BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA

​Tiga minggu sejak malam terakhir di Taman Mawar, Istana Valerian sibuk mempercantik diri. Perjamuan besar untuk merayakan pengumuman resmi pertunangan Pangeran Adrian dengan Lady Seraphina Ardent tinggal menghitung hari. Bendera-bendera bersulam lambang elang emas dipasang di sepanjang dinding batu koridor utama, sementara wangi lilin lebah dan minyak lavender tercium dari setiap sudut ruangan.

​Namun bagi Alena, suasana megah itu terasa tak ubahnya perayaan atas kematian masa depannya.

​Di dalam kamar kecilnya yang terletak di lorong selatan kediaman pelayan dan juru tulis, udara pagi terasa menghempit dada. Alena berlutut di samping baskom tembikar berisi air dingin. Tubuhnya gemetar hebat, bahunya naik turun seiring rasa mual yang mencengkram perut bagian bawahnya. Ia telah memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya hampir kosong sejak semalam.

​Ketika kejang pada perutnya perlahan mereda, Alena menyandarkan keningnya yang dingin pada tepian tembikar. Peleringan peluh membasahi pelipis dan helai-helai rambut cokelat keemasannya yang terurai berantakan.

​Ia berusaha rasional. Ia mencoba membodohi dirinya sendiri dengan berpikir bahwa ini hanyalah demam biasa akibat hawa dingin musim gugur yang mulai menusuk, atau mungkin efek dari rasa cemas yang berkecamuk di dadanya selama tiga minggu terakhir. Namun, logika yang selama ini menjadi keunggulannya sebagai seorang juru tulis tidak dapat membohongi tanda-tanda biologis tubuhnya.

​Siklus bulanannya tidak kunjung datang. Selera makannya mendadak hilang, digantikan oleh kepekaan aneh terhadap aroma-aroma tajam. Bau lilin lebah yang biasa ia sukai kini membuatnya pusing membendung mual.

​Dengan tangan yang masih gemetar, Alena meletakkan jemarinya di atas permukaan perutnya sendiri. Datar, lembut, dan terasa tak ada yang berbeda dari luar. Namun di balik kulit dan dagingnya, Alena tahu—sebuah naluri primitif yang mendalam memberitahunya—bahwa ada sebuah kehidupan kecil yang baru saja menyalakan apinya di sana.

​Sebuah benih yang ditanam dalam kerahasiaan Taman Mawar.

​"Tidak..." bisik Alena pada keheningan kamar. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan. "Tuhan, jangan sekarang..."

​Kehamilan di luar pernikahan adalah sebuah bencana bagi wanita bangsawan mana pun di Kerajaan Aveloria. Namun mengandung anak dari Sang Putra Mahkota—pria yang baru saja ditunangkan secara resmi dengan putri keluarga paling berpengaruh di negeri ini—bukan lagi sekadar skandal.

​Itu adalah eksekusi mati.

​Hukum kerajaan Aveloria sangat ketat mengenai kesucian garis keturunan kerajaan. Seorang wanita tanpa gelar tinggi yang mengandung darah pewaris takhta tanpa ikatan sah akan dianggap sebagai ancaman keamanan nasional. Ia akan dituduh melakukan konspirasi untuk mencemari takhta atau mengacaukan suksesi. Jika anak itu lahir, ia akan dianggap sebagai anak haram yang berpotensi memicu perang saudara di masa depan.

​Dunia di sekitar Alena mendadak serasa berputar lambat. Rasa takut yang begitu dingin meluncur dari kepala hingga ke ujung jarinya.

​Bukan rasa takut untuk dirinya sendiri.

​Saat jemarinya kembali menekan perutnya pelan, sebuah gelombang kehangatan yang tidak terduga menyelusup ke dalam hatinya yang hancur. Di tengah keputusasaan yang membendung, ada bisikan kecil di dalam jiwanya yang berbisik bahwa kehidupan ini adalah milik Adrian dan dirinya. Anak ini adalah bukti dari cinta yang mereka bagi secara tersembunyi—satu-satunya hal nyata yang tersisa dari masa lalu mereka.

​Alena mencintai kehidupan kecil ini bahkan sebelum ia sempat mendengar detak jantungnya. Dan justru karena rasa cinta itulah, ketakutannya berlipat ganda.

​Ia harus memberitahu Adrian.

​Adrian harus tahu. Apapun yang terjadi nanti—apakah pria itu akan memintanya bersembunyi, membantunya melarikan diri, atau mencari cara gila untuk melindunginya—pria itu berhak tahu bahwa ia akan menjadi seorang ayah.

