Bab 4 - Hentakan Pertama dan Pengadilan Naga

Makhluk itu melompat.

Bukan anjing biasa. Tubuhnya sebesar sapi, dengan sisik hitam yang memantulkan cahaya bulan samar. Air liur menetes dari rahangnya yang penuh gigi gergaji, mendesis saat menyentuh tanah dan mengikis batu bata.

"Anjing Pelacak Darah," suara Mo Cang terdengar santai di belakang Lin Tian. "Kelas dua. Setara dengan kultivator tahap Pengumpulan Qi tingkat empat. Kau yang hadapi."

Lin Tian menoleh, matanya membelalak. "Aku baru bisa merasakan qi selama lima menit!"

"Kalau begitu kau punya lima menit pengalaman lebih banyak dari anjing itu," balas Mo Cang, duduk bersila di atas tong arak kosong dan meneguk minumannya. "Gunakan tinjumu. Salurkan qi ke tulang kepalan tanganmu. Jangan mati."

Makhluk itu menerjang.

Lin Tian tidak punya waktu untuk marah. Insting yang ia asah selama bertahun-tahun memukul tiang kayu mengambil alih. Ia merendahkan kuda-kuda, menghindari cakaran pertama yang merobek udara tepat di depan wajahnya.

Angin dari cakaran itu mengiris pipinya, memunculkan garis darah tipis.

Salurkan qi.

Lin Tian menarik napas, membayangkan energi hangat yang baru saja ia rasakan mengalir dari pusar, naik ke dada, lalu memadat di lengan kanannya. Rasanya seperti mencoba mendorong air sungai dengan tangan kosong. Energi itu liar, tidak mau diatur, menyengat urat-uratnya seperti dialiri ribuan semut api.

Anjing itu berputar dan menyerang lagi, kali ini dengan rahang terbuka lebar. Bau busuk dari mulutnya membuat Lin Tian nyaris muntah, tetapi ia menahan diri, memfokuskan seluruh kesadarannya pada satu titik di antara kedua mata makhluk itu.

Lin Tian memukul.

Tinjunya menghantam moncong makhluk itu. Tanpa qi, pukulan ini hanya akan mematahkan tulang tangannya. Tetapi saat kepalan tangannya bersentuhan dengan sisik keras, qi yang liar itu meledak.

Krak.

Sisik hitam retak. Makhluk itu mencicit, terpental ke belakang dan menabrak dinding gang.

Lin Tian menatap tinjunya. Kulitnya memerah, tulang-tulangnya ngilu, tetapi tidak ada yang patah. Kekuatan ini nyata.

"Jangan kagum pada dirimu sendiri, bodoh!" bentak Mo Cang. "Lehernya! Putar kepalanya sebelum ia bangkit! Qi bukan pedang yang bisa kau ayunkan seenaknya. Ia adalah perpanjangan dari niatmu. Jika kau ragu, qi akan menghancurkan tubuhmu sendiri!"

Anjing Pelacak Darah itu sudah bangkit, matanya menyala merah oleh amarah. Ia membuka rahangnya, mengumpulkan bola energi berwarna merah darah di tenggorokannya.

Lin Tian tidak mundur.

Ia melangkah maju, menginjak genangan air, dan melompat.

Tubuhnya yang selama enam belas tahun dilatih memikul batu dan memukul kayu kini terasa seringan bulu. Ia mendarat di punggung makhluk itu, kedua kakinya menjepit lehernya, dan kedua tangannya mencengkeram rahang atas serta bawahnya.

"Salurkan qi ke lengan!" teriak Mo Cang.

Lin Tian meraung, memaksa seluruh energi di dantiannya mengalir ke kedua lengan. Otot-ototnya menonjol, urat-uratnya menegang hingga nyaris robek. Ia menarik rahang makhluk itu ke arah yang berlawanan dengan sendi alaminya.

Daging terkoyak. Tulang bergeser.

Dengan satu sentakan brutal, Lin Tian mematahkan leher anjing itu.

Makhluk raksasa itu ambruk ke tanah, kejang beberapa kali sebelum akhirnya mati. Darah hitam kental mengalir dari mulutnya, bercampur dengan air hujan.

Lin Tian turun dari bangkainya. Napasnya memburu, dadanya naik turun. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang membanjiri tubuhnya. Ia baru saja membunuh monster dengan tangan kosong.

Rasa panas menjalar di sepanjang lengannya, seperti ada bara api yang mengalir di dalam pembuluh darahnya. Dantiannya terasa nyeri, tanda bahwa wadah energinya yang baru terbuka sedang dipaksa bekerja melampaui batas. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak, tidak ingin menunjukkan kelemahan.

