Episode 4

Bab 4: Berani Melawan Komandan

Pukul enam pagi, nama Kak Anin masih tersimpan di ponsel Bima.

Namun pemilik ponsel itu sudah tertidur telentang di ranjang tingkat bawah asrama satpam.

Asrama tersebut sebenarnya bekas garasi belakang gedung. Enam ranjang besi dijejalkan di antara lemari plastik, gantungan seragam, dan kipas angin yang berbunyi seperti mesin perahu. Sepatu dinas berderet di bawah ranjang. Bau minyak rambut, kopi saset, dan kaus kaki lembap bercampur menjadi satu.

Bima baru memejamkan mata setelah menyerahkan shift kepada petugas pagi. Sebelum tidur, ia sempat menunjuk Doni dengan wajah serius.

"Jangan ceritakan kejadian semalam ke siapa pun."

Doni yang sedang melepas sepatu mengangguk. "Tenang, Bang. Mulutku terkunci."

"Termasuk soal dua orang itu."

"Siap."

"Termasuk Kak Anin."

Senyum Doni langsung melebar. "Nah, kalau yang itu..."

Bima melempar bantal ke wajahnya.

"Tidur."

Empat jam kemudian, Bima terbangun karena suara Doni berbisik kepada dua satpam lain.

"Serius, dua orang sekaligus. Bang Bima cuma begini, begini, terus..."

Bantal yang sama menghantam kepala Doni untuk kedua kalinya.

"Katanya mulutmu terkunci."

Doni menyingkirkan bantal. "Aku cuma cerita bagian yang nggak rahasia."

"Semuanya rahasia."

Dua satpam lain menahan tawa. Salah satunya, pria kurus berusia hampir empat puluh yang dipanggil Bang Kliwon, mengangkat kedua tangan.

"Kami nggak dengar apa-apa, Bim."

Bima duduk dan mengusap wajah. "Bagus. Pertahankan kemampuan itu."

Ia mandi dengan air yang hanya menetes kecil, lalu membeli kopi dan nasi bungkus dari warung depan gang. Menjelang pukul tiga sore, ponselnya bergetar.

Nama Kak Anin muncul di layar.

"Halo, Kak."

"Baru bangun?" Suara Anindya terdengar lebih segar daripada dini hari tadi, meski masih ada lelah di baliknya.

"Sudah dari tadi. Lagi sibuk menghitung masa depan."

"Ketemu hasilnya?"

"Kalau makan siang saja masih nasi bungkus, masa depan kelihatannya suram."

Anindya tertawa kecil. "Kalau begitu malam ini aku traktir. Jam tujuh, ya? Anggap saja ucapan terima kasih yang layak."

Bima melihat papan jadwal di dinding asrama.

Namanya tertulis pada shift malam.

"Jam tujuh bisa," jawabnya.

"Yakin nggak jaga?"

"Bisa diatur."

Setelah telepon ditutup, Bima mengenakan seragam dan berjalan ke kantor satpam dekat pos utama. Ia berniat meminta pertukaran shift. Doni bersedia menggantikannya; tinggal tanda tangan koordinator.

Di dalam kantor, Jarot duduk dengan kaki terangkat di atas meja. Usianya baru sekitar dua puluh dua, tetapi ia memelihara kumis tipis dan kebiasaan mengerutkan dahi agar terlihat lebih tua. Dua satpam berdiri di dekat lemari arsip sambil mendengarkan ceramahnya tentang disiplin.

Bima mengetuk kusen pintu.

"Bang Jarot."

Jarot menoleh lambat. "Siapa, ya?"

Dua satpam itu saling pandang.

"Bima. Shift malam."

"Oh." Jarot mengusap dagu, pura-pura baru ingat. "Satpam baru yang sok jago itu?"

Bima mengabaikan nada suaranya. "Doni bersedia tukar shift malam ini. Saya perlu izin."

"Nggak bisa."

"Jadwal tetap terisi. Doni sudah setuju."

"Aku bilang nggak bisa." Jarot menurunkan kaki dari meja. "Di sini aku komandannya. Bukan kamu."

Bang Kliwon yang baru masuk membawa buku laporan berhenti di dekat pintu. Ia memberi isyarat kecil agar Bima tidak memperpanjang urusan.

Bima tetap tenang. "Saya minta izin sesuai prosedur. Kalau ada alasan operasional, jelaskan."

Wajah Jarot mengeras. Ia tidak terbiasa diminta memberi alasan kepada bawahan.

"Alasannya karena aku nggak suka lihat mukamu. Cukup?"

"Bukan alasan operasional."