​Alena membasuh wajahnya dengan air dingin, merapikan gaun cokelat pudar yang biasa ia kenakan untuk bekerja, dan mengikat rambutnya erat-erat. Ia mengambil liontin batu mawar perak pemberian Adrian dari balik bantalnya, menggenggamnya sebentar untuk meminjam keberanian, lalu menyembunyikannya kembali di dalam saku gaunnya yang terdalam.

​Ia melangkah keluar kamar dengan keteguhan hati yang rapuh.

​Perpustakaan Istana siang itu relatif sepi. Sebagian besar bangsawan muda sibuk mempersiapkan diri di aula latihan parade atau mendampingi Lady Seraphina yang sedang meninjau dekorasi taman. Alena berjalan menyusuri rak-rak buku kayu ek yang menjulang tinggi, bermaksud menyelesaikan tugas penyalinan dokumennya sebelum berusaha mencari kesempatan bertemu Adrian di Paviliun Barat.

​Namun, saat ia sampai di meja kerjanya yang terasing di sudut rak naskah sejarah, dua pria berzirah besi dengan jubah perak telah berdiri menunggunya.

​Mereka bukan pengawal biasa. Mereka adalah Penjaga Sumpah—prajurit elite yang hanya menerima perintah langsung dari Dewan Kerajaan dan Raja sendiri.

​"Lady Alena Virelle?" tanya salah satu pengawal, suaranya terdengar kaku seperti benturan besi.

​Alena menghentikan langkah. Jantungnya meloncat naik ke tenggorokan. "Ya... saya. Ada apa, Tuan-tuan?"

​"Anda diminta menghadiri panggilan pribadi di Menara Selatan. Segera."

​Menara Selatan bukan tempat perjamuan, bukan pula ruang dewan umum. Itu adalah bangunan tertua di Istana Valerian, tempat di mana ruang interogasi khusus dan kamar kerja para penasihat senior berada. tempat yang jarang sekali tersentuh cahaya matahari siang.

​"Panggilan dari siapa?" tanya Alena, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Saya masih harus menyelesaikan salinan naskah untuk Master Perpustakaan—"

​"Penasihat Rowan menunggu Anda," potong pengawal kedua dengan nada dingin yang menolak sanggahan. "Mari ikut kami."

​Tidak ada ruang untuk menawar. Pengawal itu tidak menarik pedang mereka, namun posisi berdiri mereka yang mengapit Alena secara tersirat menegaskan bahwa ia adalah seorang tahanan tanpa rantai.

​Alena menarik napas panjang, menekan rasa mual yang kembali bergejolak di dada akibat stres yang mendadak melonjak. Ia mengangguk pelan. "Baiklah. Izinkan saya berjalan sendiri."

​Perjalanan menuju Menara Selatan terasa seperti jalan panjang menuju tiang gantungan. Setiap langkah kaki yang bergema di atas lantai marmer dingin seolah membilang sisa waktu kebebasannya. Alena terus memikirkan bagaimana caranya menghubungi Mira Lorien, sahabat satu-satunya di tempat ini, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.

​Ketika pintu kayu ek tebal Menara Selatan dibuka, aroma minyak cat lama, kertas lapuk, dan kemenyan tajam menyambutnya. Di tengah ruangan beratap kubah yang temaram oleh satu lampu gantung besar, berdiri seorang pria tua berambut putih terikat kencang. Ia mengenakan jubah beludru hijau tua bersulam benang emas.

​Duke Rowan. Penasihat senior Kerajaan Aveloria yang telah mengabdi selama tiga generasi.

​Di sampingnya, berdiri seorang pria lain yang wajahnya tersembunyi di balik bayangan kanopi jendela—pria berbadan tegap dengan lambang keluarga Ardent di dada zirahnya.

​"Tinggalkan kami," perintah Rowan kepada kedua pengawal.

​Pintu berat itu ditutup dengan dentuman keras yang bergema di seluruh ruangan, menyisakan Alena berdiri sendirian di tengah karpet merah pudar.

​"Nona Virelle," Rowan memulai, suaranya tenang, serak oleh usia, namun dipenuhi oleh ketegasan politisi yang tak tersentuh emosi. Ia berjalan mendekati meja kayunya yang tertimbun gulungan kertas. "Aku menghargai ketepatan waktumu. Duduklah."

​"Saya lebih memilih berdiri, Lord Rowan," jawab Alena kaku. tangannya saling bertaut di depan gaunnya, menyembunyikan getaran yang tak bisa ia hentikan. "Boleh saya tahu mengapa saya dipanggil ke sini? Jika ini mengenai naskah terjemahan bahasa Elarian minggu lalu—"

​"Ini bukan mengenai naskah kuno, Alena," sela Rowan. Pria tua itu berbalik, menatap Alena dengan mata cokelatnya yang tajam, penuh perhitungan seperti mata seekor elang yang sedang mengintai mangsa. "Ini mengenai sesuatu yang jauh lebih baru. Dan jauh lebih berbahaya."

