ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR

​Aroma mawar yang mekar di penghujung musim panas selalu terasa terlalu pekat di malam hari. Bagi sebagian besar penghuni Istana Valerian, wewangian itu hanyalah penghias kelopak kelopak bunga yang diterpa embun. Namun bagi Alena Virelle, wewangian itu adalah aroma ketakutan yang tersamar oleh keindahan.

​Langkah kakinya hampir tak bersuara saat melintasi jalan setapak berkerikil putih. Gaun sederhananya—perpaduan kain linen biru tua dan katun kasar—bergesek halus dengan semak-semak yang terpotong rapi. Di tangannya, sebilah lentera kecil berbahan kuningan memancarkan pendar kuning yang redup, bergoyang seirama dengan napasnya yang tertahan.

​Alena berusia tujuh belas tahun, dan ia cukup berakal sehat untuk memahami bahwa berada di sudut paling terisolasi dari Taman Mawar pada tengah malam adalah tindakan kebodohan. Jika salah satu pengawal kerajaan menemukannya, ia akan dituduh melakukan penyusupan. Namun jika yang menemukannya adalah orang yang berjanji menunggunya di sini, risikonya jauh lebih besar dari sekadar hukuman cambuk atau pengasingan.

​Risikonya adalah hatinya sendiri.

​"Kau terlambat, Alena."

​Suara itu datang dari balik bayangan kanopi pohon eboni yang tumbuh di tengah taman. Suaranya rendah, tenang, namun memiliki gema alami yang membekukan udara di sekitarnya.

​Alena menghentikan langkah. Ia menurunkan lenteranya sedikit, membiarkan cahayanya menyapu bagian bawah jubah beludru hitam yang terhias sulaman benang perak berbentuk lambang elang Kerajaan Aveloria.

​"Pangeran Adrian," bisik Alena. Ia membungkuk kecil, sebuah gestur formal yang terasa canggung di antara mereka, namun menjadi perisai tipis yang selalu ia gunakan untuk mengingatkan dirinya sendiri tentang batas-bangsa.

​Pria yang berdiri di bawah naungan pohon itu melangkah maju. Dalam pendar remang lentera, garis wajah Adrian Valerian terlihat tegas, dipahat oleh disiplin ketat pelatihan militer dan tuntutan takhta yang sudah dibebankan ke pundaknya sejak lahir. Berusia dua puluh satu tahun, sang Putra Mahkota Aveloria memancarkan otoritas yang alami. Namun malam ini, di mata manusianya yang berwarna abu-abu pekat seperti langit menjelang badai, tidak ada jejak kediktatoran seorang calon raja.

​Yang ada hanya kelelahan yang disembunyikan dengan rapi.

​"Aku sudah memintamu untuk tidak memanggilku seperti itu saat kita hanya berdua," kata Adrian. Langkahnya terhenti hanya sejengkal di depan Alena. Begitu dekat hingga Alena bisa menghirup aroma kayu cendana dan dinginnya malam yang menempel pada mantel pria itu.

​"Hukum istana tidak mengenal kata 'berdua', Yang Mulia," sahut Alena pelan. Ia menatap dada Adrian, enggan menatap langsung mata yang selalu mampu membongkar seluruh pertahanannya. "Jika ada pelayan atau dewan bangsawan yang melihat—"

​"Biarkan mereka melihat."

​Kalimat itu terucap begitu ringkas, begitu santai, seolah Adrian sedang membicarakan cuaca esok hari dan bukan sebuah skandal yang sanggup mengguncang fondasi istana.

​"Jangan berbicara seperti itu," tegur Alena, keberaniannya mencetus secara spontan. Ia mengadahkan wajah, menatap Adrian tepat di matanya. "Anda adalah pewaris takhta Aveloria. Setiap kata yang Anda ucapkan memiliki bobot bagi masa depan kerajaan ini. Sedangkan saya... saya hanya putri dari seorang baronet kecil yang kebetulan diizinkan tinggal di istana sebagai juru tulis perpustakaan."

