Drainase Tusukan Dada, Serangan Malam Hari—Tangan Tuan Mau ke Mana?!

Shen Qingci tangannya agak gemetar saat mengeluarkan "perangkat berharga" dari bungkusan.

Bambu yang dipotong sebagai tabung, jarum yang diikat dengan benang usus domba, direndam dalam arak bakar semalaman sebagai disinfektan—kalau kepala departemen rumah sakit melihat benda ini, dia bisa langsung kena serangan jantung masuk UGD.

Tapi di kamar pernikahan ini, benda itulah satu-satunya harapan.

"Pengawas Istana," ia menarik napas dalam-dalam, "akan sedikit sakit. Tuan... tahanlah."

Lu Heng bersandar di kepala ranjang, jubah pernikahan setengah terbuka, memperlihatkan kulit pucat yang menempel di tulang rusuknya. Ia melirik tabung bambu di tangan Shen Qingci, tatapannya tanpa perubahan.

Seperti menonton anak kecil bermain lumpur.

"Kalau salah tusuk," suaranya ringan saja, "kau ikut mati."

"... Tolong jangan kutuk aku, Tuan."

Shen Qingci bicara begitu, tapi tangannya tak melambat. Ia meraba sela iga di bawah ketiak kiri, mencubit tanda silang dengan kukunya. Disinfeksi? Arak bakar dituangkan. Anestesi? Tidak ada. Sepenuhnya mengandalkan tekad pasien.

"Tuan, gigit ini."

Ia mengambil kain penutup kepala merah di meja, menggumpalkannya dan menyelipkan ke mulut Lu Heng.

Alis Lu Heng sedikit bergetar.

"Takut Tuan menggigit lidah." Ia menjelaskan, sementara jarum bambu telah menyentuh kulit. "Tarik napas dalam—tiga, dua, satu—"

Saat ujung jarum menembus kulit, seluruh tubuh Lu Heng menegang seperti busur yang ditarik penuh.

Urat biru menonjol dari leher hingga pelipis, keringat dingin seketika membasahi rambutnya. Tapi ia tak bersuara sepatah kata pun, kain merah itu hampir robek digigitnya, hanya matanya yang tetap menatap Shen Qingci.

Seperti hendak menelannya hidup-hidup.

Shen Qingci tak memandangnya. Seluruh perhatiannya tertuju pada sensasi di ujung jarinya—menembus kulit, melewati otot, menempel di tepi atas tulang rusuk, lalu mendorong sedikit lagi—

"Sudah."

Cairan merah kehitaman mengalir perlahan melalui tabung bambu, menetes ke baskom tembaga yang sudah disiapkan Shen Qingci, membawa bau besi anyir.

"..." Napas Lu Heng tiba-tiba terasa lega.

Pupil matanya melebar sedikit, seolah tak menduga hasil "benar-benar berguna" ini.

"Jangan bergerak, jangan bicara. Setelah baskom ini penuh, Tuan bisa tidur telentang malam ini." Sementara menyangga tabung bambu untuk mengatur aliran cairan, Shen Qingci menyeka keringat di dahinya dengan lengan bajunya—gerakannya begitu cepat hingga ia sendiri tak sadar betapa wajarnya.

Lu Heng menatap noda darah di lengan bajunya, terdiam dua detik.

Lalu ia memuntahkan kain merah itu.

"Kau sebenarnya siapa?"

Tangan Shen Qingci berhenti.

Pertanyaan ini pasti datang. Tapi ia tak menyangka akan ditanyakan saat masih ada tabung bambu tertancap di dada lawan bicaranya.

"Aku…"

"Jangan bilang kau putri keenam keluarga Shen." Suara Lu Heng memang lemah, tapi ketajaman seperti pedangnya tak berkurang. "Bodoh dari keluarga Shen itu, bahkan obat pun tak bisa membedakan."

... Baiklah, citra asli tokoh ini sudah hancur total.

Pikiran Shen Qingci berputar cepat tiga kali. Lintas alam? Tak bisa bilang. Amnesia? Terlalu klise. Kesurupan dukun? Zaman ini siapa yang percaya.

Akhirnya ia memilih yang paling aman—

"Aku bermimpi."

Lu Heng: "..."

"Dalam mimpi itu ada kakek berjanggut putih, katanya aku 'dewa kedokteran turun ke bumi menjalani ujian', lalu memberiku kitab, isinya semua ini." Wajahnya serius, berbohong dengan mulus tanpa berkedip. "Kalau Tuan tak percaya, anggap saja aku diberkati dewa."

