Bab 5 - Kuburan Merah dan Hantu Lembah Naga

Mo Cang tidak memberi waktu bagi Lin Tian untuk bertanya.

Tangan keriput itu mencengkeram kerah baju Lin Tian. Sebelum pemuda itu sempat bereaksi, pemandangan di sekitarnya berubah menjadi garis-garis cahaya yang kabur. Angin malam menderu keras di telinganya, membawa bau amis darah yang semakin pekat.

Mereka melompat dari satu atap ke atap lain. Kecepatan Mo Cang sungguh tidak masuk akal. Setiap langkah kakinya hanya menyentuh genteng sekilas, namun tubuh mereka sudah melesat puluhan meter ke depan.

Di bawah mereka, Kota Qingshui yang biasanya damai kini berubah menjadi neraka. Api menjilat atap-atap rumah kayu, mengirimkan gulungan asap hitam pekat ke langit malam. Suara genteng yang runtuh dan jeritan minta tolong bercampur menjadi satu simfoni kematian yang menyayat hati.

"Kakek, apa itu Pengadilan Naga Hitam?" Lin Tian berteriak di tengah deru angin.

"Alasan mengapa kota ini akan menjadi kuburan massal malam ini!" balas Mo Cang. Suara pria tua itu tidak terdengar terengah, justru berat dan mendesak. "Mereka bukan sekadar pembunuh. Mereka adalah algojo yang menggunakan nyawa manusia sebagai bahan bakar formasi!"

Tepat saat kata-kata itu diucapkan, langit di atas Kota Qingshui berubah.

Kabut merah darah merembes dari tanah, naik ke udara dan membentuk kubah raksasa yang menutupi seluruh penjuru kota. Cahaya bulan terblokir, digantikan oleh pendaran merah yang membuat bayangan di bawah tampak seperti monster yang memanjang.

Jeritan mulai terdengar dari jalanan di bawah.

Lin Tian menatap ke bawah. Pemandangan itu membuat darahnya terasa membeku. Para penduduk biasa yang sedang tidur nyenyak kini diseret keluar dari rumah mereka oleh sosok-sosok berjubah hitam. Tanpa ampun, pedang-pedang beracun menebas leher pria, wanita, dan anak-anak.

Darah mereka tidak mengalir ke tanah.

Cairan merah itu melayang ke udara, tersedot ke dalam kubah merah di atas, membentuk urat-urat cahaya yang berdenyut menuju satu titik pusat. Titik itu terus menyapu jalanan, mencari jejak qi Lin Tian yang baru saja terbuka.

"Kita harus menghentikan mereka!" Lin Tian meraung, matanya merah.

Bayangan kepala ibunya yang terpisah dari tubuh kembali berputar di benaknya. Ia masih bisa mencium bau darah segar yang memercik ke wajahnya malam itu. Ia masih bisa mendengar suara tulang rusuk ayahnya yang hancur dihantam qi. Bagaimana ia bisa lari dan membiarkan orang lain merasakan hal yang sama?

"Menurunkan kecepatan kita sama saja dengan bunuh diri!" bentak Mo Cang, mencengkeram kerah Lin Tian lebih erat. "Kau baru saja membuka segel! Qi-mu bahkan belum cukup untuk menghangatkan secangkir teh, apalagi melawan formasi tingkat bumi!"

"Mereka membunuh orang tidak bersalah!"

"Dunia kultivasi tidak mengenal kata tidak bersalah!" Mo Cang mendarat keras di sebuah gang sempit, menjatuhkan Lin Tian ke tanah. "Yang ada hanya yang kuat dan yang lemah. Jika kau mati di sini, kematian mereka sia-sia. Jika kau hidup, kau bisa membunuh setiap anjing yang memegang pedang malam ini!"

Lin Tian terdiam. Napasnya memburu, dadanya naik turun hebat. Ia menatap tangan kanannya yang masih menggenggam pedang beracun rampasan. Bilah hijau itu memantulkan wajah pemuda yang dipenuhi kotoran, darah, dan kebencian.

Ia tahu Mo Cang benar. Tetapi rasa muak di perutnya tidak bisa ditelan begitu saja.

"Bergerak," perintah Mo Cang. "Gerbang utara adalah titik terlemah dari formasi ini. Kita harus menembusnya sebelum urat-urat darah itu mengeras."

Mereka kembali berlari menyusuri bayang-bayang gang. Suara pembantaian semakin dekat. Bau amis darah begitu tebal hingga membuat Lin Tian nyaris muntah.

Di persimpangan jalan menuju gerbang utara, langkah mereka terhenti.