​Rowan berjalan perlahan mengelilingi Alena, langkah kakinya teratur di atas lantai batu.

​"Tiga hari yang lalu, seorang tabib istana melaporkan adanya permintaan racikan herbal khusus pembersih rahim dan penahan mual yang diajukan oleh salah satu pelayan di lorong selatan. Pelayan itu, setelah sedikit diinterogasi, mengaku mengambil racikan itu untuk temannya... seorang juru tulis bernama Alena."

​Darah di tubuh Alena serasa membeku seketika.

​Ia tidak pernah meminta racikan pembersih rahim—pasti pelayan yang disuruhnya membeli obat mual biasa telah bertindak lancang atau salah paham. Namun fakta bahwa namanya telah tercatat oleh tabib kerajaan sudah cukup untuk menjatuhkan vonisnya.

​"Aku melihat wajahmu mendadak pucat, Nona Virelle," lanjut Rowan dengan nada yang hampir terdengar prihatin, meski matanya tetap sedingin es. "Artinya kecurigaanku tidak salah. Kau sedang mengandung."

​Alena menutup matanya rapat-rapat. Udara terasa lenyap dari paru-parunya. Ia ingin membantah, ingin berbohong dan mengatakan itu semua tidak benar. Namun raut wajah Rowan yang penuh kemenangan memberitahunya bahwa kebohongan apapun saat ini hanya akan terdengar menyedihkan.

​"Siapa ayahnya?" tanya pria berzirah keluarga Ardent dari sudut jendela, suaranya berat dan berbahaya.

​Alena membuka matanya, menatap pria itu, lalu kembali menatap Rowan. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

​"Kau tidak perlu menjawabnya," ujar Rowan santai, seolah ia sudah mengetahui jawabannya sebelum pertanyaan itu dilemparkan. "Hanya ada satu pria yang menghabiskan waktu dua jam di ruang arsip tertutup setiap Selasa malam bersama seorang juru tulis. Hanya ada satu pria yang kebetulan sering terlihat berada di dekat Taman Mawar saat larut malam."

​Rowan menghela napas panjang, berjalan mendekati meja dan mengambil sebuah gulungan perkamen berstempel lilin merah—stempel resmi Raja Cedric.

​"Pangeran Adrian Valerian adalah masa depan kerajaan ini, Alena," kata Rowan dengan nada bicara yang berubah menjadi sangat serius, hampir seperti nasihat seorang kakek, namun diisikan racun ancaman di setiap kata. "Pernikahannya dengan Lady Seraphina akan mengamankan perbatasan utara dari ancaman invasi Kerajaan Oakhaven. Pernikahan itu adalah pilar stabilitas Aveloria untuk lima puluh tahun ke depan."

​Rowan melangkah mendekati Alena, berhenti hanya sejarak satu lengan darinya.

​"Dan kau... beserta janin tidak sah yang ada di dalam perutmu itu... adalah retakan yang sanggup meruntuhkan seluruh pilar tersebut."

​"Adrian..." suara Alena akhirnya keluar, parau dan tipis. "Pangeran Adrian berhak mengetahui hal ini. Biarkan saya berbicara dengannya—"

​"Bicara dengannya?" Rowan tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk Alena berdiri. "Apakah kau pikir apa yang akan terjadi jika Adrian tahu? Pangeran muda yang impulsif dan penuh idealisme konyol itu mungkin akan mencoba membatalkan pertunangannya. Ia akan menantang keputusan ayahnya dan Dewan Kerajaan."

​Rowan menunduk, menatap langsung ke dalam mata Alena yang mulai berkaca-kaca.

​"Dan tahukah kau apa yang dilakukan Raja Cedric terhadap orang-orang yang mengancam stabilitas takhta putranya? Raja tidak akan mengampunimu, Alena. Kau akan dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi di alun-alun istana sebelum matahari terbit besok."

​Alena mencengkeram kain gaunnya erat-erat. "Saya... saya bisa pergi. Saya bisa bersumpah tidak akan pernah menuntut apapun—"

​"Dan bagaimana dengan anak itu?" potong pria dari keluarga Ardent, melangkah keluar dari bayangan. Wajahnya keras, penuh kebencian. "Apakah kau pikir dewan akan membiarkan seorang anak berdarah Valerian tumbuh di luar sana, menjadi ancaman klaim takhta di masa depan? Begitu anak itu lahir, jika kau masih hidup, anak itu akan diambil. Ia akan dibesarkan sebagai tahanan politik atau disingkirkan secara diam-diam agar tidak ada duri di dalam daging kepemimpinan Adrian kelak."

