Rahasia di Balik Lemari Obat—Ada Mata-mata di Kediaman Pengawas Istana!

Saat Shen Qingci berlari masuk ke gudang obat, kasim penjaga pintu hampir terjatuh karena kaget.

"Nyo-Nyonya Muda?!"

"Buka pintu, kasih kunci, jangan banyak bicara." Ia mengulurkan tangan.

Kasim itu mengeluarkan kunci dengan gemetar, tapi sebelum sempat menyerahkannya, Shen Qingci sudah merampasnya. Gembok terbuka dengan suara bruk, dan aroma pahit rempah-rempah obat menyambutnya—dangshen, huangqi, danggui, chuanxiong… deretan laci berjajar rapi, tampak meyakinkan.

Tapi begitu hidung Shen Qingci mengendus, keningnya langsung berkerut.

Tidak.

Aromanya salah.

Ia bergegas ke laci paling belakang, membuka laci berlabel "Chuanwu". Chuanwu adalah bahan beracun, tapi dalam dosis mikro bisa menghilangkan angin dan dingin—ini adalah komponen kunci dalam resep Lu Heng untuk "melawan racun dengan racun".

Di dalam laci memang ada bahan herbal kering.

Tapi begitu Shen Qingci mengambil sepotong, mengendusnya, lalu mematahkannya dan melihat penampangnya, wajahnya langsung muram.

"Ini palsu."

Asisten apotek di sampingnya mendekat: "Nyo-Nyonya, ini dikirim dari Istana Kedokteran bulan lalu—"

"Istana Kedokteran?"

"I-iya… Dokter Wang sendiri yang mengantarnya."

Shen Qingci melemparkan chuanwu palsu itu ke atas meja. Tekstur penampangnya salah, aromanya sedikit manis—bukan pedas menyengat—ini bukan chuanwu, tapi semacam pengganti yang mirip bentuknya, mungkin "baizhi" yang dicat dan dipalsukan.

Baizhi tidak beracun, tapi juga tidak memiliki khasiat chuanwu.

Jika chuanwu diganti dengan baizhi… keseimbangan "melawan racun dengan racun" dalam tubuh Lu Heng akan hancur. Penyakitnya tampak "semakin parah", padahal sebenarnya hanya efek obat yang hilang.

Bukan pembunuhan.

Tapi pembunuhan pelan—tanpa disadari.

Shen Qingci membuka laci di sampingnya—fuzi, banxia, xixin… semuanya ada. Tapi setelah memeriksa lima atau enam jenis, ia menemukan setidaknya tiga yang telah diganti: chuanwu menjadi baizhi, fuzi menjadi irisan ubi jalar berwarna, dan xixin menjadi akar-akaran beraroma mirip tapi tanpa khasiat sama sekali.

"... Kerjaannya cukup rapi." Ia mencibir sambil memeriksa laci-laci yang tersisa. "Siapa?"

"Nyo-Nyonya…" Asisten apotek itu pucat ketakutan, "i-ini semua obat dikirim rutin oleh Istana Kedokteran…"

"Siapa di Istana Kedokteran yang bertanggung jawab atas resep Pengawas Istana?"

"Do-Dokter Wang Jizhi…"

Shen Qingci mengukir nama itu dalam ingatannya.

Ia berbalik keluar dari gudang obat, menggenggam tiga sampel obat palsu di tangannya. Matahari siang membakar jalan batu hijau, ia berjalan cepat melintasi halaman utama dan menendang pintu ruang kerja.

Lu Heng sedang membaca dokumen. Ia mendongak melihatnya masuk dengan tendangan, alisnya sedikit terangkat.

"... Wang Jizhi." Shen Qingci membanting tiga sampel obat palsu di atas mejanya. "Orang ini, bisa Tuan percaya?"

Lu Heng menunduk melihat tiga helai bahan obat itu, lalu mendongak menatapnya.

"Kau menemukannya."

"Aku menemukannya?" Shen Qingci duduk di hadapannya. "Jadi Tuan sudah tahu obatnya bermasalah?!"

"Iya."

"Terus kenapa Tuan tidak menggantinya?!"

"Kalau diganti, bagaimana memancing ikan selanjutnya?" Lu Heng mendorong tiga lembar obat itu kembali ke hadapannya, nadanya tenang seperti membahas menu makan malam. "Wang Jizhi adalah Kepala Istana Kedokteran. Orang di belakangnya… bukan Pangeran Kedua."

Shen Qingci terkejut.

"Lalu siapa?"

Lu Heng tak menjawab. Ia mengambil surat rahasia lain di atas meja dan menyerahkannya.