Lima sosok berjubah hitam berdiri menghalangi jalan. Di tengah mereka, seorang pria bertubuh tinggi dengan topeng tengkorak perak sedang menyeret seorang gadis kecil dari pelukan ibunya yang sudah tewas. Gadis itu menangis histeris, memohon ampun.

"Darah anak-anak lebih murni untuk menyempurnakan pelacakan," suara pria bertopeng tengkorak itu terdengar datar. Ia mengangkat belati hitamnya.

Lin Tian tidak berpikir. Tubuhnya bergerak sebelum otaknya sempat memproses.

Ia melesat dari kegelapan, pedang beracun diayunkan sekuat tenaga ke arah leher pria bertopeng itu. Qi liar di dantiannya kembali ia paksa mengalir ke lengannya, membuat urat-uratnya menonjol menyakitkan.

Pria bertopeng itu menoleh, matanya menyipit meremehkan. Ia mengangkat belati untuk menangkis.

Clang!

Pedang Lin Tian terhenti. Namun, itu hanya pancingan.

Tangan kiri Lin Tian, yang terlatih memukul tiang kayu ribuan kali, menghantam dada pria itu dengan seluruh qi yang ia miliki. Tulang rusuk pria bertopeng itu remuk seketika. Tubuhnya terpental, memuntahkan darah dan organ dalam, lalu menghantam dinding batu hingga tak bergerak lagi.

Empat pembunuh lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka seorang bocah dengan qi yang baru tumbuh bisa membunuh seorang Eksekutor tingkat lima dalam satu serangan.

"Bocah sialan!" salah satu dari mereka meraung, mengangkat pedang dan menerjang.

Sebelum pedang itu bisa menyentuh Lin Tian, sebuah bayangan abu-abu melintas.

Mo Cang berdiri di depan Lin Tian. Labu arak di tangannya dilempar ke udara, lalu ia menjentikkan jari.

Tetesan arak yang berhamburan dari labu itu mengeras di udara, berubah menjadi puluhan jarum es yang menembus tenggorokan keempat pembunuh secara bersamaan.

Mereka jatuh tewas tanpa sempat mengeluarkan suara.

Mo Cang menangkap kembali labu araknya, lalu menatap Lin Tian. "Serangan yang bodoh. Kau membuka celah di sisi kirimu. Jika dia memegang peledak qi, kau sudah menjadi potongan daging."

"Dia akan membunuh anak itu," jawab Lin Tian datar, menunjuk gadis kecil yang kini meringkuk ketakutan di sudut jalan.

"Dan sekarang dia hidup. Tapi kau hampir mati." Mo Cang menghela napas, menatap langit merah yang semakin pekat. "Kebaikanmu akan menjadi racun yang membunuhmu, Lin Tian."

"Jika aku harus menjadi iblis untuk melindungi yang lemah, biarlah," Lin Tian menyarungkan pedangnya. "Ayo pergi."

Mo Cang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung rasa bangga dan sedih yang tersembunyi. "Ayo."

Mereka meninggalkan gang itu dan akhirnya melihat gerbang utara Kota Qingshui.

Namun, harapan mereka hancur dalam sekejap.

Gerbang setinggi sepuluh meter itu sudah lenyap, digantikan oleh dinding daging dan tulang yang berdenyut hidup. Ratusan mayat warga kota ditumpuk dan disatukan oleh urat-urat merah, membentuk penghalang yang memancarkan aura kematian yang menyesakkan.

Dan melayang di atas tumpukan mayat itu, ada seorang pria.

Jubahnya hitam pekat dengan sulaman benang emas berbentuk naga yang menelan matahari. Wajahnya tidak tertutup topeng, memperlihatkan parut luka bakar yang memanjang dari dahi hingga rahang.

Batu-batu jalanan di bawah kaki pria itu retak dan hancur menjadi debu hanya karena keberadaan auranya. Udara di sekitar Lin Tian terasa seperti batu padat yang menekan paru-parunya, membuat darah di dalam nadinya seolah mendidih dan siap meledak kapan saja.

Lin Tian tidak bisa bernapas. Lututnya gemetar hebat, memaksanya berlutut di atas tanah. Ini bukan tekanan biasa. Ini adalah pembunuhan yang telah mengkristal menjadi bentuk fisik.

"Mo Cang," suara pria berwajah parut itu bergema, bukan di udara, melainkan langsung di dalam tengkorak kepala Lin Tian. "Pantas saja jejak darah bocah ini tiba-tiba terganggu. Ternyata hantu dari Lembah Naga yang tersembunyi di sini."

Mo Cang melangkah maju, menempatkan dirinya di antara Lin Tian dan pria itu. Punggungnya yang membungkuk kini tegak lurus, dan untuk pertama kalinya, Lin Tian melihat qi berwarna perak murni meledak dari tubuh gurunya, membelah kabut merah di atas mereka.

