BAB 5 — TUJUH TAHUN DALAM KEHENINGAN

​Tujuh tahun kemudian.

​Desa Bellmare terletak di kaki lembah selatan yang sejuk, dikelilingi oleh perbukitan pinus dan ladang gandum yang menguning setiap kali musim gugur mengetuk pintu. Tempat ini begitu jauh dari gemerlap Istana Valerian di Aveloria—cukup jauh hingga berita tentang perebutan takhta, pernikahan politik para bangsawan, dan intrik dewan kerajaan hanya terdengar sebagai bisik-bisik burung migran yang berlalu begitu saja.

​Di tepi desa, berdiri sebuah rumah panggung kecil berdinding kayu cemara dengan atap jerami tebal. Pekarangannya dipenuhi tanaman herbal: daun mint, lavender, dan akar manis yang ditanam rapi dalam petak-petak tanah hitam.

​Di bawah naungan teras rumah yang dinaungi pohon apel, Alena Virelle—kini berusia dua puluh empat tahun—sedang memilah dedaunan herbal yang baru dipetiknya.

​Tujuh tahun hidup di Bellmare telah mengubah sosok gadis muda juru tulis istana yang serba ragu menjadi seorang wanita yang mandiri, matang, dan berhati-hati. Garis-garis kelembutan di wajahnya masih ada, namun matanya yang berwarna hijau hazel kini memancarkan ketenangan yang didapat dari tempaan kesulitan hidup. Kulitnya sedikit lebih hangat diterpa matahari desa, dan gaun yang dikenakannya hanyalah katun sederhana berwarna hijau zaitun tanpa sulaman benang emas.

​"Ibu! Lihat apa yang kutemukan di tepi sungai!"

​Suara cempreng bersemangat itu memecah keheningan sore.

​Alena mendongak. Senyuman hangat yang hanya diperuntukkan bagi satu orang di dunia ini terbit secara alami di bibirnya.

​Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berlari melintasi jalan setapak berkerikil. Bajunya yang terbuat dari linen kasar penuh noda lumpur kering di bagian lutut, dan rambut cokelat keemasannya yang sedikit bergelombang tampak berantakan diterpa angin sore. Di kedua tangannya yang mungil, anak itu memegang sebuah batu sungai berbentuk bulat sempurna dengan urat-urat kristal putih yang berkilau.

​Elian.

​"Jangan berlari terlalu cepat, Elian," tegur Alena lembut sembari menyapu keringat yang menempel di dahi putranya saat anak itu melompat naik ke teras kayu. "Kau bisa tersandung batu lagi seperti kemarin."

​"Tapi batu ini berbeda, Ibu!" Elian menyodorkan batu itu dengan mata berbinar-binar. Matanya—sebuah perpaduan aneh antara hijau hazel milik Alena dan warna abu-abu yang pekat serta dalam—menatap ibunya penuh kebanggaan. "Paman Marc bilang batu kristal seperti ini bisa memancarkan cahaya jika ditaruh di bawah sinar bulan purnama. Bisakah kita mencobanya malam ini?"

​Alena menerima batu itu, berpura-pura mengamati guratan kristalnya dengan takjub. "Wah, indah sekali. Tentu saja kita akan mencobanya malam ini. Tapi sebelum itu, siapa yang berjanji akan mencuci tangannya sebelum makan sore?"

​Elian meringis kecil, memperlihatkan deretan gigi susunya yang putih dan rapi. Kebiasaan kecilnya setiap kali menyadari kesalahannya—mengernyitkan hidung sedikit sembari memiringkan kepalanya ke kanan—selalu berhasil membuat jantung Alena berdesir halus.

​Itu adalah ekspresi yang sama persis dengan yang sering dilakukan Adrian saat pangeran itu sedang memikirkan masalah taktik militer yang rumit di perpustakaan istana tujuh tahun lalu.

​Setiap kali melihat Elian tumbuh, Alena seperti melihat hantu dari masa lalunya yang terus bernapas. Struktur rahang anak itu yang tegas meski masih berlemak bayi, caranya berdiri tegak dengan bahu yang ditarik ke belakang, serta rasa ingin tahunya yang amat besar terhadap segala hal... semuanya adalah cetakan sempurna dari darah keluarga Valerian.

