Bayangan Penguasa

Bayangan Penguasa

Bab 1: Akhir Adalah Permulaan Baru

​Bau apak darah dan daging terbakar memenuhi udara, menyengat paru-paru siapa saja yang masih bernapas. Di atas sana, langit terbelah menjadi dua. Dari balik celah dimensi yang robek, mata-mata raksasa menatap daratan yang hancur dengan penuh cemooh.

​Mereka adalah para Dewa Luar. Entitas kosmik yang menjadikan penderitaan umat manusia sebagai hiburan semata.

​Di tengah reruntuhan ibu kota yang terbakar, Han Do-Yoon terbatuk hebat. Darah hitam pekat tumpah dari mulutnya, menodai kemeja lusuhnya yang compang-camping. Lengan kirinya sudah putus sejak tiga hari yang lalu. Sebagai seorang Pemburu Tingkat-F—kasta terendah yang hanya pantas menjadi kuli panggul di dalam Labirin—bertahan hidup sampai hari terakhir peradaban adalah sebuah keajaiban mutlak.

​Atau mungkin, sebuah kutukan.

​Di tangan kanannya yang gemetar, Do-Yoon menggenggam erat sebuah batu hitam pekat yang berdenyut pelan layaknya jantung. Batu Kehampaan. Itu adalah artefak kuno yang ia temukan secara tidak sengaja di dasar Labirin terdalam, tepat setelah seluruh anggota serikatnya dibantai.

​"Apakah... ini akhirnya?" batin Do-Yoon pedih.

​Ia menatap tumpukan mayat rekan-rekannya sesama Pemburu. Jika saja ia memiliki kekuatan. Jika saja ia tidak terlahir sebagai manusia cacat mana yang tidak bisa menggunakan keahlian sihir apa pun. Jika saja ia bisa memutar kembali waktu.

​[Peringatan Mutlak! Tatanan dunia telah runtuh!]

[Para Rasi Bintang telah meninggalkan saluran Bumi.]

​Suara mekanis dari Sistem bergema di dalam kepalanya untuk terakhir kalinya. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan.

​Do-Yoon menutup matanya saat kilatan cahaya merah raksasa turun dari langit, menyapu habis seluruh daratan. Namun, sepersekian detik sebelum cahaya itu memusnahkan tubuhnya, batu hitam di genggamannya bersinar menyilaukan.

​[Artefak Tingkat Mitos: Jantung Kehampaan bereaksi terhadap keputusasaan yang melampaui batas.]

[Syarat rahasia telah terpenuhi.]

[Memulai proses pembalikan waktu...]

​Lalu, kegelapan menelannya.

​"Han Do-Yoon! Jika kau hanya ingin tidur di kelasku, silakan keluar sekarang juga!"

​Do-Yoon tersentak. Napasnya memburu hebat seolah ia baru saja ditarik dari dasar lautan. Keringat dingin membasahi punggungnya. Secara refleks, tangan kanannya meraba bahu kirinya.

​Utuh. Lengannya masih ada.

​Ia menatap tangannya yang bersih. Tidak ada darah hitam. Tidak ada bau daging terbakar. Hidungnya justru menangkap aroma pewangi ruangan dan debu kapur tulis.

​Di depannya, seorang dosen tua berkacamata tebal sedang memelototinya sambil mengetuk papan tulis. Puluhan pasang mata mahasiswa lain menatapnya, beberapa menahan tawa, sementara yang lain berbisik-bisik.

​Ruang kuliah Universitas Hanguk.

​Do-Yoon terdiam membatu. Tangannya gemetar saat ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Layar itu menyala, menampilkan angka yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya.

​6 Agustus 2016. Pukul 14:28.

​Ia kembali. Tepat sepuluh tahun yang lalu.

​Napas Do-Yoon mulai teratur. Keterkejutan di matanya perlahan digantikan oleh kedinginan yang mencekam. Ini adalah hari di mana semuanya dimulai. Hari di mana neraka turun ke Bumi.

​Pukul 14:30. Itu adalah waktu pastinya.

​Do-Yoon bangkit berdiri, mengabaikan dosen yang kembali mengomelinya. Tatapannya setajam pisau saat ia berjalan menuju jendela kaca besar di lantai empat ruang kelas itu. Ia menatap ke arah langit Seoul yang biru cerah.

​"Tinggal satu menit," gumam Do-Yoon pelan.

​"Hei, Do-Yoon! Kau mau ke mana? Dosen sedang bicara padamu!" seru salah satu teman sekelasnya.

