Bab 2 - Abu dan Segel Dewa

Darah hangat memercik ke wajah Lin Tian.

Ia tidak menjerit. Ia menerjang.

Pisau dapur di tangan kanannya diayunkan sekuat tenaga ke arah leher sosok bertopeng itu. Sebuah serangan yang lahir dari keputusasaan murni, bukan teknik bela diri.

Clang!

Mata pisau itu patah sebelum menyentuh kulit.

Sosok bertopeng itu bahkan tidak bergeser satu inci pun. Ia hanya menatap Lin Tian dengan sepasang mata kosong di balik topeng besi, lalu menjentikkan jari telunjuknya.

Kekuatan tak kasatmata menghantam dada Lin Tian seperti palu godam.

Tulang rusuknya berbunyi retak, menusuk paru-paru. Tubuhnya terlempar ke belakang, menabrak dinding ruang kerja hingga jebol dan terhempas ke dalam kegelapan.

"Bocah tanpa qi. Tidak sepadan untuk kubunuh sendiri," suara datar itu bergema di tengah halaman. "Bakar rumahnya. Pastikan tidak ada yang tersisa."

Lin Tian berusaha bangkit, tetapi paru-parunya terasa seperti diisi pecahan kaca.

Melalui lubang di dinding, ia melihat ayahnya roboh dengan dada tertembus. Ibunya memeluk tubuh kaku itu, menangis histeris, sebelum sebuah tebasan cahaya memisahkan kepala wanita itu dari tubuhnya.

"Ibu..." suara Lin Tian tercekat.

Darah memenuhi mulutnya, membuatnya tersedak.

Api mulai menjilat tiang-tiang kayu dengan cepat.

Jubah hitam para pembunuh itu berkibar saat mereka melompat ke atap, menghilang ke dalam malam. Mereka membawa gulungan kulit yang menjadi akhir dari keluarga Lin.

Asap hitam mengepul pekat.

Panas membakar kulit wajah Lin Tian. Ia merangkak keluar dari puing dinding. Kuku-kukunya mencakar lantai kayu yang mulai hangus.

Ia ingin mencapai mayat orang tuanya, tetapi balok atap yang terbakar runtuh, menimpanya tanpa ampun.

Gelap.

Hanya ada suara api yang menderu, dan bau daging hangus yang akan menghantui mimpi buruknya seumur hidup.

Hujan turun deras saat Lin Tian membuka mata.

Air dingin merembes melalui celah-celah balok kayu hangus yang menindih tubuhnya. Ia mendorong dengan sisa tenaga, batuk-batuk memuntahkan abu dan gumpalan darah.

Kediaman keluarga Lin sudah rata dengan tanah.

Hanya tersisa arang, puing, dan genangan air berlumpur. Ia merangkak keluar, seluruh tubuhnya berlumuran jelaga dan darah kering.

Hujan tidak mampu memadamkan bara api yang masih menyala di beberapa sudut. Namun cukup untuk menyadarkan Lin Tian bahwa ia masih hidup.

Di tengah puing-puing ruang utama, ia menemukan dua gundukan hangus yang saling berpelukan.

Lin Tian jatuh berlutut di atas lumpur.

Ia tidak menangis.

Air matanya seolah sudah menguap bersama api semalam. Ia hanya menatap kedua gundukan itu, menghafalkan setiap detail, setiap tulang yang menghitam.

Tangannya menggali tanah di bawah mereka dengan tangan kosong.

Kuku-kukunya patah, ujung jarinya berdarah, tetapi ia terus menggali hingga membuat lubang yang cukup dalam. Ia mengubur orang tuanya di sana, tanpa nisan, tanpa upacara.

"Aku akan membunuh mereka," bisik Lin Tian pada tanah yang basah. "Semuanya."

Tiga hari kemudian, Lin Tian berdiri di depan gerbang Akademi Awan Biru.

Pakaian yang ia kenakan adalah kain compang-camping hasil memungut dari jemuran tetangga yang sudah lari ketakutan. Wajahnya kurus, matanya cekung, tetapi tatapannya tajam menusuk.

Ia datang untuk melapor.

Istana Langit Hitam adalah organisasi terlarang. Jika sekte setempat tahu, mereka pasti akan mengirim utusan ke kota besar untuk memburu mereka.

"Minggir, pengemis!" bentak seorang murid penjaga gerbang, mendorong bahu Lin Tian dengan ujung tombak.

Lin Tian terhuyung, tetapi tidak jatuh.

"Aku harus bertemu Tetua. Keluargaku dibantai Istana Langit Hitam."