"Tidak buruk," komentar Mo Cang, meski nadanya tetap datar. "Tapi kau terlalu lambat. Dan kau membuang terlalu banyak qi untuk satu pukulan."

Lin Tian tidak sempat menjawab.

Suara tepukan tangan terdengar dari mulut gang.

Tiga sosok berjubah hitam melangkah masuk. Wajah mereka tertutup kain, hanya menyisakan mata yang dingin dan tanpa emosi. Di tangan mereka, pedang tipis memancarkan cahaya hijau beracun.

"Mo Cang," suara pemimpin mereka serak, seperti dua batu yang digesekkan. "Puluhan tahun kami mencarimu. Ternyata kau bersembunyi di kota kumuh ini, memungut sampah."

Mo Cang tidak berdiri. Ia tetap duduk di atas tong arak, memutar-mutar labu kayunya. "Anjing-anjing Istana Langit Hitam. Aku kira kalian sudah lupa cara melacak jejak."

"Serahkan bocah itu dan gulungan kuno itu, kami akan memberimu kematian yang cepat," ancam pemimpin itu.

Mo Cang tertawa. Tawa pendek yang membuat suhu di gang itu turun drastis.

"Kalian membantai keluarga anak ini demi gulungan yang bahkan tidak bisa kalian baca," kata Mo Cang, suaranya kini tidak lagi terdengar seperti pemabuk. "Dan sekarang, kalian berani menagih nyawanya di depanku?"

Pemimpin itu mengangkat tangan. "Bunuh si tua. Tangkap bocahnya hidup-hidup."

Ketiga pembunuh itu bergerak serentak. Kecepatan mereka jauh melampaui Anjing Pelacak Darah. Mereka adalah kultivator tahap Pengumpulan Qi tingkat tujuh, elit dari organisasi pembunuh.

Lin Tian mengepalkan tangan, bersiap untuk mencegat.

Namun, Mo Cang hanya menghentakkan kaki kanannya ke tanah.

Satu kali.

Tidak ada ledakan qi. Tidak ada cahaya menyilaukan.

Hanya ada suara tap pelan.

Tetapi dampaknya menghancurkan segalanya.

Gelombang kejut tak kasatmata merambat melalui tanah, langsung menghantam titik vital di telapak kaki ketiga pembunuh itu. Tubuh mereka kaku di udara, seolah tulang-tulang kaki mereka telah dihancurkan menjadi bubuk dalam sepersekian detik.

Mereka jatuh berlutut, pedang beracun mereka terlepas dari genggaman. Wajah di balik topeng mereka memucat, menahan rasa sakit yang luar biasa.

Lin Tian ternganga. Ia tidak melihat Mo Cang menggunakan teknik apa pun. Hanya satu hentakan kaki, dan tiga kultivator elit lumpuh total.

"Siapa... siapa kau sebenarnya?" suara pemimpin itu bergetar, kesombongannya lenyap digantikan teror murni.

Mo Cang turun dari tong arak, berjalan perlahan menuju mereka. "Orang tua yang sedang mabuk."

Ia berhenti di depan pemimpin itu, lalu menepuk bahunya pelan.

Tubuh pembunuh itu langsung runtuh menjadi debu abu-abu, tertiup angin malam. Tidak ada darah, tidak ada jeritan. Hanya ketiadaan.

Dua pembunuh sisanya gemetar hebat, mencoba merangkak mundur.

"Kalian punya dua pilihan," kata Mo Cang, menatap mereka tanpa emosi. "Bunuh diri, atau kubiarkan muridku yang berlatih pada kalian."

Lin Tian menatap Mo Cang, lalu menatap kedua pembunuh yang kini menatapnya seperti melihat iblis. Ia memungut salah satu pedang beracun yang terjatuh. Bilahnya dingin, memantulkan matanya yang kini berkilat perak.

Ia tidak ragu. Ia melangkah maju dan menebaskan pedang itu ke leher mereka.

Dua kepala menggelinding ke selokan.

Mo Cang mengangguk pelan. "Tega, tapi efisien. Itu yang kubutuhkan."

Namun, saat Mo Cang membungkuk untuk memeriksa jubah salah satu mayat, ekspresi santainya tiba-tiba lenyap. Ia merobek kain di dada mayat itu, memperlihatkan sebuah tato berbentuk mata dengan pupil retak.

Tato itu bukan digambar dengan tinta biasa. Garis-garisnya menonjol dari kulit, berdenyut pelan seolah memiliki kehidupan sendiri, memancarkan aura kematian yang membuat udara di sekitar mayat terasa berat.