​Setiap kata yang diucapkan pria itu menghantam Alena seperti pukulan fisik.

​Anak itu akan diambil.

Atau disingkirkan secara diam-diam.

​Gambar bayangan anak kecil yang tak berdosa dipisahkan darinya, diderita di dalam penjara atau dibunuh demi politik kerajaan, menghancurkan sisa-sisa keberanian Alena. Hatinya menjerit oleh rasa sakit yang tak terbayangkan.

​"Kau punya satu kesempatan, Nona Virelle," bisik Rowan, suaranya kembali melunak, namun intensitas ancamannya melipat ganda. "Malam ini, perjamuan pertunangan akan berlangsung di Aula Utama. Pangeran Adrian akan mengumumkan pertunangannya di hadapan seluruh bangsawan negeri."

​Rowan menyelipkan selembar surat kosong dan sebuah pena bulu ke tangan Alena yang dingin membebas.

​"Tulis surat untuknya. Beritahu dia bahwa kau tidak pernah mencintainya. Beritahu dia bahwa hubungan kalian hanyalah kebodohan dan kau telah memutuskan untuk pergi meninggalkan Aveloria bersama pria lain dari wilayah asalmu. Buat dia membencimu hingga ia tidak akan pernah sudi mencarimu lagi."

​"Tidak..." Alena menggelengkan kepalanya lemah. "Saya tidak bisa..."

​"Jika kau melakukannya," lanjut Rowan tanpa memedulikan penolakan Alena, "aku sendiri yang akan memastikan kau bisa keluar dari gerbang istana malam ini secara diam-diam. Aku akan memberimu sedikit emas untuk bertahan hidup di luar batas kerajaan. Kau bisa melahirkan anakmu di tempat yang jauh, membesarkannya sebagai rakyat biasa yang bebas. Anakmu akan selamat. Kau akan selamat."

​Rowan menunduk lebih dekat, membisikkan ancaman terakhirnya tepat di telinga Alena.

​"Tetapi jika kau menolak... jika kau mencoba menemui Adrian malam ini atau membocorkan rahasia ini kepada siapa pun... aku bersumpah demi makam raja-raja Valerian, kau akan dijebloskan ke penjara bawah tanah sebelum pesta dimulai. Dan anakmu tidak akan pernah melihat indahnya cahaya matahari."

​Ruangan itu mendadak terasa begitu hening. Suara detak jam dinding kuningan di sudut ruangan terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis.

​Alena berdiri membeku. Di dalam dadanya, pertempuran hebat terjadi antara cintanya pada Adrian dan naluri keibuannya untuk melindungi nyawa anak yang baru saja hadir di rahimnya.

​Jika ia memberi tahu Adrian, pria itu mungkin akan melindunginya, tetapi mereka akan berhadapan dengan seluruh kekuatan Kerajaan Aveloria, Raja, Dewan, dan pasukan Ardent. Anak mereka akan menjadi sasaran pembunuhan politis. Adrian sendiri mungkin akan kehilangan hak takhtanya atau hancur dalam perang saudara.

​Namun jika ia pergi... jika ia berbohong dan membuat Adrian membencinya...

​Anaknya akan hidup. Anak mereka akan aman dalam pelukannya, jauh dari racun intrik istana.

​Hanya saja, harga yang harus dibayar adalah kehancuran hatinya sendiri dan rasa sakit Adrian yang harus menanggung luka pengkhianatan palsu ini selamanya.

​Dengan tangan yang gemetar hebat hingga tetesan tinta hitam menodai kertas putih di depannya, Alena perlahan mengangkat pena bulu itu. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas kertas, membasahi serat-serat kayu halus sebelum tinta mulai digoreskan.

​Ia telah mengambil keputusannya. Keputusan seorang ibu yang rela menjadi penjahat di mata pria yang paling dicintainya, demi menyelamatkan buah cinta mereka.