Lu Heng menatapnya lama sekali.

Hingga Shen Qingci merasa senyumnya hampir retak.

"... Dewa." Ia mengulang dua kata itu, nadanya datar tak terbaca percaya atau tidak.

"Benar-benar dewa!"

"Siapa namanya?"

"Eh?"

"Dewa itu," Lu Heng mengangkat tangan, perlahan menghapus setitik darah di ujung hidung Shen Qingci—darah yang muncrat saat ia menusuk tadi, "nama lengkapnya siapa?"

Shen Qingci benar-benar bingung.

Masa ia bilang namanya "Bian Que Plus"?!

Saat ia memutar otak mencari nama, dari luar jendela tiba-tiba terdengar suara sangat halus—

Krek.

Suara genting pecah terinjak.

Shen Qingci belum sempat bereaksi, Lu Heng sudah berubah ekspresi.

Ia cepat-cepat menutup mulut Shen Qingci dengan tangannya, tangan lainnya mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke dalam ranjang. Seluruh tubuhnya menindih Shen Qingci, menekannya ke bawah. Kain sutra merah diselimutkan ke kepala mereka berdua—seperti dua mayat bertumpuk.

"Jangan bergerak." Bisikannya berhembus di daun telinga Shen Qingci, panas dan lembap. "Ada orang datang."

Detak jantung Shen Qingci langsung melonjak dari 80 ke 180.

Dada yang menempel di punggungnya, panasnya menembus kain tipis dan membakar kulitnya. Ia bisa merasakan detak jantung Lu Heng—jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan, berdebar-debar di tulang punggungnya, satu demi satu. Sama sekali tak seperti orang yang baru batuk darah.

"... Pengawas Istana," suaranya teredam di balik selimut, "luka Tuan..."

"Diam."

Detik berikutnya—bruk!

Seluruh jendela belakang pecah berantakan, sesosok bayangan hitam menyusup bersama sinar bulan dan angin malam, cahaya dingin langsung mengarah ke ranjang!

Shen Qingci secara naluriah menarik lehernya.

Tapi "orang sakit" di bawahnya bergerak.

Lu Heng menahan tubuhnya dengan satu lengan, berbalik bangkit—lengan jubah merah besar menyapu udara meninggalkan jejak. Tangan kanan yang tadi tampak lemah tak berdaya itu, kini tepat mencengkeram tenggorokan si bayangan.

Krek suara kecil.

Seluruh tubuh si bayangan terpental ke dinding, kaki terangkat, belati di tangannya jatuh berdering.

"... Siapa yang mengirimmu?"

Suara Lu Heng serak, napasnya masih tak stabil, tapi jari-jarinya yang mencengkeram leher itu tak bergerak sedikit pun.

Shen Qingci menjulurkan setengah kepalanya dari balik selimut.

Di bawah cahaya lilin, ia melihat luka di punggung Lu Heng—tempat tabung bambu menusuk tadi, butiran darah menetes mengikuti lengkung tulang rusuknya.

Rasa sakit membuat urat di pelipisnya berdenyut, tapi kakinya masih menginjak ujung roknya, tak membiarkannya bergerak.

"Aku bilang jangan bergerak." Ia tak menoleh.

Shen Qingci: "... Punggung Tuan berdarah."

"Tak akan mati."

"Tapi—"

"Shen Qingci."

Ia tiba-tiba memanggil nama lengkapnya.

Shen Qingci terkejut.

Lu Heng menoleh ke samping. Separuh wajahnya tersembunyi dalam bayangan, separuh lainnya disinari lilin merah hingga tampak nyaris transparan. Butiran keringat menetes dari dagunya, dan di dalam mata tajam itu terpantul bayangan dirinya.

"Aku belum selesai menginterogasimu." Katanya. "Jangan terburu-buru menjadi janda."

Si bayangan di tangannya sudah mulai memutar bola matanya.

Shen Qingci menyaksikan semua ini, hanya satu pikiran yang tersisa di kepalanya—

Kalau pria ini sehat, siapa di seluruh ibu kota yang bisa mengalahkannya?

Lalu pikiran lain segera muncul:

Tunggu, sepertinya... aku baru saja membuatnya sedikit lebih baik?