​Adrian menatap Alena dalam diam. Ia memperhatikan detail kecil yang selama beberapa bulan terakhir telah mengacaukan konsentrasinya dalam setiap rapat dewan: helai rambut cokelat keemasan yang terlepas dari gulungannya, bintik halus di pangkal hidungnya, dan bayangan kecemasan yang selalu membayangi matanya yang berwarna hijau hazel.

​"Juru tulis yang sanggup mengoreksi terjemahan naskah kuno berbahasa Elarian milik Penasihat Rowan," gumam Adrian, sudut bibirnya terangkat tipis—sebuah senyuman langka yang hanya pernah disaksikan oleh tembok-tembok taman ini. "Kau selalu merendahkan dirimu sendiri, Alena."

​"Saya hanya tahu diri, Adrian."

​Nama itu terlepas dari bibirnya. Tanpa gelar. Tanpa sebutan kehormatan. Dan respons Adrian terhadap panggilan itu adalah tarikan napas halus, seolah beban berat yang menghimpit dadanya mendadak terangkat seketika.

​Adrian mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang dan berkapalan—akibat bertahun-tahun menggenggam pedang—menyentuh dagu Alena, mengangkatnya perlahan. Sentuhan itu hangat, berkontradiksi dengan angin malam yang mulai menusuk tulang.

​"Ayahku telah menentukan jadwal pengumuman pertunanganku dengan Lady Seraphina Ardent," ujar Adrian mendadak.

​Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti bongkahan es yang dilemparkan ke permukaan telaga jernih. Keretakan rasanya merambat ke udara di sekitar mereka.

​Alena tidak terkejut. Ia sudah tahu hari ini akan datang. Seluruh Aveloria tahu bahwa keluarga Ardent memegang kendali atas setengah legiun prajurit di perbatasan utara dan sebagian besar cadangan perak kerajaan. Pernikahan antara Putra Mahkota dan putri tunggal Duke Ardent bukanlah masalah cinta, melainkan sebuah transaksi keamanan negara.

​Namun tahu tidak membuat rasa sakitnya berkurang. Ada sesuatu yang berdenyut pedih di balik dada Alena, sebuah kekosongan yang perlahan meluas.

​"Selamat, Yang Mulia," bisik Alena, suaranya terdengar datar, terlatih untuk tidak gemetar. "Lady Seraphina adalah wanita yang sangat anggun. Ia akan menjadi calon Ratu yang dicintai rakyat."

​"Kau tahu aku tidak menginginkan pernikahan itu, Alena." Suara Adrian mendadak merendah, menajam oleh intensitas emosi yang jarang ia perlihatkan. Tangannya bergeser dari dagu Alena ke sisi leher wanita itu, jempolnya mengusap garis rahangnya yang halus. "Aku tidak memedulikan aliansi Ardent. Aku tidak memedulikan berapa banyak pedang yang bisa disumbangkan oleh ayahnya untuk dewanku."

​"Tetapi Raja Cedric memedulikannya!" potong Alena, suaranya meninggi sebelum ia dengan cepat memelankannya kembali karena takut terdengar pengawal patroli. "Raja memedulikannya, dewan memedulikannya, dan rakyat Aveloria membutuhkan kepastian. Anda tidak bisa mengorbankan stabilitas kerajaan hanya untuk..."

​Alena menghentikan kalimatnya. Ia tidak sanggup melanjutkan.

​"Untuk apa?" desak Adrian, matanya mengunci mata Alena. "Untukmu? Untuk apa yang kita rasakan selama enam bulan terakhir ini?"

​"Ini hanya kebodohan musim panas, Adrian," kata Alena, membohongi dirinya sendiri dengan kata-kata paling kejam yang bisa ia temukan. "Kita terjebak dalam ilusi perpustakaan tua dan malam-malam yang sepi. Ketika saatnya tiba, Anda akan duduk di takhta itu dan saya akan kembali ke wilayah asal keluarga saya, menikah dengan seorang ksatria atau bangsawan rendah, dan melupakan bahwa kita pernah berada di taman ini."

​Tangan Adrian yang berada di leher Alena mengetat sekilas sebelum perlahan terkulai lemas ke samping tubuhnya. Pria itu mundur satu langkah. Ekspresi hangat yang tadinya sempat muncul mendadak lenyap, digantikan oleh topeng dingin yang biasa ia kenakan di hadapan para menteri.

