BAB 5: Demam Pertama dan Ujian di Tengah Malam

​Bulan pertama kehidupan Aidil berlalu cepat, ditandai dengan jemari Dini yang kian terbiasa mengucek pakaian dan punggung yang makin kebal menahan pegal. Namun, kehidupan di kontrakan petak yang lembap itu menyimpang janji-janji kemalangan yang belum usai.

​Malam itu, angin berembus cukup kencang dari celah dinding papan. Dini terbangun dari lelapnya bukan karena tangisan nyaring Aidil yang biasanya menagih ASI, melainkan oleh rengetan halus yang terdengar memilukan.

​Dengan napas tersengal, Dini meraba tubuh bayi mungil di sampingnya. Seketika, rasa dingin menyergap dada Dini. Kulit Aidil terasa sangat panas, membakar telapak tangannya.

​"Aidil..." bisik Dini panik.

​Ia bergegas menyalakan lampu minyak kusam di sudut ruangan. Wajah Aidil memerah, matanya terpejam rapat, dan napasnya memburu cepat. Dini membungkus tubuh bayinya dengan kain, mencoba menyusuinya, namun Aidil menolak dan terus menangis lemah.

​Kepanikan menyelimuti pikiran Dini. Ia tidak punya termometer, tidak punya obat penurunan panas bayi, dan ketika ia membuka dompet kulitnya yang kusam, hanya ada tiga lembar uang lima ribuan yang tersisa.

​"Ya Allah... tolong anak hamba..." ratap Dini dengan air mata yang mulai menetes.

​Tanpa memikirkan dirinya yang hanya mengenakan daster lusuh dan kain sarung pelapis, Dini menggendong Aidil dan bergegas keluar kontrakan. Malam makin larut, sekitar pukul dua pagi. Lingkungan gang sudah sepi dan gelap.

​Dini berlari kecil menuju rumah Bu Ratna, mengetuk pintu kayu itu dengan penuh keputusasaan.

​"Bu Ratna! Bu Ratna, tolong Dini, Bu!" teriak Dini lirih agar tidak mengganggu tetangga lain, namun cukup kencang untuk memecah hening malam.

​Tak lama, pintu terbuka. Bu Ratna yang tampak terbangun dari tidur terkejut melihat Dini berdiri gemetar sambil menangis.

​"Dini? Ada apa, Nak?"

​"Aidil, Bu... badannya panas sekali. Panas banget, Bu..." Dini tak sanggup menahan tangisnya.

​Bu Ratna meletakkan tangannya di dahi Aidil dan seketika mengangguk paham. "Badannya memang panas tinggi. Ayo masuk dulu, jangan di luar, angin malam berbahaya!"

​Bu Ratna dengan cekatan mengambil kain bersih dan baskom berisi air hangat untuk mengompres dahi dan lipatan paha Aidil. Dini duduk di sampingnya, memegang jemari mungil Aidil yang terus gemetar. Setiap kali Aidil merintih, hati Dini serasa diiris sembilu.

​"Kenapa harus dia yang sakit, ya Allah... pindahkan saja sakitnya ke saya..." gumam Dini berulang kali dalam doanya.

​Setelah hampir dua jam dikompres hangat dan dibujuk perlahan, napas Aidil mulai stabil. Panas di tubuhnya perlahan turun, dan bayi itu akhirnya tertidur lelap di pangkuan Dini.

​Bu Ratna mengelus pundak Dini yang lelah. "Anak bayi pertama kali kena demam memang bikin panik, Dini. Tapi Aidil anak yang kuat, dia tahu ibunya berjuang buat dia."

​Dini menatap wajah Aidil yang tertidur damai. Di tengah remang lampu minyak dan sisa ketakutan malam itu, Dini menyadari satu hal lagi tentang menjadi seorang ibu: ia tidak hanya harus kuat bekerja, tetapi juga harus kuat menahan hancurnya hati saat melihat buah hatinya tak berdaya.

Sambil merapatkan dekapan kainnya, Dini berbisik lembut di telinga Aidil, mengalirkan seluruh kekuatan yang tersisa dari dalam jiwanya. Ia sadar, perjalanan membimbing buah hatinya masih sangat panjang dan penuh liku. Namun, selama jantungnya masih berdetak dan doanya terus melumbung ke langit, Dini berjanji akan selalu menjadi benteng terkuat yang melindungi Aidil dari tebalnya badai kehidupan.