​"Aku cuci tangan sekarang!" seru Elian, lalu berlari menuju gentong air di samping rumah.

​Alena menatap punggung putranya dengan tatapan yang mendadak berubah redup.

​Selama tujuh tahun, ia membesarkan Elian di Bellmare dengan bantuan Mira. Mereka menyambung hidup dengan menjual obat-obatan herbal ramuan Alena dan kain tenun buatan Mira. Kehidupan mereka sederhana, jauh dari kemewahan, tetapi dipenuhi oleh kedamaian yang tak pernah Alena dapatkan selama tinggal di lingkungan kerajaan.

​Namun, kedamaian itu tidak sepenuhnya tanpa cela.

​Seiring bertambahnya usia Elian, pertanyaan-pertanyaan sulit mulai bermunculan dari bibir mungil anak itu. Elian melihat anak-anak lain di desa memiliki ayah yang mengajari mereka menunggang kuda atau membawa mereka berburu ke hutan.

​“Ibu, di mana Ayah?”

“Mengapa Ayah tidak tinggal bersama kita?”

“Apakah Ayah tidak menyukaiku?”

​Setiap kali pertanyaan itu datang, Alena terpaksa mengulangi kebohongan yang telah ia susun dengan rapi: bahwa ayahnya adalah seorang pedagang yang telah meninggal dunia dalam perjalanan jauh sebelum Elian lahir. Kebohongan yang terasa seperti belati yang menghujam dadanya sendiri setiap kali diucapkan.

​"Dia bertanya lagi tentang ayahnya tadi siang saat kita di pasar," suara Mira terdengar dari arah pintu.

​Mira keluar membawa nampan berisi teh herbal hangat dan roti gandum. Penampilannya tak banyak berubah, hanya tatapannya yang kini lebih dewasa dan penuh perlindungan terhadap keluarga kecil yang mereka bangun bersama.

​Alena menghela napas panjang, meletakkan batu sungai milik Elian di atas meja kayu. "Apa yang dia tanyakan?"

​"Dia bertanya apakah ayahnya tinggi, dan apakah ayahnya pandai menunggang kuda," kata Mira seraya mendudukkan diri di bangku kayu di samping Alena. "Anak itu terlalu cerdas, Alena. Dia mulai sadar bahwa penjelasanmu terlalu singkat. Anak-anak desa mulai mengejeknya karena tidak pernah melihat makam ayahnya."

​"Aku tidak punya pilihan, Mira," bisik Alena, suaranya sarat dengan kelelahan yang bertahun-tahun ia simpan sendiri. "Aku lebih baik dibenci olehnya karena berbohong daripada memberi tahu kebenaran yang bisa merenggut nyawanya. Jika ada satu saja orang dari Aveloria yang tahu Elian ada di sini..."

​Alena tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ketakutan itu—ketakutan bahwa bayang-bayang Istana Valerian akan menemukan mereka—tidak pernah benar-benar lenyap. Ketakutan itu tersembunyi di balik setiap ketukan pintu dari orang asing, di balik setiap derap langkah kuda yang melintas di jalanan desa.

​"Aku tahu," ujar Mira lembut, meremas jemari sahabatnya. "Kau telah melakukan hal yang benar. Kita aman di sini. Kerajaan Aveloria sudah melupakan kita sejak lama."

​Namun, seolah takdir sedang mendengarkan kata-kata Mira dan memutuskan untuk menertawakannya, keheningan sore di Desa Bellmare mendadak terpecah.

​Suara gemuruh yang asing dan berat terdengar dari arah jalan utama desa. Itu bukan suara gerobak sayur milik warga lokal atau langkah kaki kuda beban. Itu adalah derap langkah belasan kuda perang yang terlatih, bergerak dalam formasi rapat, diiringi suara gemerincing rantai besi dan benturan Zirah baja.