Penjaga itu tertawa meremehkan.

"Istana Langit Hitam? Organisasi mitos itu? Kau gila karena kelaparan, ya?"

Keributan itu menarik perhatian Zhou Wei, yang kebetulan berjalan keluar bersama dua temannya. Pemuda itu menyipitkan mata, mengenali wajah di balik kotoran dan jelaga.

"Lihat siapa yang masih hidup," cibir Zhou Wei. "Sampah Lin. Kudengar rumahmu terbakar. Ternyata kau yang membakarnya sendiri karena gila?"

"Keluargaku dibunuh," kata Lin Tian, suaranya parau dan berat. "Mereka mengambil gulungan ayahku."

Zhou Wei mendekat, menendang lutut Lin Tian hingga pemuda itu berlutut paksa.

"Gulungan? Maksudmu harta karun yang seharusnya diserahkan ke Akademi sebagai upeti? Kau berani menyembunyikannya?"

"Itu peninggalan kakekku," geram Lin Tian.

"Itu milik Akademi!" Zhou Wei memukul wajah Lin Tian dengan sarung tangan besinya.

Darah segar mengalir deras dari hidung Lin Tian.

Dua teman Zhou Wei ikut menendang perut dan punggungnya.

Mereka memukuli Lin Tian di tengah jalan, di depan murid-murid lain yang hanya menonton sambil berbisik. Tidak ada yang menolong. Di mata mereka, Lin Tian hanyalah sampah tanpa qi yang kebetulan masih bernapas.

"Mati saja di selokan," desis Zhou Wei, meludahi wajah Lin Tian sebelum berbalik pergi.

Lin Tian diseret oleh dua pelayan akademi dan dibuang ke gang sempit di belakang pasar.

Hujan kembali turun, membasahi luka-lukanya yang perih.

Tulang rusuknya yang patah saat pembantaian kini bertambah parah. Setiap napas membawa rasa sakit yang menusuk hingga ke otak.

Ia bersandar di dinding bata yang lembap dan berlumut.

Pandangannya mulai kabur.

Apakah aku akan mati di sini? pikirnya. Tanpa membunuh satu pun dari mereka?

Amarah membakar dadanya, lebih panas dari api yang melahap rumahnya.

Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya yang patah kembali menancap ke daging telapak tangannya sendiri.

Langkah kaki terdengar.

Lambat, tidak beraturan, diiringi suara cairan yang berguncang di dalam wadah.

Seseorang berhenti di mulut gang.

Bayangan pria tua dengan jubah abu-abu kusam dan topi bambu yang menutupi separuh wajahnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah labu arak dari kayu.

Bau alkohol menyengat hidung Lin Tian.

"Bocah," suara pria tua itu serak, tetapi bergema jelas di tengah suara hujan. "Meridianmu mati, tapi niat membunuhmu bisa membuat iblis pun merinding."

Lin Tian mengangkat kepalanya, menatap pria itu dengan mata yang merah oleh darah dan kebencian.

"Ajari aku," sahut Lin Tian sebelum memuntahkan darah. "Atau bunuh aku."

Pria tua itu meneguk araknya, lalu tersenyum tipis.

"Kau pikir aku pengemis yang suka memungut sampah?"

Lin Tian tidak menjawab. Ia hanya menatap labu arak di tangan pria tua itu.

Ia tidak peduli siapa orang ini. Asal bisa memberinya kekuatan, ia rela menyerahkan jiwanya.

"Mereka membunuh ayahku," suara Lin Tian bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan. "Mereka memenggal ibuku. Aku tidak punya qi. Aku tidak punya apa-apa. Tapi aku masih bernapas."

Pria tua itu terdiam, menurunkan labu araknya dari balik tepi topi bambu.

Hujan membasahi jubah kusamnya hingga menempel di tubuh kurus.

"Kau tahu mengapa meridianmu tertutup?" tanya pria tua itu tiba-tiba.

Lin Tian mengerutkan kening. "Tabib bilang aku cacat sejak lahir."

"Cacat?" Pria tua itu mendengus, tawanya terdengar sinis namun mengandung rasa sedih yang samar. "Bocah bodoh. Tidak ada tabib di benua ini yang matanya cukup tajam untuk melihat apa yang ada di dalam tubuhmu."

Ia melangkah maju, berjongkok di depan Lin Tian.

Jari keriputnya menusuk dada Lin Tian, tepat di titik tengah tulang dada.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.