Episodes
1 BAB 1: Suara Tangis di Penghujung Malam
2 BAB 2: Selembar Kain dan Langkah Pertama
3 BAB 3: Fajar Pertama dan Janji Semangkuk Bubur
4 Bab 4 Busa Sabun dan Tetes Air Mata
5 BAB 5: Demam Pertama dan Ujian di Tengah Malam
6 BAB 6: Suara Sumbang dan Semangkuk Tajin
7 BAB 7: Tangan Kering dan Bekas Luka di Jemari
8 BAB 8: Di Bawah Bayang-Bayang Pertokoan Tua
9 BAB 9: Di Antara Bau Bumbu dan Dentang Kuali
10 BAB 10: Udangan dari Masa Lalu
11 BAB 11: Bayangan di Ujung Gang
12 BAB 12: Di Atas Kertas Bermaterai dan Keteguhan Hati
13 BAB 13: Di Atas Meja Hijau dan Senjata Terakhir
14 BAB 14: Ketukan Palu dan Fajar Kesaksian
15 BAB 15: Langkah Pertama di Atas Tanah Rata ​Kemenangan di meja hijau Pengadilan
16 BAB 16: Resep Rahasia dan Kobaran Api di Dapur
17 BAB 17: Ujian di Balik Etalase Kaca
18 BAB 18: Roda yang Berputar dan Panggilan Telefon dari Rumah Sakit
19 BAB 19: Bayang-Bayang Ayah dan Ulang Tahun Pertama
20 BAB 20: Bara Terakhir dan Pelita yang Menyala
21 BAB 21: Jejak di Atas Pasir dan Senja yang Tersenyum
22 BAB 22: Benih-Benih Harapan dan Prasasti Ketulusan
23 BAB 23: Cahaya Pagi dan Pelabuhan Hati
24 BAB 24: Prasasti di Atas Puncak dan Dermaga Kebahagiaan
25 BAB 25: Mahkota Ketulusan dan Fajar Yang Abadi
26 BAB 26: Melukis Cakrawala Baru
27 BAB 27: Benteng Kekeluargaan dan Ujian Kepemimpinan
28 BAB 28: Senandung di Bawah Naungan Rindang
29 BAB 29: Bisik-Bisik dari Balik Jeruji dan Wajah yang Terlupa
30 BAB 30 Pintu yang Tak Akan Kubuka Lagi
31 BAB 31 Kala Datang Membawa Sebuah Niat
32 BAB 32 Perempuan dari Masa Lalu Kala
33 BAB 33 Rahasia di Balik Pernikahan yang Batal
34 BAB 34 Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah?
35 BAB 35 Hari Ketika Dini Memilih Bahagia
36 BAB 36 Dua Garis dan Ketakutan Seorang Ibu
37 BAB 37 Ketika Yudi Mendengar Kabar Kehamilan Dini
38 BAB 38 Dua Ayah di Satu Meja
39 BAB 39 Janji yang Tak Sempat Ditepati
40 BAB 40 Pintu Pertama Yayasan
41 BAB 41 Sepuluh Cabang, Satu Mimpi
42 BAB 42 Tender Miliaran dan Lawan yang Salah
43 BAB 43 Harga Sebuah Pengkhianatan
44 BAB 44 Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan
45 BAB 45 Ketika Pesanan Membesar Dua Kali Lipat
46 BAB 46 Jaringan yang Tumbuh di Dalam Rumah Sendiri
47 BAB 47 Perang Tepung, Gula, dan Minyak
48 BAB 48 Racun di Balik Sebuah Kemasan
49 BAB 49 Harga Sebuah Kendali
50 BAB 50 Perempuan yang Berdiri di Panggung Nasional
51 BAB 51 Fitnah yang Menyerang dari Segala Arah
52 BAB 52 Ketika Orang yang Pernah Menyakiti Datang Meminta Pertolongan
53 BAB 53 Pertemuan Ayah dan Anak
54 BAB 54 Tiga Ribu Dua Ratus Tujuh Belas Harapan
55 BAB 55 Keberanian untuk Berkata Tidak
56 BAB 56 Ketika Kepercayaan Diuji Sekali Lagi
57 BAB 57 Perang di Balik Meja Hukum
58 BAB 58 Ketika Semua Buku Dibuka
Episodes