​Warga desa di sepanjang jalan mulai berbisik-bisik, menghentikan aktivitas mereka dan menepi dengan raut wajah cemas sekaligus penasaran.

​Alena berdiri dari bangkunya secara refleks. Tubuhnya membeku. Naluri yang telah terlelap selama tujuh tahun mendadak menyengat seluruh sarafnya.

​Dari balik pepohonan pinus di perbatasan desa, muncul sepasukan prajurit penunggang kuda. Mereka mengenakan jubah beludru biru tua bersulam benang perak—seragam kebesaran Pengawal Kerajaan Aveloria. Di tengah-tengah kelompok itu, sebuah kereta kuda megah dari kayu mahoni hitam dengan ukiran lambang elang emas bergerak dengan anggun namun mengintimidasi.

​"Alena..." suara Mira mendadak gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi. "Itu... itu bendera kerajaan."

​Darah di tubuh Alena serasa terkuras habis. Tangan dan kakinya menjadi sangat dingin. Perutnya melilit oleh gelombang kecemasan yang luar biasa dahsyat.

​Kenapa pengawal kerajaan Aveloria ada di Bellmare? Desa kecil ini tidak memiliki nilai strategis atau pajak yang cukup besar untuk didatangi oleh kereta kebesaran istana.

​"Elian!" Alena berteriak tertahan, berlari menghampiri putranya yang sedang berdiri bingung di samping gentong air, menatap pasukan penunggang kuda yang mendekat dengan mata penuh rasa ingin tahu.

​Alena mencengkeram bahu Elian, menarik anak itu ke balik tubuhnya, menyembunyikannya rapat-rapat di balik lipatan gaun hijaunya.

​"Ibu? Ada apa?" tanya Elian polos, merasakan ketakutan luar biasa yang memancar dari pegangan tangan ibunya. "Siapa mereka? Baju mereka berkilau sekali..."

​"Tutup mulutmu, Elian. Jangan keluar dari balik tubuh Ibu," bisik Alena cepat, suaranya bergetar hebat. Ia menatap Mira dengan mata penuh kepanikan. "Mira, bawa Elian masuk lewat pintu belakang. Sekarang!"

​"Tapi Alena—"

​"Bawa dia masuk!" tegas Alena, hampir menjerit dalam bisikan.

​Namun sudah terlambat.

​Rombongan prajurit kerajaan itu tidak melintas begitu saja. Kuda-kuda hitam besar milik para pengawal menghentikan langkah mereka tepat di depan pekarangan rumah panggung Alena. Debu tipis membubung ke udara sore.

​Dua orang prajurit turun dari kuda mereka, berdiri bersiap di sisi pintu kereta mahoni. Salah satu dari mereka membukakan pintu kayu berukir tersebut.

​Sesosok wanita melangkah keluar dari dalam kereta. Ia mengenakan gaun sutra tebal berwarna krem berhias sulaman benang emas yang sangat rumit, dilapisi jubah bulu rubah putih. Penampilannya begitu berkelas, memancarkan keagungan dan wibawa yang tak tertandingi oleh siapa pun di desa ini.

​Ratu Eleanor Valerian.

​Ibu dari Pangeran Adrian, Ratu Kerajaan Aveloria.

​Ratu Eleanor berdiri di atas tanah berbatu Bellmare, mengibaskan jubahnya pelan. Matanya yang bijaksana, yang memendam kecerdasan serta ketajaman intuisi seorang wanita penguasa, menyapu rumah panggung sederhana di hadapannya sebelum akhirnya terkunci tepat pada sosok Alena.

​Alena berdiri terpaku di teras rumahnya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tujuh tahun melarikan diri, tujuh tahun bersembunyi di balik nama rakyat biasa, dan kini Sang Ratu sendiri yang berdiri di halaman rumahnya.

​Ratu Eleanor melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah Alena, dibiarkan tanpa pengawalan ketat di belakangnya. Matanya menatap Alena tidak dengan kemarahan atau kebencian, melainkan dengan sebuah tatapan rumit yang dipenuhi rasa iba, rasa ingin tahu, dan ketegasan yang tak terelakkan.