​"Melupakan?" ulang Adrian. Ia tertawa pelan, sebuah tawa tanpa rasa humor yang terdengar sangat menyakitkan. "Kau begitu mudah mengatakannya, Alena. Seolah-olah kau bisa menghapus semua naskah yang kita baca bersama, setiap kata yang kita bisikkan, seolah-olah kau bisa mencabut hatimu sendiri dan meninggalkannya di sini."

​Alena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya, menyembunyikan getaran hebat yang melanda jemarinya. Kuku-kukunya menekan telapak tangannya hingga terasa perih, sebuah usaha sengaja untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya.

​"Aku tidak akan membiarkan ayahku mengatur seluruh hidupku," kata Adrian kemudian. Suaranya kembali tenang, namun jenis ketenangan ini jauh lebih berbahaya daripada kemarahan. Itu adalah ketenangan seorang pria yang telah mengambil keputusan mutlak. "Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai Putra Mahkota. Aku akan menyetujui pertunangan politik ini karena dewan memaksaku. Namun dengarkan aku baik-baik, Alena Virelle..."

​Adrian kembali mendekat. Kali ini, ia tidak menyentuh Alena. Ia hanya menunduk, mendekatkan wajahnya hingga Alena bisa merasakan hembusan napas hangatnya di kulit pipinya.

​"Suatu hari nanti, ketika takhta itu menjadi milikku sepenuhnya, aku tidak lagi harus tunduk pada aturan dewan tua yang ketakutan. Aku akan menemukan cara untuk membawamu kembali ke sisiku. Bukan sebagai rahasia di taman malam hari. Bukan sebagai juru tulis yang harus bersembunyi di balik pilar. Tetapi sebagai wanita yang hidup di sampingku."

​Alena menatap pria di hadapannya dengan rasa haru yang bercampur dengan ketakutan yang luar biasa. Janji itu... janji itu terlalu indah, terlalu berbahaya, dan sangat tidak realistis. Pangeran Adrian berbicara seperti seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara, bukan sebagai calon penguasa yang terikat oleh hukum monarki yang kejam.

​Kerajaan Aveloria tidak pernah mengizinkan seorang wanita dari keluarga bangsawan rendah tanpa pengaruh politik untuk berdiri sejajar dengan Raja. Jika Adrian nekat melakukan hal itu kelak, dewan bangsawan akan menganggapnya sebagai ancaman dan kelemahan. Mereka tidak akan meragukan untuk menyingkirkan penyebab kelemahan itu.

​Sebab dalam permainan politik istana, menyingkirkan seorang wanita tanpa pelindung adalah hal yang sangat mudah dilakukan.

​"Anda berjanji pada sesuatu yang tidak bisa Anda tepati, Adrian," gumam Alena pelan.

​Sebagai jawaban, Adrian merogoh sesuatu dari balik mantel tebalnya. Cahaya lentera yang remang menangkap kilatan logam perak dan pantulan cahaya dari sebuah batu permata kecil berwarna biru legam—sebuah batu Saphira kualitas tertinggi yang diukir halus membentuk kelopak bunga mawar.

​Itu adalah liontin pribadi keluarga Valerian, sebuah pusaka kecil yang diberikan oleh Almarhumah Nenek Adrian saat sang pangeran memenangkan pertempuran pertamanya di perbatasan barat.

​"Pegang ini," ujar Adrian sambil meletakkan rantai perak dingin itu ke telapak tangan Alena, lalu memindahkan jemari wanita itu agar menggenggamnya erat.

​"Tidak, Adrian! Ini terlalu berharga, aku tidak bisa—"

​"Ini bukan hadiah, Alena. Ini adalah ikrar," potong Adrian dengan nada tidak dapat diganggu gugat. "Selama kau memegang liontin itu, kau membawa sebagian dari jiwaku bersamamu. Jika kau ragu pada janjiku, lihat batu itu. Ingat malam ini. Ingat bahwa di balik semua hukum dan mahkota busuk ini, ada seorang pria yang menyembah tanah yang kau pijak."

