Episode 5

Bab 5: Ajakan Makan dan Cerita Karangan

Rencana pertama Jarot tidak membutuhkan waktu lama.

Pukul empat sore, ia memanggil seluruh petugas yang sedang berada di area kantor. Bibirnya bengkak dan suaranya masih sedikit pelo, tetapi ia memaksakan diri berdiri tegak di depan papan jadwal.

"Mulai hari ini, Bima bukan bagian dari tim keamanan Apartemen Danau Utara lagi."

Doni langsung protes. "Atas dasar apa, Bang?"

"Melawan atasan. Meninggalkan jadwal tanpa izin. Menyerang koordinator."

"Dia menukar shift denganku. Ada catatannya."

Jarot merobek halaman pergantian tugas dari buku, meremasnya, lalu melemparkannya ke tempat sampah.

"Sekarang nggak ada."

Ruangan hening.

Bima berdiri bersandar pada kusen dengan tangan terlipat. Ia bahkan tidak terlihat terkejut.

"Gaji bulan ini juga ditahan," lanjut Jarot. "Buat ganti rugi karena menyerang atasan."

Bang Kliwon menggeleng. "Jarot, pemecatan dan pemotongan gaji bukan keputusanmu sendiri. Harus ada pengelola dan perusahaan penyedia tenaga kerja."

"Aku korlap di sini!"

"Korlap bukan pemilik perusahaan," kata Bima.

Jarot menatapnya. Rasa takut dari cengkeraman tadi masih tinggal di pupilnya, tetapi ada banyak mata yang sedang menyaksikan. Ia tidak bisa mundur.

"Kamu sudah dipecat. Keluar dari asrama malam ini. Kalau berani bikin masalah, aku laporkan polisi."

Bima mengeluarkan ponsel dan membuka foto halaman jadwal yang tadi dirobek.

"Catatan pertukaran shift ada. Saksi juga ada. Untuk gaji, saya akan minta perincian tertulis dari pengelola dan perusahaan. Kalau ditahan tanpa dasar, saya ajukan pengaduan ketenagakerjaan."

Wajah Jarot berkedut.

Bima mendekat satu langkah. Tidak menyentuh, tidak meninggikan suara.

"Dan kalau kamu mengubah catatan, menyuruh orang berbohong, atau menanam sesuatu di kamar saya, pastikan rencanamu sempurna."

Jarot mundur tanpa sadar.

"Siapa bilang aku mau menanam sesuatu?"

"Saya juga tidak bilang kamu mau."

Doni menahan senyum. Bang Kliwon justru memandang Jarot dengan curiga.

Jarot buru-buru mengangkat dagu. "Kali ini kuanggap impas. Pergi sana sebelum aku berubah pikiran."

Bima tidak berdebat lagi. Status administrasinya memang belum final, tetapi bekerja di bawah orang seperti Jarot hanya akan menghabiskan waktu. Ia masih memiliki pakaian di asrama dan gaji yang belum dibayar. Semua bisa diurus setelah makan malam.

Prioritas adalah prioritas.

"Bang," ujar Bang Kliwon ketika mengantarnya keluar, "jangan pulang sendirian malam ini. Dia makin nggak beres."

"Saya pulang sama orang lain."

Doni menyenggol lengannya. "Kak Anin?"

Bima mendorong kepala Doni menjauh. "Jaga shift."

Menjelang pukul tujuh, ia mandi lagi dan mengganti seragam dengan kemeja putih berlengan panjang serta celana jeans gelap. Rambut cepaknya dirapikan dengan air. Sepatu yang dipakai bukan sepatu dinas, melainkan sepatu hitam sederhana yang masih tampak baru karena jarang digunakan.

Doni bersiul dari depan pos.

"Wah, satpam rasa direktur."

"Kalau saya direktur, kamu orang pertama yang saya pecat."

"Berarti benar-benar kencan?"

Sebuah sedan putih berhenti di luar gerbang sebelum Bima menjawab.

Anindya turun dari balik kemudi. Ia mengenakan blus putih, blazer hitam, dan celana panjang berpotongan rapi. Rambutnya yang kemarin lembap kini jatuh teratur di bahu. Memar di siku tertutup lengan blazer, tetapi matanya tidak lagi menyimpan kepanikan yang sama.

Ia memandang Bima dari kepala sampai kaki.

"Kamu beda sekali kalau nggak pakai seragam."

"Lebih jelek?"

"Lebih berbahaya."