​Lalu, pandangan Ratu Eleanor bergeser sedikit... menatap ke arah samping tubuh Alena, tempat di mana Elian sedang mengintip takut-takut dari balik gaun ibunya.

​Saat mata Sang Ratu mendarat pada wajah anak laki-laki berumur tujuh tahun itu—pada mata abu-abu pekatnya, pada struktur rahangnya, dan pada cara anak itu memiringkan kepalanya—Alena melihat napas Ratu Eleanor terhenti sekilas. Tangan Sang Ratu yang terbalut sarung tangan sutra gemetar tipis sebelum ia mengepalkannya rapat-rapat.

​"Sudah terlalu lama, Alena Virelle," kata Ratu Eleanor, suaranya tenang namun bergema dengan kekuatan yang tidak bisa ditolak. "Raja telah memanggilmu. Kau dan anakmu... harus kembali ke Istana Valerian."

​Dunia Alena seakan runtuh seketika. Kebohongan tujuh tahun yang dijaganya dengan darah dan air mata, kini hancur di bawah pijakan kaki Sang Ratu.

Episodes
1 BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR
2 BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA
3 BAB 3 — HUKUMAN UNTUK SEORANG WANITA
4 BAB 4 — PELARIAN
5 BAB 5 — TUJUH TAHUN DALAM KEHENINGAN
6 BAB 6 — PERINTAH UNTUK KEMBALI
7 BAB 7 — PERTEMUAN SETELAH TUJUH TAHUN
8 BAB 8 — ANAK YANG DATANG BERSAMANYA
9 BAB 9 — MATA YANG SAMA
10 BAB 10 — "SIAPA AYAHKU?"
11 BAB 11 — TATAPAN YANG BERUBAH
12 BAB 12 — SELIR BARU DI PAVILIUN
13 BAB 13 — JANGAN DEKATI PUTRAKU
14 BAB 14 — PANGERAN YANG DISUKAI ELIAN
15 BAB 15 — KENANGAN YANG TIDAK MATI
16 BAB 16 — JAMUAN KERAJAAN
17 BAB 17 — ANAK SIAPA DIA?
18 BAB 18 — SEORANG IBU TIDAK BOLEH LEMAH
19 BAB 19 — LIONTIN LAMA
20 BAB 20 — DARAH YANG TIDAK BISA BERBOHONG
21 BAB 21 — PENYELIDIKAN DIAM-DIAM
22 BAB 22 — ELIAN DAN KUDA PUTIH
23 BAB 23 — SENYUM YANG SAMA
24 BAB 24 — SERAPHINA MULAI CURIGA
25 BAB 25 — SURAT DARI MASA LALU
26 BAB 26 — ADRIAN MEMPERTANYAKAN MIRA
27 BAB 27 — MALAM YANG PENUH KETEGANGAN
28 BAB 28 — PANGGILAN "AYAH"
29 BAB 29 — HASIL PENYELIDIKAN
30 BAB 30 — RAHASIA DI BALIK PINTU
31 BAB 31 — ORANG YANG MASIH BERADA DI ISTANA
32 BAB 32 — JANGAN PERCAYA SIAPA PUN