"Zhao Yan," suara Mo Cang dingin, memanggil nama pria itu. "Kau berani menyentuh muridku?"

Zhao Yan tertawa. Suara tawanya membuat tumpukan mayat di bawahnya bergetar. "Muridmu? Mo Cang, kau bahkan tidak bisa melindungi sektemu sendiri puluhan tahun lalu. Malam ini, aku akan membiarkanmu melihat bagaimana aku merobek bocah ini sehelai demi sehelai, tepat di depan matamu."

Zhao Yan mengangkat tangan kanannya. Langit merah di atas mereka bergemuruh, dan sebuah tangan raksasa yang terbuat dari darah kental mulai terbentuk, mengarah lurus ke tempat Lin Tian berlutut.

Mo Cang menoleh sedikit ke belakang, menatap Lin Tian. "Tian'er. Apapun yang terjadi, jangan tutup matamu."

Episodes
1 Bab 1 - Anak Tanpa Bakat
2 Bab 2 - Abu dan Segel Dewa
3 Bab 3 - Napas Pertama dan Jejak Darah
4 Bab 4 - Hentakan Pertama dan Pengadilan Naga
5 Bab 5 - Kuburan Merah dan Hantu Lembah Naga
6 Bab 6 - Harga Sebuah Celah
7 Bab 7 - Sumpah di Atas Abu
8 Bab 8 - Pemburu Menjadi Mangsa
9 Bab 9 - Jejak Palsu dan Kalajengking Merah
10 Bab 10 - Pilar Kristal dan Energi Iblis
11 Bab 11 - Darah di Ujian Seleksi
12 Bab 12 - Buku Catatan Utang Darah
13 Bab 13: Menelan Jiwa Naga dan Jantung Emas
14 Bab 14 - Markas Pengkhianat dan Ular Perak
15 Bab 15 - Topeng Ular dan Kunci Formasi
16 Bab 16 - Altar Darah dan Nama Sang Pengkhianat
17 Bab 17 - Runtuhnya Paviliun dan Taring Sang Iblis
18 Bab 18 - Taring Iblis Menelan Emas
19 Bab 19 - Cincin Emas dan Kubah Pedang Langit
20 Bab 20 - Jurang Racun dan Robekan Formasi
21 Bab 21 - Buku Hitam dan Kota Qilin Hitam
22 Bab 22 - Hutan Kabut Beracun dan Anjing-Anjing Gerhana
23 Bab 23 - Undangan Lelang dan Teh Beracun
24 Bab 24 - Paviliun Kehormatan dan Harga Sebuah Nyawa
25 Bab 25 - Panggung Pembantaian di Gedung Darah
26 Bab 26 - Cambuk Tulang dan Pengakuan Berdarah
27 Bab 27 - Gerbang Besi dan Darah yang Dipanggil Pulang
28 Bab 28 - Kota Naga Langit dan Topeng Porselin
29 Bab 29 - Darah di Balik Aroma Melati
30 Bab 30 - Dasar Danau dan Benih Kehancudan
31 Bab 31 - Tiga Hari Menuju Gerhana dan Langit yang Berdarah
32 Bab 32 - Pesta Darah di Bawah Kuil Leluhur
33 Bab 33 - Tetesan Cairan Hitam dan Sapuan Jiwa Purba
34 Bab 34 - Tebing Tengkorak dan Upeti Darah
35 Bab 35 - Jubah Merah dan Gerbang Kabut Merah
36 Bab 36 - Turun ke Neraka dan Jantung Purba yang Terbelenggu
37 Bab 37 - Pesta Perjamuan Jantung Purba
38 Bab 38 - Pemberontakan di Lautan Kesadaran dan Takhta Tulang Naga
39 Bab 39 - Ngarai Tulang Sunyi dan Peta Benua Tengah
40 Bab 40 - Lautan Pasir Tanpa Akhir dan Mangsa Empuk
41 Bab 41 - Gerbang Giok dan Token Identitas
42 Bab 42 - Kota Giok dan Bisikan Tiga Ribu Tahun
43 Bab 43 - Peta Tiga Ribu Tahun dan Bayangan di Balik Giok
44 Bab 44 - Lidah Anjing dan Hutan yang Menelan
45 Bab 45 - Darah yang Membangunkan Batu
46 Bab 46 - Ngarai Seribu Cermin
47 Bab 47 - Bayangan di Dalam Kaca
48 Bab 48 - Sosok di Dasar Ngarai
49 Bab 49 - Liontin Naga dan Nama yang Hilang
50 Bab 50 - Dua Goresan Terakhir
