain, tumpukan itu adalah beban yang melelahkan. Namun bagi Dini, tumpukan itu adalah napas kehidupan untuknya dan Aidil hari ini.

​Dengan kain jarik yang mengikat Aidil erat di dadanya, Dini jongkok di samping ember. Setiap kali ia membungkuk untuk mengucek kain, rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya menyengat, mengingatkan bahwa luka persalinannya baru berusia dua minggu. Peluh dingin mulai membasahi pelipis dan celah-celah jilbab sederhananya.

​"Ugh..." Dini meringis pelan, menghentikan gerakannya sejenak. Ia memejamkan mata, menahan rasa pening yang tiba-tiba berputar di kepalanya.

​Di dadanya, Aidil tertidur lelap. Napas kecil bayi itu terasa hangat menembus kain tipis baju Dini. Sentuhan halus itu seketika menjadi penawar rasa sakit. Dini menarik napas dalam-dalam, menguatkan jemarinya yang mulai pucat dan keriput karena terendam air sabun terlalu lama, lalu kembali mengucek.

​Matahari makin tinggi dan teriknya mulai menusuk. Bu Marni keluar dari pintu belakang sambil membawa selembar tikar pandan tua dan sebuah kipas bambu.

​"Dini, jalankan dulu cucianmu sebentar. Sini, letakkan bayimu di atas tikar ini kasihan dia kepanasan," ucap Bu Marni iba melihat baju Dini yang sudah basah oleh keringat dan cipratan air.

​Dini menatap Bu Marni dengan rasa haru yang membuncah. "Terima kasih banyak, Bu. Tapi saya takut merepotkan..."

​"Sudah, jangan banyak alasan. Kamu itu perempuan baru melahirkan, memaksakan diri seperti ini bisa bikin kamu drop," potong Bu Marni tegas namun hangat.

​Dengan hati-hati, Dini melepaskan gendongan kainnya dan membaringkan Aidil di atas tikar pandan yang teduh di bawah pohon mangga. Melihat Aidil menggeliat nyaman dalam tidurnya, Dini bisa bernapas sedikit lebih lega. Ia melanjutkan pekerjaannya dengan lebih cepat hingga lembar sprei terakhir selesai diperas dan digantung di jemuran kayu.

​Saat matahari tepat di atas kepala, seluruh cucian telah membentang rapi di tali jemuran. Tangannya memerah dan terasa kaku, badannya pegal luar biasa, tetapi ada rasa bangga yang tak ternilai di dadanya.

​Bu Marni menghampiri Dini yang sedang menyapu sisa busa di lantai. Ia mengangsurkan dua lembar uang puluh ribuan dan sebungkus nasi hangat dengan lauk tahu dan ikan asin.

​"Ini upahmu hari ini, Dini. Sama ada sedikit nasi untuk makan siangmu," kata Bu Marni.

​Dini memandangi uang lima puluh ribu rupiah di tangannya. Bagi sebagian orang, uang itu mungkin tak berarti banyak. Namun bagi Dini hari ini, lima puluh ribu rupiah adalah harga diri, makanan untuk menyambung air susunya, dan bukti bahwa ia sanggup bertahan hidup tanpa bergantung pada pria yang telah membuangnya.

​"Terima kasih banyak, Bu Marni... Terima kasih..." suara Dini bergetar, air matanya tak membendung lagi dan menetes jatuh ke atas lembaran uang kertas itu.

​"Sama-sama, Nak. Kalau kamu kuat, besok lusa datang lagi ke sini. Ada tetangga sebelah yang juga mau minta tolong dicucikan pakaiannya," ujar Bu Marni sambil mengelus bahu Dini.

​Dini mengangguk mantap. Ia menggendong kembali Aidil yang mulai terbangun, memeluknya erat-erat sepanjang jalan pulang menuju kontrakan petak mereka.

​Di bawah terik matahari siang itu, Dini berjalan dengan kepala tegak. Langkahnya mungkin masih lambat dan tertatih, tetapi hatinya tak lagi goyah. Langkah pertama telah ia lalui, dan demi Aidil, ia siap menghadapi ribuan langkah berikutnya.