Di kertas itu hanya ada empat kata, goresan kuasnya tajam—

Kau tak bergerak, aku yang datang.

Tak ada nama di bagian akhir, tapi tertera cap kecil—lambang kediaman Pangeran Kedua.

"Dia mau kirim bayangan lagi?" Alis Shen Qingci berkerut.

"Tidak. Dia mau menyentuh Wang Jizhi." Kata Lu Heng. "Wang Jizhi sudah mengganti obatku selama tiga tahun. Pangeran Kedua selama ini mengira… Wang Jizhi-lah yang memperpanjang umurku. Sekarang dia tak sabar lagi, mau langsung menggerakkan Wang Jizhi, memutus sumber obatku."

Pikiran Shen Qingci berputar cepat.

"... Jadi Wang Jizhi orang Tuan?"

Lu Heng menatapnya, sudut bibirnya sedikit melengkung.

"Kau lebih pintar dari seluruh keluarga Shen digabung."

"Jangan bohong!" Shen Qingci memukul meja. "Jadi Tuan sudah memasang perangkap sejak lama, tinggal menunggu Pangeran Kedua bergerak terhadap Wang Jizhi? Lalu menangkap basah dan melaporkan ke Kaisar?"

"Kurang lebih."

"Terus Tuan suruh aku sibuk-sibuk di sini buat apa?!"

Lu Heng terdiam sejenak, tatapannya jatuh pada tangan kanannya yang menggenggam erat obat-obatan, buku-buku jarinya memutih.

"... Aku ingin melihat," katanya, "apakah kau akan menemukannya."

Shen Qingci tersedak oleh kalimat itu.

Jadi seluruh prosesnya bergulat dengan obat palsu di gudang tadi, pria ini diam-diam menilainya dari awal?!

"Lu Heng!" Ia langsung memanggil nama depannya. "Tuan pakai aku sebagai ujian internis?!"

"Kau lulus." Nadanya datar, tapi di dasar matanya ada senyum tipis. "Nilai sempurna."

Shen Qingci membuka mulut mau memaki, tapi begitu bertemu dengan mata tanpa ketajaman itu, mulutnya mengunci.

Sial… pria ini kalau tersenyum beneran curang.

"Jadi langkah selanjutnya apa?" Ia menarik napas dalam, memaksa topik kembali ke jalur. "Wang Jizhi akan diapakan Pangeran Kedua? Dibunuh? Dijebak?"

"Malam ini." Kata Lu Heng. "Orang Pangeran Kedua akan menyamar sebagai perampok, mengobrak-abrik kediaman Dokter Wang di malam hari, menyita semua catatan resep obatku. Lalu… Wang Jizhi akan 'bunuh diri karena takut dihukum'."

"Sekejam itu?!"

"Di istana, yang lebih kejam dari ini banyak."

Shen Qingci berdiri mondar-mandir dua kali di ruang kerja, lalu tiba-tiba berhenti.

"... Bagaimana kalau malam ini di kediaman Dokter Wang ada satu orang tambahan?"

Lu Heng mendongak menatapnya.

"Satu orang yang 'sedang berobat'." Shen Qingci menepuk dadanya sendiri. "Aku wanita lemah, baru menikah, dalam perjalanan pulang ke rumah orang tua lewat kediaman Dokter Wang, kebetulan melihat penjahat. Aku tak punya kekuatan melawan, tapi suaraku keras."

Lu Heng menatapnya, terdiam beberapa saat.

"... Bisa terluka."

"Aku lari cepat."

"Kalau tak sempat lari?"

"Ya Tuan datang menyelamatkanku dong." Ia menyeringai. "Tuan kan bilang aku hidup berguna buat Tuan. Masa Tuan tega lihat yang berguna itu tiba-tiba hilang, kan?"

Lu Heng tak menjawab.

Ia menatapnya lama sekali, sampai seekor burung di luar jendela hinggap di ujung atap dan berkicau tiga kali, baru ia bersuara:

"Shen Qingci."

"Ya?"

"Jangan terluka."

Ia sedikit terperangah.

Suaranya sangat lembut, lebih lembut dari saat mengatakan "lulus" tadi. Tapi di mata itu, tak ada ujian, tak ada perhitungan, hanya ada sesuatu… yang asing baginya.

"... Tahu." Ia membuang muka, pura-pura merapikan sampel obat. "Tuan juga… jangan menanggung semuanya sendiri."

Lu Heng menunduk, melanjutkan membaca dokumennya.

Tapi dari sudut matanya, ia melihat tangan yang memegang kuas itu, berhenti sejenak.

Burung di luar berkicau sekali lagi, mengepakkan sayap dan terbang pergi.

