Bab 2

Suara mesin motor tua terdengar menderu memecah kesunyian jalanan berbatu di lereng gunung.

Brummm!

Rizky memarkirkan motor bebek usangnya tepat di depan sebuah gapura kayu yang sudah lapuk dimakan usia.

Tulisan Kawasan Wisata Gunung Sumber Abadi di gapura itu bahkan sudah kehilangan beberapa hurufnya hingga sulit dibaca.

"Jadi ini warisan kebanggaan keluarga yang mereka buang kepadaku?" gumam Rizky sambil melepas helmnya.

Dia menatap nanar ke arah gerbang masuk yang tertutup ilalang liar setinggi dada orang dewasa.

Loket karcis di sebelah kanan gapura terlihat sangat menyedihkan dengan kaca jendela yang pecah berantakan.

Bahkan ada aroma pesing yang menyengat dari arah bangunan kecil yang terbengkalai tersebut.

"Tempat ini lebih mirip rumah hantu daripada tempat wisata liburan," batin Rizky sambil menghela napas panjang.

Tiba-tiba terdengar suara tawa serak dari arah warung kopi kecil di seberang jalan yang berdebu.

"Hei anak muda, sedang mencari tempat uji nyali ya?" tanya seorang bapak tua berkumis tebal yang sedang mengaduk kopi seduhannya.

Bapak itu adalah Pak Joko, pemilik satu-satunya warung yang masih berani bertahan di area mati tersebut.

"Bukan Pak, saya datang ke sini untuk mulai mengurus tempat ini," jawab Rizky sambil berjalan perlahan mendekati warung tersebut.

Pak Joko langsung menghentikan adukannya dan menatap Rizky dari atas sampai bawah dengan heran.

"Mengurus tempat ini?" tanya Pak Joko dengan nada yang terdengar sangat meremehkan.

"Jangan bercanda kamu, tempat ini sudah dikutuk dan mati sejak sepuluh tahun lalu."

"Saya adalah cucu dari pemilik sebelumnya, Pak."

"Kakek saya baru saja meninggal dan secara resmi mewariskan gunung ini kepada saya."

Mendengar jawaban polos itu, Pak Joko justru tertawa semakin keras hingga dadanya terguncang.

Uhuk! Uhuk!

"Oh, jadi kamu cucu si tua bangka yang keras kepala itu?" ucap Pak Joko sambil menggelengkan kepalanya merasa kasihan.

"Keluargamu pasti sangat membencimu sampai tega menumbalkanmu ke tempat sialan ini."

Rizky hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan jujur dan menohok dari warga lokal tersebut.

"Lebih baik kamu pulang saja mencari pekerjaan lain anak muda," saran Pak Joko sambil menyeruput kopi panasnya.

"Minggu lalu ada dua orang pendaki yang hilang di atas sana dan sampai sekarang tim SAR belum bisa menemukan mereka."

"Belum lagi hutang kakekmu kepada preman desa sebelah yang sering datang menagih dengan membawa golok kemari."

Rizky sedikit terkejut mendengar informasi baru tentang preman desa tersebut.

Keluarga dan pengacaranya bilang hutang kakeknya itu hanya kepada pihak bank kota.

"Ternyata paman Budi sengaja menyembunyikan fakta tentang hutang kepada preman berandalan," batin Rizky sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Terima kasih atas peringatannya, Pak."

"Tapi saya tidak akan melangkah pergi dari sini sebelum tempat ini kembali ramai dikunjungi orang."

Pak Joko hanya mencibir sinis dan melambaikan tangannya seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.

"Terserah kamu saja, dasar anak muda keras kepala yang bosan hidup."

"Nanti kalau kamu didatangi hantu penunggu gunung ini di malam hari, jangan menangis meminta tolong ke warungku."

Rizky tidak memperdulikan ejekan tajam Pak Joko dan segera berbalik menuju gerbang utama wisatanya.

Waktu terus berjalan dan misi pertama dari sistem memiliki batas waktu dua puluh empat jam saja.

Dia sama sekali tidak ingin kepalanya menjadi botak permanen hanya karena menunda sebuah pekerjaan bersih-bersih.

Rizky membuka bagasi motor bebeknya dan mengeluarkan sebuah sabit berkarat serta sapu lidi panjang yang dia bawa dari kosan.