Episodes
1 BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR
2 BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA
3 BAB 3 — HUKUMAN UNTUK SEORANG WANITA
4 BAB 4 — PELARIAN
5 BAB 5 — TUJUH TAHUN DALAM KEHENINGAN
6 BAB 6 — PERINTAH UNTUK KEMBALI
7 BAB 7 — PERTEMUAN SETELAH TUJUH TAHUN
8 BAB 8 — ANAK YANG DATANG BERSAMANYA
9 BAB 9 — MATA YANG SAMA
10 BAB 10 — "SIAPA AYAHKU?"
11 BAB 11 — TATAPAN YANG BERUBAH
12 BAB 12 — SELIR BARU DI PAVILIUN
13 BAB 13 — JANGAN DEKATI PUTRAKU
14 BAB 14 — PANGERAN YANG DISUKAI ELIAN
15 BAB 15 — KENANGAN YANG TIDAK MATI
16 BAB 16 — JAMUAN KERAJAAN
17 BAB 17 — ANAK SIAPA DIA?
18 BAB 18 — SEORANG IBU TIDAK BOLEH LEMAH
19 BAB 19 — LIONTIN LAMA
20 BAB 20 — DARAH YANG TIDAK BISA BERBOHONG
21 BAB 21 — PENYELIDIKAN DIAM-DIAM
22 BAB 22 — ELIAN DAN KUDA PUTIH
23 BAB 23 — SENYUM YANG SAMA
24 BAB 24 — SERAPHINA MULAI CURIGA
25 BAB 25 — SURAT DARI MASA LALU
26 BAB 26 — ADRIAN MEMPERTANYAKAN MIRA
27 BAB 27 — MALAM YANG PENUH KETEGANGAN
28 BAB 28 — PANGGILAN "AYAH"
29 BAB 29 — HASIL PENYELIDIKAN
30 BAB 30 — RAHASIA DI BALIK PINTU
31 BAB 31 — ORANG YANG MASIH BERADA DI ISTANA
32 BAB 32 — JANGAN PERCAYA SIAPA PUN
33 BAB 33 — ADRIAN MEMBAWA ELIAN KELUAR
34 BAB 34 — SEPERTI MELIHAT DIRINYA SENDIRI
35 BAB 35 — CEMBURU YANG TIDAK DIINGINKAN
36 BAB 36 — JAMUAN UNTUK PARA BANGSAWAN
37 BAB 37 — PERTANYAAN DARI SANG RAJA
38 BAB 38 — ADRIAN MELAWAN AYAHNYA
39 BAB 39 — SURAT KEDUA
40 BAB 40 — AKU TIDAK AKAN MENYAKITIMU
41 BAB 41 — PENYUSUP DI KAMAR ELIAN
42 BAB 42 — PENGAWAL PRIBADI
43 BAB 43 — JEJAK DI TAMAN BELAKANG
44 BAB 44 — MIMPI BURUK
45 BAB 45 — RAHASIA DI BALIK LIONTIN
46 BAB 46 — PERINTH SANG RATU
47 BAB 47 — SERAPHINA MEMASANG PERANGKAP
48 BAB 48 — ELIAN HILANG
49 BAB 49 — PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
50 BAB 50 — SUMPAH SEORANG PANGERAN
51 BAB 51 — ORANG YANG MENGETAHUI RAHASIA
52 BAB 52 — HADIAH UNTUK ELIAN
53 BAB 53 — SEBUAH KEBIASAAN KECIL
54 BAB 54 — PERTENGKARAN KECIL
55 BAB 55 — SERAPHINA MENDENGAR
56 BAB 56 — SURAT TUJUH TAHUN LALU
57 BAB 57 — KEBENARAN YANG TERLAMBAT
58 BAB 58 — ADRIAN MENEMUKAN SURAT ITU
59 BAB 59 — KENAPA KAU TIDAK MENCARIKU?
60 BAB 60 — AKU SUDAH TAHU
61 BAB 61 — TUJUH TAHUN YANG TERBUANG
62 BAB 62 — BOLEHKAH AKU MEMANGGILMU ADRIAN?
63 BAB 63 — KEINGINAN SEORANG AYAH
64 BAB 64 — PERTEMUAN DENGAN RAJA
65 BAB 65 — SERAPHINA MENGHADAPI ALENA
66 BAB 66 — ANCAMAN DARI DEWAN
67 BAB 67 — ADRIAN BERDIRI DI DEPAN ALENA
68 BAB 68 — RAHASIA DI KAPEL KERAJAAN
69 BAB 69 — ALENA INGIN PERGI
70 BAB 70 — DARAH PEWARIS TAKHTA
71 BAB 71 — PERINTAH YANG TIDAK BOLEH DITOLAK
72 BAB 72 — ANAK YANG HARUS DIPISAHKAN