Saat Shen Qingci keluar dari ruang kerja, matahari siang menyilaukan matanya. Ia mengangkat tangan melindungi cahaya, tapi sudut bibirnya terangkat tinggi.

Mata-mata dari Istana Kedokteran, Pangeran Kedua mau memutus sumber obat, malam ini kediaman Dokter Wang ada jebakan—

Ia menghitung dengan jari, lalu tiba-tiba tersenyum.

"Tapi Pengawas Istana tahu semuanya."

Ia menoleh melihat pintu ruang kerja yang tertutup rapat.

"Pria ini… seberapa besar papan catur yang sudah ia susun?"

Episodes
1 Malam Pernikahan, Perlu CPR Dulu?
2 Drainase Tusukan Dada, Serangan Malam Hari—Tangan Tuan Mau ke Mana?!
3 Membalut Luka, Konfrontasi, Ibu Tiri Datang—Tangan Tuan Jangan Meraba Sembarangan!
4 Siapa Dalang di Balik Bayangan? Pengawas Istana, Berapa Banyak Rahasia yang Masih Tuan Sembunyikan?
5 Rahasia di Balik Lemari Obat—Ada Mata-mata di Kediaman Pengawas Istana!
6 Malam Mengintai Kediaman Dokter Istana—Pengawas Istana, Kapan Tuan Datang?!
7 Kebenaran Tiga Tahun Lalu—Pengawas Istana, Kau Orang Pertama yang Membuatku Menangis
8 Menghadap Kaisar di Balai Agung—Pangeran Kedua, Siapa yang Kau Panggil "Adik Kecil"?!
9 Penyergapan di Jalan—Pengawas Istana, Lepaskan Tangan Kau dari Mataku!
10 Ganti Obat, Kehilangan Kendali, Pengerahan Pasukan—Pengawas Istana, Berhentilah Menggoda!
11 Lima Ratus Orang Mengepung Kediaman—Istriku Bicara Bagus Sekali!
12 Aku Bilang Bisa Menyembuhkan—Pengawas Istana, Percaya Padaku?
13 Menguji Racun di Tempat—Pangeran Kedua, Tangan Tuan Bergetar
14 Tunggu Aku Satu Paket Obat—Api Istana Membakar Separuh Langit
15 Ayahanda Bangun—Pangeran Kedua, Untuk Siapa Pedang Kau Angkat?
16 Buka Baju—Kenapa Detak Jantungmu Begitu Cepat?
17 Minum Obat Dulu, Baru Bicara Urusan Negara—Pengawas Istana, Jangan Kabur!
18 Rahasia di Balik Berkas—Tanggal yang Dicoret, Tangan Siapa?
19 Semalam di Ruang Hangat—Jarak di Dalam dan Luar Layar, Cukup untuk Detak Jantung Saling Menyapa
20 Sesepuh Bermata Satu—"Kalian Datang Terlalu Pagi."
21 Yang Dinantikan Kasim Chen Tiga Tahun—Surat Itu
22 Memeriksa Nadi Permaisuri—Tangan Ibu Bergetar
23 Boneka, Rambut, Darah—Ibu, Kalau Mau Menjebak Setidaknya Lakukan dengan Serius
24 Di Depan Bekas Istana Timur—Kakakmu Menunggu Ini, Kau Juga
25 Membuat Bakpao Semalaman—Pengawas Istana, Tepungnya Masuk Sampai ke Lengan Baju!
26 Mendarat di Istana Kedokteran—Siapa yang Membuat Buku Kas Ini?
27 Belati di Pintu—Lain Kali Bukan Pintu yang Kena?
28 Memancing di Jalan Malam—Kau Menyambutku
29 Aku Bukan Datang Tanya Obat—Aku Datang Melihatmu
30 Terhalang di Gerbang Kota—Ada Tiga Bungkus Bubuk di Lenganku
31 Halaman Belakang Toko Sutra—Kau Tahu Lorong Rahasia Istana?
32 Dua Jalur Terang dan Gelap—Ada Tikus di Belakangmu
33 Aku Tak Salah Percaya—Kecepatanmu Melepas Tali Lebih Cepat dari Dugaanku
34 Kata-katamu, Semua Kuingat—Pulang
35 Menguleni Adonan Jam Tiga Pagi—Dia Tidur Nyenyak, Syukurlah
36 Teh Hangat, Ukiran 'Lu', Kougou—Dia Pernah ke Sini
37 Sudah Ditambah. Minum.—Catatan Pertama
38 Kedai Teh, Osmanthus Oolong, Sebutir Kougou—"Kata-katamu Semua Kuingat"
39 Catatan Kedua—"Besok Masih Mau Apa"
40 Catatan Ketiga—"Tebak"
41 Catatan Keempat—"Aku Menunggumu"
42 Matahari Terbit, Bergandengan Tangan, "Besok Datang Lagi"
43 Catatan Terakhir—Besok Pagi, Bakpao
Episodes