33 BAB 33 — ADRIAN MEMBAWA ELIAN KELUAR
34 BAB 34 — SEPERTI MELIHAT DIRINYA SENDIRI
35 BAB 35 — CEMBURU YANG TIDAK DIINGINKAN
36 BAB 36 — JAMUAN UNTUK PARA BANGSAWAN
37 BAB 37 — PERTANYAAN DARI SANG RAJA
38 BAB 38 — ADRIAN MELAWAN AYAHNYA
39 BAB 39 — SURAT KEDUA
40 BAB 40 — AKU TIDAK AKAN MENYAKITIMU
41 BAB 41 — PENYUSUP DI KAMAR ELIAN
42 BAB 42 — PENGAWAL PRIBADI
43 BAB 43 — JEJAK DI TAMAN BELAKANG
44 BAB 44 — MIMPI BURUK
45 BAB 45 — RAHASIA DI BALIK LIONTIN
46 BAB 46 — PERINTH SANG RATU
47 BAB 47 — SERAPHINA MEMASANG PERANGKAP
48 BAB 48 — ELIAN HILANG
49 BAB 49 — PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
50 BAB 50 — SUMPAH SEORANG PANGERAN
51 BAB 51 — ORANG YANG MENGETAHUI RAHASIA
52 BAB 52 — HADIAH UNTUK ELIAN
53 BAB 53 — SEBUAH KEBIASAAN KECIL
54 BAB 54 — PERTENGKARAN KECIL
55 BAB 55 — SERAPHINA MENDENGAR
56 BAB 56 — SURAT TUJUH TAHUN LALU
57 BAB 57 — KEBENARAN YANG TERLAMBAT
58 BAB 58 — ADRIAN MENEMUKAN SURAT ITU
59 BAB 59 — KENAPA KAU TIDAK MENCARIKU?
60 BAB 60 — AKU SUDAH TAHU
61 BAB 61 — TUJUH TAHUN YANG TERBUANG
62 BAB 62 — BOLEHKAH AKU MEMANGGILMU ADRIAN?
63 BAB 63 — KEINGINAN SEORANG AYAH
64 BAB 64 — PERTEMUAN DENGAN RAJA
65 BAB 65 — SERAPHINA MENGHADAPI ALENA
66 BAB 66 — ANCAMAN DARI DEWAN
67 BAB 67 — ADRIAN BERDIRI DI DEPAN ALENA
68 BAB 68 — RAHASIA DI KAPEL KERAJAAN
69 BAB 69 — ALENA INGIN PERGI
70 BAB 70 — DARAH PEWARIS TAKHTA
71 BAB 71 — PERINTAH YANG TIDAK BOLEH DITOLAK
72 BAB 72 — ANAK YANG HARUS DIPISAHKAN
73 BAB 73 — MALAM PERTAMA TANPA IBU
74 BAB 74 — ALENA MELAWAN ISTANA
75 BAB 75 — PENGAKUAN DI DEPAN PANGERAN
76 BAB 76 — AKU TIDAK PERNAH BERHENTI MENCINTAIMU
77 BAB 77 — SERAPHINA MEMBUAT PILIHAN
78 BAB 78 — JEBAKAN DI LORONG UTARA
79 BAB 79 — PENGKHIANAT DI ANTARA PENGAWAL
80 BAB 80 — DARAH YANG DIAKUI DALAM HATI
81 BAB 81 — PERTUNANGAN YANG TIDAK DIINGINKAN
82 BAB 82 — LADY YANG AKAN MENJADI RATU
83 BAB 83 — AKU TIDAK AKAN MENJADI RAHASIA SELAMANYA
84 BAB 84 — PERTEMUAN EMPAT MATA
85 BAB 85 — RAHASIA SERAPHINA
86 BAB 86 — ELIAN SAKIT
87 BAB 87 — PERTANYAAN ADRIAN