51 Bab 51 - Jejak Sang Pengkhianat
52 Bab 52 - Akar yang Berdarah
53 Bab 53 - Nama di Balik Bulan Sabit
54 Bab 54 - Lorong Terakhir
55 Bab 55 - Kebenaran yang Terkubur Bersama Ayah
56 Bab 56 - Dua Liontin, Satu Pintu
57 Bab 57 - Senyum Tanpa Wajah
58 Bab 58 - Tuan Cabang Barat
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Bab 1 - Anak Tanpa Bakat
2
Bab 2 - Abu dan Segel Dewa
3
Bab 3 - Napas Pertama dan Jejak Darah
4
Bab 4 - Hentakan Pertama dan Pengadilan Naga
5
Bab 5 - Kuburan Merah dan Hantu Lembah Naga
6
Bab 6 - Harga Sebuah Celah
7
Bab 7 - Sumpah di Atas Abu
8
Bab 8 - Pemburu Menjadi Mangsa
9
Bab 9 - Jejak Palsu dan Kalajengking Merah
10
Bab 10 - Pilar Kristal dan Energi Iblis
11
Bab 11 - Darah di Ujian Seleksi
12
Bab 12 - Buku Catatan Utang Darah
13
Bab 13: Menelan Jiwa Naga dan Jantung Emas
14
Bab 14 - Markas Pengkhianat dan Ular Perak
15
Bab 15 - Topeng Ular dan Kunci Formasi
16
Bab 16 - Altar Darah dan Nama Sang Pengkhianat
17
Bab 17 - Runtuhnya Paviliun dan Taring Sang Iblis
18
Bab 18 - Taring Iblis Menelan Emas
19
Bab 19 - Cincin Emas dan Kubah Pedang Langit
20
Bab 20 - Jurang Racun dan Robekan Formasi
21
Bab 21 - Buku Hitam dan Kota Qilin Hitam
22
Bab 22 - Hutan Kabut Beracun dan Anjing-Anjing Gerhana
23
Bab 23 - Undangan Lelang dan Teh Beracun
24
Bab 24 - Paviliun Kehormatan dan Harga Sebuah Nyawa
25
Bab 25 - Panggung Pembantaian di Gedung Darah
26
Bab 26 - Cambuk Tulang dan Pengakuan Berdarah
27
Bab 27 - Gerbang Besi dan Darah yang Dipanggil Pulang
28
Bab 28 - Kota Naga Langit dan Topeng Porselin
29
Bab 29 - Darah di Balik Aroma Melati
30
Bab 30 - Dasar Danau dan Benih Kehancudan
31
Bab 31 - Tiga Hari Menuju Gerhana dan Langit yang Berdarah
32
Bab 32 - Pesta Darah di Bawah Kuil Leluhur
33
Bab 33 - Tetesan Cairan Hitam dan Sapuan Jiwa Purba
34
Bab 34 - Tebing Tengkorak dan Upeti Darah
35
Bab 35 - Jubah Merah dan Gerbang Kabut Merah
36
Bab 36 - Turun ke Neraka dan Jantung Purba yang Terbelenggu
37
Bab 37 - Pesta Perjamuan Jantung Purba
38
Bab 38 - Pemberontakan di Lautan Kesadaran dan Takhta Tulang Naga
39
Bab 39 - Ngarai Tulang Sunyi dan Peta Benua Tengah
40
Bab 40 - Lautan Pasir Tanpa Akhir dan Mangsa Empuk
41
Bab 41 - Gerbang Giok dan Token Identitas
42
Bab 42 - Kota Giok dan Bisikan Tiga Ribu Tahun
43
Bab 43 - Peta Tiga Ribu Tahun dan Bayangan di Balik Giok
44
Bab 44 - Lidah Anjing dan Hutan yang Menelan
45
Bab 45 - Darah yang Membangunkan Batu
46
Bab 46 - Ngarai Seribu Cermin
47
Bab 47 - Bayangan di Dalam Kaca
48
Bab 48 - Sosok di Dasar Ngarai
49
Bab 49 - Liontin Naga dan Nama yang Hilang
50
Bab 50 - Dua Goresan Terakhir
51
Bab 51 - Jejak Sang Pengkhianat
52
Bab 52 - Akar yang Berdarah
53
Bab 53 - Nama di Balik Bulan Sabit
54
Bab 54 - Lorong Terakhir
55
Bab 55 - Kebenaran yang Terkubur Bersama Ayah
56
Bab 56 - Dua Liontin, Satu Pintu
57
Bab 57 - Senyum Tanpa Wajah
58
Bab 58 - Tuan Cabang Barat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!