​Do-Yoon tidak menjawab. Tepat pada detik ke-enam puluh, langit biru di luar sana tiba-tiba bergetar keras. Suara retakan yang memekakkan telinga bergema di seluruh penjuru kota, layaknya lapisan kaca raksasa yang dihantam oleh palu godam. Retakan-retakan merah darah mulai menjalar di udara.

​Jeritan kebingungan mulai terdengar dari jalan raya di bawah sana. Sirine mobil berbunyi bersahutan.

​"A-apa itu?! Langitnya retak?!" teriak seorang mahasiswi di dalam kelas, menunjuk ke luar jendela dengan wajah pucat pasi.

​Dosen yang tadi memarahi Do-Yoon menjatuhkan kapur tulisnya. Seluruh isi kelas membeku dalam ketakutan yang tak beralasan.

​Lalu, tepat pukul 14:30, sebuah layar biru bercahaya yang tembus pandang muncul tepat di depan mata setiap manusia di bumi secara serentak.

​[Sistem Bumi telah berhasil disinkronisasi.]

[Para Rasi Bintang mulai menatap dunia Anda dengan penuh ketertarikan.]

[Tahap Percobaan akan segera dimulai.]

​PRANG!

​Kaca jendela ruang kelas pecah berantakan. Dari celah langit yang merah, makhluk-makhluk kerdil berkulit hijau kotor yang membawa gada berkarat—Goblin—mulai berjatuhan menembus atap dan kaca gedung.

​Jeritan histeris meledak.

​Dosen yang malang itu adalah korban pertama. Seekor Goblin melompat dan menghantamkan gadanya tepat ke kepala sang dosen hingga hancur. Darah segar memercik ke papan tulis. Mahasiswa-mahasiswa yang panik berlarian ke arah pintu keluar, namun mereka berteriak putus asa saat menyadari pintu itu terkunci rapat oleh lapisan perisai tak kasat mata.

​[Misi Utama: Bertahan Hidup!]

Tingkat Kesulitan: F

Keterangan: Ruang kelas ini telah disegel. Bunuh makhluk monster di sekitarmu, atau bertahanlah hidup selama 30 menit tanpa terbunuh.

Hadiah: Pembangkitan Kelas, 10 Koin Emas.

Hukuman Kegagalan: Kematian.

​Di tengah kekacauan, tangisan, dan darah yang mulai menggenang di lantai, hanya satu orang yang tidak berlari.

​Han Do-Yoon.

​Alih-alih meringkuk ketakutan seperti yang ia lakukan sepuluh tahun lalu, pria itu justru melangkah tenang. Ia menendang salah satu kursi kayu hingga kaki kursinya patah, lalu memungut patahan kayu runcing tersebut sebagai senjata darurat.

​Tatapan matanya gelap, sekelam malam tanpa bintang. Ia menatap dua ekor Goblin yang kini beralih menatapnya sambil menyeringai memamerkan gigi kuning mereka.

​Di kehidupan sebelumnya, ia bersembunyi di bawah meja, menangis tersedu-sedu sambil melihat teman-temannya dibantai satu per satu. Ia menjadi manusia rendahan yang hanya tahu cara melarikan diri.

​Tetapi di kehidupan ini, semuanya akan berbeda.

​Do-Yoon tersenyum tipis. Sebuah senyum mematikan dari sang predator yang baru saja menemukan mangsanya.

​"Mari kita mulai pembantaiannya," bisik Do-Yoon. Ia lalu menerjang maju.

