Bab 4: Pertemuan di Tengah Kehancuran

​Asap hitam membumbung tinggi, menutupi sebagian langit sore Seoul yang kini berwarna merah darah. Jalan raya yang biasanya dipenuhi oleh kemacetan kendaraan roda empat kini berubah menjadi ladang pembantaian. Mobil-mobil saling bertabrakan, terbakar, dan ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

​Dari atas jalan layang, Han Do-Yoon menatap pemandangan neraka di bawahnya dengan ekspresi datar. Jeritan putus asa bersahutan dengan raungan monster dari segala arah.

​Kapak raksasa yang ia panggul di bahu kanannya masih meneteskan darah segar. Sepanjang perjalanan dari kampus menuju pusat kota, ia telah menebas puluhan Goblin dan beberapa monster tingkat rendah lainnya yang kebetulan menghalangi jalannya.

​[Anda telah membunuh Goblin (Tingkat Terendah).]

[Anda mendapatkan 10 Poin Pengalaman.]

[Anda telah membunuh Anjing Neraka (Tingkat F).]

[Anda mendapatkan 30 Poin Pengalaman.]

​Notifikasi Sistem terus bermunculan di sudut pandangannya, namun Do-Yoon mengabaikannya. Tingkatnya saat ini sudah mencapai angka 4. Peningkatan atribut fisiknya membuat langkahnya seringan bulu, meski ia membawa senjata seberat puluhan kilogram.

​"Distrik Gangnam," gumam Do-Yoon, matanya menyipit menatap deretan gedung pencakar langit di kejauhan. "Pusat keramaian. Itu artinya, tingkat kemunculan monster di sana sepuluh kali lipat lebih padat dibandingkan pinggiran kota."

​Tanpa membuang waktu, Do-Yoon melompat dari atas jalan layang. Ia mendarat dengan lutut ditekuk di atas atap sebuah mobil sedan, membuat atap baja itu melesak ke dalam akibat benturan. Keterampilan pasif Kulit Tembaga miliknya meredam semua rasa sakit di kakinya.

​Ia kembali berlari, membelah kekacauan layaknya bayangan hitam yang tak tersentuh.

​Beberapa kali ia melewati warga sipil yang sedang diseret hidup-hidup oleh monster. Tangan-tangan berlumuran darah menggapai ke arahnya, memohon pertolongan. Namun, Do-Yoon tidak menoleh sedikit pun. Hatinya telah lama membeku di kehidupan sebelumnya. Menyelamatkan orang-orang yang tidak memiliki kemauan untuk bertarung di dunia baru ini hanyalah tindakan bunuh diri yang menunda kematian mereka sesaat.

​Tujuannya hanya satu. Stasiun Bawah Tanah Gangnam. Pintu Keluar Nomor 4.

​Di kehidupan masa lalunya, tempat itu adalah lokasi tragedi yang melahirkan legenda 'Permaisuri Pedang'. Yoo Ji-Ah, seorang mahasiswi atlet anggar nasional, terjebak di sana bersama puluhan warga sipil. Demi melindungi adik perempuannya dan orang-orang yang bersembunyi di belakangnya, Ji-Ah bertarung sendirian melawan gelombang monster hingga lengan kanannya hancur dan adiknya tewas tercabik-cabik.

​Kejadian itu menghancurkan kewarasannya, mengubahnya menjadi mesin pembunuh dingin yang pada akhirnya mati secara tragis demi melindungi Do-Yoon di masa depan.

​"Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu hancur, Ji-Ah," batin Do-Yoon, mempererat cengkeramannya pada gagang kapak.

​TRANG!

​Suara benturan keras antara logam dan kayu menggema di depan Pintu Keluar Nomor 4 Stasiun Gangnam.

​Seorang gadis muda dengan rambut sebahu yang berantakan terdorong mundur hingga punggungnya menabrak pilar beton. Napasnya tersengal-sengal, seragam olahraga putihnya kini basah oleh keringat dan bercak darah. Di kedua tangannya, ia menggenggam erat sebilah pedang latihan dari kayu ek yang sudah mulai retak.

​Di belakang gadis itu, belasan orang berkerumun, gemetar ketakutan. Di antara mereka, seorang gadis kecil menangis memeluk lututnya.

​"Kakak..." rintih gadis kecil itu.

​"Jangan keluar dari sana, Ji-Hye! Tetap di belakang!" teriak Yoo Ji-Ah tanpa menoleh, matanya menatap tajam ke arah tiga ekor monster babi hutan bipedal—Orc—yang mengepungnya.

​Makhluk-makhluk itu tingginya mencapai dua meter, bersenjatakan parang daging berkarat. Mereka mendengus, menatap Ji-Ah dengan tatapan lapar dan merendahkan.