Tangan Mo Cang, yang tadi begitu stabil saat membunuh, kini gemetar samar.

"Mereka tidak hanya mengirim anjing pelacak," bisik Mo Cang, matanya menatap Lin Tian dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan seorang jenderal yang menyadari bahwa musuh telah mengepung bentengnya. "Mereka membawa Pengadilan Naga Hitam ke kota ini."

Lin Tian tidak tahu apa itu Pengadilan Naga Hitam, tetapi bulu kuduknya berdiri tegak. "Seberapa buruk?"

Mo Cang menghancurkan tato itu dengan qi, lalu menatap langit malam yang tertutup awan hitam. "Cukup buruk untuk membuat seluruh kota ini menjadi kuburan massal sebelum fajar tiba."

Episodes
1 Bab 1 - Anak Tanpa Bakat
2 Bab 2 - Abu dan Segel Dewa
3 Bab 3 - Napas Pertama dan Jejak Darah
4 Bab 4 - Hentakan Pertama dan Pengadilan Naga
5 Bab 5 - Kuburan Merah dan Hantu Lembah Naga
6 Bab 6 - Harga Sebuah Celah
7 Bab 7 - Sumpah di Atas Abu
8 Bab 8 - Pemburu Menjadi Mangsa
9 Bab 9 - Jejak Palsu dan Kalajengking Merah
10 Bab 10 - Pilar Kristal dan Energi Iblis
11 Bab 11 - Darah di Ujian Seleksi
12 Bab 12 - Buku Catatan Utang Darah
13 Bab 13: Menelan Jiwa Naga dan Jantung Emas
14 Bab 14 - Markas Pengkhianat dan Ular Perak
15 Bab 15 - Topeng Ular dan Kunci Formasi
16 Bab 16 - Altar Darah dan Nama Sang Pengkhianat
17 Bab 17 - Runtuhnya Paviliun dan Taring Sang Iblis
18 Bab 18 - Taring Iblis Menelan Emas
19 Bab 19 - Cincin Emas dan Kubah Pedang Langit
20 Bab 20 - Jurang Racun dan Robekan Formasi
21 Bab 21 - Buku Hitam dan Kota Qilin Hitam
22 Bab 22 - Hutan Kabut Beracun dan Anjing-Anjing Gerhana
23 Bab 23 - Undangan Lelang dan Teh Beracun
24 Bab 24 - Paviliun Kehormatan dan Harga Sebuah Nyawa
25 Bab 25 - Panggung Pembantaian di Gedung Darah
26 Bab 26 - Cambuk Tulang dan Pengakuan Berdarah
27 Bab 27 - Gerbang Besi dan Darah yang Dipanggil Pulang
28 Bab 28 - Kota Naga Langit dan Topeng Porselin
29 Bab 29 - Darah di Balik Aroma Melati
30 Bab 30 - Dasar Danau dan Benih Kehancudan
31 Bab 31 - Tiga Hari Menuju Gerhana dan Langit yang Berdarah
32 Bab 32 - Pesta Darah di Bawah Kuil Leluhur
33 Bab 33 - Tetesan Cairan Hitam dan Sapuan Jiwa Purba
34 Bab 34 - Tebing Tengkorak dan Upeti Darah
35 Bab 35 - Jubah Merah dan Gerbang Kabut Merah
36 Bab 36 - Turun ke Neraka dan Jantung Purba yang Terbelenggu
37 Bab 37 - Pesta Perjamuan Jantung Purba
38 Bab 38 - Pemberontakan di Lautan Kesadaran dan Takhta Tulang Naga
39 Bab 39 - Ngarai Tulang Sunyi dan Peta Benua Tengah
40 Bab 40 - Lautan Pasir Tanpa Akhir dan Mangsa Empuk
41 Bab 41 - Gerbang Giok dan Token Identitas
42 Bab 42 - Kota Giok dan Bisikan Tiga Ribu Tahun
43 Bab 43 - Peta Tiga Ribu Tahun dan Bayangan di Balik Giok
44 Bab 44 - Lidah Anjing dan Hutan yang Menelan
45 Bab 45 - Darah yang Membangunkan Batu
46 Bab 46 - Ngarai Seribu Cermin
47 Bab 47 - Bayangan di Dalam Kaca
48 Bab 48 - Sosok di Dasar Ngarai
49 Bab 49 - Liontin Naga dan Nama yang Hilang
50 Bab 50 - Dua Goresan Terakhir