Ia menunduk melihat jari-jarinya yang masih gemetar, lalu menengadah melihat Lu Heng yang mengangkat satu tangan sambil mengangkat si bayangan, punggungnya masih berdarah, tapi tatapannya lebih tajam dari pisau.

Tiba-tiba ia merasa.

Pernikahan ini... sepertinya tidak terlalu rugi?

Episodes
1 Malam Pernikahan, Perlu CPR Dulu?
2 Drainase Tusukan Dada, Serangan Malam Hari—Tangan Tuan Mau ke Mana?!
3 Membalut Luka, Konfrontasi, Ibu Tiri Datang—Tangan Tuan Jangan Meraba Sembarangan!
4 Siapa Dalang di Balik Bayangan? Pengawas Istana, Berapa Banyak Rahasia yang Masih Tuan Sembunyikan?
5 Rahasia di Balik Lemari Obat—Ada Mata-mata di Kediaman Pengawas Istana!
6 Malam Mengintai Kediaman Dokter Istana—Pengawas Istana, Kapan Tuan Datang?!
7 Kebenaran Tiga Tahun Lalu—Pengawas Istana, Kau Orang Pertama yang Membuatku Menangis
8 Menghadap Kaisar di Balai Agung—Pangeran Kedua, Siapa yang Kau Panggil "Adik Kecil"?!
9 Penyergapan di Jalan—Pengawas Istana, Lepaskan Tangan Kau dari Mataku!
10 Ganti Obat, Kehilangan Kendali, Pengerahan Pasukan—Pengawas Istana, Berhentilah Menggoda!
11 Lima Ratus Orang Mengepung Kediaman—Istriku Bicara Bagus Sekali!
12 Aku Bilang Bisa Menyembuhkan—Pengawas Istana, Percaya Padaku?
13 Menguji Racun di Tempat—Pangeran Kedua, Tangan Tuan Bergetar
14 Tunggu Aku Satu Paket Obat—Api Istana Membakar Separuh Langit
15 Ayahanda Bangun—Pangeran Kedua, Untuk Siapa Pedang Kau Angkat?
16 Buka Baju—Kenapa Detak Jantungmu Begitu Cepat?
17 Minum Obat Dulu, Baru Bicara Urusan Negara—Pengawas Istana, Jangan Kabur!
18 Rahasia di Balik Berkas—Tanggal yang Dicoret, Tangan Siapa?
19 Semalam di Ruang Hangat—Jarak di Dalam dan Luar Layar, Cukup untuk Detak Jantung Saling Menyapa
20 Sesepuh Bermata Satu—"Kalian Datang Terlalu Pagi."
21 Yang Dinantikan Kasim Chen Tiga Tahun—Surat Itu
22 Memeriksa Nadi Permaisuri—Tangan Ibu Bergetar
23 Boneka, Rambut, Darah—Ibu, Kalau Mau Menjebak Setidaknya Lakukan dengan Serius
24 Di Depan Bekas Istana Timur—Kakakmu Menunggu Ini, Kau Juga
25 Membuat Bakpao Semalaman—Pengawas Istana, Tepungnya Masuk Sampai ke Lengan Baju!
26 Mendarat di Istana Kedokteran—Siapa yang Membuat Buku Kas Ini?
27 Belati di Pintu—Lain Kali Bukan Pintu yang Kena?
28 Memancing di Jalan Malam—Kau Menyambutku
29 Aku Bukan Datang Tanya Obat—Aku Datang Melihatmu
30 Terhalang di Gerbang Kota—Ada Tiga Bungkus Bubuk di Lenganku
31 Halaman Belakang Toko Sutra—Kau Tahu Lorong Rahasia Istana?
32 Dua Jalur Terang dan Gelap—Ada Tikus di Belakangmu
33 Aku Tak Salah Percaya—Kecepatanmu Melepas Tali Lebih Cepat dari Dugaanku
34 Kata-katamu, Semua Kuingat—Pulang
35 Menguleni Adonan Jam Tiga Pagi—Dia Tidur Nyenyak, Syukurlah
36 Teh Hangat, Ukiran 'Lu', Kougou—Dia Pernah ke Sini
37 Sudah Ditambah. Minum.—Catatan Pertama
38 Kedai Teh, Osmanthus Oolong, Sebutir Kougou—"Kata-katamu Semua Kuingat"
39 Catatan Kedua—"Besok Masih Mau Apa"
40 Catatan Ketiga—"Tebak"
41 Catatan Keempat—"Aku Menunggumu"
42 Matahari Terbit, Bergandengan Tangan, "Besok Datang Lagi"
43 Catatan Terakhir—Besok Pagi, Bakpao
Episodes