​Tangan Ji-Ah gemetar. Ia belum menerima Pembangkitan Kelas karena belum berhasil membunuh satu pun monster. Ia hanya mengandalkan refleks murni dari latihan anggarnya selama bertahun-tahun untuk menangkis serangan-serangan fatal. Namun, staminanya sudah mencapai batas.

​Salah satu Orc melangkah maju dan mengayunkan parangnya dengan kekuatan penuh secara horizontal.

​Ji-Ah mengertakkan gigi, mengangkat pedang kayunya untuk menangkis.

​KRAK!

​Kayu ek yang kuat itu akhirnya menyerah. Pedangnya patah menjadi dua, dan dorongan tenaga dari ayunan parang itu membuat Ji-Ah terpental jatuh ke tanah. Rasa sakit yang tajam menjalar di pergelangan tangannya.

​"Tidaaak!" jerit warga sipil di belakangnya.

​Orc itu menyeringai menjijikkan, mengangkat parangnya tinggi-tinggi untuk membelah tubuh Ji-Ah. Gadis itu memejamkan mata, memeluk bagian tangannya yang terkilir.

​WUSSH!

​Sesuatu yang besar dan berwarna gelap melesat membelah udara dengan kecepatan mengerikan.

​JLEB!

​Suara logam menembus daging dan tulang terdengar begitu nyaring. Tubuh Orc yang bersiap mengeksekusi Ji-Ah tiba-tiba terdorong ke belakang oleh kekuatan kinetik yang luar biasa besar. Makhluk itu terpaku ke dinding beton stasiun dengan sebuah kapak raksasa tertancap dalam di dadanya.

​Darah hijau kental menyembur, membasahi wajah Ji-Ah yang terbelalak kaget.

​Dua Orc lainnya berbalik dengan panik, mencari asal serangan tersebut.

​Dari balik kepulan asap dan debu puing-puing jalanan, sesosok bayangan melangkah maju dengan tenang. Sepatu botnya menginjak aspal yang retak, menghasilkan suara langkah yang ritmis dan mengancam.

​"Ternyata aku datang tepat waktu," ucap sebuah suara bariton yang dingin.

​Ji-Ah menengadah. Seorang pria muda dengan kemeja bersimbah darah berdiri beberapa langkah di depannya. Matanya hitam kelam, memancarkan aura membunuh yang bahkan membuat monster-monster di sekitarnya ragu untuk maju.

​Do-Yoon tidak membuang waktu. Saat kedua Orc itu meraung dan menerjang ke arahnya, ia merendahkan postur tubuhnya.

​"Gunakan keahlian: Penyerapan Bayangan."

​Bayangan dari Orc yang baru saja mati tertancap kapak di dinding tiba-tiba melesat ke tubuh Do-Yoon, memberikannya ledakan energi instan. Tanpa senjata di tangan, Do-Yoon justru melesat maju menyongsong kedua monster bersenjata tajam tersebut.

​Saat Orc pertama mengayunkan parang, Do-Yoon menyelinap ke ruang kosong di bawah lengan makhluk itu. Tangan kanannya mengepal kuat, dialiri oleh Energi Sihir berwarna hitam pekat yang meletup-letup.

​BAM!

​Sebuah pukulan telak menghantam rahang bawah Orc tersebut. Tenaga fisiknya yang telah melonjak berkali-kali lipat berkat kenaikan tingkat membuat kepala monster itu terpelanting ke atas dengan sudut yang tidak wajar, mematahkan tulang lehernya seketika.

​Melihat rekannya tewas dalam satu pukulan kosong, Orc terakhir menjadi ragu sejenak. Keraguan satu detik itu adalah kesalahan fatal. Do-Yoon meraih parang yang terjatuh dari tangan Orc yang baru mati, berputar di atas tumitnya, dan menebaskan bilah besi itu tepat ke leher Orc terakhir dalam satu gerakan mulus.

​Kepala makhluk itu terlepas dari tubuhnya dan menggelinding di atas aspal.

​Keheningan total menyelimuti Pintu Keluar Nomor 4 Stasiun Gangnam. Warga sipil yang bersembunyi terdiam tanpa kata, tak percaya dengan pembantaian sepihak yang baru saja terjadi di depan mata mereka.

​Do-Yoon mengibaskan darah dari parang rampasannya, lalu menoleh ke arah Ji-Ah yang masih terduduk lemas di tanah.

​"Kau masih hidup, Yoo Ji-Ah," ucap Do-Yoon pelan, mengulurkan tangannya yang berlumuran darah ke arah gadis itu. "Mulai sekarang, pedangmu adalah milikku."