Updated 43 Episodes

1
Malam Pernikahan, Perlu CPR Dulu?
2
Drainase Tusukan Dada, Serangan Malam Hari—Tangan Tuan Mau ke Mana?!
3
Membalut Luka, Konfrontasi, Ibu Tiri Datang—Tangan Tuan Jangan Meraba Sembarangan!
4
Siapa Dalang di Balik Bayangan? Pengawas Istana, Berapa Banyak Rahasia yang Masih Tuan Sembunyikan?
5
Rahasia di Balik Lemari Obat—Ada Mata-mata di Kediaman Pengawas Istana!
6
Malam Mengintai Kediaman Dokter Istana—Pengawas Istana, Kapan Tuan Datang?!
7
Kebenaran Tiga Tahun Lalu—Pengawas Istana, Kau Orang Pertama yang Membuatku Menangis
8
Menghadap Kaisar di Balai Agung—Pangeran Kedua, Siapa yang Kau Panggil "Adik Kecil"?!
9
Penyergapan di Jalan—Pengawas Istana, Lepaskan Tangan Kau dari Mataku!
10
Ganti Obat, Kehilangan Kendali, Pengerahan Pasukan—Pengawas Istana, Berhentilah Menggoda!
11
Lima Ratus Orang Mengepung Kediaman—Istriku Bicara Bagus Sekali!
12
Aku Bilang Bisa Menyembuhkan—Pengawas Istana, Percaya Padaku?
13
Menguji Racun di Tempat—Pangeran Kedua, Tangan Tuan Bergetar
14
Tunggu Aku Satu Paket Obat—Api Istana Membakar Separuh Langit
15
Ayahanda Bangun—Pangeran Kedua, Untuk Siapa Pedang Kau Angkat?
16
Buka Baju—Kenapa Detak Jantungmu Begitu Cepat?
17
Minum Obat Dulu, Baru Bicara Urusan Negara—Pengawas Istana, Jangan Kabur!
18
Rahasia di Balik Berkas—Tanggal yang Dicoret, Tangan Siapa?
19
Semalam di Ruang Hangat—Jarak di Dalam dan Luar Layar, Cukup untuk Detak Jantung Saling Menyapa
20
Sesepuh Bermata Satu—"Kalian Datang Terlalu Pagi."
21
Yang Dinantikan Kasim Chen Tiga Tahun—Surat Itu
22
Memeriksa Nadi Permaisuri—Tangan Ibu Bergetar
23
Boneka, Rambut, Darah—Ibu, Kalau Mau Menjebak Setidaknya Lakukan dengan Serius
24
Di Depan Bekas Istana Timur—Kakakmu Menunggu Ini, Kau Juga
25
Membuat Bakpao Semalaman—Pengawas Istana, Tepungnya Masuk Sampai ke Lengan Baju!
26
Mendarat di Istana Kedokteran—Siapa yang Membuat Buku Kas Ini?
27
Belati di Pintu—Lain Kali Bukan Pintu yang Kena?
28
Memancing di Jalan Malam—Kau Menyambutku
29
Aku Bukan Datang Tanya Obat—Aku Datang Melihatmu
30
Terhalang di Gerbang Kota—Ada Tiga Bungkus Bubuk di Lenganku
31
Halaman Belakang Toko Sutra—Kau Tahu Lorong Rahasia Istana?
32
Dua Jalur Terang dan Gelap—Ada Tikus di Belakangmu
33
Aku Tak Salah Percaya—Kecepatanmu Melepas Tali Lebih Cepat dari Dugaanku
34
Kata-katamu, Semua Kuingat—Pulang
35
Menguleni Adonan Jam Tiga Pagi—Dia Tidur Nyenyak, Syukurlah
36
Teh Hangat, Ukiran 'Lu', Kougou—Dia Pernah ke Sini
37
Sudah Ditambah. Minum.—Catatan Pertama
38
Kedai Teh, Osmanthus Oolong, Sebutir Kougou—"Kata-katamu Semua Kuingat"
39
Catatan Kedua—"Besok Masih Mau Apa"
40
Catatan Ketiga—"Tebak"
41
Catatan Keempat—"Aku Menunggumu"
42
Matahari Terbit, Bergandengan Tangan, "Besok Datang Lagi"
43
Catatan Terakhir—Besok Pagi, Bakpao

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!