Sreng!

Dia mulai menebas ilalang liar yang menutupi jalan masuk utama dengan sekuat tenaga dan penuh amarah.

"Ayo kita mulai mengubah nasib buruk yang ditimpakan paman ini!" teriak Rizky untuk menyemangati dirinya sendiri.

Srek! Srek! Srek!

Suara tebasan sabit yang beradu dengan batang ilalang terdengar tanpa henti selama dua jam berikutnya.

Peluh keringat bercucuran dengan deras membasahi kaus putih tipis yang dikenakan oleh Rizky.

Telapak tangannya mulai memerah dan melepuh karena dia tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar seperti ini.

Beberapa warga desa yang melintas menggunakan sepeda motor tampak memelankan laju kendaraan mereka karena penasaran.

"Lihat itu, ada orang gila baru dari kota yang sedang membersihkan sarang hantu," bisik seorang ibu-ibu kepada suaminya di atas motor.

"Biarkan saja bu, paling besok pagi juga sudah lari terbirit-birit melihat genderuwo menampakkan diri," balas sang suami sambil tertawa pelan.

Rizky mendengar semua cibiran menyakitkan itu dengan sangat jelas di telinganya.

Namun dia memilih untuk menutup telinganya rapat-rapat dan terus fokus melanjutkan tebasannya pada semak belukar.

"Kalian semua boleh tertawa puas sekarang," batin Rizky sambil menyapu tumpukan daun kering ke pinggir selokan.

"Tapi suatu saat nanti, kalian akan mengemis kepadaku untuk bisa bekerja di tempat wisata ini."

Matahari mulai condong jauh ke arah barat ketika Rizky akhirnya berhasil menyelesaikan pekerjaannya.

Gerbang utama yang tadinya tertutup semak belukar lebat kini terlihat jauh lebih bersih, rapi, dan luas.

Area sekitar loket karcis juga sudah dia bersihkan dari pecahan kaca tajam dan kotoran hewan liar.

Rizky menjatuhkan sapu lidinya ke tanah dan duduk bersandar di tiang kayu gapura dengan napas yang terengah-engah.

"Selesai juga akhirnya penderitaan awal ini," gumam Rizky sambil mengusap keringat kotor di dahinya menggunakan punggung tangan.

Tepat pada detik itu, suara mekanis yang sangat dia tunggu-tunggu kembali bergema nyaring di dalam kepalanya.

Ding!

[Pemberitahuan Sistem!]

[Misi Pemula: Membersihkan area gerbang utama telah selesai dievaluasi oleh sistem.]

[Tingkat Kebersihan: 85 Persen (Cukup Baik).]

[Selamat! Host berhasil menghindari hukuman kebotakan permanen.]

Rizky menghela napas sangat lega hingga tubuhnya perlahan merosot duduk ke atas tanah berdebu.

"Syukurlah rambut kebanggaanku ini aman," ucap Rizky sambil tertawa kecil sendirian karena merasa lucu.

Layar biru transparan kembali muncul melayang di hadapannya dengan menampilkan sebuah animasi kotak kado yang berputar-putar.

[Menyerahkan Hadiah Misi kepada Host...]

[Host mendapatkan 100 Poin Wisata.]

[Host mendapatkan 1 Kotak Hadiah Pemula.]

"Sistem, bagaimana cara untuk membuka kotak hadiah yang melayang ini?" tanya Rizky di dalam hatinya dengan penasaran.

[Host hanya perlu memberikan perintah buka secara jelas di dalam pikiran Host.]

"Kalau begitu, buka Kotak Hadiah Pemula itu sekarang juga!" perintah Rizky dengan mata berbinar penuh semangat.

Kotak kado bercahaya di layar itu tiba-tiba terbuka paksa dan memancarkan cahaya keemasan yang sangat menyilaukan mata.

Ding!

[Selamat! Host mendapatkan Item Bangunan Dasar: Toilet Bintang Lima (Level 1).]

Rizky terdiam kaku sejenak sambil terus menatap layar biru tersebut.

Matanya berkedip berulang kali untuk memastikan dia tidak salah membaca deretan tulisan di depannya.

"Toilet?" teriak Rizky dengan nada suara yang terdengar sangat frustasi.

"Aku sedang butuh wahana yang luar biasa memukau untuk menarik pengunjung, dan kau malah memberiku fasilitas toilet?"