​Alena meremas liontin itu. Sudut siku batu permata yang tajam menekan kulit telapak tangannya, meninggalkan rasa sakit yang nyata. Ia menatap Adrian, dan untuk pertama kalinya malam itu, Alena membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya menetes melintasi pipinya.

​Adrian mengusap air mata itu dengan jempolnya, gerakan yang sangat lembut hingga membuat dada Alena semakin sesak.

​"Jangan menangis," bisik Adrian. "Ini bukan perpisahan. Ini hanya penundaan."

​Namun malam itu, saat angin dingin berhembus kencang menerbangkan kelopak-kelopak mawar yang gugur di sekitar kaki mereka, Alena merasakan firasat yang sangat pekat di dalam dadanya.

​Sebuah firasat bahwa janji yang diucapkan di bawah naungan bayang-bayang tidak akan pernah bisa bertahan di bawah teriknya matahari istana.

​Keduanya berdiri saling menatap dalam keheningan yang panjang, menikmati sisa-sisa detik sebelum kenyataan memisahkan mereka kembali. Mereka tidak pernah tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir mereka akan berbicara sebagai dua orang yang saling mencintai tanpa ada rahasia, tanpa ada kebohongan, dan tanpa ada darah yang menuntut kebenaran.

​Ketika Alena akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkan Taman Mawar dengan membawa liontin perak di genggamannya, ia tidak tahu bahwa dalam beberapa minggu ke depan, kehidupan kecil baru sedang bersiap untuk tumbuh di dalam tubuhnya—sebuah rahasia yang tidak hanya akan menghancurkan janjinya dengan Adrian, tetapi juga akan memaksa dirinya menjadi seorang buronan.