Updated 43 Episodes

1
Malam Pernikahan, Perlu CPR Dulu?
2
Drainase Tusukan Dada, Serangan Malam Hari—Tangan Tuan Mau ke Mana?!
3
Membalut Luka, Konfrontasi, Ibu Tiri Datang—Tangan Tuan Jangan Meraba Sembarangan!
4
Siapa Dalang di Balik Bayangan? Pengawas Istana, Berapa Banyak Rahasia yang Masih Tuan Sembunyikan?
5
Rahasia di Balik Lemari Obat—Ada Mata-mata di Kediaman Pengawas Istana!
6
Malam Mengintai Kediaman Dokter Istana—Pengawas Istana, Kapan Tuan Datang?!
7
Kebenaran Tiga Tahun Lalu—Pengawas Istana, Kau Orang Pertama yang Membuatku Menangis
8
Menghadap Kaisar di Balai Agung—Pangeran Kedua, Siapa yang Kau Panggil "Adik Kecil"?!
9
Penyergapan di Jalan—Pengawas Istana, Lepaskan Tangan Kau dari Mataku!
10
Ganti Obat, Kehilangan Kendali, Pengerahan Pasukan—Pengawas Istana, Berhentilah Menggoda!
11
Lima Ratus Orang Mengepung Kediaman—Istriku Bicara Bagus Sekali!
12
Aku Bilang Bisa Menyembuhkan—Pengawas Istana, Percaya Padaku?
13
Menguji Racun di Tempat—Pangeran Kedua, Tangan Tuan Bergetar
14
Tunggu Aku Satu Paket Obat—Api Istana Membakar Separuh Langit
15
Ayahanda Bangun—Pangeran Kedua, Untuk Siapa Pedang Kau Angkat?
16
Buka Baju—Kenapa Detak Jantungmu Begitu Cepat?
17
Minum Obat Dulu, Baru Bicara Urusan Negara—Pengawas Istana, Jangan Kabur!
18
Rahasia di Balik Berkas—Tanggal yang Dicoret, Tangan Siapa?
19
Semalam di Ruang Hangat—Jarak di Dalam dan Luar Layar, Cukup untuk Detak Jantung Saling Menyapa
20
Sesepuh Bermata Satu—"Kalian Datang Terlalu Pagi."
21
Yang Dinantikan Kasim Chen Tiga Tahun—Surat Itu
22
Memeriksa Nadi Permaisuri—Tangan Ibu Bergetar
23
Boneka, Rambut, Darah—Ibu, Kalau Mau Menjebak Setidaknya Lakukan dengan Serius
24
Di Depan Bekas Istana Timur—Kakakmu Menunggu Ini, Kau Juga
25
Membuat Bakpao Semalaman—Pengawas Istana, Tepungnya Masuk Sampai ke Lengan Baju!
26
Mendarat di Istana Kedokteran—Siapa yang Membuat Buku Kas Ini?
27
Belati di Pintu—Lain Kali Bukan Pintu yang Kena?
28
Memancing di Jalan Malam—Kau Menyambutku
29
Aku Bukan Datang Tanya Obat—Aku Datang Melihatmu
30
Terhalang di Gerbang Kota—Ada Tiga Bungkus Bubuk di Lenganku
31
Halaman Belakang Toko Sutra—Kau Tahu Lorong Rahasia Istana?
32
Dua Jalur Terang dan Gelap—Ada Tikus di Belakangmu
33
Aku Tak Salah Percaya—Kecepatanmu Melepas Tali Lebih Cepat dari Dugaanku
34
Kata-katamu, Semua Kuingat—Pulang
35
Menguleni Adonan Jam Tiga Pagi—Dia Tidur Nyenyak, Syukurlah
36
Teh Hangat, Ukiran 'Lu', Kougou—Dia Pernah ke Sini
37
Sudah Ditambah. Minum.—Catatan Pertama
38
Kedai Teh, Osmanthus Oolong, Sebutir Kougou—"Kata-katamu Semua Kuingat"
39
Catatan Kedua—"Besok Masih Mau Apa"
40
Catatan Ketiga—"Tebak"
41
Catatan Keempat—"Aku Menunggumu"
42
Matahari Terbit, Bergandengan Tangan, "Besok Datang Lagi"
43
Catatan Terakhir—Besok Pagi, Bakpao

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!