Salah satu satpam menunduk untuk menyembunyikan senyum. Jarot melihatnya. Rasa malu langsung berubah menjadi marah.

Ia berdiri dan mendekat sampai dada mereka hampir bersentuhan.

"Dengar, orang kampung. Seragam dan tempat tidurmu itu ada karena aku masih membiarkanmu kerja. Kalau aku mau, malam ini juga kamu bisa tidur di jalan."

"Ancaman selesai? Saya masih menunggu jawaban soal pertukaran shift."

PLAK!

Telapak Jarot menghantam pipi Bima.

Kantor mendadak sunyi.

Kepala Bima hanya bergeser sedikit. Ia menyentuh pipinya, lalu memandang Jarot.

"Itu jawabanmu?"

Jarot mendengus. "Kalau belum paham, panggil ibumu biar aku ajari sekalian..."

Tangan Bima bergerak.

Pukulannya hanya satu.

Tidak lebar, tidak memakai ancang-ancang. Buku jarinya berhenti tepat di sisi mulut Jarot.

Tubuh koordinator satpam itu berputar dan menabrak meja. Sebutir gigi jatuh di atas buku jadwal bersama dua tetes darah.

Jarot memegang mulutnya. Matanya membesar, lebih karena malu daripada sakit.

"Kau pukul aku?" suaranya terdengar pelo. "Kau berani pukul komandanmu?"

"Kamu yang mulai."

Bang Kliwon buru-buru berdiri di antara mereka. "Sudah! Jarot, kamu juga salah. Bima, keluar dulu. Biar dingin."

Bima berbalik menuju pintu.

Jarot melihat punggungnya dan kehilangan akal. Ia melompat, mengayunkan kaki ke titik paling vital tubuh seorang pria.

Bang Kliwon sempat berteriak.

Bima berputar lebih cepat.

Tendangan Jarot hanya mengenai udara. Tangan Bima menutup lehernya, lalu mengangkat tubuh itu sampai kedua ujung sepatu terlepas dari lantai.

Jarot mencakar pergelangan Bima. Wajahnya berubah merah, kemudian pucat.

"Dengar baik-baik," kata Bima pelan. "Kamu boleh benci aku. Boleh tahan izin. Boleh sembunyi di balik jabatan kecilmu."

Jarinya mengencang sedikit.

"Tapi jangan pernah bawa ibuku ke mulutmu lagi."

Ia melepaskan tangan.

Jarot jatuh terduduk, batuk-batuk sambil memegangi leher. Tak satu pun satpam berani menertawakan. Tatapan mereka kepada Bima telah berubah, setengah kagum dan setengah waspada.

Bima merapikan kerah seragamnya.

"Jadi, pertukaran shift saya disetujui atau tidak?"

Bang Kliwon menutup wajah. Doni, yang mengintip dari luar, hampir tertawa keras.

Jarot tak mampu menjawab.

Bima menganggap diam sebagai persetujuan dan berjalan keluar.

Bang Kliwon menyusul sampai lorong. "Bim, hati-hati. Jarot itu bukan cuma banyak mulut. Dia kenal beberapa preman dan paling nggak tahan dipermalukan."

"Saya juga paling nggak tahan telat makan."

"Aku serius."

Bima menepuk bahunya. "Saya juga. Jam tujuh ada janji."

Doni mengejar mereka sambil membawa buku pergantian shift.

"Bang, tanda tanganku sudah ada. Malam ini aku yang jaga. Tapi kalau Bang Jarot bilang tukarnya nggak sah, bagaimana?"

Bima mengambil pena, menulis jam penyerahan tugas, lalu memotret halaman itu dengan ponselnya.

"Sekarang ada catatannya. Simpan foto yang sama. Kalau ada yang menghapus atau mengubah jadwal, kita punya bukti."

Doni mengangguk, kali ini tanpa bercanda.

"Dan satu lagi," lanjut Bima. "Kejadian di kantor ini jangan kamu bumbui. Ceritakan persis kalau ada yang bertanya."

"Siap, Bang. Yang mulai menampar Bang Jarot, yang menendang dari belakang juga Bang Jarot."

"Bagus. Ternyata kamu bisa mengingat fakta."

Saat langkah Bima menghilang, Jarot perlahan bangkit dari lantai. Darah masih menempel di bibirnya. Ia menatap gigi yang tergeletak di atas buku jadwal, lalu mengepalkannya dalam telapak tangan.

Melawan Bima secara langsung adalah kebodohan.

Namun Jarot tidak harus melawannya secara langsung.

Dengan mata merah, ia meraih ponsel dan mulai menyusun cara agar satpam baru itu kehilangan pekerjaan, nama baik, dan kebebasannya sekaligus.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!