Episodes
1 BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR
2 BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA
3 BAB 3 — HUKUMAN UNTUK SEORANG WANITA
4 BAB 4 — PELARIAN
5 BAB 5 — TUJUH TAHUN DALAM KEHENINGAN
6 BAB 6 — PERINTAH UNTUK KEMBALI
7 BAB 7 — PERTEMUAN SETELAH TUJUH TAHUN
8 BAB 8 — ANAK YANG DATANG BERSAMANYA
9 BAB 9 — MATA YANG SAMA
10 BAB 10 — "SIAPA AYAHKU?"
11 BAB 11 — TATAPAN YANG BERUBAH
12 BAB 12 — SELIR BARU DI PAVILIUN
13 BAB 13 — JANGAN DEKATI PUTRAKU
14 BAB 14 — PANGERAN YANG DISUKAI ELIAN
15 BAB 15 — KENANGAN YANG TIDAK MATI
16 BAB 16 — JAMUAN KERAJAAN
17 BAB 17 — ANAK SIAPA DIA?
18 BAB 18 — SEORANG IBU TIDAK BOLEH LEMAH
19 BAB 19 — LIONTIN LAMA
20 BAB 20 — DARAH YANG TIDAK BISA BERBOHONG
21 BAB 21 — PENYELIDIKAN DIAM-DIAM
22 BAB 22 — ELIAN DAN KUDA PUTIH
23 BAB 23 — SENYUM YANG SAMA
24 BAB 24 — SERAPHINA MULAI CURIGA
25 BAB 25 — SURAT DARI MASA LALU
26 BAB 26 — ADRIAN MEMPERTANYAKAN MIRA
27 BAB 27 — MALAM YANG PENUH KETEGANGAN
28 BAB 28 — PANGGILAN "AYAH"
29 BAB 29 — HASIL PENYELIDIKAN
30 BAB 30 — RAHASIA DI BALIK PINTU
31 BAB 31 — ORANG YANG MASIH BERADA DI ISTANA
32 BAB 32 — JANGAN PERCAYA SIAPA PUN
33 BAB 33 — ADRIAN MEMBAWA ELIAN KELUAR
34 BAB 34 — SEPERTI MELIHAT DIRINYA SENDIRI
35 BAB 35 — CEMBURU YANG TIDAK DIINGINKAN
36 BAB 36 — JAMUAN UNTUK PARA BANGSAWAN
37 BAB 37 — PERTANYAAN DARI SANG RAJA
38 BAB 38 — ADRIAN MELAWAN AYAHNYA
39 BAB 39 — SURAT KEDUA
40 BAB 40 — AKU TIDAK AKAN MENYAKITIMU
41 BAB 41 — PENYUSUP DI KAMAR ELIAN
42 BAB 42 — PENGAWAL PRIBADI
43 BAB 43 — JEJAK DI TAMAN BELAKANG
44 BAB 44 — MIMPI BURUK
45 BAB 45 — RAHASIA DI BALIK LIONTIN
46 BAB 46 — PERINTH SANG RATU
47 BAB 47 — SERAPHINA MEMASANG PERANGKAP
48 BAB 48 — ELIAN HILANG
49 BAB 49 — PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
50 BAB 50 — SUMPAH SEORANG PANGERAN
51 BAB 51 — ORANG YANG MENGETAHUI RAHASIA
52 BAB 52 — HADIAH UNTUK ELIAN
53 BAB 53 — SEBUAH KEBIASAAN KECIL
54 BAB 54 — PERTENGKARAN KECIL
55 BAB 55 — SERAPHINA MENDENGAR
56 BAB 56 — SURAT TUJUH TAHUN LALU
57 BAB 57 — KEBENARAN YANG TERLAMBAT
58 BAB 58 — ADRIAN MENEMUKAN SURAT ITU
59 BAB 59 — KENAPA KAU TIDAK MENCARIKU?
60 BAB 60 — AKU SUDAH TAHU
61 BAB 61 — TUJUH TAHUN YANG TERBUANG
62 BAB 62 — BOLEHKAH AKU MEMANGGILMU ADRIAN?
63 BAB 63 — KEINGINAN SEORANG AYAH
64 BAB 64 — PERTEMUAN DENGAN RAJA
65 BAB 65 — SERAPHINA MENGHADAPI ALENA
66 BAB 66 — ANCAMAN DARI DEWAN
67 BAB 67 — ADRIAN BERDIRI DI DEPAN ALENA
68 BAB 68 — RAHASIA DI KAPEL KERAJAAN
69 BAB 69 — ALENA INGIN PERGI
70 BAB 70 — DARAH PEWARIS TAKHTA
71 BAB 71 — PERINTAH YANG TIDAK BOLEH DITOLAK
72 BAB 72 — ANAK YANG HARUS DIPISAHKAN