Lin Tian menggigit lidahnya agar tetap sadar. Darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Ini bukan cacat," bisik pria tua itu, matanya berkilat tajam, tak lagi terlihat seperti pemabuk. "Ini adalah segel. Seseorang mengunci meridianmu dengan formasi dewa sejak kau dalam kandungan."

Lin Tian terkesiap, matanya membelalak lebar.

"Siapa..." suaranya tercekat.

"Itu pertanyaan untuk nanti," potong pria tua itu, berdiri dan menepuk jubah basahnya. "Pertanyaan sekarang adalah, apakah kau siap menahan rasa sakit saat segel ini kurobek paksa?"

Sebelum Lin Tian sempat menjawab, pria tua itu menginjak tanah.

Qi yang padat meledak dari tubuhnya, membuat air hujan di sekitar mereka menguap seketika.

Episodes
1 Bab 1 - Anak Tanpa Bakat
2 Bab 2 - Abu dan Segel Dewa
3 Bab 3 - Napas Pertama dan Jejak Darah
4 Bab 4 - Hentakan Pertama dan Pengadilan Naga
5 Bab 5 - Kuburan Merah dan Hantu Lembah Naga
6 Bab 6 - Harga Sebuah Celah
7 Bab 7 - Sumpah di Atas Abu
8 Bab 8 - Pemburu Menjadi Mangsa
9 Bab 9 - Jejak Palsu dan Kalajengking Merah
10 Bab 10 - Pilar Kristal dan Energi Iblis
11 Bab 11 - Darah di Ujian Seleksi
12 Bab 12 - Buku Catatan Utang Darah
13 Bab 13: Menelan Jiwa Naga dan Jantung Emas
14 Bab 14 - Markas Pengkhianat dan Ular Perak
15 Bab 15 - Topeng Ular dan Kunci Formasi
16 Bab 16 - Altar Darah dan Nama Sang Pengkhianat
17 Bab 17 - Runtuhnya Paviliun dan Taring Sang Iblis
18 Bab 18 - Taring Iblis Menelan Emas
19 Bab 19 - Cincin Emas dan Kubah Pedang Langit
20 Bab 20 - Jurang Racun dan Robekan Formasi
21 Bab 21 - Buku Hitam dan Kota Qilin Hitam
22 Bab 22 - Hutan Kabut Beracun dan Anjing-Anjing Gerhana
23 Bab 23 - Undangan Lelang dan Teh Beracun
24 Bab 24 - Paviliun Kehormatan dan Harga Sebuah Nyawa
25 Bab 25 - Panggung Pembantaian di Gedung Darah
26 Bab 26 - Cambuk Tulang dan Pengakuan Berdarah
27 Bab 27 - Gerbang Besi dan Darah yang Dipanggil Pulang
28 Bab 28 - Kota Naga Langit dan Topeng Porselin
29 Bab 29 - Darah di Balik Aroma Melati
30 Bab 30 - Dasar Danau dan Benih Kehancudan
31 Bab 31 - Tiga Hari Menuju Gerhana dan Langit yang Berdarah
32 Bab 32 - Pesta Darah di Bawah Kuil Leluhur
33 Bab 33 - Tetesan Cairan Hitam dan Sapuan Jiwa Purba
34 Bab 34 - Tebing Tengkorak dan Upeti Darah
35 Bab 35 - Jubah Merah dan Gerbang Kabut Merah
36 Bab 36 - Turun ke Neraka dan Jantung Purba yang Terbelenggu
37 Bab 37 - Pesta Perjamuan Jantung Purba
38 Bab 38 - Pemberontakan di Lautan Kesadaran dan Takhta Tulang Naga
39 Bab 39 - Ngarai Tulang Sunyi dan Peta Benua Tengah
40 Bab 40 - Lautan Pasir Tanpa Akhir dan Mangsa Empuk
41 Bab 41 - Gerbang Giok dan Token Identitas
42 Bab 42 - Kota Giok dan Bisikan Tiga Ribu Tahun
43 Bab 43 - Peta Tiga Ribu Tahun dan Bayangan di Balik Giok
44 Bab 44 - Lidah Anjing dan Hutan yang Menelan
45 Bab 45 - Darah yang Membangunkan Batu
46 Bab 46 - Ngarai Seribu Cermin
47 Bab 47 - Bayangan di Dalam Kaca
48 Bab 48 - Sosok di Dasar Ngarai
49 Bab 49 - Liontin Naga dan Nama yang Hilang