73 BAB 73 — MALAM PERTAMA TANPA IBU
74 BAB 74 — ALENA MELAWAN ISTANA
75 BAB 75 — PENGAKUAN DI DEPAN PANGERAN
76 BAB 76 — AKU TIDAK PERNAH BERHENTI MENCINTAIMU
77 BAB 77 — SERAPHINA MEMBUAT PILIHAN
78 BAB 78 — JEBAKAN DI LORONG UTARA
79 BAB 79 — PENGKHIANAT DI ANTARA PENGAWAL
80 BAB 80 — DARAH YANG DIAKUI DALAM HATI
81 BAB 81 — PERTUNANGAN YANG TIDAK DIINGINKAN
82 BAB 82 — LADY YANG AKAN MENJADI RATU
83 BAB 83 — AKU TIDAK AKAN MENJADI RAHASIA SELAMANYA
84 BAB 84 — PERTEMUAN EMPAT MATA
85 BAB 85 — RAHASIA SERAPHINA
86 BAB 86 — ELIAN SAKIT
87 BAB 87 — PERTANYAAN ADRIAN
88 BAB 88 — MALAM DI TAMAN MAWAR
89 BAB 89 — PENGUMUMAN RESMI
90 BAB 90 — DI DEPAN SELURUH KERAJAAN
91 BAB 91 — BERITA DARI PERBATASAN
92 BAB 92 — JANGAN PERGI
93 BAB 93 — SATU MALAM SEBELUM KEBERANGKATAN
94 BAB 94 — KEPERGIAN SANG PUTRA MAHKOTA
95 BAB 95 — ISTANA TANPA ADRIAN
96 BAB 96 — ELIAN MENEMUKAN SESUATU
97 BAB 97 — JAWABAN YANG TIDAK SELESAI
98 BAB 98 — SERAPHINA MEMILIH PIHAK
99 BAB 99 — SERANGAN DI PERBATASAN
100 BAB 100 — DARAH YANG TAK BISA DISEMBUNYIKAN
101 BAB 101 — KABAR YANG MENGHANCURKAN
102 BAB 102 — AKU AKAN MENCARINYA
103 BAB 103 — ELEANOR MEMBUKA RAHASIA
104 BAB 104 — JEJAK DARAH DI HUTAN
105 BAB 105 — ELIAN MENDENGAR KEBENARAN
106 BAB 106 — SURAT UNTUK AYAH
107 BAB 107 — PANGERAN YANG TERLUKA
108 BAB 108 — PENGKHIANAT DI MEDAN PERANG
109 BAB 109 — NAMA YANG MUNCUL DARI MASA LALU
110 BAB 110 — AKU AKAN PULANG
111 BAB 111 — PELUKAN PERTAMA
112 BAB 112 — TUJUH TAHUN TANPA AYAH
113 BAB 113 — JANGAN PANGGIL AKU PANGERAN
114 BAB 114 — KEMARAHAN SANG PEWARIS
115 BAB 115 — SERAPHINA MEMINTA MAAF
116 BAB 116 — KEPUTUSAN SANG RAJA
117 BAB 117 — SEORANG PANGERAN KECIL
118 BAB 118 — JANJI DI BAWAH POHON TUA
119 BAB 119 — SERANGAN KEDUA
120 BAB 120 — DI HADAPAN TAKHTA
121 BAB 121 — NAMA YANG TERDENGAR DI LUAR ISTANA
122 BAB 122 — ANAK YANG TIBA-TIBA MENJADI PENTING
123 BAB 123 — DEWAN YANG TERBELAH
124 BAB 124 — ALENA KEMBALI TERINGAT MALAM ITU
125 BAB 125 — SURAT DARI KERAJAAN UTARA
126 BAB 126 — PENGAKUAN DI HADAPAN KELUARGA
127 BAB 127 — SEORANG KAKEK
128 BAB 128 — DARIUS TERDESAK
129 BAB 129 — KEBENARAN TENTANG MALAM PELARIAN
130 BAB 130 — AKU TIDAK AKAN PERGI LAGI
131 BAB 131 — UTUSAN DARI VALDORIA
132 BAB 132 — ELIAN TIDAK BOLEH MENJADI ALAT
133 BAB 133 — RAHASIA KELUARGA VALERIAN
134 BAB 134 — SERAPHINA MEMILIH KEBENARAN
135 BAB 135 — ELIAN DAN PANGERAN VALDORIA
136 BAB 136 — TANDA YANG SAMA
137 BAB 137 — CATATAN DARI SEORANG RATU
138 BAB 138 — ALENA TAKUT KEHILANGAN ELIAN
139 BAB 139 — PENGKHIANAT TERUNGKAP
140 BAB 140 — PERJUMPAAN DI BALIK PINTU
Episodes