73 BAB 73 — MALAM PERTAMA TANPA IBU
74 BAB 74 — ALENA MELAWAN ISTANA
75 BAB 75 — PENGAKUAN DI DEPAN PANGERAN
76 BAB 76 — AKU TIDAK PERNAH BERHENTI MENCINTAIMU
77 BAB 77 — SERAPHINA MEMBUAT PILIHAN
78 BAB 78 — JEBAKAN DI LORONG UTARA
79 BAB 79 — PENGKHIANAT DI ANTARA PENGAWAL
80 BAB 80 — DARAH YANG DIAKUI DALAM HATI
81 BAB 81 — PERTUNANGAN YANG TIDAK DIINGINKAN
82 BAB 82 — LADY YANG AKAN MENJADI RATU
83 BAB 83 — AKU TIDAK AKAN MENJADI RAHASIA SELAMANYA
84 BAB 84 — PERTEMUAN EMPAT MATA
85 BAB 85 — RAHASIA SERAPHINA
86 BAB 86 — ELIAN SAKIT
87 BAB 87 — PERTANYAAN ADRIAN
88 BAB 88 — MALAM DI TAMAN MAWAR
89 BAB 89 — PENGUMUMAN RESMI
90 BAB 90 — DI DEPAN SELURUH KERAJAAN
91 BAB 91 — BERITA DARI PERBATASAN
92 BAB 92 — JANGAN PERGI
93 BAB 93 — SATU MALAM SEBELUM KEBERANGKATAN
94 BAB 94 — KEPERGIAN SANG PUTRA MAHKOTA
95 BAB 95 — ISTANA TANPA ADRIAN
96 BAB 96 — ELIAN MENEMUKAN SESUATU
97 BAB 97 — JAWABAN YANG TIDAK SELESAI
98 BAB 98 — SERAPHINA MEMILIH PIHAK
99 BAB 99 — SERANGAN DI PERBATASAN
100 BAB 100 — DARAH YANG TAK BISA DISEMBUNYIKAN
101 BAB 101 — KABAR YANG MENGHANCURKAN
102 BAB 102 — AKU AKAN MENCARINYA
103 BAB 103 — ELEANOR MEMBUKA RAHASIA
104 BAB 104 — JEJAK DARAH DI HUTAN
105 BAB 105 — ELIAN MENDENGAR KEBENARAN
106 BAB 106 — SURAT UNTUK AYAH
107 BAB 107 — PANGERAN YANG TERLUKA
108 BAB 108 — PENGKHIANAT DI MEDAN PERANG
109 BAB 109 — NAMA YANG MUNCUL DARI MASA LALU
110 BAB 110 — AKU AKAN PULANG
111 BAB 111 — PELUKAN PERTAMA
112 BAB 112 — TUJUH TAHUN TANPA AYAH
113 BAB 113 — JANGAN PANGGIL AKU PANGERAN
114 BAB 114 — KEMARAHAN SANG PEWARIS
115 BAB 115 — SERAPHINA MEMINTA MAAF
116 BAB 116 — KEPUTUSAN SANG RAJA
117 BAB 117 — SEORANG PANGERAN KECIL
118 BAB 118 — JANJI DI BAWAH POHON TUA
119 BAB 119 — SERANGAN KEDUA
120 BAB 120 — DI HADAPAN TAKHTA
121 BAB 121 — NAMA YANG TERDENGAR DI LUAR ISTANA
122 BAB 122 — ANAK YANG TIBA-TIBA MENJADI PENTING
123 BAB 123 — DEWAN YANG TERBELAH
124 BAB 124 — ALENA KEMBALI TERINGAT MALAM ITU
125 BAB 125 — SURAT DARI KERAJAAN UTARA
126 BAB 126 — PENGAKUAN DI HADAPAN KELUARGA
127 BAB 127 — SEORANG KAKEK
128 BAB 128 — DARIUS TERDESAK
129 BAB 129 — KEBENARAN TENTANG MALAM PELARIAN
130 BAB 130 — AKU TIDAK AKAN PERGI LAGI
131 BAB 131 — UTUSAN DARI VALDORIA
132 BAB 132 — ELIAN TIDAK BOLEH MENJADI ALAT
133 BAB 133 — RAHASIA KELUARGA VALERIAN
134 BAB 134 — SERAPHINA MEMILIH KEBENARAN
135 BAB 135 — ELIAN DAN PANGERAN VALDORIA
136 BAB 136 — TANDA YANG SAMA
137 BAB 137 — CATATAN DARI SEORANG RATU
138 BAB 138 — ALENA TAKUT KEHILANGAN ELIAN
139 BAB 139 — PENGKHIANAT TERUNGKAP
140 BAB 140 — PERJUMPAAN DI BALIK PINTU
Episodes