"Kalau begitu Kak Anin juga berbahaya. Saya hampir lupa cara buka pintu mobil."

Anindya tertawa dan memukul ringan lengannya. "Gombal. Masuk."

Mereka berkendara beberapa kilometer menuju Warung Sate Klopo Bu Painem, tidak jauh dari kawasan Ondomohen. Tempat itu ramai tetapi sederhana. Asap arang mengambang di bawah lampu putih, kipas besar berputar di langit-langit, dan suara piring bersentuhan datang dari segala arah.

Anindya memilih meja di sudut. Mereka memesan sate klopo, nasi, sambal, serta dua botol bir kecil.

"Aku sering makan di sini kalau pulang kerja terlalu malam," kata Anindya. "Nggak mewah, tapi enak."

"Makanan gratis selalu terasa mewah."

"Jangan senang dulu. Bisa saja nanti aku suruh kamu cuci piring."

Sambil menunggu pesanan, Anindya menumpukan siku sehatnya di meja.

"Kemarin kamu bilang pernah jadi tentara."

Bima membuka botol minumnya. "Pernah."

"Itu bukan jawaban."

"Pertanyaannya juga belum lengkap."

"Baik. Kamu pernah bertugas di mana? Berapa lama? Kenapa berhenti?"

Tiga pertanyaan. Mata Anindya menunggu tanpa berkedip.

Bima meneguk sedikit sebelum menjawab. "Pernah bertugas di luar Jawa. Banyak pindah. Berhenti karena capek diperintah orang."

"Di luar Jawa bagian mana?"

"Yang banyak pohonnya."

"Kalimantan? Papua? Sumatra?"

"Nah, salah satunya."

Anindya menyipitkan mata. "Kamu mengarang."

"Saya tersinggung. Cerita itu saya siapkan hampir lima detik."

"Kenapa harus merahasiakannya?"

Humor di wajah Bima menipis. Ia teringat foto di dompetnya, wajah Surya, dan satu tembakan yang seharusnya masuk ke tubuhnya sendiri.

"Ada pekerjaan yang lebih baik ditinggalkan di masa lalu. Bukan karena saya malu, tapi karena orang yang mendengarnya bisa ikut terseret."

Anindya menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. "Baik. Aku nggak akan memaksa."

Pelayan datang membawa sate yang masih mendesis. Aroma kelapa sangrai memenuhi meja, memutus ketegangan sebelum menjadi terlalu dalam.

Mereka makan sambil membicarakan hal-hal ringan: penghuni apartemen yang suka memarahi satpam karena paket terlambat, Doni yang tak bisa menyimpan rahasia, dan Sasa yang sedang menginap di rumah pengasuh kepercayaan Anindya sampai ibunya merasa aman kembali.

"Kunci unit sudah diganti?" tanya Bima.

"Sudah siang tadi. Aku juga minta pengelola memperbaiki kamera lantai dua puluh sembilan."

"Jawabannya teknisi akan datang secepatnya?"

Anindya mengangkat alis. "Persis."

"Kalau tiga hari belum diperbaiki, kirim permintaan tertulis dan tembuskan ke manajer gedung. Kamera mati itu bukan sekadar gangguan fasilitas. Semalam sudah membuktikan ada risiko keamanan nyata."

"Kamu bicara seperti konsultan keamanan, bukan satpam."

"Konsultan dibayar mahal. Jadi anggap saja itu bonus makan malam."

Anindya tersenyum, tetapi kemudian jemarinya berhenti memainkan tisu.

"Sasa bertanya kenapa belum boleh pulang. Aku bilang pintu rumah sedang diperbaiki."

"Itu keputusan yang benar. Jangan bawa dia kembali sebelum kamu sendiri merasa aman."

"Kadang aku benci harus mengambil semua keputusan sendirian."

Bima tidak menawarkan janji kosong. Ia hanya menggeser segelas air ke arah Anindya.

"Sekarang setidaknya ada satu nomor yang bisa Kak Anin hubungi."

Anindya menatap gelas itu, lalu Bima. Ketegangan di bahunya melonggar.

Setelah piring hampir kosong, Anindya meletakkan tusuk sate dan menjadi serius.

"Tentang kejadian di kantor tadi... Doni sempat kirim pesan. Katanya pekerjaanmu bermasalah."

"Mulutnya benar-benar nggak punya kunci."

"Mungkin kali ini bagus dia cerita." Anindya merapikan tisu di samping piring. "Aku mau ngomongin soal kerjaan..."

Nada seriusnya membuat Bima meletakkan botol.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!