Episodes
1 BAB 1: Suara Tangis di Penghujung Malam
2 BAB 2: Selembar Kain dan Langkah Pertama
3 BAB 3: Fajar Pertama dan Janji Semangkuk Bubur
4 Bab 4 Busa Sabun dan Tetes Air Mata
5 BAB 5: Demam Pertama dan Ujian di Tengah Malam
6 BAB 6: Suara Sumbang dan Semangkuk Tajin
7 BAB 7: Tangan Kering dan Bekas Luka di Jemari
8 BAB 8: Di Bawah Bayang-Bayang Pertokoan Tua
9 BAB 9: Di Antara Bau Bumbu dan Dentang Kuali
10 BAB 10: Udangan dari Masa Lalu
11 BAB 11: Bayangan di Ujung Gang
12 BAB 12: Di Atas Kertas Bermaterai dan Keteguhan Hati
13 BAB 13: Di Atas Meja Hijau dan Senjata Terakhir
14 BAB 14: Ketukan Palu dan Fajar Kesaksian
15 BAB 15: Langkah Pertama di Atas Tanah Rata ​Kemenangan di meja hijau Pengadilan
16 BAB 16: Resep Rahasia dan Kobaran Api di Dapur
17 BAB 17: Ujian di Balik Etalase Kaca
18 BAB 18: Roda yang Berputar dan Panggilan Telefon dari Rumah Sakit
19 BAB 19: Bayang-Bayang Ayah dan Ulang Tahun Pertama
20 BAB 20: Bara Terakhir dan Pelita yang Menyala
21 BAB 21: Jejak di Atas Pasir dan Senja yang Tersenyum
22 BAB 22: Benih-Benih Harapan dan Prasasti Ketulusan
23 BAB 23: Cahaya Pagi dan Pelabuhan Hati
24 BAB 24: Prasasti di Atas Puncak dan Dermaga Kebahagiaan
25 BAB 25: Mahkota Ketulusan dan Fajar Yang Abadi
26 BAB 26: Melukis Cakrawala Baru
27 BAB 27: Benteng Kekeluargaan dan Ujian Kepemimpinan
28 BAB 28: Senandung di Bawah Naungan Rindang
29 BAB 29: Bisik-Bisik dari Balik Jeruji dan Wajah yang Terlupa
30 BAB 30 Pintu yang Tak Akan Kubuka Lagi
31 BAB 31 Kala Datang Membawa Sebuah Niat
32 BAB 32 Perempuan dari Masa Lalu Kala
33 BAB 33 Rahasia di Balik Pernikahan yang Batal
34 BAB 34 Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah?
35 BAB 35 Hari Ketika Dini Memilih Bahagia
36 BAB 36 Dua Garis dan Ketakutan Seorang Ibu
37 BAB 37 Ketika Yudi Mendengar Kabar Kehamilan Dini
38 BAB 38 Dua Ayah di Satu Meja
39 BAB 39 Janji yang Tak Sempat Ditepati
40 BAB 40 Pintu Pertama Yayasan
41 BAB 41 Sepuluh Cabang, Satu Mimpi
42 BAB 42 Tender Miliaran dan Lawan yang Salah
43 BAB 43 Harga Sebuah Pengkhianatan
44 BAB 44 Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan
45 BAB 45 Ketika Pesanan Membesar Dua Kali Lipat
46 BAB 46 Jaringan yang Tumbuh di Dalam Rumah Sendiri
47 BAB 47 Perang Tepung, Gula, dan Minyak
48 BAB 48 Racun di Balik Sebuah Kemasan
49 BAB 49 Harga Sebuah Kendali
50 BAB 50 Perempuan yang Berdiri di Panggung Nasional
51 BAB 51 Fitnah yang Menyerang dari Segala Arah
52 BAB 52 Ketika Orang yang Pernah Menyakiti Datang Meminta Pertolongan
53 BAB 53 Pertemuan Ayah dan Anak
54 BAB 54 Tiga Ribu Dua Ratus Tujuh Belas Harapan
55 BAB 55 Keberanian untuk Berkata Tidak
56 BAB 56 Ketika Kepercayaan Diuji Sekali Lagi
57 BAB 57 Perang di Balik Meja Hukum
58 BAB 58 Ketika Semua Buku Dibuka
Episodes