Updated 140 Episodes

1
BAB 1 — MALAM TERAKHIR DI TAMAN MAWAR
2
BAB 2 — RAHASIA DI DALAM TUBUHNYA
3
BAB 3 — HUKUMAN UNTUK SEORANG WANITA
4
BAB 4 — PELARIAN
5
BAB 5 — TUJUH TAHUN DALAM KEHENINGAN
6
BAB 6 — PERINTAH UNTUK KEMBALI
7
BAB 7 — PERTEMUAN SETELAH TUJUH TAHUN
8
BAB 8 — ANAK YANG DATANG BERSAMANYA
9
BAB 9 — MATA YANG SAMA
10
BAB 10 — "SIAPA AYAHKU?"
11
BAB 11 — TATAPAN YANG BERUBAH
12
BAB 12 — SELIR BARU DI PAVILIUN
13
BAB 13 — JANGAN DEKATI PUTRAKU
14
BAB 14 — PANGERAN YANG DISUKAI ELIAN
15
BAB 15 — KENANGAN YANG TIDAK MATI
16
BAB 16 — JAMUAN KERAJAAN
17
BAB 17 — ANAK SIAPA DIA?
18
BAB 18 — SEORANG IBU TIDAK BOLEH LEMAH
19
BAB 19 — LIONTIN LAMA
20
BAB 20 — DARAH YANG TIDAK BISA BERBOHONG
21
BAB 21 — PENYELIDIKAN DIAM-DIAM
22
BAB 22 — ELIAN DAN KUDA PUTIH
23
BAB 23 — SENYUM YANG SAMA
24
BAB 24 — SERAPHINA MULAI CURIGA
25
BAB 25 — SURAT DARI MASA LALU
26
BAB 26 — ADRIAN MEMPERTANYAKAN MIRA
27
BAB 27 — MALAM YANG PENUH KETEGANGAN
28
BAB 28 — PANGGILAN "AYAH"
29
BAB 29 — HASIL PENYELIDIKAN
30
BAB 30 — RAHASIA DI BALIK PINTU
31
BAB 31 — ORANG YANG MASIH BERADA DI ISTANA
32
BAB 32 — JANGAN PERCAYA SIAPA PUN
33
BAB 33 — ADRIAN MEMBAWA ELIAN KELUAR
34
BAB 34 — SEPERTI MELIHAT DIRINYA SENDIRI
35
BAB 35 — CEMBURU YANG TIDAK DIINGINKAN
36
BAB 36 — JAMUAN UNTUK PARA BANGSAWAN
37
BAB 37 — PERTANYAAN DARI SANG RAJA
38
BAB 38 — ADRIAN MELAWAN AYAHNYA
39
BAB 39 — SURAT KEDUA
40
BAB 40 — AKU TIDAK AKAN MENYAKITIMU
41
BAB 41 — PENYUSUP DI KAMAR ELIAN
42
BAB 42 — PENGAWAL PRIBADI
43
BAB 43 — JEJAK DI TAMAN BELAKANG
44
BAB 44 — MIMPI BURUK
45
BAB 45 — RAHASIA DI BALIK LIONTIN
46
BAB 46 — PERINTH SANG RATU
47
BAB 47 — SERAPHINA MEMASANG PERANGKAP
48
BAB 48 — ELIAN HILANG
49
BAB 49 — PERTANYAAN YANG TAK TERJAWAB
50
BAB 50 — SUMPAH SEORANG PANGERAN
51
BAB 51 — ORANG YANG MENGETAHUI RAHASIA
52
BAB 52 — HADIAH UNTUK ELIAN
53
BAB 53 — SEBUAH KEBIASAAN KECIL
54
BAB 54 — PERTENGKARAN KECIL
55
BAB 55 — SERAPHINA MENDENGAR
56
BAB 56 — SURAT TUJUH TAHUN LALU
57
BAB 57 — KEBENARAN YANG TERLAMBAT
58
BAB 58 — ADRIAN MENEMUKAN SURAT ITU
59
BAB 59 — KENAPA KAU TIDAK MENCARIKU?
60
BAB 60 — AKU SUDAH TAHU
61
BAB 61 — TUJUH TAHUN YANG TERBUANG
62
BAB 62 — BOLEHKAH AKU MEMANGGILMU ADRIAN?
63
BAB 63 — KEINGINAN SEORANG AYAH
64
BAB 64 — PERTEMUAN DENGAN RAJA
65
BAB 65 — SERAPHINA MENGHADAPI ALENA
66
BAB 66 — ANCAMAN DARI DEWAN
67
BAB 67 — ADRIAN BERDIRI DI DEPAN ALENA
68
BAB 68 — RAHASIA DI KAPEL KERAJAAN
69
BAB 69 — ALENA INGIN PERGI
70
BAB 70 — DARAH PEWARIS TAKHTA
71
BAB 71 — PERINTAH YANG TIDAK BOLEH DITOLAK
72
BAB 72 — ANAK YANG HARUS DIPISAHKAN
73
BAB 73 — MALAM PERTAMA TANPA IBU