Updated 140 Episodes

1
BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR
2
BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA
3
BAB 3 — HUKUMAN UNTUK SEORANG WANITA
4
BAB 4 — PELARIAN
5
BAB 5 — TUJUH TAHUN DALAM KEHENINGAN
6
BAB 6 — PERINTAH UNTUK KEMBALI
7
BAB 7 — PERTEMUAN SETELAH TUJUH TAHUN
8
BAB 8 — ANAK YANG DATANG BERSAMANYA
9
BAB 9 — MATA YANG SAMA
10
BAB 10 — "SIAPA AYAHKU?"
11
BAB 11 — TATAPAN YANG BERUBAH
12
BAB 12 — SELIR BARU DI PAVILIUN
13
BAB 13 — JANGAN DEKATI PUTRAKU
14
BAB 14 — PANGERAN YANG DISUKAI ELIAN
15
BAB 15 — KENANGAN YANG TIDAK MATI
16
BAB 16 — JAMUAN KERAJAAN
17
BAB 17 — ANAK SIAPA DIA?
18
BAB 18 — SEORANG IBU TIDAK BOLEH LEMAH
19
BAB 19 — LIONTIN LAMA
20
BAB 20 — DARAH YANG TIDAK BISA BERBOHONG
21
BAB 21 — PENYELIDIKAN DIAM-DIAM
22
BAB 22 — ELIAN DAN KUDA PUTIH
23
BAB 23 — SENYUM YANG SAMA
24
BAB 24 — SERAPHINA MULAI CURIGA
25
BAB 25 — SURAT DARI MASA LALU
26
BAB 26 — ADRIAN MEMPERTANYAKAN MIRA
27
BAB 27 — MALAM YANG PENUH KETEGANGAN
28
BAB 28 — PANGGILAN "AYAH"
29
BAB 29 — HASIL PENYELIDIKAN
30
BAB 30 — RAHASIA DI BALIK PINTU
31
BAB 31 — ORANG YANG MASIH BERADA DI ISTANA
32
BAB 32 — JANGAN PERCAYA SIAPA PUN
33
BAB 33 — ADRIAN MEMBAWA ELIAN KELUAR
34
BAB 34 — SEPERTI MELIHAT DIRINYA SENDIRI
35
BAB 35 — CEMBURU YANG TIDAK DIINGINKAN
36
BAB 36 — JAMUAN UNTUK PARA BANGSAWAN
37
BAB 37 — PERTANYAAN DARI SANG RAJA
38
BAB 38 — ADRIAN MELAWAN AYAHNYA
39
BAB 39 — SURAT KEDUA
40
BAB 40 — AKU TIDAK AKAN MENYAKITIMU
41
BAB 41 — PENYUSUP DI KAMAR ELIAN
42
BAB 42 — PENGAWAL PRIBADI
43
BAB 43 — JEJAK DI TAMAN BELAKANG
44
BAB 44 — MIMPI BURUK
45
BAB 45 — RAHASIA DI BALIK LIONTIN
46
BAB 46 — PERINTH SANG RATU
47
BAB 47 — SERAPHINA MEMASANG PERANGKAP
48
BAB 48 — ELIAN HILANG
49
BAB 49 — PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
50
BAB 50 — SUMPAH SEORANG PANGERAN
51
BAB 51 — ORANG YANG MENGETAHUI RAHASIA
52
BAB 52 — HADIAH UNTUK ELIAN
53
BAB 53 — SEBUAH KEBIASAAN KECIL
54
BAB 54 — PERTENGKARAN KECIL
55
BAB 55 — SERAPHINA MENDENGAR
56
BAB 56 — SURAT TUJUH TAHUN LALU
57
BAB 57 — KEBENARAN YANG TERLAMBAT
58
BAB 58 — ADRIAN MENEMUKAN SURAT ITU
59
BAB 59 — KENAPA KAU TIDAK MENCARIKU?
60
BAB 60 — AKU SUDAH TAHU
61
BAB 61 — TUJUH TAHUN YANG TERBUANG
62
BAB 62 — BOLEHKAH AKU MEMANGGILMU ADRIAN?
63
BAB 63 — KEINGINAN SEORANG AYAH
64
BAB 64 — PERTEMUAN DENGAN RAJA
65
BAB 65 — SERAPHINA MENGHADAPI ALENA
66
BAB 66 — ANCAMAN DARI DEWAN
67
BAB 67 — ADRIAN BERDIRI DI DEPAN ALENA
68
BAB 68 — RAHASIA DI KAPEL KERAJAAN
69
BAB 69 — ALENA INGIN PERGI
70
BAB 70 — DARAH PEWARIS TAKHTA
71
BAB 71 — PERINTAH YANG TIDAK BOLEH DITOLAK
72
BAB 72 — ANAK YANG HARUS DIPISAHKAN