88 BAB 88 — MALAM DI TAMAN MAWAR
89 BAB 89 — PENGUMUMAN RESMI
90 BAB 90 — DI DEPAN SELURUH KERAJAAN
91 BAB 91 — BERITA DARI PERBATASAN
92 BAB 92 — JANGAN PERGI
93 BAB 93 — SATU MALAM SEBELUM KEBERANGKATAN
94 BAB 94 — KEPERGIAN SANG PUTRA MAHKOTA
95 BAB 95 — ISTANA TANPA ADRIAN
96 BAB 96 — ELIAN MENEMUKAN SESUATU
97 BAB 97 — JAWABAN YANG TIDAK SELESAI
98 BAB 98 — SERAPHINA MEMILIH PIHAK
99 BAB 99 — SERANGAN DI PERBATASAN
100 BAB 100 — DARAH YANG TAK BISA DISEMBUNYIKAN
101 BAB 101 — KABAR YANG MENGHANCURKAN
102 BAB 102 — AKU AKAN MENCARINYA
103 BAB 103 — ELEANOR MEMBUKA RAHASIA
104 BAB 104 — JEJAK DARAH DI HUTAN
105 BAB 105 — ELIAN MENDENGAR KEBENARAN
106 BAB 106 — SURAT UNTUK AYAH
107 BAB 107 — PANGERAN YANG TERLUKA
108 BAB 108 — PENGKHIANAT DI MEDAN PERANG
109 BAB 109 — NAMA YANG MUNCUL DARI MASA LALU
110 BAB 110 — AKU AKAN PULANG
111 BAB 111 — PELUKAN PERTAMA
112 BAB 112 — TUJUH TAHUN TANPA AYAH
113 BAB 113 — JANGAN PANGGIL AKU PANGERAN
114 BAB 114 — KEMARAHAN SANG PEWARIS
115 BAB 115 — SERAPHINA MEMINTA MAAF
116 BAB 116 — KEPUTUSAN SANG RAJA
117 BAB 117 — SEORANG PANGERAN KECIL
118 BAB 118 — JANJI DI BAWAH POHON TUA
119 BAB 119 — SERANGAN KEDUA
120 BAB 120 — DI HADAPAN TAKHTA
121 BAB 121 — NAMA YANG TERDENGAR DI LUAR ISTANA
122 BAB 122 — ANAK YANG TIBA-TIBA MENJADI PENTING
123 BAB 123 — DEWAN YANG TERBELAH
124 BAB 124 — ALENA KEMBALI TERINGAT MALAM ITU
125 BAB 125 — SURAT DARI KERAJAAN UTARA
126 BAB 126 — PENGAKUAN DI HADAPAN KELUARGA
127 BAB 127 — SEORANG KAKEK
128 BAB 128 — DARIUS TERDESAK
129 BAB 129 — KEBENARAN TENTANG MALAM PELARIAN
130 BAB 130 — AKU TIDAK AKAN PERGI LAGI
131 BAB 131 — UTUSAN DARI VALDORIA
132 BAB 132 — ELIAN TIDAK BOLEH MENJADI ALAT
133 BAB 133 — RAHASIA KELUARGA VALERIAN
134 BAB 134 — SERAPHINA MEMILIH KEBENARAN
135 BAB 135 — ELIAN DAN PANGERAN VALDORIA
136 BAB 136 — TANDA YANG SAMA
137 BAB 137 — CATATAN DARI SEORANG RATU
138 BAB 138 — ALENA TAKUT KEHILANGAN ELIAN
139 BAB 139 — PENGKHIANAT TERUNGKAP
140 BAB 140 — PERJUMPAAN DI BALIK PINTU
Episodes