Terpopuler

Comments

Alia Chans

Alia Chans

Hadir kak 💪


jangan lupa hadir juga 😉

2026-08-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Akhir Adalah Permulaan Baru
2 Bab 2: Pembangkitan Tingkat Mitos
3 Bab 3: Hukum Rimba yang Baru
4 Bab 4: Pertemuan di Tengah Kehancuran
5 Bab 5: Kontrak Darah dan Percikan Sang Permaisuri
6 Bab 6: Perangkap Dimensi Darah
7 Bab 7: Kesenjangan Mutlak
8 Bab 8: Pembantaian di Gerbang Obsidian
9 Bab 9: Api yang Padam oleh Kehampaan
10 Bab 10: Malam Pertama Kiamat
11 Bab 11: Mata Uang Darah dan Toko Sistem
12 Bab 12: Eksekusi Mutlak dan Penebas Malam
13 Bab 13: Fajar Berdarah
14 Bab 14: Labirin Tulang dan Bayangan
15 Bab 15: Akar Darah dan Sang Penjaga Terakota
16 Bab 16: Sang Kompas dan Raja Pembantai
17 Bab 17: Tarian Sang Malaikat Maut
18 Bab 18: Griya Tawang dan Titik Awal
19 Bab 19: Daftar Nama Sang Penguasa
20 Bab 20: Sang Garda Depan
21 Bab 21: Garis Kematian dan Keangkuhan yang Runtuh
22 Bab 22: Tunduknya Para Pendosa dan Tameng Absolut
23 Bab 23: Tembok Baja dan Ujian Bertahan Hidup
24 Bab 24: Kabut Kematian dan Wilayah Sang Penguasa
25 Bab 25: Relikui Ruang dan Target Ketiga
26 Bab 26: Bangsal Keputusasaan dan Akar Penyakit
27 Bab 27: Cahaya Suci di Lautan Bangkai
28 Bab 28: Kontrak Iblis dan Panggung Kehampaan
29 Bab 29: Hutan Perangkap dan Sang Pembunuh Senyap
30 Bab 30: Patahnya Sang Bayangan dan Target Terakhir
31 Bab 31: Benteng Besi dan Mekanik Eksentrik
32 Bab 32: Pilar-Pilar Ketiadaan
33 Bab 33: Fajar Berdarah dan Bangkitnya Pasukan Bayangan
34 Bab 34: Runtuhnya Langit dan Titan Pembusuk
35 Bab 35: Murka Dewa Busuk
36 Bab 36: Gema Nama Sang Penguasa
37 Bab 37: Patahnya Harga Diri Matahari
38 Bab 38: Leviathan Rawa Darah
39 Bab 39: Meriam Kehampaan
40 Bab 40: Respons Kosmik dan Kuil Penghakiman
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Bab 1: Akhir Adalah Permulaan Baru
2
Bab 2: Pembangkitan Tingkat Mitos
3
Bab 3: Hukum Rimba yang Baru
4
Bab 4: Pertemuan di Tengah Kehancuran
5
Bab 5: Kontrak Darah dan Percikan Sang Permaisuri
6
Bab 6: Perangkap Dimensi Darah
7
Bab 7: Kesenjangan Mutlak
8
Bab 8: Pembantaian di Gerbang Obsidian
9
Bab 9: Api yang Padam oleh Kehampaan
10
Bab 10: Malam Pertama Kiamat
11
Bab 11: Mata Uang Darah dan Toko Sistem
12
Bab 12: Eksekusi Mutlak dan Penebas Malam
13
Bab 13: Fajar Berdarah
14
Bab 14: Labirin Tulang dan Bayangan
15
Bab 15: Akar Darah dan Sang Penjaga Terakota
16
Bab 16: Sang Kompas dan Raja Pembantai
17
Bab 17: Tarian Sang Malaikat Maut
18
Bab 18: Griya Tawang dan Titik Awal
19
Bab 19: Daftar Nama Sang Penguasa
20
Bab 20: Sang Garda Depan
21
Bab 21: Garis Kematian dan Keangkuhan yang Runtuh
22
Bab 22: Tunduknya Para Pendosa dan Tameng Absolut
23
Bab 23: Tembok Baja dan Ujian Bertahan Hidup
24
Bab 24: Kabut Kematian dan Wilayah Sang Penguasa
25
Bab 25: Relikui Ruang dan Target Ketiga
26
Bab 26: Bangsal Keputusasaan dan Akar Penyakit
27
Bab 27: Cahaya Suci di Lautan Bangkai
28
Bab 28: Kontrak Iblis dan Panggung Kehampaan
29
Bab 29: Hutan Perangkap dan Sang Pembunuh Senyap
30
Bab 30: Patahnya Sang Bayangan dan Target Terakhir
31
Bab 31: Benteng Besi dan Mekanik Eksentrik
32
Bab 32: Pilar-Pilar Ketiadaan
33
Bab 33: Fajar Berdarah dan Bangkitnya Pasukan Bayangan
34
Bab 34: Runtuhnya Langit dan Titan Pembusuk
35
Bab 35: Murka Dewa Busuk
36
Bab 36: Gema Nama Sang Penguasa
37
Bab 37: Patahnya Harga Diri Matahari
38
Bab 38: Leviathan Rawa Darah
39
Bab 39: Meriam Kehampaan
40
Bab 40: Respons Kosmik dan Kuil Penghakiman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!