Updated 58 Episodes

1
BAB 1: Suara Tangis di Penghujung Malam
2
BAB 2: Selembar Kain dan Langkah Pertama
3
BAB 3: Fajar Pertama dan Janji Semangkuk Bubur
4
Bab 4 Busa Sabun dan Tetes Air Mata
5
BAB 5: Demam Pertama dan Ujian di Tengah Malam
6
BAB 6: Suara Sumbang dan Semangkuk Tajin
7
BAB 7: Tangan Kering dan Bekas Luka di Jemari
8
BAB 8: Di Bawah Bayang-Bayang Pertokoan Tua
9
BAB 9: Di Antara Bau Bumbu dan Dentang Kuali
10
BAB 10: Udangan dari Masa Lalu
11
BAB 11: Bayangan di Ujung Gang
12
BAB 12: Di Atas Kertas Bermaterai dan Keteguhan Hati
13
BAB 13: Di Atas Meja Hijau dan Senjata Terakhir
14
BAB 14: Ketukan Palu dan Fajar Kesaksian
15
BAB 15: Langkah Pertama di Atas Tanah Rata ​Kemenangan di meja hijau Pengadilan
16
BAB 16: Resep Rahasia dan Kobaran Api di Dapur
17
BAB 17: Ujian di Balik Etalase Kaca
18
BAB 18: Roda yang Berputar dan Panggilan Telefon dari Rumah Sakit
19
BAB 19: Bayang-Bayang Ayah dan Ulang Tahun Pertama
20
BAB 20: Bara Terakhir dan Pelita yang Menyala
21
BAB 21: Jejak di Atas Pasir dan Senja yang Tersenyum
22
BAB 22: Benih-Benih Harapan dan Prasasti Ketulusan
23
BAB 23: Cahaya Pagi dan Pelabuhan Hati
24
BAB 24: Prasasti di Atas Puncak dan Dermaga Kebahagiaan
25
BAB 25: Mahkota Ketulusan dan Fajar Yang Abadi
26
BAB 26: Melukis Cakrawala Baru
27
BAB 27: Benteng Kekeluargaan dan Ujian Kepemimpinan
28
BAB 28: Senandung di Bawah Naungan Rindang
29
BAB 29: Bisik-Bisik dari Balik Jeruji dan Wajah yang Terlupa
30
BAB 30 Pintu yang Tak Akan Kubuka Lagi
31
BAB 31 Kala Datang Membawa Sebuah Niat
32
BAB 32 Perempuan dari Masa Lalu Kala
33
BAB 33 Rahasia di Balik Pernikahan yang Batal
34
BAB 34 Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah?
35
BAB 35 Hari Ketika Dini Memilih Bahagia
36
BAB 36 Dua Garis dan Ketakutan Seorang Ibu
37
BAB 37 Ketika Yudi Mendengar Kabar Kehamilan Dini
38
BAB 38 Dua Ayah di Satu Meja
39
BAB 39 Janji yang Tak Sempat Ditepati
40
BAB 40 Pintu Pertama Yayasan
41
BAB 41 Sepuluh Cabang, Satu Mimpi
42
BAB 42 Tender Miliaran dan Lawan yang Salah
43
BAB 43 Harga Sebuah Pengkhianatan
44
BAB 44 Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan
45
BAB 45 Ketika Pesanan Membesar Dua Kali Lipat
46
BAB 46 Jaringan yang Tumbuh di Dalam Rumah Sendiri
47
BAB 47 Perang Tepung, Gula, dan Minyak
48
BAB 48 Racun di Balik Sebuah Kemasan
49
BAB 49 Harga Sebuah Kendali
50
BAB 50 Perempuan yang Berdiri di Panggung Nasional
51
BAB 51 Fitnah yang Menyerang dari Segala Arah
52
BAB 52 Ketika Orang yang Pernah Menyakiti Datang Meminta Pertolongan
53
BAB 53 Pertemuan Ayah dan Anak
54
BAB 54 Tiga Ribu Dua Ratus Tujuh Belas Harapan
55
BAB 55 Keberanian untuk Berkata Tidak
56
BAB 56 Ketika Kepercayaan Diuji Sekali Lagi
57
BAB 57 Perang di Balik Meja Hukum
58
BAB 58 Ketika Semua Buku Dibuka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!