50 Bab 50 - Dua Goresan Terakhir
51 Bab 51 - Jejak Sang Pengkhianat
52 Bab 52 - Akar yang Berdarah
53 Bab 53 - Nama di Balik Bulan Sabit
54 Bab 54 - Lorong Terakhir
55 Bab 55 - Kebenaran yang Terkubur Bersama Ayah
56 Bab 56 - Dua Liontin, Satu Pintu
57 Bab 57 - Senyum Tanpa Wajah
58 Bab 58 - Tuan Cabang Barat
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 - Anak Tanpa Bakat
2
Bab 2 - Abu dan Segel Dewa
3
Bab 3 - Napas Pertama dan Jejak Darah
4
Bab 4 - Hentakan Pertama dan Pengadilan Naga
5
Bab 5 - Kuburan Merah dan Hantu Lembah Naga
6
Bab 6 - Harga Sebuah Celah
7
Bab 7 - Sumpah di Atas Abu
8
Bab 8 - Pemburu Menjadi Mangsa
9
Bab 9 - Jejak Palsu dan Kalajengking Merah
10
Bab 10 - Pilar Kristal dan Energi Iblis
11
Bab 11 - Darah di Ujian Seleksi
12
Bab 12 - Buku Catatan Utang Darah
13
Bab 13: Menelan Jiwa Naga dan Jantung Emas
14
Bab 14 - Markas Pengkhianat dan Ular Perak
15
Bab 15 - Topeng Ular dan Kunci Formasi
16
Bab 16 - Altar Darah dan Nama Sang Pengkhianat
17
Bab 17 - Runtuhnya Paviliun dan Taring Sang Iblis
18
Bab 18 - Taring Iblis Menelan Emas
19
Bab 19 - Cincin Emas dan Kubah Pedang Langit
20
Bab 20 - Jurang Racun dan Robekan Formasi
21
Bab 21 - Buku Hitam dan Kota Qilin Hitam
22
Bab 22 - Hutan Kabut Beracun dan Anjing-Anjing Gerhana
23
Bab 23 - Undangan Lelang dan Teh Beracun
24
Bab 24 - Paviliun Kehormatan dan Harga Sebuah Nyawa
25
Bab 25 - Panggung Pembantaian di Gedung Darah
26
Bab 26 - Cambuk Tulang dan Pengakuan Berdarah
27
Bab 27 - Gerbang Besi dan Darah yang Dipanggil Pulang
28
Bab 28 - Kota Naga Langit dan Topeng Porselin
29
Bab 29 - Darah di Balik Aroma Melati
30
Bab 30 - Dasar Danau dan Benih Kehancudan
31
Bab 31 - Tiga Hari Menuju Gerhana dan Langit yang Berdarah
32
Bab 32 - Pesta Darah di Bawah Kuil Leluhur
33
Bab 33 - Tetesan Cairan Hitam dan Sapuan Jiwa Purba
34
Bab 34 - Tebing Tengkorak dan Upeti Darah
35
Bab 35 - Jubah Merah dan Gerbang Kabut Merah
36
Bab 36 - Turun ke Neraka dan Jantung Purba yang Terbelenggu
37
Bab 37 - Pesta Perjamuan Jantung Purba
38
Bab 38 - Pemberontakan di Lautan Kesadaran dan Takhta Tulang Naga
39
Bab 39 - Ngarai Tulang Sunyi dan Peta Benua Tengah
40
Bab 40 - Lautan Pasir Tanpa Akhir dan Mangsa Empuk
41
Bab 41 - Gerbang Giok dan Token Identitas
42
Bab 42 - Kota Giok dan Bisikan Tiga Ribu Tahun
43
Bab 43 - Peta Tiga Ribu Tahun dan Bayangan di Balik Giok
44
Bab 44 - Lidah Anjing dan Hutan yang Menelan
45
Bab 45 - Darah yang Membangunkan Batu
46
Bab 46 - Ngarai Seribu Cermin
47
Bab 47 - Bayangan di Dalam Kaca
48
Bab 48 - Sosok di Dasar Ngarai
49
Bab 49 - Liontin Naga dan Nama yang Hilang
50
Bab 50 - Dua Goresan Terakhir
51
Bab 51 - Jejak Sang Pengkhianat
52
Bab 52 - Akar yang Berdarah
53
Bab 53 - Nama di Balik Bulan Sabit
54
Bab 54 - Lorong Terakhir
55
Bab 55 - Kebenaran yang Terkubur Bersama Ayah
56
Bab 56 - Dua Liontin, Satu Pintu
57
Bab 57 - Senyum Tanpa Wajah
58
Bab 58 - Tuan Cabang Barat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!