73
BAB 73 — MALAM PERTAMA TANPA IBU
74
BAB 74 — ALENA MELAWAN ISTANA
75
BAB 75 — PENGAKUAN DI DEPAN PANGERAN
76
BAB 76 — AKU TIDAK PERNAH BERHENTI MENCINTAIMU
77
BAB 77 — SERAPHINA MEMBUAT PILIHAN
78
BAB 78 — JEBAKAN DI LORONG UTARA
79
BAB 79 — PENGKHIANAT DI ANTARA PENGAWAL
80
BAB 80 — DARAH YANG DIAKUI DALAM HATI
81
BAB 81 — PERTUNANGAN YANG TIDAK DIINGINKAN
82
BAB 82 — LADY YANG AKAN MENJADI RATU
83
BAB 83 — AKU TIDAK AKAN MENJADI RAHASIA SELAMANYA
84
BAB 84 — PERTEMUAN EMPAT MATA
85
BAB 85 — RAHASIA SERAPHINA
86
BAB 86 — ELIAN SAKIT
87
BAB 87 — PERTANYAAN ADRIAN
88
BAB 88 — MALAM DI TAMAN MAWAR
89
BAB 89 — PENGUMUMAN RESMI
90
BAB 90 — DI DEPAN SELURUH KERAJAAN
91
BAB 91 — BERITA DARI PERBATASAN
92
BAB 92 — JANGAN PERGI
93
BAB 93 — SATU MALAM SEBELUM KEBERANGKATAN
94
BAB 94 — KEPERGIAN SANG PUTRA MAHKOTA
95
BAB 95 — ISTANA TANPA ADRIAN
96
BAB 96 — ELIAN MENEMUKAN SESUATU
97
BAB 97 — JAWABAN YANG TIDAK SELESAI
98
BAB 98 — SERAPHINA MEMILIH PIHAK
99
BAB 99 — SERANGAN DI PERBATASAN
100
BAB 100 — DARAH YANG TAK BISA DISEMBUNYIKAN
101
BAB 101 — KABAR YANG MENGHANCURKAN
102
BAB 102 — AKU AKAN MENCARINYA
103
BAB 103 — ELEANOR MEMBUKA RAHASIA
104
BAB 104 — JEJAK DARAH DI HUTAN
105
BAB 105 — ELIAN MENDENGAR KEBENARAN
106
BAB 106 — SURAT UNTUK AYAH
107
BAB 107 — PANGERAN YANG TERLUKA
108
BAB 108 — PENGKHIANAT DI MEDAN PERANG
109
BAB 109 — NAMA YANG MUNCUL DARI MASA LALU
110
BAB 110 — AKU AKAN PULANG
111
BAB 111 — PELUKAN PERTAMA
112
BAB 112 — TUJUH TAHUN TANPA AYAH
113
BAB 113 — JANGAN PANGGIL AKU PANGERAN
114
BAB 114 — KEMARAHAN SANG PEWARIS
115
BAB 115 — SERAPHINA MEMINTA MAAF
116
BAB 116 — KEPUTUSAN SANG RAJA
117
BAB 117 — SEORANG PANGERAN KECIL
118
BAB 118 — JANJI DI BAWAH POHON TUA
119
BAB 119 — SERANGAN KEDUA
120
BAB 120 — DI HADAPAN TAKHTA
121
BAB 121 — NAMA YANG TERDENGAR DI LUAR ISTANA
122
BAB 122 — ANAK YANG TIBA-TIBA MENJADI PENTING
123
BAB 123 — DEWAN YANG TERBELAH
124
BAB 124 — ALENA KEMBALI TERINGAT MALAM ITU
125
BAB 125 — SURAT DARI KERAJAAN UTARA
126
BAB 126 — PENGAKUAN DI HADAPAN KELUARGA
127
BAB 127 — SEORANG KAKEK
128
BAB 128 — DARIUS TERDESAK
129
BAB 129 — KEBENARAN TENTANG MALAM PELARIAN
130
BAB 130 — AKU TIDAK AKAN PERGI LAGI
131
BAB 131 — UTUSAN DARI VALDORIA
132
BAB 132 — ELIAN TIDAK BOLEH MENJADI ALAT
133
BAB 133 — RAHASIA KELUARGA VALERIAN
134
BAB 134 — SERAPHINA MEMILIH KEBENARAN
135
BAB 135 — ELIAN DAN PANGERAN VALDORIA
136
BAB 136 — TANDA YANG SAMA
137
BAB 137 — CATATAN DARI SEORANG RATU
138
BAB 138 — ALENA TAKUT KEHILANGAN ELIAN
139
BAB 139 — PENGKHIANAT TERUNGKAP
140
BAB 140 — PERJUMPAAN DI BALIK PINTU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!