Updated 140 Episodes

1
BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR
2
BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA
3
BAB 3 — HUKUMAN UNTUK SEORANG WANITA
4
BAB 4 — PELARIAN
5
BAB 5 — TUJUH TAHUN DALAM KEHENINGAN
6
BAB 6 — PERINTAH UNTUK KEMBALI
7
BAB 7 — PERTEMUAN SETELAH TUJUH TAHUN
8
BAB 8 — ANAK YANG DATANG BERSAMANYA
9
BAB 9 — MATA YANG SAMA
10
BAB 10 — "SIAPA AYAHKU?"
11
BAB 11 — TATAPAN YANG BERUBAH
12
BAB 12 — SELIR BARU DI PAVILIUN
13
BAB 13 — JANGAN DEKATI PUTRAKU
14
BAB 14 — PANGERAN YANG DISUKAI ELIAN
15
BAB 15 — KENANGAN YANG TIDAK MATI
16
BAB 16 — JAMUAN KERAJAAN
17
BAB 17 — ANAK SIAPA DIA?
18
BAB 18 — SEORANG IBU TIDAK BOLEH LEMAH
19
BAB 19 — LIONTIN LAMA
20
BAB 20 — DARAH YANG TIDAK BISA BERBOHONG
21
BAB 21 — PENYELIDIKAN DIAM-DIAM
22
BAB 22 — ELIAN DAN KUDA PUTIH
23
BAB 23 — SENYUM YANG SAMA
24
BAB 24 — SERAPHINA MULAI CURIGA
25
BAB 25 — SURAT DARI MASA LALU
26
BAB 26 — ADRIAN MEMPERTANYAKAN MIRA
27
BAB 27 — MALAM YANG PENUH KETEGANGAN
28
BAB 28 — PANGGILAN "AYAH"
29
BAB 29 — HASIL PENYELIDIKAN
30
BAB 30 — RAHASIA DI BALIK PINTU
31
BAB 31 — ORANG YANG MASIH BERADA DI ISTANA
32
BAB 32 — JANGAN PERCAYA SIAPA PUN
33
BAB 33 — ADRIAN MEMBAWA ELIAN KELUAR
34
BAB 34 — SEPERTI MELIHAT DIRINYA SENDIRI
35
BAB 35 — CEMBURU YANG TIDAK DIINGINKAN
36
BAB 36 — JAMUAN UNTUK PARA BANGSAWAN
37
BAB 37 — PERTANYAAN DARI SANG RAJA
38
BAB 38 — ADRIAN MELAWAN AYAHNYA
39
BAB 39 — SURAT KEDUA
40
BAB 40 — AKU TIDAK AKAN MENYAKITIMU
41
BAB 41 — PENYUSUP DI KAMAR ELIAN
42
BAB 42 — PENGAWAL PRIBADI
43
BAB 43 — JEJAK DI TAMAN BELAKANG
44
BAB 44 — MIMPI BURUK
45
BAB 45 — RAHASIA DI BALIK LIONTIN
46
BAB 46 — PERINTH SANG RATU
47
BAB 47 — SERAPHINA MEMASANG PERANGKAP
48
BAB 48 — ELIAN HILANG
49
BAB 49 — PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
50
BAB 50 — SUMPAH SEORANG PANGERAN
51
BAB 51 — ORANG YANG MENGETAHUI RAHASIA
52
BAB 52 — HADIAH UNTUK ELIAN
53
BAB 53 — SEBUAH KEBIASAAN KECIL
54
BAB 54 — PERTENGKARAN KECIL
55
BAB 55 — SERAPHINA MENDENGAR
56
BAB 56 — SURAT TUJUH TAHUN LALU
57
BAB 57 — KEBENARAN YANG TERLAMBAT
58
BAB 58 — ADRIAN MENEMUKAN SURAT ITU
59
BAB 59 — KENAPA KAU TIDAK MENCARIKU?
60
BAB 60 — AKU SUDAH TAHU
61
BAB 61 — TUJUH TAHUN YANG TERBUANG
62
BAB 62 — BOLEHKAH AKU MEMANGGILMU ADRIAN?
63
BAB 63 — KEINGINAN SEORANG AYAH
64
BAB 64 — PERTEMUAN DENGAN RAJA
65
BAB 65 — SERAPHINA MENGHADAPI ALENA
66
BAB 66 — ANCAMAN DARI DEWAN
67
BAB 67 — ADRIAN BERDIRI DI DEPAN ALENA
68
BAB 68 — RAHASIA DI KAPEL KERAJAAN
69
BAB 69 — ALENA INGIN PERGI
70
BAB 70 — DARAH PEWARIS TAKHTA
71
BAB 71 — PERINTAH YANG TIDAK BOLEH DITOLAK
72
BAB 72 — ANAK YANG HARUS DIPISAHKAN