Updated 58 Episodes

1
BAB 1: Suara Tangis di Penghujung Malam
2
BAB 2: Selembar Kain dan Langkah Pertama
3
BAB 3: Fajar Pertama dan Janji Semangkuk Bubur
4
Bab 4 Busa Sabun dan Tetes Air Mata
5
BAB 5: Demam Pertama dan Ujian di Tengah Malam
6
BAB 6: Suara Sumbang dan Semangkuk Tajin
7
BAB 7: Tangan Kering dan Bekas Luka di Jemari
8
BAB 8: Di Bawah Bayang-Bayang Pertokoan Tua
9
BAB 9: Di Antara Bau Bumbu dan Dentang Kuali
10
BAB 10: Udangan dari Masa Lalu
11
BAB 11: Bayangan di Ujung Gang
12
BAB 12: Di Atas Kertas Bermaterai dan Keteguhan Hati
13
BAB 13: Di Atas Meja Hijau dan Senjata Terakhir
14
BAB 14: Ketukan Palu dan Fajar Kesaksian
15
BAB 15: Langkah Pertama di Atas Tanah Rata ​Kemenangan di meja hijau Pengadilan
16
BAB 16: Resep Rahasia dan Kobaran Api di Dapur
17
BAB 17: Ujian di Balik Etalase Kaca
18
BAB 18: Roda yang Berputar dan Panggilan Telefon dari Rumah Sakit
19
BAB 19: Bayang-Bayang Ayah dan Ulang Tahun Pertama
20
BAB 20: Bara Terakhir dan Pelita yang Menyala
21
BAB 21: Jejak di Atas Pasir dan Senja yang Tersenyum
22
BAB 22: Benih-Benih Harapan dan Prasasti Ketulusan
23
BAB 23: Cahaya Pagi dan Pelabuhan Hati
24
BAB 24: Prasasti di Atas Puncak dan Dermaga Kebahagiaan
25
BAB 25: Mahkota Ketulusan dan Fajar Yang Abadi
26
BAB 26: Melukis Cakrawala Baru
27
BAB 27: Benteng Kekeluargaan dan Ujian Kepemimpinan
28
BAB 28: Senandung di Bawah Naungan Rindang
29
BAB 29: Bisik-Bisik dari Balik Jeruji dan Wajah yang Terlupa
30
BAB 30 Pintu yang Tak Akan Kubuka Lagi
31
BAB 31 Kala Datang Membawa Sebuah Niat
32
BAB 32 Perempuan dari Masa Lalu Kala
33
BAB 33 Rahasia di Balik Pernikahan yang Batal
34
BAB 34 Bolehkah Aku Memanggilmu Ayah?
35
BAB 35 Hari Ketika Dini Memilih Bahagia
36
BAB 36 Dua Garis dan Ketakutan Seorang Ibu
37
BAB 37 Ketika Yudi Mendengar Kabar Kehamilan Dini
38
BAB 38 Dua Ayah di Satu Meja
39
BAB 39 Janji yang Tak Sempat Ditepati
40
BAB 40 Pintu Pertama Yayasan
41
BAB 41 Sepuluh Cabang, Satu Mimpi
42
BAB 42 Tender Miliaran dan Lawan yang Salah
43
BAB 43 Harga Sebuah Pengkhianatan
44
BAB 44 Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan
45
BAB 45 Ketika Pesanan Membesar Dua Kali Lipat
46
BAB 46 Jaringan yang Tumbuh di Dalam Rumah Sendiri
47
BAB 47 Perang Tepung, Gula, dan Minyak
48
BAB 48 Racun di Balik Sebuah Kemasan
49
BAB 49 Harga Sebuah Kendali
50
BAB 50 Perempuan yang Berdiri di Panggung Nasional
51
BAB 51 Fitnah yang Menyerang dari Segala Arah
52
BAB 52 Ketika Orang yang Pernah Menyakiti Datang Meminta Pertolongan
53
BAB 53 Pertemuan Ayah dan Anak
54
BAB 54 Tiga Ribu Dua Ratus Tujuh Belas Harapan
55
BAB 55 Keberanian untuk Berkata Tidak
56
BAB 56 Ketika Kepercayaan Diuji Sekali Lagi
57
BAB 57 Perang di Balik Meja Hukum
58
BAB 58 Ketika Semua Buku Dibuka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!