[Menjawab keluhan Host: Kebersihan fasilitas umum adalah nyawa utama dari sebuah tempat wisata kelas dunia.]

[Toilet Bintang Lima ini dilengkapi dengan sistem pembersihan kotoran otomatis dan pengharum ruangan abadi yang magis.]

"Tetap saja itu pada akhirnya hanya sebuah tempat untuk buang air!" bantah Rizky sambil mengacak-acak rambutnya kesal.

"Siapa orang bodoh yang mau datang jauh-jauh ke gunung berhantu hanya untuk menumpang buang air di toiletku?"

Ding!

[Selamat! Host berhasil memicu Hadiah Tersembunyi karena menyelesaikan misi pemula di bawah target lima jam.]

[Host mendapatkan sebuah Cetak Biru Atraksi Misterius (Tingkat Rendah).]

Mata Rizky yang tadinya meredup langsung berbinar terang kembali saat mendengar kata atraksi misterius.

"Nah, ini baru jenis hadiah yang masuk akal untuk seorang tokoh utama," ucap Rizky sambil tersenyum lebar menahan haru.

"Cepat buka cetak birunya sekarang, Sistem!"

[Membuka gulungan Cetak Biru...]

[Selamat! Host mendapatkan Atraksi Alam: Air Terjun Pelangi (Tingkat Rendah).]

[Deskripsi: Air terjun magis setinggi dua puluh meter yang memancarkan tujuh warna pelangi abadi ketika malam hari tiba.]

[Efek Khusus: Setiap pengunjung yang meminum atau mandi dengan airnya akan merasakan tubuh bugar dan rileks selama tiga hari berturut-turut tanpa efek samping.]

Mulut Rizky terbuka sangat lebar hingga dagunya hampir menyentuh tanah.

Sebuah air terjun yang bisa memancarkan cahaya pelangi di malam hari tanpa membutuhkan bantuan lampu sorot buatan sedikit pun?

Dan air jernihnya bisa memberikan efek kebugaran tubuh secara instan bak ramuan magis?

"Ini benar-benar gila," gumam Rizky dengan suara bergetar karena emosi kebahagiaan yang meluap-luap.

"Jika aku benar-benar membangun ini, Gunung Sumber Abadi akan meledak menjadi perbincangan viral semua orang di negara ini!"

[Apakah Host ingin menempatkan Toilet Bintang Lima dan Air Terjun Pelangi di area wisata sekarang juga?]

[Proses penempatan instan hanya membutuhkan waktu sepuluh detik dan sepenuhnya gratis untuk percobaan kali pertama ini.]

"Tentu saja aku sangat ingin menempatkannya!" jawab Rizky tanpa ada keraguan sedikit pun di hatinya.

"Tempatkan kedua atraksi itu tepat di rute pertama dari arah gerbang masuk utama agar mudah terlihat."

[Perintah Host diterima.]

[Memulai proses modifikasi topografi area wisata...]

Tiba-tiba, permukaan tanah berpasir di bawah telapak kaki Rizky bergetar cukup hebat layaknya sedang terjadi gempa bumi berskala kecil.

Gemuruh!

Suara deburan air yang sangat deras terdengar menggema dari arah balik tebing berbatu di belakang loket karcis.

Angin pegunungan yang sejuk berhembus kencang membawa aroma kesegaran luar biasa yang belum pernah Rizky rasakan sebelumnya.

Rizky segera bangkit dan berlari kencang melewati gerbang untuk melihat langsung apa yang sedang terjadi di dalam area wisatanya.

Langkah kakinya terhenti secara mendadak saat sepasang matanya menangkap sebuah pemandangan yang sangat tidak masuk akal.

Di kejauhan sana, tepat pada tebing batu yang tadinya kering kerontang dan mati, kini mengalir deras sebuah air terjun raksasa.

Meskipun langit sore mulai berubah gelap, aliran air itu justru memancarkan pendaran cahaya tujuh warna yang sangat indah dan memukau mata.

"Sangat luar biasa," bisik Rizky dengan napas tertahan sambil menatap takjub ke arah keajaiban pertamanya.

"Paman Budi dan Bibi Maya, bersiaplah kalian melihat bagaimana aku akan menghancurkan kesombongan kalian hingga tidak tersisa."

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!