73
BAB 73 — MALAM PERTAMA TANPA IBU
74
BAB 74 — ALENA MELAWAN ISTANA
75
BAB 75 — PENGAKUAN DI DEPAN PANGERAN
76
BAB 76 — AKU TIDAK PERNAH BERHENTI MENCINTAIMU
77
BAB 77 — SERAPHINA MEMBUAT PILIHAN
78
BAB 78 — JEBAKAN DI LORONG UTARA
79
BAB 79 — PENGKHIANAT DI ANTARA PENGAWAL
80
BAB 80 — DARAH YANG DIAKUI DALAM HATI
81
BAB 81 — PERTUNANGAN YANG TIDAK DIINGINKAN
82
BAB 82 — LADY YANG AKAN MENJADI RATU
83
BAB 83 — AKU TIDAK AKAN MENJADI RAHASIA SELAMANYA
84
BAB 84 — PERTEMUAN EMPAT MATA
85
BAB 85 — RAHASIA SERAPHINA
86
BAB 86 — ELIAN SAKIT
87
BAB 87 — PERTANYAAN ADRIAN
88
BAB 88 — MALAM DI TAMAN MAWAR
89
BAB 89 — PENGUMUMAN RESMI
90
BAB 90 — DI DEPAN SELURUH KERAJAAN
91
BAB 91 — BERITA DARI PERBATASAN
92
BAB 92 — JANGAN PERGI
93
BAB 93 — SATU MALAM SEBELUM KEBERANGKATAN
94
BAB 94 — KEPERGIAN SANG PUTRA MAHKOTA
95
BAB 95 — ISTANA TANPA ADRIAN
96
BAB 96 — ELIAN MENEMUKAN SESUATU
97
BAB 97 — JAWABAN YANG TIDAK SELESAI
98
BAB 98 — SERAPHINA MEMILIH PIHAK
99
BAB 99 — SERANGAN DI PERBATASAN
100
BAB 100 — DARAH YANG TAK BISA DISEMBUNYIKAN
101
BAB 101 — KABAR YANG MENGHANCURKAN
102
BAB 102 — AKU AKAN MENCARINYA
103
BAB 103 — ELEANOR MEMBUKA RAHASIA
104
BAB 104 — JEJAK DARAH DI HUTAN
105
BAB 105 — ELIAN MENDENGAR KEBENARAN
106
BAB 106 — SURAT UNTUK AYAH
107
BAB 107 — PANGERAN YANG TERLUKA
108
BAB 108 — PENGKHIANAT DI MEDAN PERANG
109
BAB 109 — NAMA YANG MUNCUL DARI MASA LALU
110
BAB 110 — AKU AKAN PULANG
111
BAB 111 — PELUKAN PERTAMA
112
BAB 112 — TUJUH TAHUN TANPA AYAH
113
BAB 113 — JANGAN PANGGIL AKU PANGERAN
114
BAB 114 — KEMARAHAN SANG PEWARIS
115
BAB 115 — SERAPHINA MEMINTA MAAF
116
BAB 116 — KEPUTUSAN SANG RAJA
117
BAB 117 — SEORANG PANGERAN KECIL
118
BAB 118 — JANJI DI BAWAH POHON TUA
119
BAB 119 — SERANGAN KEDUA
120
BAB 120 — DI HADAPAN TAKHTA
121
BAB 121 — NAMA YANG TERDENGAR DI LUAR ISTANA
122
BAB 122 — ANAK YANG TIBA-TIBA MENJADI PENTING
123
BAB 123 — DEWAN YANG TERBELAH
124
BAB 124 — ALENA KEMBALI TERINGAT MALAM ITU
125
BAB 125 — SURAT DARI KERAJAAN UTARA
126
BAB 126 — PENGAKUAN DI HADAPAN KELUARGA
127
BAB 127 — SEORANG KAKEK
128
BAB 128 — DARIUS TERDESAK
129
BAB 129 — KEBENARAN TENTANG MALAM PELARIAN
130
BAB 130 — AKU TIDAK AKAN PERGI LAGI
131
BAB 131 — UTUSAN DARI VALDORIA
132
BAB 132 — ELIAN TIDAK BOLEH MENJADI ALAT
133
BAB 133 — RAHASIA KELUARGA VALERIAN
134
BAB 134 — SERAPHINA MEMILIH KEBENARAN
135
BAB 135 — ELIAN DAN PANGERAN VALDORIA
136
BAB 136 — TANDA YANG SAMA
137
BAB 137 — CATATAN DARI SEORANG RATU
138
BAB 138 — ALENA TAKUT KEHILANGAN ELIAN
139
BAB 139 — PENGKHIANAT TERUNGKAP
140
BAB 140 — PERJUMPAAN DI BALIK PINTU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!