74
BAB 74 — ALENA MELAWAN ISTANA
75
BAB 75 — PENGAKUAN DI DEPAN PANGERAN
76
BAB 76 — AKU TIDAK PERNAH BERHENTI MENCINTAIMU
77
BAB 77 — SERAPHINA MEMBUAT PILIHAN
78
BAB 78 — JEBAKAN DI LORONG UTARA
79
BAB 79 — PENGKHIANAT DI ANTARA PENGAWAL
80
BAB 80 — DARAH YANG DIAKUI DALAM HATI
81
BAB 81 — PERTUNANGAN YANG TIDAK DIINGINKAN
82
BAB 82 — LADY YANG AKAN MENJADI RATU
83
BAB 83 — AKU TIDAK AKAN MENJADI RAHASIA SELAMANYA
84
BAB 84 — PERTEMUAN EMPAT MATA
85
BAB 85 — RAHASIA SERAPHINA
86
BAB 86 — ELIAN SAKIT
87
BAB 87 — PERTANYAAN ADRIAN
88
BAB 88 — MALAM DI TAMAN MAWAR
89
BAB 89 — PENGUMUMAN RESMI
90
BAB 90 — DI DEPAN SELURUH KERAJAAN
91
BAB 91 — BERITA DARI PERBATASAN
92
BAB 92 — JANGAN PERGI
93
BAB 93 — SATU MALAM SEBELUM KEBERANGKATAN
94
BAB 94 — KEPERGIAN SANG PUTRA MAHKOTA
95
BAB 95 — ISTANA TANPA ADRIAN
96
BAB 96 — ELIAN MENEMUKAN SESUATU
97
BAB 97 — JAWABAN YANG TIDAK SELESAI
98
BAB 98 — SERAPHINA MEMILIH PIHAK
99
BAB 99 — SERANGAN DI PERBATASAN
100
BAB 100 — DARAH YANG TAK BISA DISEMBUNYIKAN
101
BAB 101 — KABAR YANG MENGHANCURKAN
102
BAB 102 — AKU AKAN MENCARINYA
103
BAB 103 — ELEANOR MEMBUKA RAHASIA
104
BAB 104 — JEJAK DARAH DI HUTAN
105
BAB 105 — ELIAN MENDENGAR KEBENARAN
106
BAB 106 — SURAT UNTUK AYAH
107
BAB 107 — PANGERAN YANG TERLUKA
108
BAB 108 — PENGKHIANAT DI MEDAN PERANG
109
BAB 109 — NAMA YANG MUNCUL DARI MASA LALU
110
BAB 110 — AKU AKAN PULANG
111
BAB 111 — PELUKAN PERTAMA
112
BAB 112 — TUJUH TAHUN TANPA AYAH
113
BAB 113 — JANGAN PANGGIL AKU PANGERAN
114
BAB 114 — KEMARAHAN SANG PEWARIS
115
BAB 115 — SERAPHINA MEMINTA MAAF
116
BAB 116 — KEPUTUSAN SANG RAJA
117
BAB 117 — SEORANG PANGERAN KECIL
118
BAB 118 — JANJI DI BAWAH POHON TUA
119
BAB 119 — SERANGAN KEDUA
120
BAB 120 — DI HADAPAN TAKHTA
121
BAB 121 — NAMA YANG TERDENGAR DI LUAR ISTANA
122
BAB 122 — ANAK YANG TIBA-TIBA MENJADI PENTING
123
BAB 123 — DEWAN YANG TERBELAH
124
BAB 124 — ALENA KEMBALI TERINGAT MALAM ITU
125
BAB 125 — SURAT DARI KERAJAAN UTARA
126
BAB 126 — PENGAKUAN DI HADAPAN KELUARGA
127
BAB 127 — SEORANG KAKEK
128
BAB 128 — DARIUS TERDESAK
129
BAB 129 — KEBENARAN TENTANG MALAM PELARIAN
130
BAB 130 — AKU TIDAK AKAN PERGI LAGI
131
BAB 131 — UTUSAN DARI VALDORIA
132
BAB 132 — ELIAN TIDAK BOLEH MENJADI ALAT
133
BAB 133 — RAHASIA KELUARGA VALERIAN
134
BAB 134 — SERAPHINA MEMILIH KEBENARAN
135
BAB 135 — ELIAN DAN PANGERAN VALDORIA
136
BAB 136 — TANDA YANG SAMA
137
BAB 137 — CATATAN DARI SEORANG RATU
138
BAB 138 — ALENA TAKUT KEHILANGAN ELIAN
139
BAB 139 — PENGKHIANAT TERUNGKAP
140
BAB 140 — PERJUMPAAN DI BALIK PINTU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!