Episodes
1 Bab 1: Akhir Adalah Permulaan Baru
2 Bab 2: Pembangkitan Tingkat Mitos
3 Bab 3: Hukum Rimba yang Baru
4 Bab 4: Pertemuan di Tengah Kehancuran
5 Bab 5: Kontrak Darah dan Percikan Sang Permaisuri
6 Bab 6: Perangkap Dimensi Darah
7 Bab 7: Kesenjangan Mutlak
8 Bab 8: Pembantaian di Gerbang Obsidian
9 Bab 9: Api yang Padam oleh Kehampaan
10 Bab 10: Malam Pertama Kiamat
11 Bab 11: Mata Uang Darah dan Toko Sistem
12 Bab 12: Eksekusi Mutlak dan Penebas Malam
13 Bab 13: Fajar Berdarah
14 Bab 14: Labirin Tulang dan Bayangan
15 Bab 15: Akar Darah dan Sang Penjaga Terakota
16 Bab 16: Sang Kompas dan Raja Pembantai
17 Bab 17: Tarian Sang Malaikat Maut
18 Bab 18: Griya Tawang dan Titik Awal
19 Bab 19: Daftar Nama Sang Penguasa
20 Bab 20: Sang Garda Depan
21 Bab 21: Garis Kematian dan Keangkuhan yang Runtuh
22 Bab 22: Tunduknya Para Pendosa dan Tameng Absolut
23 Bab 23: Tembok Baja dan Ujian Bertahan Hidup
24 Bab 24: Kabut Kematian dan Wilayah Sang Penguasa
25 Bab 25: Relikui Ruang dan Target Ketiga
26 Bab 26: Bangsal Keputusasaan dan Akar Penyakit
27 Bab 27: Cahaya Suci di Lautan Bangkai
28 Bab 28: Kontrak Iblis dan Panggung Kehampaan
29 Bab 29: Hutan Perangkap dan Sang Pembunuh Senyap
30 Bab 30: Patahnya Sang Bayangan dan Target Terakhir
31 Bab 31: Benteng Besi dan Mekanik Eksentrik
32 Bab 32: Pilar-Pilar Ketiadaan
33 Bab 33: Fajar Berdarah dan Bangkitnya Pasukan Bayangan
34 Bab 34: Runtuhnya Langit dan Titan Pembusuk
35 Bab 35: Murka Dewa Busuk
36 Bab 36: Gema Nama Sang Penguasa
37 Bab 37: Patahnya Harga Diri Matahari
38 Bab 38: Leviathan Rawa Darah
39 Bab 39: Meriam Kehampaan
40 Bab 40: Respons Kosmik dan Kuil Penghakiman
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Akhir Adalah Permulaan Baru
2
Bab 2: Pembangkitan Tingkat Mitos
3
Bab 3: Hukum Rimba yang Baru
4
Bab 4: Pertemuan di Tengah Kehancuran
5
Bab 5: Kontrak Darah dan Percikan Sang Permaisuri
6
Bab 6: Perangkap Dimensi Darah
7
Bab 7: Kesenjangan Mutlak
8
Bab 8: Pembantaian di Gerbang Obsidian
9
Bab 9: Api yang Padam oleh Kehampaan
10
Bab 10: Malam Pertama Kiamat
11
Bab 11: Mata Uang Darah dan Toko Sistem
12
Bab 12: Eksekusi Mutlak dan Penebas Malam
13
Bab 13: Fajar Berdarah
14
Bab 14: Labirin Tulang dan Bayangan
15
Bab 15: Akar Darah dan Sang Penjaga Terakota
16
Bab 16: Sang Kompas dan Raja Pembantai
17
Bab 17: Tarian Sang Malaikat Maut
18
Bab 18: Griya Tawang dan Titik Awal
19
Bab 19: Daftar Nama Sang Penguasa
20
Bab 20: Sang Garda Depan
21
Bab 21: Garis Kematian dan Keangkuhan yang Runtuh
22
Bab 22: Tunduknya Para Pendosa dan Tameng Absolut
23
Bab 23: Tembok Baja dan Ujian Bertahan Hidup
24
Bab 24: Kabut Kematian dan Wilayah Sang Penguasa
25
Bab 25: Relikui Ruang dan Target Ketiga
26
Bab 26: Bangsal Keputusasaan dan Akar Penyakit
27
Bab 27: Cahaya Suci di Lautan Bangkai
28
Bab 28: Kontrak Iblis dan Panggung Kehampaan
29
Bab 29: Hutan Perangkap dan Sang Pembunuh Senyap
30
Bab 30: Patahnya Sang Bayangan dan Target Terakhir
31
Bab 31: Benteng Besi dan Mekanik Eksentrik
32
Bab 32: Pilar-Pilar Ketiadaan
33
Bab 33: Fajar Berdarah dan Bangkitnya Pasukan Bayangan
34
Bab 34: Runtuhnya Langit dan Titan Pembusuk
35
Bab 35: Murka Dewa Busuk
36
Bab 36: Gema Nama Sang Penguasa
37
Bab 37: Patahnya Harga Diri Matahari
38
Bab 38: Leviathan Rawa Darah
39
Bab 39: Meriam Kehampaan
40
Bab 40: Respons Kosmik dan Kuil Penghakiman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!