51 Bab 51 - Jejak Sang Pengkhianat
52 Bab 52 - Akar yang Berdarah
53 Bab 53 - Nama di Balik Bulan Sabit
54 Bab 54 - Lorong Terakhir
55 Bab 55 - Kebenaran yang Terkubur Bersama Ayah
56 Bab 56 - Dua Liontin, Satu Pintu
57 Bab 57 - Senyum Tanpa Wajah
58 Bab 58 - Tuan Cabang Barat
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 - Anak Tanpa Bakat
2
Bab 2 - Abu dan Segel Dewa
3
Bab 3 - Napas Pertama dan Jejak Darah
4
Bab 4 - Hentakan Pertama dan Pengadilan Naga
5
Bab 5 - Kuburan Merah dan Hantu Lembah Naga
6
Bab 6 - Harga Sebuah Celah
7
Bab 7 - Sumpah di Atas Abu
8
Bab 8 - Pemburu Menjadi Mangsa
9
Bab 9 - Jejak Palsu dan Kalajengking Merah
10
Bab 10 - Pilar Kristal dan Energi Iblis
11
Bab 11 - Darah di Ujian Seleksi
12
Bab 12 - Buku Catatan Utang Darah
13
Bab 13: Menelan Jiwa Naga dan Jantung Emas
14
Bab 14 - Markas Pengkhianat dan Ular Perak
15
Bab 15 - Topeng Ular dan Kunci Formasi
16
Bab 16 - Altar Darah dan Nama Sang Pengkhianat
17
Bab 17 - Runtuhnya Paviliun dan Taring Sang Iblis
18
Bab 18 - Taring Iblis Menelan Emas
19
Bab 19 - Cincin Emas dan Kubah Pedang Langit
20
Bab 20 - Jurang Racun dan Robekan Formasi
21
Bab 21 - Buku Hitam dan Kota Qilin Hitam
22
Bab 22 - Hutan Kabut Beracun dan Anjing-Anjing Gerhana
23
Bab 23 - Undangan Lelang dan Teh Beracun
24
Bab 24 - Paviliun Kehormatan dan Harga Sebuah Nyawa
25
Bab 25 - Panggung Pembantaian di Gedung Darah
26
Bab 26 - Cambuk Tulang dan Pengakuan Berdarah
27
Bab 27 - Gerbang Besi dan Darah yang Dipanggil Pulang
28
Bab 28 - Kota Naga Langit dan Topeng Porselin
29
Bab 29 - Darah di Balik Aroma Melati
30
Bab 30 - Dasar Danau dan Benih Kehancudan
31
Bab 31 - Tiga Hari Menuju Gerhana dan Langit yang Berdarah
32
Bab 32 - Pesta Darah di Bawah Kuil Leluhur
33
Bab 33 - Tetesan Cairan Hitam dan Sapuan Jiwa Purba
34
Bab 34 - Tebing Tengkorak dan Upeti Darah
35
Bab 35 - Jubah Merah dan Gerbang Kabut Merah
36
Bab 36 - Turun ke Neraka dan Jantung Purba yang Terbelenggu
37
Bab 37 - Pesta Perjamuan Jantung Purba
38
Bab 38 - Pemberontakan di Lautan Kesadaran dan Takhta Tulang Naga
39
Bab 39 - Ngarai Tulang Sunyi dan Peta Benua Tengah
40
Bab 40 - Lautan Pasir Tanpa Akhir dan Mangsa Empuk
41
Bab 41 - Gerbang Giok dan Token Identitas
42
Bab 42 - Kota Giok dan Bisikan Tiga Ribu Tahun
43
Bab 43 - Peta Tiga Ribu Tahun dan Bayangan di Balik Giok
44
Bab 44 - Lidah Anjing dan Hutan yang Menelan
45
Bab 45 - Darah yang Membangunkan Batu
46
Bab 46 - Ngarai Seribu Cermin
47
Bab 47 - Bayangan di Dalam Kaca
48
Bab 48 - Sosok di Dasar Ngarai
49
Bab 49 - Liontin Naga dan Nama yang Hilang
50
Bab 50 - Dua Goresan Terakhir
51
Bab 51 - Jejak Sang Pengkhianat
52
Bab 52 - Akar yang Berdarah
53
Bab 53 - Nama di Balik Bulan Sabit
54
Bab 54 - Lorong Terakhir
55
Bab 55 - Kebenaran yang Terkubur Bersama Ayah
56
Bab 56 - Dua Liontin, Satu Pintu
57
Bab 57 - Senyum Tanpa Wajah
58
Bab 58 - Tuan Cabang Barat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!