Episode 3

Bab 3: Kak Anin, Adik Bima

Sirene berhenti di bawah gedung kurang dari tiga menit kemudian.

Dua petugas naik bersama Doni. Rekan Bima itu tiba paling belakang, napasnya memburu meski datang memakai lift. Begitu melihat dua pria terkapar di lantai, langkahnya langsung terhenti.

"Bang Bima..."

"Jangan masuk terlalu jauh," kata Bima. "Pisau ada di bawah meja. Tali dan kain penyumpal di kamar. Jangan sentuh apa pun."

Petugas pertama mengenakan sarung tangan sebelum memeriksa kedua pelaku. Rekannya memotret posisi pisau, bekas congkel pada pintu depan, kabel di gagang kamar, serta ikatan yang sudah dilepas.

"Siapa yang melumpuhkan mereka?" tanya petugas itu.

Bima mengangkat tangan.

Petugas tersebut menatap seragamnya, lalu kedua pelaku, lalu pentungan yang masih terselip rapi di pinggang.

"Sendirian?"

"Mereka terpeleset berkali-kali, Pak."

Doni mengeluarkan bunyi seperti orang tersedak. Bima meliriknya satu kali. Doni langsung menutup mulut.

Anindya duduk di sofa dengan kardigan dirapatkan. Seorang petugas menanyakan apakah ia membutuhkan ambulans. Setelah memeriksa memar di siku dan memastikan kepalanya tidak terbentur, Anindya memilih menjalani pemeriksaan lanjutan setelah laporan awal selesai.

Kedua pelaku dibangunkan, diborgol, lalu digiring ke lift. Pria bertato berjalan pincang dengan satu lengan menggantung kaku. Saat melewati Bima, ia berhenti setengah detik.

"Awas kau," desisnya. "Aku ingat mukamu."

Koridor mendadak sunyi.

Doni menegang. Anindya memucat lagi.

Bima hanya tersenyum tipis.

"Bagus," katanya. "Jadi lain kali kamu tahu harus lari ke arah mana."

Petugas mendorong pria itu masuk ke lift sebelum ia sempat menjawab.

Setelah pemeriksaan awal tempat kejadian selesai, Bima dan Anindya diminta ikut ke Polsek Danau Utara untuk membuat laporan serta memberikan keterangan terpisah. Doni kembali ke pos untuk menjaga akses gedung dan menyimpan rekaman CCTV agar tidak tertimpa rekaman baru.

"Jangan lupa salin bagian saat mereka masuk lorong servis," pesan Bima.

"Siap, Bang." Doni mengangguk cepat, lalu berbisik, "Tapi soal mereka terpeleset berkali-kali itu..."

"Jaga pos."

"Iya, iya. Rahasia negara."

Polsek Danau Utara hanya berjarak beberapa blok dari apartemen. Bima dan Anindya dibawa dengan kendaraan patroli yang berbeda dari kendaraan para pelaku.

Di dalam ruang pemeriksaan, lampu putih terasa terlalu terang. Seorang penyidik meminta Bima menjelaskan kejadian sejak melihat dua pria di CCTV sampai petugas tiba. Pertanyaannya diulang dari beberapa sudut: kapan ia masuk, siapa menyerang lebih dulu, di mana pisau ditemukan, dan apakah ia memukul setelah lawan tak mampu melawan.

Bima menjawab singkat dan konsisten.

"Saya menghindari serangan pertama, menguasai pergelangan pelaku, lalu menghentikan perlawanan. Setelah keduanya jatuh, saya tidak memukul lagi."

Penyidik memandang lembar catatannya. "Anda punya pelatihan bela diri?"

"Pernah mendapat pelatihan saat bekerja di luar negeri."

"Militer?"

Bima diam sepersekian detik. "Sejenis itu."

Penyidik mengangkat alis, tetapi tidak memaksa. Ia meminta KTP Bima untuk melengkapi data.

Saat Bima membuka dompet, selembar foto lama terlepas dan meluncur ke lantai.

Anindya kebetulan baru keluar dari ruang pemeriksaan sebelah. Ia membungkuk lebih cepat dan mengambilnya.

Foto itu sudah pudar di bagian sudut. Dua pemuda memakai seragam loreng berdiri di samping mobil sport merah yang berdebu. Senapan tergantung di dada mereka. Pemuda di sebelah kiri menyeringai lebar sambil merangkul bahu Bima; Bima sendiri tampak lebih muda, lebih kurus, tetapi tatapannya sama, tenang seperti seseorang yang selalu tahu letak pintu keluar.

"Ini kamu?" tanya Anindya.

Bima mengambil foto itu dengan hati-hati, jauh lebih hati-hati daripada ketika ia menangkap pergelangan penyerang.

"Iya."

"Yang di sebelahmu?"

Jempol Bima menyapu debu tipis di wajah pemuda itu.

"Surya. Sahabat saya."

Hanya itu. Namun nada suaranya membuat Anindya tidak melanjutkan pertanyaan.

Bima menyimpan foto di bagian terdalam dompet, menyerahkan KTP kepada penyidik, lalu menandatangani berita acara setelah membacanya sampai akhir.

Hampir dua jam berlalu sebelum keduanya diperbolehkan pulang. Petugas menjelaskan bahwa mereka mungkin akan dipanggil kembali untuk melengkapi keterangan, sementara rekaman CCTV, dua pisau, tali, serta hasil dokumentasi pintu akan dimasukkan ke berkas penyelidikan.

Pukul menunjukkan lewat satu dini hari.

Bima menawarkan memesan kendaraan, tetapi Anindya menggeleng.

"Dekat. Aku ingin jalan sebentar. Di ruangan tadi rasanya susah bernapas."

Sapaan formalnya telah luruh tanpa mereka sadari.

Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar. Jalanan masih basah oleh siraman petugas pertokoan. Beberapa warung sudah tutup, menyisakan bau arang dan minyak goreng. Bima mengambil posisi di sisi luar, di antara Anindya dan jalan raya.

Selama beberapa menit, Anindya tidak bicara.

Kemudian sebuah motor melaju terlalu dekat. Suara knalpotnya meledak di belakang mereka.

Anindya tersentak dan meraih lengan Bima.

"Maaf," katanya cepat, hendak melepas tangan.

Bima membiarkannya menggenggam.

"Nggak perlu minta maaf."

"Aku masih merasa mereka mengikuti."

"Nggak ada siapa-siapa."

"Kalau teman mereka datang? Yang tadi mengancam kamu?"

Bima menoleh. Di bawah lampu jalan, wajah Anindya masih pucat dan lelah. Namun kekhawatiran dalam matanya sekarang bukan hanya untuk dirinya sendiri.

"Ada aku," katanya. "Nggak akan kenapa-kenapa."

Anindya membuang muka. Cahaya lampu memantul pada air yang tertahan di sudut matanya.

Ia tidak menangis. Hanya mempererat genggaman selama beberapa langkah, lalu perlahan melepaskannya saat gerbang Apartemen Danau Utara mulai terlihat.

"Bima."

"Hmm?"

"Boleh minta nomor teleponmu? Untuk urusan laporan. Atau... kalau aku merasa takut lagi."

Bima menyebutkan nomornya. Anindya menelepon sekali agar nomornya tersimpan di ponsel Bima.

Layar menyala dengan nama yang baru ia ketik: Anindya.

Perempuan itu mengintip. "Kaku banget."

"Harus disimpan apa? Bu Penghuni Lantai Dua Puluh Sembilan?"

"Jangan Bu. Aku belum setua itu." Anindya menahan senyum. "Panggil Kak Anin saja."

"Kak? Usia kita mungkin beda dua tahun."

"Justru cocok. Kamu jadi adikku. Adik yang kebetulan bisa menjatuhkan dua perampok."

Bima mengetik ulang namanya menjadi Kak Anin.

"Kalau begitu, Kak Anin harus traktir adiknya."

"Baru juga jadi adik, sudah minta makan."

"Gaji satpam, Kak. Harus pintar cari peluang."

Tawa Anindya kali ini terdengar lebih utuh.

Di depan lobi, mereka berhenti. Anindya memandang lift, menarik napas, lalu menoleh kepada Bima.

"Terima kasih sudah mengantar."

"Kabarin setelah pintu unit terkunci. Besok minta teknisi ganti silinder kuncinya. Jangan cuma kusennya yang diperbaiki."

"Siap, adik cerewet."

Bima menunggu sampai pintu lift menutup. Beberapa menit kemudian, pesan masuk di ponselnya.

Sudah di dalam. Pintu terkunci. Selamat malam, Dik Bima.

Ia baru saja memasukkan ponsel ke saku ketika Doni menyembulkan kepala dari pos.

"Bang Bima!"

"Kecilkan suara."

Doni berlari mendekat dengan senyum yang terlalu lebar. "Aku lihat semuanya dari CCTV lobi. Tatapan Kak Anin ke Bang Bima itu bukan tatapan korban ke satpam. Itu tatapan orang mau jatuh cinta."

Bima mendorong wajah Doni dengan satu telapak tangan dan berjalan menuju pos.

"Kebanyakan nonton video."

"Tapi Bang senyum!"

"Aku lagi mikir cara potong gajimu."

"Bohong. Bang Bima jelas senang."

Bima tidak menjawab. Ia duduk kembali di depan dua belas layar CCTV, seolah malam itu tidak terjadi apa-apa.

Namun di saku seragamnya, ponsel dengan nama Kak Anin terasa sedikit lebih berat daripada sebelumnya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!